
...Lo gak tau aja segitu frustasi nya gue buat ketemu Lo...
...~Max...
-
-
Keesokan harinya, Aeril terbangun saat merasakan sinar matahari dengan malu-malu memasuki celah gorden nya yang terbuka sedikit.
Ia membuka gorden tersebut lalu berjalan untuk duduk di teras kamarnya. Tak sadar Aeril tersenyum saat melihat cincin di jari manisnya.
Ia tak menyangka hubungan yang awalnya tanpa status itu akan berubah menjadi tunangan Vier.
Aeril merasa senang akan hal itu tetapi saat ini ia merasakan perasaan mengganjal di hati nya saat mengingat kedua orang tua dan kakaknya itu. Ia jadi tak bisa memberi tahu mereka kalau ia sudah bertunangan.
"Kamu kenapa?" Ucap Vier saat melihat raut wajah Aeril yang lesu saat ia datang ke kamar Aeril.
"Aku kangen sama Mama, Papa, Kak Alex" ucap Aeril saat Vier sudah duduk di sebelahnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Vier. Vier yang mendengar itu mengelus bahu Aeril.
"Kamu mau ketemu mereka?" Tanya Vier.
"Emang boleh?"
"Boleh"
"Seriusan"
"Iya"
"Kapan mereka dateng ke sini"
"Surprise"
"Kasih tau geh KaVi"
"Surprise baby" ucap Vier membuat penasaran Aeril.
"Ihh kamu mah gak asik" ucap Aeril sebal.
"Namanya surprise masa dikasih tau yang ada bukan surprise namanya"
"Ya kan aku penasaran yang" ucap Aeril. Vier yang mendengar kata sayang pun terkejut.
"Kamu manggil aku apa?"
"Gak ada"
"Kamu bohong lagi nih"
"Seriusan"
"Ril.."
"Iya iya sayang" ucap Aeril. Vier tersenyum mendengar Aeril memanggilnya sayang.
"Morning kiss" ucap Vier. Aeril yang mendengar itu kesal tetapi ia tetap menuruti kemauan Vier. Ia kecup bibir Vier sebentar.
"Thanks" ucap Vier senang.
"Tunggu hari kelulusan kamu" ucap Vier mengacak rambut Aeril lalu pergi meninggalkan Aeril yang bingung akan kata-katanya.
...∆∆∆...
"Ril nanti kamu mau perform apa di acara nanti?" Tanya Aera kepada Aeril yang saat ini mereka sedang di kantin.
"Belum tau"
"Sama aku juga bingung"
"Tidak terasa ya kita sebentar lagi lulus"
"Iya, padahal baru kemarin kita berteman"
"Sekarang sudah dekat"
"Iya Ra"
"Aku ke toilet sebentar ya"
"Jangan lama-lama"
Aeril bangkit meninggalkan area kantin dan menuju ke toilet dekat kantin. Saat sudah selesai keperluan ia di toilet Aeril segera menyusul kembali Aera yang sedang menunggunya.
Bruk..
"Sorry.. sorry. I'm in a hurry" ucap Aeril saat tak sengaja menabrak seseorang.
Orang itu hanya diam saja tak menjawab tetapi saat mendongakkan kepalanya menghadap yang menabrak seakan ia membeku.
...∆∆∆...
"Ra, Aeril kemana?" Tanya Vier saat bertanya ke Aera ditemani oleh Han, Ken dan Sam.
"Di toilet, sudah daritadi tetapi entah kenapa belum kembali juga" ucap Aera heran. Vier yang mendengar itu mengernyit heran.
Vier seketika panik langsung saja ia mencari Aeril tanpa menghiraukan panggilan teman-temannya.
"Ayo ikuti Vier" ujar Han. Mereka bersama-sama ikut mencari Aeril.
Vier menuju toilet terdekat yang ada di kantin tetapi ia tak berani masuk ke toilet wanita. Di saat ia melihat Aera, ia meminta tolong untuk masuk untuk mencari apakah ada Aeril.
Aera kembali lagi saat dirasa Aeril tak ada di toilet itu. Vier yang mendengar itu tambah panik. Ia menelfon Aeril berulang kali tetapi tidak di angkat. Ia bingung harus mencari kemana lagi.
