Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 22 : Kecurigaan Adit dan Tika


__ADS_3

Gisel masih terus memejamkan matanya dan berusaha untuk tidak bergerak selama Clara dan Rafael berada di dekatnya, meski tubuhnya terasa kaku dan ingin rasanya digerakkan.


"Aku harus mengajukan keluhan. Karyawan disini benar-benar nggak becus," teriak Clara.


Gisel dapat merasakan kemarahan Clara meski hanya dengan mendengar suaranya. Dia dapat membayangkan dengan jelas bagaimana raut wajah si wanita gila itu saat ini.


"Main semprot-semprot aja. Seharusnya mereka lihat dulu, ada orang atau tidak."


Gisel yakin itu pasti ulah pengawal-pengawalnya yang mencoba menghambat Clara tiba di kamar.


"Kerja bagus kalian semua! Aku akan bilang ke Om Satrio, lain kali suruh mereka lemparin lumpur ke mukanya," batin Gisel.


Tak lama setelah itu, pria tua itu mungkin sudah keluar dari kamar mandi. Karena Clara terdengar berhenti bicara dan menyambut seseorang.


"Ah, Tuan Abraham. Apakah Tuan baik-baik saja? Tuan butuh sesuatu? Katakan saja, Tuan," kata Clara dengan nada yang sangat lembut bahkan mengalahkan kelembutan kain sutra.


"Tuan Abraham? Tuan Abraham who? Aku harus mencari informasi tentang dia," batin Gisel lagi.


"Tidak perlu. Saya baik-baik saja."


Suasana menjadi hening sesaat setelah itu. Gisel menjadi gugup dengan keheningan itu. Dia terus berpikir apa yang sedang mereka lakukan. Kekhawatiran jika ketahuan terus muncul di kepalanya.


"Apa kata dokter?" Pria tua yang dipanggil Tuan Abraham oleh Clara akhirnya mulai bersuara. Gisel langsung merasa lega.


"Dokter mengatakan mereka tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Karena itu, dokter masih mengamatinya lebih lanjut," jelas Clara.


"Apa yang salah darinya?," tanya Tuan Abraham lagi.


"I-itu ... saya juga tidak tahu. Tidak ada masalah dengan kondisi vitalnya. Dia, dia hanya ... tidak mau membuka matanya." Clara terdengar cukup hati-hati saat menjelaskannya pada Tuan Abraham itu. Kekhawatiran Clara akan kemarahan Tuan Abraham sangat jelas terasa.


"Apa kalian sedang bersandiwara di depanku? Atau dia hanya pura-pura tidur?"


Tiba-tiba, sebuah benda tumpul mendorong lengannya berkali-kali. Gisel curiga benda itu adalah tongkat milik si tuan bangka itu.


"Kurang ajar! Dia kira aku ini apa? Mayat?," rutuk Gisel dalam hatinya.


"D-dia, dia benar-benar sakit, Tuan. Dokter masih berusaha mencari tahu penyebabnya."


Clara terdengar semakin panik dengan Tuan Abraham yang semakin tidak sabaran. Ini adalah kali pertamanya Gisel melihat Clara sepanik itu. Dulu saat dia berpura-pura sakit, Clara tidak sepanik itu.


"Kalau dia tidak bangun juga, maka tidak akan ada kontrak. Aku tidak mau menikahi gadis yang bisanya hanya tidur saja. Atau kalau kamu bisa mencarikan gadis lain, aku akan mempertimbangkan kontrak itu."


Setelah mengucapkan itu, tidak terdengar lagi suara Tuan Abraham. Dia hanya berbicara sekali pada seseorang yang Gisel kira adalah seseorang yang mendampinginya.


Tuan Abraham mungkin sudah tidak ada di kamar itu lagi, karena setelah itu, Clara melampiaskan kemarahannya pada Gisel yang masih terbaring.


"Ini semua gara-gara kamu! Tidak berguna! Selalu bikin susah!," bentaknya.


Suasana kembali hening. Gisel hampir mengira ruangannya sudah kosong. Tapi kemudian, dia merasakan seseorang sedang mendekatinya. Gisel pernah merasakan perasaan yang seperti ini.

__ADS_1


Perasaan yang sama saat Rafael mendekatinya.


Dan ternyata benar.


"Sayang sekali."


Gisel kemudian merasakan tangan Rafael menyentuh wajahnya. Kemarahannya kembali muncul ketika mengingat apa yang dilakukan Rafael malam itu padanya.


"Padahal dia sangat cantik. Sayang sekali harus menjadi seperti ini."


KLAK!


Suara pintu kamar yang terbuka membuat Rafael menghentikan tangannya.


"Mau ngapain kamu? Jangan coba-coba sentuh Aya."


Suara bentakan Tika terdengar sangat marah. Tak lama kemudian, Gisel merasakan hentakan pada ranjangnya. Gisel yakin Tika sedang menjauhkan Rafael darinya.


"Pergi atau kupanggil satpam!"


"Apakah orang tuamu tidak mengajarkanmu untuk bersikap sopan pada orang yang lebih tua?," tanya Rafael. Dia masih terdengar santai meski kata-kata yang diucapkannya bisa jadi ungkapan ketidaksenangannya.


"Orang tuaku ngajarin aku untuk menghajar orang yang kurang ajar meskipun dia lebih tua," bentak Tika. "Dan itu artinya termasuk kamu."


"Jika sekali lagi kamu sakiti Aya, aku akan mencari perhitungan denganmu." Kali ini adalah suara Adit yang jelas sekali terdengar kemarahannya.


