AERILYN (END)

AERILYN (END)
82. Epilog


__ADS_3

...Sebuah kisah yang telah diukir di hati mereka semua...


...~Ar...


-


-


-


Cuaca sangat cerah seakan menyetujui hari bahagia buat sepasang mempelai pengantin pada hari ini. Aeril dan Vier sudah resmi menjadi sepasang suami istri mulai detik ini, menit ini, jam ini, dan hari ini.


Saat ini mereka melangsungkan resepsi pernikahan di pinggiran pantai makin memperindah suasana yang terasa bahagia itu. Teman-teman universitas mereka yang dari luar negeri pun di undang oleh mereka berdua seperti Han, Ken, Sam dan Aera.


"Kamu sangat cantik Ril" ucap Aera saat memandangi Aeril. Aeril tersenyum malu.


"Gomawo Ra, kamu juga cantik. Thanks udah datang ke sini dari jauh" ucap Aeril.


"No problem Ril, kan kamu sahabat aku jadi memang harus begitu jika sahabat nya menikah akan datang" ucap Aera.


"Benar juga, oh iya kalo kamu menikah dengan Ken jangan lupa undang aku" ucap Aeril. Aera tersenyum malu-malu menanggapi nya dan hanya mengangguk.


Sementara para pria seperti Vier, Max, Han, Regan, Alex, Ken, dan Sam sedang duduk bersama sambil memandangi hamparan pasir putih di depan mereka.


"Thanks udah datang buat kalian semua" ucap Vier tersenyum tulus kepada semuanya.


"Sans aja kalo Yer kaya sama siapa aja" ucap Regan.


"No problem Yer sudah seharusnya begitu" ucap Han mewakili yang lain.


"By the way kalo kamu menikah dengan Aera jangan lupa undang aku" ucap Vier kepada Ken.


"Tunggu undangannya saja ya kalian" ucap Ken sambil tertawa.


"Oh iya Han belum dapat pendamping" ledek Sam. Han yang di bilang begitu pun muram lalu membalas.

__ADS_1


"Tidak mengaca pada dirimu sendiri Sam" balas Han kepada Sam. Mereka semua tertawa mendengarnya.


"Oh iya mana adikmu Vier?" Tanya Han penasaran pasalnya adik Vier daritadi tidak terlihat.


"Ada kok" ucap Vier sembari melihat sekeliling mencari adiknya itu dan ketemu, ia berada di meja bersama Dion, Robi, Mia, Rini dan Dea. Teman semasa SMA Aeril juga di undang walaupun mereka jarang berinteraksi.


"Tuh dia sama temen-temennya" ujar Vier menunjuk ke arah Riel. Han yang melihat itu pun beranjak dari tempatnya membuat semua yang di sana pada heran. Han menghampiri meja Riel dan menarik Riel untuk duduk bersama mereka.


"Hai" sapa Riel kepada mereka semua dengan kikuk. Mereka semua membalas sapaannya kecuali Max dan Alex. Riel yang melihat itu tambah kikuk dan ingin pergi meninggalkan meja itu tetapi ia segera di seret lagi oleh Han untuk duduk di sebelahnya.


"Jangan begitu wajah kalian berdua, ayo saling memaafkan" ujar Han kepada Alex dan Max. Han membawa tangan mereka bertiga untuk di letakkan di tengah meja. Alex dan Max ingin melepaskan tetapi di tarik lagi oleh Han.


"Coba ceritakan masalah kalian mengapa tidak mau memaafkan Riel?" Tanya Han. Alex dan Max sama-sama membuang muka tak mau menjawab pertanyaan dari Han itu. Han menghela nafas lalu tersenyum.


"Kamu Riel udah minta maaf sama mereka" tanya Han kepada Riel. Riel mengangguk sebagai jawabannya.


"Kalian sudah dewasa dan sudah menjadi keluarga bukan, bukannya tidak baik sesama keluarga untuk memendam permusuhan satu sama lainnya?" Tanya Han. Di meja itu terdiam saat Han berbicara seperti itu.


"Untuk Alex sebagai kakak untuk Aeril wajar jika ia marah kepada Riel karena telah mencelakakan adiknya, tetapi bukannya Aeril sudah tidak mempermasalahkannya bukan dan juga sudah memaafkan Riel. Jadi, mengapa sang kakak tidak mau memaafkannya jika sang adik sudah memaafkannya?" Ucap Han menasehati. Lalu lanjut menatap Max.


"C'mon brother, jangan berdiam diri seperti ini. Kalian tidak menyelesaikan masalah jika begitu" ucap Han. Riel yang melihat suasana menegang pun menjadi bersalah atas kehadirannya.


"Udah kak gak papa kok. Ini juga memang kesalahan Riel dulu jadi wajar kalo kak Alex sama Max gak mau maafin Riel" ucap Riel berusaha tersenyum. Riel berdiri menghadap Alex dan Max yang duduk sampingan. Ia menghela nafas lalu berucap.


