AERILYN (END)

AERILYN (END)
75. Alex is Coming


__ADS_3

...I miss you, I miss you so much...


...~Aeril...


-


-


Musim semi, musim yang di tunggu-tunggu oleh para pemuda-pemudi setelah kehadiran musim dingin.


Kedatangan musim semi adalah fase kehidupan dengan harapan baru. Seperti saat ini Aeril berharap orang tua dan kakak nya akan hadir di acara kelulusannya yang tinggal menunggu waktu.


"Ril kamu gugup tidak untuk perform besok?" Tanya Aera. Mereka berdua saat ini sedang di ruang musik untuk berlatih perform besok.


"Sedikit" ucap Aeril yang saat ini sedang memainkan piano.


Suasana di ruang musik hanya ada mereka berdua. Teman-temannya yang lain sudah pergi meninggalkan kelas sedari tadi.


Aera mendengarkan nada-nada yang mengalun indah saat dimana jari-jari lentik Aeril bergerak lincah saat menekan tuts demi tuts yang ada di piano itu.


Suara yang dihasilkan dari nada yang dimainkan Aeril agak terdengar sedikit menyedihkan saat di dengar lama.


Aeril memainkan nada itu sangat serius dimana ia tak sadar air mata nya jatuh di pipinya.


Aera yang melihat itu menghampiri Aeril dan menepuk pundaknya untuk menanyakan keadaannya.


"Are you okay Ril?" Tanya Aera.


"I'm fine, thanks Ra" ucap Aeril mengusap air mata yang sempat mengalir di pipi nya tadi.


"Cerita sama aku kalau kamu ingin cerita"


"Gomawo"


"Ril, ada yang mencari kamu di luar" ucap seseorang saat ia memasuki ruang musik untuk memberitahu Aeril.


"Who?" Tanya Aeril penasaran.


"I don't know, ia hanya menyuruhku memanggilmu itu saja"


"Thanks, aku akan menemuinya" ucap Aeril beranjak dari ruang musik tetapi sebelum itu ia menyuruh Aera untuk tetap di sini. Orang yang memberitahu nya tadi langsung pergi meninggalkan mereka setelah memberitahu hal tadi.


Aeril melihat seseorang yang sedang berdiri membelakanginya. Saat ia mendekat dan ingin bertanya, orang itu sudah membalikkan tubuhnya menghadap Aeril. Aeril membeku saat melihat orang itu. Air matanya langsung jatuh menuruni pipi nya sekali lagi.


Ia sangat merindukan sosok yang ada di depannya itu. Ia langsung memeluk tubuh orang di depannya itu dengan erat dan menumpahkan air mata yang selama ini ia pendam.


Ia senang sekaligus terharu. Ia tak tahu harus mengungkapkan perasaannya bagaimana untuk saat ini. Yang ia tahu hanya orang di depannya ini nyata.


Orang itu yang langsung di peluk Aeril memeluknya kembali dan mengelus lembut rambut Aeril dengan sayang. Ia membiarkan Aeril menumpahkan air mata sebanyak yang ia mau untuk mencurahkan isi hatinya itu.


Orang itu juga sangat merindukan orang yang dalam dekapannya itu saat ini. Saat seseorang memberitahunya jika Aeril kuliah di sini, ia langsung bergegas untuk menemuinya.


Orang yang selama ini tidak pernah berpisah dengannya. Orang yang selama ini selalu di sisi nya. Orang yang selama ini selalu ia cari keberadaannya. Orang yang selama ini ia rindukan.


Orang itu yang datang menemui Aeril siapa lagi jika bukan kakak kandungnya yaitu Alexi Emrick Gracemoon.


"Kak.."


"Ada apa?"


"Aku kangen banget sama kakak, aku.." suara Aeril terdengar parau saat ingin berbicara kepada kakaknya.


"Kakak tau, kakak juga kangen banget sama kamu" ucap Alex sambil mengelus surai lembut rambut Aeril.


"I miss you, I miss you so much" ucap Aeril setelah melepaskan diri dari pelukan Alex dan menyeka air mata yang terus mengalir di pipi nya itu. Alex yang melihat itu mau tak mau tertawa bahagia karena sudah lama ia tak melihat adik nya itu menangis seperti ini.


