Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 10 : Kebiasaan Rey dan Perhatian Adit


__ADS_3

"Terima kasih ya, pak."


Gisel mengucapkan terima kasih pada supir yang mengantarkannya ke sekolah hari ini. Dia berangkat sendiri hari ini, karena Nabila ijin tidak masuk.


"Berikan surat ijin ini pada wali kelasnya Nabila. Jangan sampai lupa! Awas kamu kalau sengaja dilupain, ya."


Begitu pesan Clara sebelum dirinya berangkat sekolah hari ini.


"Selamat pagi, Kanaya. Hari ini sendirian?"


Suara seseorang yang sangat dia kenali menyapanya pagi ini saat dia sudah melewati gerbang sekolah. Dilihatnya Rey sedang berdiri dengan kedua tangannya berada di saku celananya. Itu memang kebiasaan Rey.


"Eh iya, Selamat pagi, Pak. Nabila sakit hari ini," jawab Gisel.


"Oh ... Kalau begitu, bisa ikut saya sebentar?," tanya Rey.


Gisel merasa aneh saat Rey memintanya untuk ikut dengannya. Meski demikian, dia tetap melakukannya.


Ternyata, Rey membawanya ruang olahraga yang letaknya di area belakang sekolah dekat lapangan.


"Jangan khawatir. Hari ini tidak ada latihan. Jadi tidak akan ada yang datang kemari," kata Rey.


"Khawatir? Kenapa harus khawatir?," pikir Gisel.


Gisel sedikit terkejut saat Rey menyodorkannya sebuah paper bag kecil. Dengan perasaan yang tidak menentu, dia menerima paper bag itu. Gisel mengintipnya, ternyata isinya dua bungkus roti.


"Duduklah di matras itu, lalu makanlah dulu," kata Rey seraya menunjuk tumpukan matras yang ada di sudut ruangan.


Gisel menatap Rey dengan tatapan penuh keheranan. Dia tahu Rey memang begitu, tapi perlukah sampai harus membawanya kemari?


Rey terlihat menghela napasnya, lalu menarik tangan Gisel, menuntunnya untuk duduk. Dia ambil paper bag dari tangan Gisel, lalu membukanya.


"Kamu mau yang mana dulu? Coklat atau blueberry?," tanya Rey.


"Ha? Blueberry ...," kata Gisel sembari menerima roti yang diberikan Rey sesuai yang dia minta.


"Saya kira kamu suka coklat?"


"Saya? Tidak, pak ..."


Gisel memang tidak pernah menyukai coklat. Dia selalu menghindari makanan apapun yang rasanya coklat. Bagi Gisel, rasa coklat itu aneh. Pahitnya terasa tidak enak di tenggorokannya hingga sulit dihilangkan meski dia minum berkali-kali.


"Hhmm ... seperti teman saya," ucap Rey dengan sangat pelan bahkan hampir sulit terdengar. Tapi, Gisel bisa mendengarnya.


"Dia sedang membicarakanku?," tanyanya dalam hati.


"Kamu mungkin tidak ingat karena amnesiamu. Tapi, saya selalu membawamu ke suatu tempat untuk sarapan. Karena kamu selalu menolak kalau saya bawa ke kantin. Kamu tidak ingin teman-teman kamu membicarakan saya karena kamu," jelas Rey.


"Yang saya tahu, kamu selalu tidak sempat untuk sarapan. Saya tidak tahu apa yang kamu lakukan di rumah setiap pagi, kamu juga tidak mau menceritakannya. Tapi melewatkan sarapan juga tidak baik. Karena itu, kamu pernah pingsan di sekolah karena lambungmu bermasalah."

__ADS_1


Sudah dua hari ini Gisel ke sekolah tanpa sarapan. Tapi, itu karena dia memang tidak pernah melakukannya, bahkan ketika Gisel menjadi dirinya sendiri.


