
...You got my first kiss...
...~Vier...
-
-
Vier terus mengejar Aeril yang terus berjalan tanpa menghiraukan panggilannya.
"Tunggu" ucap Vier saat berhasil menarik lengan Aeril supaya berhenti. Aeril yang di tarik pun ingin melepaskan pegangan tangan Vier di lengannya tetapi tidak bisa karena di pegang kuat oleh Vier.
"Sakit" lirih Aeril saat pegangan di lengannya makin kuat.
"Maaf" ucap Vier melepaskannya dan terdapat bekas memerah karena pegangan tangannya terlalu kuat.
"Maaf Ril sakit ya" ucap Vier sambil mengelus lengan yang memerah tadi. Ia merasa bersalah karena membuat Aeril seperti itu.
Aeril dan Vier berdiri di koridor kampus. Banyak pasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Vier yang merasakannya pun mengajak Aeril ke suatu tempat yang tidak ramai akan orang yang berlalu lalang.
Sampailah di salah satu ruang kelas kosong. Vier mendudukkan Aeril di kursi yang tersedia di ruangan itu.
"Maafin aku Ril, masih sakit gak?" Tanya Vier sambil mengelus lengan yang memerah tadi. Aeril menggelengkan kepalanya membiarkan Vier mengelus lengannya yang memerah itu.
"Kamu masih marah sama aku?" Tanya Vier hati-hati. Aeril menoleh ke arah Vier lalu menggelengkan kepalanya. Vier yang melihat itu pun tersenyum lega.
"Kamu mau jelasin kenapa kamu marah sama aku" ucap Vier menatap ke arah Aeril. Aeril yang ditanyai pun menganggukkan kepalanya lalu menjawab.
"Kan udah aku bilangin jangan dilepas maskernya, terus tadi kenapa kamu gak pake maskernya?" Tanya Aeril cemberut. Vier yang mendengar itu pun terkekeh sambil mengacak-acak rambut Aeril gemas.
"Hahahaa, iya maaf maaf aku lupa. Aku juga abis makan tadi jadi lupa mau pake nya" jelas Vier. Aeril masih cemberut mendengar.
"Ya udah gini aja, kamu mau aku ngapain supaya kamu gak marah lagi sama aku" ucap Vier. Aeril yang mendengar itu menggelengkan kepalanya.
"Terus itu?" Tanya Vier menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja. Aeril menoleh ke arah Vier tapi tidak menjawab apa-apa.
Ia menatap lekat wajah Vier yang sedang menggunakan masker itu lalu ia lepas masker yang menghalangi wajahnya. Vier mengernyit bingung akan kelakuan Aeril tetapi ia diamkan saja.
Setelah Aeril membuka masker dari wajah Vier barulah ia tatap lagi wajahnya itu. Ia memperhatikan wajahnya itu sampai pada kedua pipi Vier yang masih memerah itu.
Ia mengelus pelan kedua pipi yang memerah itu. Vier yang tiba-tiba di perlakukan seperti itu pun hanya bisa diam mengamati apa yang ingin dilakukan Aeril kepadanya.
Aeril masih mengelus kedua pipi itu lalu tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Vier. Vier yang melihat itu terkejut akan tindakan Aeril yang sangat random ini. Tiba-tiba..
Cup
Cup
Aeril mencium kedua pipi Vier di tempat yang memerah itu lalu setelah itu ia tersenyum menatap wajah Vier yang sedang terkejut itu.
"KaVi?" Tanya Aeril. Vier langsung tersadar akan apa yang sedang terjadi tadi lalu ia merengkuh tubuh Aeril ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Aeril terkejut sesaat lalu membalas pelukan Vier. Vier yang merasa pelukan Aeril tegang karena Aeril duduk di kursi sampingnya segera ia membenarkannya. Ia angkat tubuh Aeril untuk duduk di pangkuan nya seperti menggendong ala koala.
Mereka berpelukan sangat lama sampai Vier melepaskan pelukannya. Ia tatap mata Aeril yang hanya memantulkan pantulan dirinya di matanya itu.
Aeril juga menatap mata Vier yang hanya memantulkan pantulan dirinya seorang.
Tak sadar akan keduanya, wajah mereka semakin lama semakin mendekat. Saat satu centi lagi bibir mereka bersentuhan, Vier menjauhkan wajahnya lalu bertanya kepada Aeril.
"Boleh?" Tanya Vier hati-hati. Aeril yang ditanya pun diam saja tetapi langsung mencium bibir Vier. Vier sangat terkejut akan tindakan Aeril itu tetapi ia langsung tersenyum.
Saat itu Aeril diam saja mencium Vier tanpa pergerakan yang lain. Lalu saat itu bibir Vier mengisap lembut bibir bawah Aeril, Aeril langsung refleks membuka sedikit mulutnya.
Vier yang mendapatkan respon seperti itu pun sangat senang lalu ia mencium bibir bawah Aeril dengan lembut lalu bergantian dengan bibir atas Aeril.
Aeril yang sedari tadi diam pun kini mulai menggerakkan bibirnya membalas ciuman Vier. Vier tersenyum di sela ciumannya karena Aeril membalasnya. Vier mengarahkan tangan Aeril agar mengalungi lehernya. Sedangkan tangan Vier melingkari pinggang Aeril agar tidak terjungkal ke belakang.
