AERILYN (END)

AERILYN (END)
51. Keputusan Dean


__ADS_3

...Sebuah keputusan yang diambil haruslah memenuhi persyaratan yang adil dengan tidak memihak siapa pun...


...~Dean...


-


-


-


Di ruang kepala sekolah suasana pun sangat tegang sejak kedatangan Riel setelah dari UKS.


Max terus terusan ingin menghajar Riel tetapi di cegah oleh guru tadi. Sedangkan Dean selaku kepala sekolah dan om nya Max memijit kening nya karena kelakuan Max.


"Sebenarnya ada apa ini, kenapa kalian berkelahi?" Tanya Dean kepada Max dan Riel. Tetapi mereka berdua tidak ada yang menjawab nya membuat pusing Dean.


"Max jawab pertanyaan saya" ucap Dean menatap tajam Max. Max yang di tatap pun langsung menceritakan kenapa ia berkelahi dengan Riel.


"Apa!!! Aeril koma. Kenapa kalian gak ada yang ngabarin" teriak Dean terkejut dan kesal karena ketinggalan berita. Guru itu pun terkejut mendengar teriakan kepala sekolah.


"Gimana mau ngabarin orang yang lainnya juga pada khawatir" ucap Max tanpa rasa bersalah.


"Terus dimana Aeril?" Tanya Dean karena Max hanya menceritakan Aeril ketabrak dan Max sangat marah dengan Riel karena sudah membuat Aeril seperti itu.


"Pergi" ucap Max sedih.


"Kemana?" Tanya Dean lagi.


"Gak tau, Eril dibawa sama kak Son. Gara-gara bajingan ini Eril dibawa pergi" ucap Max ingin meninju Riel lagi tetapi dihalangi guru tersebut.


Dean yang mendengar itu pun terkejut karena ia tak menyangka Son kemari untuk membawa Aeril pergi.


"Sekarang om tau kan kenapa Max berantem sama dia, gara-gara dia Eril pergi om. Om tau, Max sama kak Alex terpukul gara-gara Eril di bawa pergi. Max sama kak Alex berusaha bujuk kak Son tapi gak berhasil dan Max gak tau sekarang Eril di mana" ucap Max sedih dengan mata berkaca-kaca. Dean yang melihat itu langsung menghampiri Max dan memeluk nya.


Dean juga sama terpukul nya dengan Max karena ia juga sangat menyayangi Aeril.


Max yang mendapatkan pelukan dari Dean pun runtuh pertahanan nya karena mengingat Aeril yang sangat ia sayangi telah pergi.


"Udah Max jangan nangis masa cowo nangis" ledek Dean supaya Max tegar.


"Terserah" ucap Max kesal lalu melepaskan pelukannya. Dean yang melihat itu hanya terkekeh lalu kembali lagi ke tempat duduk nya. Sedangkan Max ia berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata nya.

__ADS_1


"Cengeng amat jadi cowo gak malu apa tuh di liat guru sama Riel" ledek Dean lagi sambil menunjuk guru tersebut dan Riel. Guru itu pun terkekeh melihat nya sedangkan Riel ia menatap Max seperti memikirkan sesuatu tidak tahu apa.


Max yang mendengar itu pun mengalihkan pandangannya ke guru dan Riel, ia lupa kalau masih ada orang di sekitar nya selain Dean. Segera ia ubah raut wajah nya sedatar mungkin tetapi tetap mata nya memerah karena habis menangis.


Dean yang melihat kelakuan Max yang seperti anak kecil itu hanya terkekeh. Sedangkan Max menatap tajam Dean karena tidak memberitahu nya.


"Terserah" ucap Dean mengikuti ucapan Max tadi.


"Ekhemm, jadi di sini permasalahan nya karena Riel yang menyebabkan kecelakaan Aeril dan Max melampiaskan amarahnya kepada Riel. Benar begitu?" Tanya Dean kepada mereka berdua. Max menganggukkan kepala nya sedangkan Riel ia hanya diam melamun.


"Tapi menurut aturan sekolah di sini tidak boleh berkelahi sampai menyebabkan cedera pada siswa lain. Oleh karena itu, Max kamu saya skors seminggu karena sudah melanggar aturan sekolah. Sedangkan untuk Riel, kamu bisa mengikuti pembelajaran seperti biasa" ucap Dean tegas. Max membelalakkan mata nya tanda terkejut.


"Kok gitu sih om, kan di sini yang salah Riel karena udah buat Aeril kecelakaan" protes Max tak terima.


"Di sini sekolah dan saya selaku kepala sekolah membuat keputusan yang tepat" tegas Dean.


"Maaf pak, tapi kenapa dia gak di skors juga? " ucap Max sambil menunjuk Riel. Ia tak sudi menyebut nama Riel lagi.


"Karena di sini ia sebagai korban dan kamu sebagai pelaku. Dan di sekolah sudah ada aturan nya dilarang berkelahi, mengapa kamu lakukan jika sudah ada aturannya" ucap Dean.


"Ya karena amarah saya sudah memuncak sejak dia dateng ke kelas sama cewe murahan itu. Jadi saya gak salah dong pak, coba misalkan bapak jadi saya pasti bapak melakukan hal yang sama dengan apa yang saya lakukan" ucap Max tegas. Sedangkan Dean sudah tidak bisa berkata apa-apa dengan keponakannya ini tapi ia harus adil sebagai kepala sekolah.


"Saya mengerti dengan perasaan kamu, tetapi jika ingin berkelahi jangan di lingkungan sekolah. Apa tidak bisa di tahan amarahmu itu, sudah seperti ini tidak bisa dihindari. Jadi keputusan saya sudah bulat, Max diskorsing seminggu dan Riel tetap mengikuti pembelajaran seperti biasa" final Dean. Guru yang mendengar itu pun takjub akan keputusan kepala sekolah karena ia tidak membeda-bedakan siswa dengan kerabat nya sendiri.


Brakk


Yang di dalam ruangan pun terkejut dengan apa yang sudah Max lakukan tadi.


Harus sabar ngadepin keponakan yang satu ini. Batin Dean mengelus dada nya.


"Kalau begitu silakan keluar" ucap Dean kepada guru dan Riel. Mereka berdua pun keluar dari ruangan kepala sekolah.


"Kamu Riel mendingan kamu ke UKS dulu aja" saran Guru itu.


"Baiklah pak" ucap Riel yang sedari tadi terdiam. Guru itu pun kembali ke ruang kelas untuk mengajar pelajaran yang tertunda tadi.


-


-


-

__ADS_1


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung..


...Maaf banget yah aku up nya lama karena banyak tugas sekolah, lain kali nanti aku bakal up lagi okeyy :)...

__ADS_1


...~Salam Ar...


__ADS_2