"Tenang Vier, kalau kamu tidak tenang bagaimana kita mencarinya" ujar Sam.
__ADS_1
"Tapi Aeril.." ucap Vier lemas.
"Benar apa kata Sam Vier kamu harus tenang" ucap Han.
"Kita cari lewat cctv Aeril pergi kemana nya" ucap Ken.
Mereka ke ruangan cctv dan meminta petugas untuk mengecek cctv toilet yang dekat kantin.
Di cctv itu terlihat Aeril menabrak seseorang lalu tiba-tiba Aeril di tarik oleh seseorang itu pergi. Di sisi lain cctv terlihat Aeril dan seseorang itu memasuki ruang musik.
Vier dan temannya yang melihat itu langsung menuju ke ruang musik tak lupa ia berterima kasih kepada petugas.
...∆∆∆...
Aeril di tarik begitu aja sama orang yang ditabraknya saat ia belum sempat melihat wajah orang itu.
Aeril dan orang itu memasuki ruang musik yang tidak ada siapa-siapa di dalamnya. Barulah orang itu melepaskan tarikan di tangan Aeril tetapi ia langsung memeluk tubuh Aeril erat.
Aeril terkejut oleh orang asing yang tiba-tiba memeluknya. Ia berusaha memberontak tetapi tak cukup kuat untuk melepaskan diri dari pelukan orang itu.
"Who are you? Let me go" ucap Aeril keras dan berusaha untuk terus memberontak.
"Lo lupa sama gue Ril"
Deg
Jantung Aeril serasa berhenti berdetak saat mendengar suara itu. Orang itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aeril. Aeril terkejut saat melihat orang yang ada di depannya ini.
"Max, gue kangen" ucap Aeril langsung menubrukkan tubuhnya ke pelukan Max. Iya Max sepupunya ini sekarang sedang berada di pelukannya. Aeril menangis saat bisa melihat Max lagi semenjak ia koma.
"Lo kemana aja sih Ril, gue cariin ternyata selama ini Lo ada di deket gue. Gue beruntung banget tau gak Lo nabrak gue saat gue lewat tadi. Gue di kasih tau Kak Son kalo Lo kuliah di sini tapi gue gak tau jurusan Lo apa. Selama ini gue kelilingin satu universitas ini buat nyari Lo ternyata nihil, kira gue Kak Son bohong sama gue. Jadi terpaksa gue kuliah di sini nunggu lulus. Tapi akhirnya gue ketemu Lo Ril. Gue seneng banget gak nyangka gue bakal bisa ketemu Lo lagi" jelas Max membalas pelukan Aeril erat. Ia tak sadar air matanya terjatuh di pipinya.
"Gue juga seneng ketemu Lo Max. Gue gak tau mau ngomong apa lagi intinya gue seneng banget. Gue.." belum selesai Aeril ngomong terdengar suara pintu di buka keras oleh seseorang. Aeril mendongak untuk melihat orang itu ternyata Vier dan teman-temannya. Ia melepaskan pelukannya dan menatap ke Vier.
"Who is that?" Tanya Vier saat orang yang tadi di peluk Aeril belum menghadap ke arah Vier dan temannya. Orang yang ditanyai pun berbalik dan seketika rahangnya mengeras karena melihat Vier. Vier terkejut saat melihat orang itu.
Belum sempat Vier berbicara, ia sudah dikejutkan oleh pukulan di pipinya hingga bibirnya sobek. Orang itu terus menghujani pukulan-pukulan padanya. Vier tak sempat membalas, orang itu sudah dipisahkan oleh Han, Ken dan Sam.
"Lo apa-apaan sih Max main pukul aja" ucap Aeril kesal. Ia mendekat ke arah Vier lalu melihat ke luka sobek di bibirnya.
"Lo kok bela dia sih Ril, Lo gak tau adek nya itu udah bikin Lo koma Ril!" ucap Max marah.
"Cukup Max, cukup! Vier gak salah apa-apa, gue juga udah lupain masalah itu" teriak Aeril kesal saat Max mengungkit masa lalu.
