
...Apa kalian pernah mencubit pipi anak bayi? Terasa menggemaskan bukan?...
...~Ar...
-
-
Awal yang baru untuk memulai suatu kehidupan yang baru. Seperti saat ini Aeril, Vier dan Son sedang sarapan bersama sebelum mereka ke kampus dan ke kantor.
Tak ada pembicaraan seperti biasanya dalam sarapan hari ini. Son yang tak seperti biasanya pun mau tak mau bertanya.
"Ada apa dengan kalian berdua ini. Apakah kalian bertengkar?" Tanya Son memandangi Aeril dan Vier bergantian.
Mereka berdua yang di pandangi pun terdiam tak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Son.
Tak ada yang menanggapi pertanyaannya Son pun menghela nafas kasar lalu melanjutkan sarapan yang sempat tertunda tadi.
Tak lama Aeril beranjak dari tempatnya menuju ke mobil yang akan ia gunakan bersama Vier.
Vier yang melihat itu pun segera menghabiskan makanannya dengan cepat dan segera ingin menyusul Aeril. Tetapi sebelum itu ucapan dari Son pun terdengar.
"Perbaiki hubungan kalian berdua" ucap Son. Vier yang mendengar itu mengangguk dan langsung menuju ke mobil yang telah di masuki oleh Aeril.
Tak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka berdua sedari tadi sampai Vier mau tak mau memulai percakapan.
"Ril" panggil Vier.
"Hmm" gumam Aeril.
"Maaf untuk yang kemarin" ucap Vier merasa bersalah.
"Hn" ucap Aeril singkat. Vier yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Aeril.
"Kamu marah?" Tanya Vier. Aeril tak menjawab malah ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil di sampingnya.
Vier yang melihat itu pun segera meminggirkan mobilnya asal di pinggir jalan. Lalu ia menghadap ke arah Aeril.
"A-aku minta maaf Ril, a-aku gak bermaksud untuk apa yang kamu pikirin. Maafin aku" jelas Vier. Aeril tetap tak bergeming dari tempatnya.
"Maafin aku, sungguh aku minta maaf. Aku tau aku salah aku gak bakalan lagi kayagitu tapi kamu jangan diemin aku kayagini" jelas Vier lagi.
"..."
"Ril, kamu boleh marahin aku atau apapun tapi jangan diemin aku"
Vier yang melihat Aeril masih mendiaminya pun segera ia meraih kedua pundak Aeril untuk menghadapnya.
Saat pandangan mata mereka berdua bertemu. Aeril merasa mata Vier berkaca-kaca tampak seakan ingin menangis. Ia jadi tak tega untuk pura-pura mendiami Vier lebih lama lagi.
"Maafin aku" ucap Vier lagi saat Aeril sudah menghadap ke arah nya.
"Maafin aku, aku janji gak akan lakuin hal kayagitu lagi tapi kamu jangan diemin aku kayagini. Aku.." ucapan Vier belum selesai sampai terasa jari seseorang menyentuh bibirnya.
"Sstt, ayo jalan lagi" ucap Aeril.
"Gak, kamu belum maafin aku" ucap Vier sambil melipat kedua tangan di dadanya.
Aeril yang melihat kelakuan Vier pun terkekeh lalu mencubit kedua pipi Vier kuat hingga memerah.
"Aww.. sakitt" rengek Vier sambil mengelus kedua pipi yang di cubit Aeril tadi.
"Kamu geh gemesin" ucap Aeril sambil terkekeh.
"Aeril jahat" ambek Vier.
"Ya udah gak aku maafin kalo kamu ngatain aku jahat" ancam Aeril.
__ADS_1
"Ihh jangan gitu dong, baiklah.. Aeril yang cantik kamu baik bangett dehh maafin aku yah" ucap Vier manis. Aeril yang mendengar itu pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Ya udah aku maafin, ayo jalan nanti telat lagi" ucap Aeril. Vier pun menjalankan mobilnya lagi sambil mengarahkan spion ke wajahnya yang masih terlihat merah di cubit Aeril tadi.
Sesampainya di universitas,
Banyak mahasiswa dan mahasiswi tahun ajaran baru di universitas mereka saat memarkirkan mobilnya di depan parkiran gedung musik.
Saat Aeril ingin keluar dari mobilnya ia mengarahkan pandangannya ke kedua pipi Vier yang masih terlihat memerah.
Ia segera mencari masker di mobilnya untuk menutupi kedua pipinya Vier yang terlihat menggemaskan saat memerah itu.