"Udah dong berenti nangisnya, kan kak Alex udah sini nemuin princess" ucap Alex menghibur Aeril.


"Gak tau ini air mata nya daritadi gak mau berenti" ucap Aeril dengan wajah cemberut sambil mengusap air mata yang jatuh terus menerus.


"Pelan-pelan ngusapnya. Yok ikut kakak ke dalem mobil. Kamu gak malu diliatin tuh sama sekitar kamu kalo lagi nangis" ledek Alex. Aeril yang mendengar itu mengarahkan pandangannya ke sekeliling dan ya benar saja saat ini ia menjadi tontonan bagi mereka. Mau tak mau ia malu dan langsung menarik Alex untuk menuju ke mobilnya.


Setelah sampai di dalam mobil. Alex memberi minum kepada Aeril untuk melegakan tenggorokannya.


"Mama sama Papa.. bagaimana keadaan nya kak?" Tanya Aeril.


"Mereka baik juga sangat merindukanmu" ucap Alex yang membuat mata Aeril berkaca-kaca lagi.


"Maafin Aeril karena gak pernah hubungin kalian"


"Gak papa, kakak tau situasi kamu kayagimana jadi kakak maklumin"


"Thanks kak"


"Biasa aja kali sama kakak kamu gini" Aeril tersenyum mendengar ucapan Alex.


"Kamu mau ikut kakak ke apart?"


"Ya udah, aku juga pengen cerita banyak hal sama kak Alex"


...∆∆∆...


Aera menunggu Aeril di ruang musik tetapi orang yang di tunggu sedari tadi tidak muncul. Sampai Vier dan Ken datang menghampirinya.


"Aeril dimana Ra?" Tanya Vier.


"Emangnya di luar tadi tidak ada?"


"Nothing"

__ADS_1


"Really?"


"Iya, emangnya kemana Aeril?" Tanya Vier lagi.


"Tadi ada yang memberi tahunya jika ada yang menemuinya, jadi Aeril menghampiri orang itu tetapi sampai saat ini aku menunggunya belum datang juga" jelas Aera.


"Siapa orang itu?"


"I don't know, karena aku disuruh tunggu di sini oleh Aeril"


Vier yang mendengar itu mendapati suasana hatinya cemas. Segera ia menghubungi Aeril dan Aeril menjawab panggilannya.


"Kamu dimana Ril?" Tanya Vier saat panggilannya terhubung.


"Aku sama kak Alex, maaf gak ngabarin kamu" ucap Aeril merasa bersalah.


"Hah? Alex? Emangnya dia ada di sini?"


"Iya aku juga kaget awalnya. Aku sekarang lagi mau ke apart kak Alex"


"Kamu kirim alamatnya nanti aku ke sana"


"Iya, maafin aku ya lupa kabarin kamu"


"No problem, kamu hati-hati nanti aku nyusul kamu"


"Baik, take care sayang" ucap Aeril memutuskan panggilan teleponnya. Vier yang mendengar Aeril memanggilnya sayang pun mau tak mau tersenyum.


"Aeril dimana sekarang?" Tanya Aera.


"Dia sama kakaknya"


"Emangnya Aeril punya kakak?"


"Punya, kakak kandungnya"


"Aku baru tahu"


"Ya udah aku mau menyusul Aeril dulu ya Ken, Ra" pamit Vier kepada mereka berdua lalu ia bergegas untuk menyusul tunangannya.


...∆∆∆...


"Siapa tadi itu Ril" tanya Alex saat mendengar percakapan adiknya itu.


"Kakak tebak" ucap Aeril membuat tebak-tebakan.


"Kak Son?" Tebak Alex. Aeril menggeleng.


"Clue"


"Nanti dia dateng kok" jawab Aeril membuat Alex penasaran tetapi ia tak bertanya lebih lanjut.


Alex duduk di hadapan Aeril dan bertanya tentang sesuatu hal yang sedari tadi membuat ia penasaran.


"Kamu udah punya pacar?" Tanya Alex.


"Gak ada"


"Terus yang tadi kamu angkat telepon itu apa, terus kamu panggil sayang lagi. Kalo bukan pacar terus apa?" Tanya Alex menginterogasi Aeril. Aeril yang mendengar pertanyaan Alex itu pun terkekeh karena sudah lama ia tak merasakannya.