"Kok Lo berubah sih Ril, Lo udah di kasih apa aja sama Vier buat Lo kayagini" ucap Max. Aeril geram saat Max berucap seperti itu.
Plak
"Jangan pernah Lo ngomong kayagitu lagi Max" ucap Aeril saat sudah menampar pipi Max.
"Lo bela dia, dia siapa Lo Ril" ucap Max kesal.
"Dia tunangan gue Max. Tunangan" ucap Aeril memperjelas. Max kaget saat Aeril menyebutkan kata tunangan itu.
"Kapan Lo sama dia udah deket" tanya Max.
Han, Ken, Sam dan Aera pun bingung memandang mereka berdua karena berbicara apa. Aeril dan Max, mereka berdua berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Mangkanya Han, Ken, Sam dan Aera tak paham apa yang mereka ucapkan. Mereka semua berbicara sehari-hari menggunakan bahasa Inggris. Kecuali Aeril dan Vier kalau berdua.
"Sorry to interrupt, what's the problem?" Tanya Han saat semakin bingung apa yang diucapkan kedua orang itu.
Aeril menoleh ke arah Han dan menatapnya jengkel. Han yang di tatap pun hanya cengengesan.
"Sit down, I'll explain" ucap Aeril. Mereka semua duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
"Kamu gak papa?" Tanya Aeril kepada Vier.
"No problem" ucap Vier tersenyum tetapi meringis pelan karena lukanya itu. Aeril yang melihat itu pun langsung menarik tangan Vier untuk ke UKS tetapi di tahan oleh Vier.
"Udah gak papa, mendingan jelasin dulu sama mereka luka aku bisa nanti di obatin nya" jelas Vier. Aeril masih ragu-ragu tetapi saat melihat Vier mengangguk pun ia urungkan niatnya dan menjelaskan kepada mereka.
"Ini Max sepupu aku. Max kenalin ini Han, Ken, Sam dan Aera" ucap Aeril memperkenalkan mereka satu-persatu. Han menatap lekat saat melihat Max lalu ia berucap.
"Bukannya kamu Alaric?" Tanya Han kepada Max.
"Itu nama tengah" ucap Max singkat. Han mengangguk saja.
"So, Why are they fighting?" Tanya Han lagi.
"Hanya salah paham" jelas Aeril.
"Really?"
"Iya Han" ucap Vier.
Aeril melihat ke arah Max yang sedang menatap sengit ke arah Vier. Max yang ditatap pun hanya tersenyum canggung saat di tatap Aeril.
"Jadi hanya salah paham saja"
"Iya"
"Baiklah, kiranya mereka beneran berkelahi"
"Nope"
"Kalau begitu aku pulang duluan ya, sudah tidak ada kelas lagi bukan Ra?" Tanya Aeril.
"Nothing Ril" ucap Aera.
"Baiklah kalau begitu aku duluan" ucap Aeril mengajak Vier dan Max untuk pulang ke rumah.
...∆∆∆...
Saat sudah memasuki rumah, Aeril dan Vier diikuti oleh Max di belakang mereka menuju ke ruang keluarga.
Max hanya mengikuti kedua orang di depannya sampai di ruangan seperti ruang keluarga. Barulah ia di suruh duduk.
__ADS_1
Aeril pergi meninggalkan mereka berdua untuk mengambil kotak obat untuk mengobati luka Vier.
Di ruangan itu Max menatap garang ke arah Vier yang sedari tadi hanya menatap Max malas.
"Ngapain Lo ikut ke sini" ucap Max.
"Tempat gue tinggal" ucap Vier santai. Max yang mendengar itu terkejut.
"Kok Lo bisa tinggal di sini"
"Di suruh Kak Son"
"Lo gak macem-macemin Eril kan"
"Macem-macemin"
"Lo tuh ya mau gue hajar lagi" ucap Max kesal saat Vier menjawab dengan santai pertanyaan yang ia ajukan. Vier yang mendengar itu hanya menaikkan satu alisnya. Saat hendak memukul Vier, Max di kejutkan oleh seseorang yang datang.