Vier semakin memperdalam lumatannya dan semakin mengeratkan pelukannya pada Aeril. Ia menggigit dan mengisap lembut bibir bawah Aeril memintanya untuk membuka mulutnya. Aeril mengikuti kemauan Vier dan membuka sedikit mulutnya. Mendapati bibir Aeril terbuka untuknya, Vier memasukkan lidahnya dan mulai menggelitik rongga mulut Aeril mengabsen setiap gigi Aeril di dalamnya dan mencari-cari lidah Aeril dan mengulum lidah itu dengan lembut.
Vier mengerang dan meremas pinggul Aeril saat Aeril mengulum lidahnya dan menyesapnya. Vier semakin merapatkan pelukannya pada tubuh Aeril hingga kedua tubuh mereka menempel.
Ciuman mereka menjadi semakin liar dan panas. Vier mengelus pelan punggung Aeril yang terbungkus pakaiannya itu. Vier melepaskan pagutannya dibibir Aeril saat mereka berdua kehabisan nafas.
Mereka berdua mengambil nafas sejenak dan saling menatap dengan pandangan berkabut. Vier kembali ******* bibir Aeril saat dilihatnya Aeril tanpa sadar mengigit bibir bawahnya yang membuat ia tergoda. Vier ******* bibir Aeril dengan menuntut.
Vier melepaskan ciumannya pada bibir Aeril dan turun ke leher jenjang Aeril. Aeril mendesah pelan karena geli saat Vier menjilat dan mengecup lembut lehernya.
Seakan tersadar saat mendengar Aeril mendesah. Vier menyudahi acaranya tadi itu dan melihat ke wajah Aeril yang sudah memerah dan ia sedang meraup oksigen sebanyak-banyaknya karena kehabisan nafas saat ciuman yang penuh napsu tersebut.
Bibir Aeril merah dan bengkak akan ulahnya tetapi malah semakin menggoda Vier. Mata Aeril sendu saat menatapnya. Dadanya naik turun karena kehabisan oksigen.
Aeril yang sedang ditatap seperti itu pun mau tak mau memeluk tubuh Vier untuk menutupi wajahnya yang semakin memerah.
Vier yang melihat itu pun terkekeh pelan sambil mengelus pelan punggung Aeril yang masih mencoba mengatur nafasnya itu.
Saat merasa Aeril sudah stabil mengatur nafasnya. Vier melepaskan pelukannya itu dan menatap ke arah Aeril.
"Maaf Ril aku.." ucapan Vier terpotong saat Aeril menyela ucapannya.
"Aku duluan yang kayagitu jadi kamu jangan nyalahin diri sendiri aku gak suka" ucap Aeril mengelus pipi Vier.
"Bukannya aku duluan yang ngajak kamu" ucap Vier heran. Pasalnya tadi yang meminta mereka berdua ciuman itu Vier mengapa jadi Aeril coba.
"Masa sih?" Tanya Aeril bingung. Yang juga membuat Vier bingung.
Mereka berdua tertawa karena mempermasalahkan siapa duluan yang memulai hal seperti itu tadi.
"You got my first kiss" ucap Vier tersenyum manis ke arah Aeril.
"Really? You also got my first kiss" ucap Aeril tersenyum.
"Really? Aku kira bukan aku" ucap Vier.
__ADS_1
"Kamu yang pertama" ucap Aeril. Vier senang mendengar itu.
"So, Kita sama-sama jadi yang pertama kalau begitu" ucap Vier senang. Aeril hanya menganggukkan kepalanya.
"Thanks you Ril" ucap Vier memeluk tubuh Aeril.
"Masih mau di sini atau pulang?" Tanya Vier saat melepaskan pelukannya. Aeril yang ditanyai pun seketika tersadar kalau saat ini ia sedang duduk dipangkuan Vier. Segera ia turun dan duduk di kursi sampingnya. Vier yang melihat itu hanya terkekeh sambil mengacak gemas rambut Aeril.
"Kok aku bisa duduk di sana?" Tanya Aeril tak menjawab pertanyaan Vier.
"Kamu gak sadar" goda Vier. Aeril hanya menggelengkan kepalanya.
"You enjoyed our kiss" bisik Vier di telinga Aeril. Aeril yang mendengar itu blushing.
"Hahahaaa oke okee aku gak godain kamu lagi. Jadi kita mau kemana?" Tanya Vier lagi.
"Pulang, tapi kita pamitan dulu sama mereka. Aku gak enak pergi tanpa pamitan tadi" ucap Aeril. Vier hanya mengangguk lalu mengajak Aeril keluar dari ruang kelas itu tetapi sebelum itu.
"Kamu masih ada masker lagi?" Tanya Vier tiba-tiba.
"Untuk apa?" Tanya balik Aeril. Vier mengelus pelan bibir Aeril yang terlihat bengkak itu. Aeril yang tersadar langsung mencari masker di tasnya.
"Kamu juga pake" ucap Aeril saat sudah mengenakan masker di wajahnya.
"Siap princess" ucap Vier.
Mereka berdua langsung menuju ke kantin tadi untuk menemui teman-teman mereka untuk berpamitan pulang.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
Bersambung...
...Jangan lupa untuk selalu like, vote dan komen!!!...