"Untuk kak Alex dan Max, sekali lagi Gue minta maaf buat kejadian dulu yang menjadi sebab Aeril koma dan dibawa pergi dari keluarga kalian. Gue sadar dulu gue bego banget jadi orang. Gak seharusnya gue sakiti wanita sebaik Aeril. Gue juga udah siap kalo kalian mau ninju atau apa-apain gue juga. Tapi gue mohon, maafin gue atas rasa bersalah gue sama Aeril. Gue masih ada beban di pundak gue karena belum dapat maaf dari kalian berdua. Kalau pun kalian suruh gue pergi dari kehidupan Aeril ataupun kalian gue sanggup asalkan kalian maafin g—" ucapan Riel terpotong kala ia mendapatkan tinju di perutnya lalu pelukan dari Max. Mereka semua yang awalnya terkejut seketika tersenyum ketika menyadarinya.


"Lo manusia bego yang pernah gue temuin tau gak. Gue masih dendem sama Lo Riel, gue belum puas ninju muka Lo yang sok ganteng itu meskipun gantengan gue" Riel terkejut awalnya saat mendapati tinjuan dari Max lalu ia tersenyum saat mendengar ucapan Max.


"Gue udah maafin Lo kok, bener kata kak Han untuk apa gue masih marah sama Lo sedangkan yang bersangkutan udah maafin Lo. Gue harap aja Lo jangan gitu lagi sama cewe yang Lo suka" ucap Max lalu menyudahi acara pelukannya tadi membuat mata Riel berkaca-kaca. Suasana pun menjadi haru kala tiba-tiba saja Alex berdiri dan juga memeluk Riel diikuti oleh Max yang lagi-lagi ikutan berpelukan.


"Gue maafin Lo karena adek gue juga udah maafin Lo" ucap Alex singkat. Mereka semua pun tersenyum saat melihatnya.


Aeril dan Aera yang di meja seberang pun mengerenyit heran kala mendapati Alex, Max dan Riel saling berpelukan begitu. Mereka pun menghampiri meja mereka.


"Ada apa ini?" Tanya Aeril penasaran membuat acara peluk-pelukannya di sudahi.

__ADS_1


"Ada yang sudah baikan Ril" ujar Han kala mendapati Aeril menghampiri mereka. Aeril tersenyum sambil mengangguk.


"Bagus deh" ucap Aeril tersenyum memandangi mereka bertiga.


Suasana pun sangat meriah saat acara sesi foto berlangsung. Mereka semua berpose untuk berfoto bersama mempelai pengantin. Kerusuhan pun terjadi saat kameramen yang sudah siap mengklik kamera nya mendapati angin kencang menerbangkan pasir yang membuat foto tersebut buram dan ricuh tetapi tetap aestetic dibuatnya.


Permasalah yang ada di antara mereka pun telah selesai saat satu orang menyadari mereka semua. Benar bukan? Untuk apa memendam rasa marah dengan orang tersebut jika orang yang bersangkutan telah memaafkannya. Buang-buang waktu tahu.


Kisah ini telah diakhiri dengan akhir yang bahagia bagi kedua mempelai maupun sahabat-sahabat mereka semua. Walaupun perjuangan yang di tempuh panjang tetapi tidak menyurutkan rasa cinta kita kepada orang yang kita cintai.


Perjuangkan apa yang pantas engkau perjuangkan. Janganlah engkau hanya berdiam diri sambil meratapi hati yang telat untuk memperjuangkannya. Salahkan sendiri dirimu yang menjadi pengecut untuk mendapati sang pujaan hati dengan tidak berani untuk memperjuangkannya.


Sakitt men...


So, usaha tidak menghianati hasil bukan?


Nyatakanlah perasaan kalian pada sang pujaan hati sebelum terlambat. Jika terlambat maka kalian hanya akan menjadi orang yang meratapi nasib kalian yang tidak menjadi berani untuk menyatakan perasaan kalian sesungguhnya. Mau di terima atau tidak itu urusan nanti, yang terpenting kita sudah menyatakan apa yang ingin kita nyatakan. So simple bukan? Hehee...


...--END--...


...Terima kasih untuk kalian yang udah baca cerita aku sampai tamat ini. Aku sangat bersyukur karena banyak yang membaca dan menanti-nantikan cerita ini. Aku buat cerita ini hanya keisengan semata tetapi ternyata keisengan aku ini membuat aku sendiri takjub dibuatnya....


...Di cerita aku ini ada banyak typo yang bertebaran karena aku belum merevisi ulang. Juga ada saat kemungkinan aku merevisi ulang akan ada yang diubah cerita nya tetapi akan tetap sama alurnya....


...Sekali lagi terima kasih yaa (≧▽≦)...


...Aku sayang kalian karena udah mensupport aku dengan membaca, menvote dan mengomentari cerita aku ini....


...(つ≧▽≦)つ...


...Jumpa lagi kapan-kapan saat nanti aku buat cerita baru lagi......


...Sayonara minaa~...


...Have a nice days.....

__ADS_1


__ADS_2