AERILYN (END)

AERILYN (END)
41. Selamat Tinggal


__ADS_3

..."Jika kau mencintainya dan tidak ingin ia pergi. Maka, berjuanglah untuk mendapatkan ia kembali"...


...~Son...


-


-


-


..


"Sebenarnya saya tidak tega melihat kalian seperti ini, tapi kalian yang membuat nya seperti ini jadi kalian yang harus menanggung resiko nya" ucap Son dingin lalu ia melangkah pergi setelah pemindahan Aeril selesai, tetapi sebelum itu ia berbalik dan berucap.


"Maaf om Tante, aku membawa anak kalian. Tapi ini demi ia tidak terluka lagi" ucap Son kepada Axellio dan Axella. Mereka berdua hanya mengangguk pasrah.


"Baiklah, tetapi Tante minta satu hal ke kamu Son. Jaga Aeril dan jangan sampai ia terluka" ucap Axella.


"Tante santai aja, aku pasti menjaga nya dan tidak seperti mereka" ucap Son sambil melirik Alex dan Max yang masih berusaha melepaskan pegangannya dari bodyguard Son.


"Baiklah, tante dan om percayakan Aeril kepadamu" ucap Axella. Son hanya mengangguk.


"Oh iya Son, kamu membawa Aeril kemana?" Tanya Axellio.


"Om tenang saja, ia akan berada dimana seharusnya ia berada" ucap Son penuh teka teki. Axellio dan Axella mencerna ucapannya.


Lalu ia melihat ke arah Rafael, Elena, Regan dan terakhir Vier.


"Maaf juga om dan Tante akan situasi ini" ucap Son.


"Tidak, seharusnya kami yang minta maaf atas apa yang telah anak kami perbuat kepada Aeril" ucap Elena.


"Ahh iya masalah itu, aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Apa tidak apa Om dan Tante?" Tanya Son.


"Lakukanlah sesukamu jika itu setimpal apa yang telah anak saya lakukan kepada Aeril" ucap Rafael.


"Terima kasih atas pengertian om" ucap Son bahagia. Lalu ia berjalan kearah Vier sembari mendekat.

__ADS_1


"Jika kau mencintai princess ku, kau harus berjuang untuk menemukannya. Jika kau tak bisa menemukannya jangan berharap kau bisa mendapatkan princess ku kembali" ucap Son lalu memeluk tubuh Vier ala pria. Vier hanya mengangguk akan ucapannya seakan mengerti.


"Baiklah waktu ku habis. Dan selamat tinggal" ucap Son lalu melangkah keluar ruangan untuk membawa Aeril pergi.


Sedangkan Alex dan Max, mereka berdua terus berteriak untuk tidak membawa Aeril walaupun hasil nya nihil.


Kedua bodyguard itu melepaskan Alex dan Max saat Son sudah pergi. Dan mereka berdua menunduk ke arah Axellio dan Axella lalu pergi.


Alex dan Max masih menangis saat melihat Aeril sudah tidak ada lagi di sisi mereka.


Sedangkan Vier ia masih terus berpikir dimana tempat yang dimaksud oleh Son tadi.


"Sudahlah Lex, Max berhenti menangis. Apa kalian tidak malu sama sahabat kalian" ucap Axellio jengah. Walaupun ia juga sedih akan kepergian Aeril.


"Pah, Papa gak sedih Aeril dibawa pergi sama Kak son?" Tanya Alex.


"Papa sedih tapi apa kamu tidak mendengarnya. Aeril di bawa ke tempat seharusnya ia berada. Dan kamu pikir dimana Son membawa Aeril" ucap Axellio menjelaskan. Alex hanya mengangguk tanda mengerti.


Setelah itu mata Alex berubah dingin dan melangkah keluar ruangan begitu saja. Sedangkan Max ia diam saja tidak bisa berbuat apa-apa.


"Entahlah" ucap Axella.


"Hmm, maaf atas kedatangan Son yang membawa Aeril tiba-tiba" ucap Axellio kepada Rafael dan Elena.


"Tidak, seharusnya kami yang minta maaf" ucap Rafael.


"Baiklah kalau gitu, ah iya Ma aku ada meeting di kantor" ucap Axellio.


"Ya udah sana kamu pergi hati-hati" ucap Axella menyalimi Axellio.


"Hmm, maaf aku duluan yah soalnya ada meeting" ucap Axellio kepada Rafael dan Elena.


"Iya Lio, aku juga ada meeting. Ma Papa pergi duluan yah, nanti Vier yang nganterin Mama pulang" ucap Rafael kepada Elena dan Vier.


"Hati-hati" ucap Elena menyalimi suaminya.


Setelah Axellio dan Rafael keluar dari ruangan, tinggallah Axella, Elena, Max, Vier dan Regan.

__ADS_1


"Na, ayok kita jalan-jalan sembari makan siang. Udah lama juga kita gak jalan" ucap Axella kepada Elena. Axella hanya tidak ingin terlalu memikirkan Aeril yang membuatnya makin sedih.


"Ayok, oh iya Vier kamu pulang duluan aja yah Mama mau sama Tante Axella dulu" ucap Elena dianguki oleh Vier.


Axella dan Elena keluar ruangan, dan di ruangan tersebut hanya tinggal Max, Vier dan Regan yang dimana situasi canggung.


"Ekhemm" dehem Regan. Tetapi tidak dihiraukan oleh mereka berdua.


"Ekhemm" dehem Regan lagi yang lebih keras. Tetapi tetap saja. Dan ketiga kalinya ia ingin berdehem di dahului ucapan Vier.


"Bisa diem gak Lo" ucap Vier dingin.


"Ya kan gue gak suka situasi kayagini" ucap Regan.


"Terserah" ucap Vier lalu meninggalkan mereka. Di susul oleh Max yang sedari tadi diam.


"Apa salah gue astagaa ditinggal mulu nasib nasib." ucap Regan mengelus dada nya.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2