
...Jalankan saja apa yang harus dijalankan, jangan karena hal itu membuat kamu bingung seperti orang bodoh....
...~Vier...
-
-
-
Malam Minggu dimana hari yang paling membahagiakan bagi para pasangan muda untuk berkencan.
Saat ini Vier ingin mengajak Aeril keluar untuk jalan-jalan. Tetapi sebelum itu ia izin dulu kepada Son yang lagi di ruang kerjanya.
"Kak Son aku mau ngomong sama kakak" ucap Aeril saat memasuki ruang kerja Son. Son yang sedang memeriksa laporan perusahaan pun memalingkan wajahnya ke Aeril yang tidak seperti biasanya Aeril mengajak ia berbicara.
"Iya ada apa?" Tanya Son. Aeril langsung duduk di hadapan Son.
"Kakak tau kalo KaVi ke negara ini cuma nyari aku?" Tanya Aeril menatap Son. Son yang mendengar itu tertegun sesaat lalu ia bertanya.
"Kamu tau darimana?" Tanya balik Son.
"Jawab aku kak" desak Aeril penasaran.
"Iya" ucap Son singkat. Aeril yang mendengar itu pun tertegun.
"Kenapa?" Tanya Aeril lirih.
"Jangan tanya sama kakak, mendingan kamu tanya Vier sendiri" usul Son.
"Kakak tau kan aku gak mau terlalu berharap lagi sama seseorang, aku gak mau dikhianatin lagi, aku gak mau kecewa lagi, kakak tau kan" ucap Aeril dengan perasaan menggebu-gebu. Son yang mendengar itu pun tertegun baru kali ini ia melihat Aeril seperti ini.
"Aku gak mau buat KaVi berharap sama aku, aku gak mau nyakitin hati dia, aku gak mau kecewain dia. Aku harus apa kak?" ucap Aeril lirih. Son yang mendengar itu langsung merengkuh Aeril ke pelukannya.
"Kakak tau Ril, kakak juga gak mau kamu kayagitu" ucap Son menenangkan Aeril.
"Tapi bisa gak kamu jalanin dulu, kakak gak mau maksa perasaan kamu juga. Kalo kamu bilang kakak egois, iya memang kakak egois tapi kakak mau lihat kamu bahagia sama orang yang tulus mencintai kamu" ucap Son.
"Tapi aku gak mau kecewain dia kak" ujar Aeril lemah.
"Kakak tau itu, sekarang jawab pertanyaan kakak" ucap Son.
"Kamu sayang sama Vier?" Tanya Son. Aeril mengangguk.
"Kamu gak mau dia kecewa?" Tanya Son lagi. Aeril mengangguk.
"Kamu gak mau nyakitin hati dia?" Tanyanya lagi. Aeril mengangguk lagi.
"Terus apa beda nya dengan kamu kayagini sekarang sama aja kamu nyakitin dia bukan?" ucap Son. Aeril tertegun lalu menatap Son. Son yang melihat itu tersenyum.
"So, jadi kamu udah tau harus apa selanjutnya" ucap Son. Aeril mengangguk.
"Good, baru ini Aeril yang kakak kenal" ucap Son sambil mengelus rambut Aeril. Saat ini mereka masih bercerita sampai terdengar suara ketukan pintu membuat mereka terdiam.
"Masuk" ujar Son dari dalam ruangan. Saat itu juga Vier masuk dan ia terkejut melihat Aeril ada di dalam ruangan tersebut.
"Kenapa Vier?" Tanya Son.
"Gini kak boleh gak Vier ngajak Aeril jalan" ucap Vier sambil melirik ke arah Aeril yang berada di samping Son. Son yang mendengar itu tersenyum jahil.
"Malam mingguan?" Tanya Son. Vier yang mendengar itu mengangguk malu-malu. Son pun terkekeh melihatnya. Lalu bertanya kepada Aeril.
"Kamu diajakin tuh sama Vier mau pergi gak?" Tanya Son melihat ke arah Aeril. Aeril yang ditanyai pun melihat ke arah Son dan menjawab.
"Ya udah" ucap Aeril. Vier yang mendengar itu tersenyum cerah.
"Jalan sekarang" ajak Vier kepada Aeril. Aeril mengangguk.
"Aku siap-siap dulu" ucap Aeril lalu meninggalkan Vier dan Son di dalam ruangan. Son lalu mengalihkan pandangannya ke arah Vier.
"Mau tau Aeril ngapain ke sini" ujar Son kepada Vier. Vier yang mendengar itu mengangguk.
__ADS_1
"Tanya sendiri aja sama orangnya" ucap Son. Vier yang mendengar itu pun sebal.
"Mending gak usah ngomong kalo kayagitu kak" ucap Vier kesal lalu meninggalkan Son seorang diri di ruangan itu.
"Kamu harus berjuang Vier untuk taklukin Aeril" monolog Son.