"Kenapa ketawa ada yang lucu?" Tanya Alex.


"Gak ada"


"Terus"


"Seharusnya kak Alex itu manjain aku karena udah lama gak ketemu. Ini malah interogasi aku perihal kayagini"


"Perihal kayagini kata kamu. Kakak gak mau ya kejadian kaya dulu ke ulang lagi" ucap Alex menatap Aeril tajam. Aeril yang di tatap pun menundukkan kepalanya merasa bersalah. Alex yang melihat itu menghela nafas.


"Kakak cuma khawatir sama kamu Ril. Bukannya kakak gak bolehin kamu pacaran tapi kakak gak mau hal yang sama terjadi lagi"


"Iya maaf kak"


"Kak Son tau?"


"Tau"


"Dia bolehin kamu?" Tanya Alex. Aeril menganggukkan kepalanya. Alex yang melihat itu heran. Pasalnya Son sangat protektif kepada Aeril dalam hal apapun. Tetapi mengapa ia menyetujui Aeril menjalin hubungan lagi. Semakin dipikirkan semakin membuat Alex terheran.


"Siapa orang itu?" Tanya Alex.


"Dia.." ucapan Aeril berhenti saat mendengar bel berbunyi dari apartment Alex. Alex ingin membuka pintunya tetapi di tahan oleh Aeril. Dan sekarang ini Aeril telah membuka pintu dan terdapatlah sosok Vier di hadapannya.


"Cepet juga kamu datengnya" ucap Aeril. Vier tersenyum manis dan mengecup singkat bibir Aeril. Aeril blushing takut dilihat oleh kakak nya yang sedang menunggu mereka.


"Ayo masuk" ajak Aeril membiarkan Vier masuk ke dalam.


"Lo.." Alex terkejut saat melihat kedatangan Vier di dalam apartment nya ini. Ia tak tahu harus berbicara apa kepada sahabat lamanya ini. Jadi ia hanya menyuruhnya duduk di hadapannya.


Aeril dan Vier duduk di hadapan Alex yang sedari tadi memandang mereka berdua. Alex bingung mau memulai bertanya darimana dulu. Sedangkan Vier terkekeh saja saat melihat Alex yang terlihat kebingungan itu. Tidak berubah sahabat lamanya ini.


"Apa kabar Lex?" Tanya Vier memecah keheningan yang tadi sempat melanda.


"Baik" jawab Alex yang masih terlihat bingung.


"Lo bingung mau mulai nanya darimana?" Alex menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia sama sekali tidak mengerti.


"Gue sama Aeril udah tunangan. Maaf gak kasih tau Lo" jelas Vier. Alex yang mendengar itu terkejut. Ia menatap ke arah Aeril dan Vier bergantian.

__ADS_1


"Dari kapan kalian deket?" Tanya Alex. Ia heran karena dulu Vier tidak pernah mendekati Aeril sama sekali apalagi mereka sekarang ini sudah bertunangan. Sulit di percaya untuk seorang Alex.


"Awal masuk kuliah" jawab Aeril. Alex yang mendengarnya tambah terkejut.


"Jadi setelah kita lulus Lo udah berencana untuk kuliah di sini" ucap Alex kepada Vier. Vier hanya mengangguk.


"Lo kok bisa tau kalo Aeril di sini" tanya Alex lagi. Ia masih heran kenapa Vier bisa tau Aeril di sini, darimana coba.


"Feeling" ucap Vier singkat. Alex tak percaya begitu saja kepada Vier dan ia mengarahkan pandangannya ke Aeril.


"Beneran kak, aku juga awalnya gak tau kalo KaVi ada di sini" jelas Aeril.


"Terus kok.. coba jelasin dulu Vier gue bener-bener bingung" ucap Alex frustasi saat menghadapi dua sosok di depannya ini. Yang satu acuh, yang satu lagi diam saja jika tak ditanyai.


Vier terkekeh melihat wajah frustasi Alex itu. Ia menjelaskan dari awal bagaimana ia bisa ada di sini hingga seterusnya dan terakhir mengapa ia bisa menjadi tunangan Aeril.