Yang Gisel tahu dari Bik Idah, Kanaya memang jarang sarapan, karena waktu yang dipakai untuk itu digunakan Clara dan Nabila untuk menyuruh-nyuruhnya, entah itu menyapu dan mengepel, menyiapkan keperluan sekolah Nabila, atau mencuci piring.


Gisel hanya beruntung saat ini, karena mereka khawatir cidera di kepala Kanaya akan membuat mereka dalam masalah. Karena jika tidak, hal yang biasanya mereka lakukan pada Kanaya akan dilakukan juga pada Gisel.


"Mereka memang sengaja melakukan itu untuk menyiksa Kanaya," pikir Gisel geram.


"Saya harap kamu bisa mencari waktu di sela-sela kegiatan kamu itu. Agar kamu bisa sarapan dengan baik."


Setelah Gisel selesai, Rey memberinya sebotol susu, lalu memintanya untuk kembali lebih dulu, karena masih ada yang harus dilakukannya.


Sebenarnya, Gisel masih ingin tetap di sana dan bertanya pada Rey tentang alasan Rey memberi Kanaya perhatian sekhusus itu. Tapi sepertinya dia tidak akan bisa mendapatkan jawabannya saat ini. Karena itu, dia tinggalkan Rey tanpa banyak bertanya.


"Akan kutanyakan lain kali," pikirnya.


Pelajaran pertama yang harus Gisel lewati hari ini adalah Kimia. Salah satu pelajaran dari sekian banyaknya pelajaran yang tidak dia sukai. Ditambah lagi, kelasnya akan melakukan praktikum di laboratorium kimia.


"Kamu gugup?," tanya Adit yang ada di sebelahnya. "Jangan khawatir, nanti aku akan mengajarimu. Kita lakukan pelan-pelan saja, ya."


Gisel melihat Tika di kejauhan sedang melambai ke arahnya bersama teman kelompok yang lain. Sedangkan Adit, dia meminta ijin secara khusus agar bisa satu kelompok dengannya. Gisel mengira Adit mungkin beralasan ingin menjaganya karena baru sembuh dari sakit.


"Oke, Class. Tolong perhatiannya." Guru Kimia mulai mencari perhatian murid-muridnya untuk memperhatikannya.


"Di depan kalian sudah disiapkan 5 tabung dengan cairan kimia yang berbeda. Harap berhati-hati dengan semua itu. Karena kalian tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Jangan bermain-main dengan itu semua, karena salah satu dari cairan itu akan dapat menyebabkan luka bakar pada kulit kalian. Jadi dengarkan baik-baik, HATI-HATI!"


"Perhatikan lembar kerja kalian. Proses kerja sudah ditulis secara detail di dalamnya. Silahkan dimulai."


"Jika ini wine, mungkin aku akan sudah meminumnya," pikir Gisel.


Adit memberinya sebuah tabung dengan tulisan nomer 5 pada kacanya, lalu menulis sesuatu di atas lembar kerja. Penjelasan yang diberikan Adit sama sekali tidak dapat diproses oleh kepala Gisel.


Tiba-tiba, seseorang menabrak Gisel hingga menyebabkan dia terkejut. Tabung yang berisi cairan kimia yang sedang dipegangnya tiba-tiba terlepas dan terjatuh di atas meja. Cairan di dalamnya tertumpah di atas dan terciprat hingga mengenai punggung jari tangan kanan Gisel.


"Aaw ..."


Gisel sontak langsung berdiri. Secara refleks, dia memelototi anak yang baru saja menyenggolnya.


"Aya, kamu nggak apa-apa?," tanya Adit yang langsung mengecek tangan Gisel.


"He! Kamu nggak bisa lihat-lihat kalau jalan?," teriak Tika yang langsung menghampiri Gisel sejak dia berteriak kesakitan.


Guru Kimia yang mendengar keributan segera menghampiri Gisel. Dia menarik tangan Gisel dan membawanya ke wastafel yang ada di ruangan itu, lalu membiarkannya tersiram air mengalir untuk beberapa saat. Sekali lagi, dia memperingatkan seluruh kelas.


Anak yang baru saja menyenggol Gisel terus menerus meminta maaf, meski Gisel sudah menyudahinya.