Aeril sudah bersiap-siap, ia memakai kaos berwarna hitam lengan pendek dipadukan dengan rok Levis putih di atas dengkul, slingbag berwarna biru dan sneakers berwarna putih.
...
...
Sedangkan Vier menggunakan kaos putih dipadukan dengan kemeja berwarna biru-hijau, celana pendek berwarna hitam dan sneakers berwarna putih.
...
...
Saat Vier melihat penampilan Aeril, ia tertegun sesaat lalu berucap.
"Udah siap?" Tanya Vier. Aeril mengangguk lalu mereka berdua berjalan ke arah mobil dan segera bergegas ke tempat tujuan.
"Kita mau kemana?" Tanya Aeril penasaran.
"Nanti juga kamu tau" ucap Vier membuat Aeril penasaran.
"KaVii.." ucap Aeril sebal.
"Aku di sini" ucap Vier sambil terkekeh.
"Udahlah jangan ngomong sama aku" ucap Aeril kesal lalu memalingkan pandangannya ke jendela mobil. Vier yang melihat itu hanya tersenyum menanggapinya.
Selama satu jam perjalanan, akhirnya mereka berdua sampai di tempat tujuan yaitu di Cheonggyecheon stream.
...
...
Aeril memandang ke arah Vier sambil tersenyum manis. Vier yang melihat itu pun ikut tersenyum dan mereka berdua segera menuju ke sana.
Mereka berdua mencoba banyak makanan yang di jual di setiap penjual di sana.
Saat perut mereka sudah tak muat lagi akan makanan itu. Mereka berdua memutuskan untuk duduk di pinggir jalan yang sudah di sediakan tempat duduk untuk bersantai.
"Are you happy?" Tanya Vier.
"I'm very happy, thank you KaVi" ucap Aeril. Vier hanya mengangguk menjawabnya.
Mereka berdua menikmati suasana di sana sambil melihat orang yang berlalu lalang di depannya, ada yang baru pulang kerja, ada yang bersama teman dan ada juga yang bersama pasangan.
Melihat ada pasangan yang sedang berjalan di depannya, Aeril menoleh ke arah Vier yang sedang memandangi jalanan.
Ia teringat akan kata Son padanya tadi. Ia harus bisa membuat pilihan yang akan di jalani ke depannya nanti.
"Aku tidak tahu harus bagaimana menjalaninya sekarang, apakah aku harus jujur atau tidak" ucap Aeril sambil memandang ke depan. Vier yang mendengar itu pun menoleh ke arah Aeril dan menjawab.
"Jalankan saja apa yang harus dijalankan, jangan karena hal itu membuat kamu bingung seperti orang bodoh" ucap Vier ikut memandang ke depan.
"Tetapi hati yang sudah mengeras bisakah itu di retakkan?"
"Tentu bisa dengan cara terus menerus mengetuk hati tersebut"
"Jika sudah retak akankah mengeras lagi atau akan tetap seperti itu?"
"Jika itu mengeras lagi akan ku ketuk lagi terus menerus dan jika itu tidak mengeras lagi akan aku pulihkan dengan caraku sendiri"
__ADS_1
"Haruskah aku mempercayainya?"
"Jika di hati kecilmu berbicara percaya maka percayalah"
"Aku takut"
"Jangan takut, aku di sini"
Aeril dan Vier saling memandang dan tersenyum manis menanggapi pertanyaan demi pertanyaan tadi.
Setelah dari Cheonggyecheon stream Vier mengajak Aeril ke sungai Han untuk melihat pemandangan di malam hari.
Sesampainya di sana banyak berbagai macam pasangan kemari hanya untuk melihat air mancur pelangi dari Jembatan Banpo.
...
...
Aeril memandang air mancur itu dengan ekspresi takjub. Vier yang melihat itu pun merasa sangat bahagia.
Malam itu di tepi Sungai Han, bulan purnama memancarkan sinar dengan sempurna, terpantul air sungai yang bewarna hitam pekat. Suasana ramai dengan udara dingin yang menusuk pori-pori kulit hingga membuat tubuh bergidik.
Aeril merasa kedinginan karena udara yang berhembus di sini. Vier yang melihat itu pun melepaskan kemejanya dan menyuruh Aeril untuk memakainya.
"Pakai ini" ujar Vier sambil menyerahkan kemejanya. Aeril menggelengkan kepalanya.
"Kamu juga kedinginan kan" ucap Aeril.
"Udah pakai aja" desak Vier sambil memasangkan kemejanya di tubuh Aeril.
"Thanks" ucap Aeril sambil tersenyum tipis.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung..
...Don't forget to always like vote and comment !!!...
__ADS_1
...Aku mau kasih tau kalo di chapter selanjutnya mungkin akan lama di publish nya karena aku mau PAS . Nanti setelah selesai PAS bakal aku lanjut lagi.....
...Jadi jangan kemana-mana ya.....