Saat sudah ketemu langsung ia pasangkan ke wajah Vier yang orangnya sedang linglung tersebut.
"Ha? Kenapa aku pake masker ini?" Tanya Vier terheran.
"Jangan di buka aku gak suka" ucap Aeril lalu meninggalkan Vier yang sedang linglung lagi.
Vier yang mau tak mau melepaskan masker tersebut dan melihat ke spion mobil terkejut akan kedua pipinya yang semakin memerah itu.
Ia segera memakai masker tadi dan tersenyum saat mendengar apa yang telah diucapkan Aeril tadi kepadanya.
...∆∆∆...
"Kenapa kamu pakai masker Vier?" Tanya Han saat Vier memasuki kelas pagi ini.
"Kepo" ucap Vier santai lalu duduk di samping Han.
"Apa itu kepo?" Tanya Sam.
"Kepo itu seperti ingin tahu segala hal" ucap Vier. Ia lupa menggunakan bahasa sehari-hari nya di Indonesia.
"Oh gitu" ucap Sam mengangguk tanda mengerti.
"So, kenapa kamu pakai masker?" Tanya Han lagi yang masih sangat penasaran. Vier mendengar nya hanya memutar bola matanya malas.
"Penasaran sekali kamu Han" ucap Ken yang sedari tadi memperhatikan mereka semua.
"Hehee, kan aku kepo" ucap Han terkekeh.
Mereka semua tak meladeni ucapan Han sampai dosen masuk dan mengajar.
...∆∆∆...
Saat ini mereka berempat sedang makan di kantin setelah kelas mereka selesai.
"Kamu makan gak mau dibuka dulu itu maskernya Vier" ucap Han.
"Tapi jangan pada ketawa kalian ya" ucap Vier saat ingin membuka maskernya. Mereka semua mengangguk menanggapinya.
Saat Vier telah melepaskan maskernya, mereka semua tertawa terbahak-bahak saat melihat pipi Vier yang memerah itu.
Vier yang melihat itu mendengus sebal lalu memakai lagi maskernya karena malu akan ketawa mereka yang sekarang menjadi pusat perhatian.
"Hahahahaaa Vier pipi kamu kenapa" tanya Han yang masih tertawa.
"Di cubit" ucap Vier.
"Sama siapa?" Tanya Ken.
"Aeril"
"Kenapa?"
"Rahasia"
"Pantas kamu disuruh pakai masker dengannya, kamu tahu tidak Vier wajah kamu terlihat lucu saat kedua pipimu memerah" jelas Han.
__ADS_1
"Hmm, jangan tertawa lagi" ucap Vier masih sebal saat mereka menertawakannya.
"Oke okee"
Mereka berempat makan dengan khidmat sesekali bercanda ria saat Han membuat lelucon.
"Kalian tahu tidak adik tingkat kita saat ini yang baru masuk ada yang seperti Vier lho" ucap Ken.
"Maksudnya?" Tanya Han.
"Seperti tampang nya yang dingin dan tak mudah di dekati itu" ucap Ken melirik ke arah Vier. Vier hanya mendengus mendengarnya.
"Serius, siapa dia?" Tanya Han antusias.
"Mengapa kamu sangat antusias Han?" Tanya Sam.
"Nothing, aku hanya ingin berkenalan dengannya" ucap Han.
"Dia dari jurusan apa?" Tanya Han.
"Bisnis"
"Bagus akan aku ajak berkenalan dan bergabung dengan kita, bye" ucap Han lalu meninggalkan mereka bertiga yang heran dengan kelakuannya.
"Dasar Han"
...∆∆∆...
"Kalian tahu tidak orang yang aku ajak kenalan lebih dingin dari Vier" jelas Han saat sudah berkenalan dengan adik tingkatnya itu.
"Terus itu, aku ajak berkenalan tetapi dia mengacuhkan aku. Hatiku sakit saat melihatnya melakukan itu kepadaku" ucap Han dramatis.
Vier, Ken dan Sam mendengus geli saat mendengar cerita Han.
"Terus kamu berhasil tidak mengajak nya berkenalan?" tanya Sam.
"Tentu berhasil, siapa dulu Han" ucap Han bangga.
"Siapa namanya?" Tanya Ken.
"Alaric dia bilangnya" ucap Han.
"Coba nanti kamu ajak dia ke sini Han" ucap Ken.
"Akan aku coba" ucap Han.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
Bersambung...