Setelah mendengar jawaban dari Vier, Alex mencerna itu semua untuk masuk ke dalam otaknya yang entah mengapa sedari awal ia tak dapat mengerti semua itu.


Aeril dan Vier yang melihat Alex termenung pun saling tatap dan beranjak dari sofa tersebut ke ruang dapur untuk membuat minuman.


"Kamu mau minum apa?* Tanya Aeril.


"Yang seger-seger aja ada"


"Ada, tunggu aku buatin" ucap Aeril. Ia membuat jus jeruk untuk Vier dan Alex. Vier memperhatikan Aeril tanpa melepas satu pandangan pun darinya. Aeril yang tau di tatap pun hanya diam karena ia tak mau salah tingkah di hadapan Vier.


"Nih kamu minum dulu aku kasih ini ke kak Alex" ucap Aeril lalu menghampiri Alex yang masih termenung. Setelah menaruh minuman di atas meja, ia kembali lagi ke ruang dapur dimana Vier berada.


"Alex masih cerna perkataan aku tadi" tanya Vier.


"Masih"


"Sampe segitunya yah kakak kamu Ril"


"Iya aku juga geh heran kenapa bisa lama gitu, dulu mah langsung cepat tanggap dia"


"Karena faktor"


"Faktor apa?"


"Faktor U"


"Hahahaha apaan sii kamu ini ada-ada aja"


Saat Aeril dan Vier sedang bercanda gurau beda lagi Alex yang masih mencerna ucapan Vier.


Tak lama ia sudah mengerti semua dan meminum minuman yang telah di buat Aeril itu. Ia memanggil nama Aeril dan Vier untuk menyuruhnya kembali dan ingin di interogasi lagi.


"Lo beneran serius sama Adek gue?" Tanya Alex.


"Ya bener lah Lex, masa gue mau bohongin perasaan gue sendiri" jelas Vier.


"Kamu Ril, beneran cinta sama Vier?" Tanya Alex kepada Aeril. Aeril yang mendengar itu malu-malu ingin menjawabnya saat mata Vier memandang nya penuh cinta. Ia tak tega jadi ia mengangguk sebagai jawabannya.


"Huft.. ya udah kalo kamu setuju" Alex menghela nafas saat tak bisa berkata apa-apa lagi kepada adiknya itu. Lalu ia mengarahkan pandangannya ke arah Vier yang sedari tadi memandang Aeril. Ia berdehem dan berucap.


"Inget ini Vier. Walaupun Lo sahabat gue sekalipun jangan sampe buat Aeril nangis apalagi khianatin dia" ancam Alex.


"Gak bakalan, susah juga buat dapetin Aeril masa mau gue buat nangis apalagi sampe di khianatin. Ya gak yang" ucap Vier memandang Aeril dengan alis di naik-turunkan. Alex yang melihat itu berdehem.


"Yang serius bisa Vier" ucap Alex dingin. Ia heran kemana Vier yang dulu dingin itu mengapa sekarang menjadi seperti ini.


"Gue gak bisa janji, kalo janji percuma kalo di langgar pun bisa. Gue bisanya langsung bertindak ke orangnya untuk nunjukin kalo perasaan gue itu nyata gak palsu. Gue bisa ngasih apapun ke Aeril tapi ada satu hal yang gak bisa gue kasih ke dia, yaitu nyawa gue" jelas Vier.


"Kenapa gitu? Bukannya tadi Lo bilang bisa ngasih apapun ke Aeril?"


"Iya bener, tapi kalo gue kasih nyawa gue buat dia terus siapa yang jagain Aeril kalo bukan gue. Gue gak mau ada orang yang ngerebut Aeril dari gue" jelas Vier. Alex tertegun mendengar pernyataan Vier, sedangkan Aeril terharu mendengarnya.


"Inget kata-kata lo ini" ucap Alex. Vier mengangguk sebagai jawabannya. Lalu mereka berdua berpelukan ala pria. Dan memulai pembicaraan seputar hal-hal yang telah mereka berdua lalui. Sedangkan Aeril keluar ke teras untuk menikmati pemandangan di luar apartment.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung...


...Siapa yang kangen sama Alex? Hehee......


...Itu udah aku munculin di chapter ini...


...Jangan lupa ya untuk selalu vote dan komen...

__ADS_1


__ADS_2