"Adit, kamu antarkan Kanaya ke UKS. Minta petugas UKS untuk memberinya salep untuk luka bakar."


"Baik, Bu"

__ADS_1


"Yang lain, lanjutkan pekerjaan kalian, dan HATI-HATI!"


Adit melakukan seperti yang diminta Guru Kimia itu padanya. Dia membawanya ke UKS, bahkan memasangkannya sendiri salep itu ke lukanya.


"Aku akan pelan-pelan. Kalau sakit, bilang ya," kata Adit.


Pelan-pelan Adit mengobati tangan Gisel. Sesekali dia bertanya, "Apakah sakit?"


Gisel terus memperhatikan Adit. Perhatian dan kelembutannya saat ini membuatnya berpikir, "Apakah anak ini menyukai Kanaya?"


"Untuk sementara ini jangan terlalu banyak digerakkan. Nanti aku bantu catatkan catatanmu, ya."


Meski dirinya hampir yakin, tapi dia memilih untuk diam saat ini. Mau ditanggapi bagaimana? Dia bahkan bukan Kanaya. Gisel hampir merasa geli sendiri dengan semua perhatian Adit.


"Jangan sampai aku terjebak dalam kisah cinta ini," pikir Gisel yang mulai merasakan merinding di sekujur tubuhnya.


"Bagaimana kabar Pak Rendi? Apakah dia sehat-sehat saja?," kata Gisel untuk mengganti suasana aneh yang ada di antara dirinya dan Adit.


"Papa baik. Dia sering menanyakan kamu," jawab Adit seraya membersihkan tangannya setelah membereskan obat yang tadi dipakainya.


"Benarkah? Bagaimana perkembangan proyeknya? Apakah lancar?"


"Sepertinya akhir-akhir ini kamu tertarik dengan perkembangan proyek itu?"


Gisel seketika merasa seperti ditodong pistol lalu dipaksa untuk mengaku. Padahal mungkin Adit hanya sekedar bertanya.


"Proyeknya ... masih sama seperti kemarin. Setelah tower listrik diperbaiki, kali ini ada percobaan menghancurkan bendungan," cerita Adit.


"Apa? Bendungan? Mereka ingin menghancurkan kota?," kata Gisel yang hampir berteriak.


"Sstt ... jangan keras-keras." Adit meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya untuk mengerem nada suara Gisel.


"Apakah Tim Delta tidak bisa mengatasi?," tanya Gisel yang kali ini nadanya dia turunkan dua oktaf.


"Berhasil dicegah kok. Pelakunya juga sudah tertangkap. Tapi katanya diserahkan ke Mr. Falcon untuk diurus."


"Hmm ..."


Raut wajah Gisel yang sangat serius menarik perhatian Adit. Dia terus memperhatikan Gisel yang begitu keras berpikir mengenai masalah ini.


"Mengapa sepertinya kamu sangat tertarik dengan pembangunan kota baru ini? Kamu dulu tidak pernah memikirkannya," tanya Adit tiba-tiba.


Gisel langsung menjadi salah tingkah ketika Adit tiba-tiba menyodorkan kecurigaannya pada dirinya. Dia teringat kembali bahwa dia mulai berlebihan lagi. Karena itu, Adit menjadi curiga.


"T-tidak ... aku hanya mendadak menjadi suka saja. Melihat berita tentang Gisella, aku jadi mengikuti perkembangannya."


Gisel memperhatikan reaksi Adit. Meski tidak sepenuhnya percaya, tapi masih bisa diterima oleh anak itu. Terlihat kini Adit sedikit lebih lega dan tidak lagi menatapnya curiga. Gisel pun mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan memikirkan topik lain untuk menggantikan topik kota baru itu.


"Kita balik ke kelas ya?," ajak Adit.

__ADS_1


Tidak banyak babibu lagi, Gisel langsung mengiyakan. Lebih baik begitu daripada dia terjebak dalam suasana seperti tadi.


__ADS_2