"Calm Max" ucap Son tiba-tiba datang dan duduk di hadapan mereka berdua.
"Kak Son" ucap Max. Ia tak jadi memukul Vier dan duduk manis di tempat ia duduk tetapi matanya masih menatap garang ke arah Vier. Son yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya karena kelakuan Max yang masih seperti anak kecil itu.
"Bibir kamu kenapa Vier?" Tanya Son saat melihat bibir Vier luka.
"Gak papa kak" ucap Vier tetapi matanya menatap ke arah Max. Max yang di tatap pun mengalihkan pandangannya ke sekitar. Son yang memperhatikan gerak gerik mereka pun berdehem.
"Kamu pukul Vier Max?" Tanya Son.
"Iya" ucap Max jujur. Ia tak bisa berbohong kalau ditanyai oleh Son.
"Why?"
"Muka nya ngeselin jadi Max pukul deh"
"Max"
"Sebenernya Max gak suka liat Vier karena ngingetin si bajingan adek nya itu yang udah buat Aeril koma" ucap Max sebal.
"Only that?" Tanya Son. Max mengangguk menanggapinya.
"Vier ya Vier. Riel ya Riel. Jangan samakan mereka karena kamu gak suka diantara salah satu orang tersebut. Ngerti Max?" Jelas Son.
"Ngerti kak, tapi.."
"Di sini Vier gak tau apa-apa masalah Aeril sedangkan yang ada masalah Riel adik nya. Kenapa jadi kamu yang sangkut-pautin masalah yang jelas orangnya berbeda" jelas Son lagi. Max menundukkan kepalanya mendengarkan ucapan Son.
"Dengar Max, kamu udah dewasa bukan? Seharusnya kamu bisa bedain yang salah dan benar diantara sekitar kamu. Jangan apa yang kamu anggap benar ya benar, apa yang kamu anggap salah ya salah. Tetapi kamu harus tau semua sudut pandang orang bukan hanya dari sudut pandang kamu aja"
"Sekarang kamu minta maaf sama Vier" ucap Son. Max mendongak ke arah Son lalu ia menatap Vier.
"Maaf" ucap Max merasa bersalah saat sudah mendengar kata-kata mutiara dari Son.
"No problem" ucap Vier.
Aeril datang sambil membawa kotak obat di tangannya. Ia langsung duduk di samping Vier dan mengobati lukanya itu.
"Kak Son kok pulang cepat?" Tanya Aeril sembari mengobati Vier.
"Karena ada tamu" ucap Son.
"Kakak yang ngasih tau Max Aeril kuliah di sini"
"Iya. Kamu gak tau aja Ril gimana frustasinya dia kehilangan kamu" ejek Son.
"Really" ucap Aeril menatap Max yang sudah yakin akan diejek oleh mereka.
"Gimana kak coba ceritain" ucap Aeril girang karena sudah lama ia tak mengejek Max.
"Max sering marah-marah sama temannya, dia juga suka teriak-teriak gak jelas, nangis di kamarnya tengah malem dan masih banyak lagi. Pas kakak kasih tau orang tua Max kamu kuliah di sini. Dia seneng banget mau ketemu kamu lagi. Tapi kakak cuma kasih tau dia kuliah kamu aja dan seterusnya Max cari sendiri kamu nya" jelas Son. Max yang mendengar itu sudah malu apalagi saat ini di dengar oleh Vier.
"Ya ampun Max segitu sayangnya Lo sama gue jadi terharu" ucap Aeril sembari mengejek. Max yang mendengar itu pun mendelik kesal ke arah Aeril.
"Nah dah selesai. Masih sakit gak?" Tanya Aeril kepada Vier sembari ia membereskan kotak obat yang di pakainya itu.
"Udah ngga apalagi kalo di cium" bisik Vier di akhir kalimatnya. Aeril yang mendengar itu mencubit perut Vier hingga ia meringis.
"Just kidding" ucap Vier sambil menahan sakit di bagian Aeril cubit.
Max dan Son yang melihat itu heran tetapi mereka diam saja menanggapinya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
Bersambung..
...Jangan lupa untuk like, Vote dan Komen...