Rafael mungkin sudah keluar dari kamar itu, karena selanjutnya Gisel mendengar hembusan napas kelegaan Tika.


"Siapa laki-laki tua yang bersama Clara? Apakah mereka dari sini?," tanya Adit.


"Benar juga. Siapa pria tua itu? Si Clara pasti punya ide gila lagi yang akan bikin Aya susah," kata Tika geram.


Suasana sempat hening sejenak. Gisel tiba-tiba merasakan sentuhan lembut pada wajahnya.


"Aya ...," panggil Tika lirih. "Kamu baru saja sembuh. Sekarang kamu sudah begini lagi. Mengapa sepertinya nasib buruk tidak pernah jauh darimu?"


Suasana di ruangan itu kembali menjadi hening. Baik Adit maupun Tika, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Entah apa yang sedang mereka lakukan.


"Adit ...."


Suara Tika tiba-tiba memecah kesunyian mereka.


"Apa kamu merasakan ada yang berbeda dari Aya semenjak dia jatuh ke kolam renang?"


Gisel merasakan lonjakan dalam hatinya. Tika yang tiba-tiba membahas masalah ini pasti sedang mencurigai sesuatu.


"Dokter bilang Aya amnesia."


"Benarkah dia hanya amnesia? ... Maksudku, apakah orang yang amnesia bisa berubah total seperti itu?"

__ADS_1


"Maksudmu?" Pertanyaan Adit mungkin singkat, tapi Gisel bisa merasakan Adit sedang menahan sesuatu.


"Apa kamu tidak merasa karakter Aya menjadi sangat berubah? Aya yang sekarang jauh lebih berani dari Aya yang dulu."


Gisel merasakan tangan Tika mengusap keningnya.


"Caranya berbicara, menatap, dan berjalan, semuanya ... Seperti bukan Aya. Apa kamu ingat waktu tangannya terkena cairan di lab kimia? Aku melihat Aya melotot tajam pada anak yang menyenggolnya. Aku tidak pernah melihat Aya melakukan itu sebelumnya, Adit."


"Maksudku ... jika memang Aya amnesia, apakah bisa merubah seseorang sampai benar-benar berbeda begitu?"


"Sebenarnya ..." Adit akhirnya memberikan tanggapannya setelah dari tadi dia diam.


"... aku juga mencurigai sesuatu. Apa kamu ingat kejadian di taman bermain waktu itu?"


"Apa kita juga mikirin hal yang sama?," tanya Tika antusias. Dia tidak menunggu Adit menjelaskan semuanya secara menyeluruh, seakan-akan dia sudah tahu apa yang dipikirkan Adit.


Adit melanjutkan kembali perkataannya, "Aku bisa mengerti jika Aya melupakan kita karena amnesianya. Tapi ... aku belum pernah dengar jika amnesia bisa menyebabkan seseorang memiliki kemampuan baru?"


"Aku tahu Aya sangat pandai menari. Tapi, aku nggak pernah tahu Aya latihan judo atau bela diri lainnya sebelumnya."


Gisel masih mendengarkan mereka berbicara. Dia tidak pernah berpikir mereka akan mencurigainya, karena waktu di taman bermain itu mereka tidak banyak bicara soal ini. Siapa sangka ternyata mereka sedang mencurigainya, tapi tidak mengatakannya.


"Apa mungkin Aya berlatih diam-diam?," tanya Tika.


"Sejak kapan? Kalau sebelum kejadian di kolam renang, kita pasti akan mengetahuinya. Dari gerak-geriknya semua akan terlihat jelas. Aya tidak terlihat seperti orang yang mahir bela diri. Dan kalaupun setelah kejadian, berapa lama itu? Sebulan? Bisakah Aya menjadi semahir itu dalam waktu sebulan?"


"Benar juga," jawab Tika. "Dulu Aya sangat pandai menari. Tapi Aya yang sekarang, aku nggak yakin dia masih ingat caranya menari."


Gisel merutuk dalam hatinya. "Mereka ini sebenarnya sedang memujiku atau menjelekkanku?"


"Ada hal lain lagi yang aku curigai ...," lanjut Adit lagi.


Gisel merasakan Tika menjauh dari dirinya. Tika sepertinya tertarik dengan apa yang akan dibahas Adit berikutnya.


"Waktu pulang sekolah, aku pernah melihat Aya berjalan cukup jauh dari sekolah. Aku melihatnya naik ke atas mobil dimana disana papaku yang sedang menunggunya di sana."


Gisel tahu apa yang dimaksud Adit. "Ternyata tidak hanya Rey yang melihatnya, tapi juga Adit," batinnya.


Suasana sempat hening sejenak. Tapi kemudian, Tika bertanya, "Apa menurutmu Aya menyembunyikan sesuatu dari kita?"


"Aku juga nggak tahu. Kita harus menanyakannya langsung ke Aya."


Gisel berpikir adalah wajar jika mereka terus bertanya tentang perubahan Kanaya. Jika sampai mereka mencurigainya, itu artinya perbedaan antara dirinya dan Kanaya sangatlah besar. Dan sudah jelas mereka pasti akan mengkhawatirkannya.


Tapi, menceritakan semuanya pada Tika dan Adit tidak pernah ada dalam daftar rencana Gisel, meskipun beberapa kali dirinya diselamatkan oleh mereka. Gisel ragu apakah hal yang benar jika melibatkan mereka? Jika mereka mengetahuinya, Gisel khawatir mereka akan memperlakukannya berbeda. Dan itu bisa jadi mencurigakan bagi Clara, Nabila, dan Rafael.


Adit dan Tika berada cukup lama di kamar. Entah jam berapa kedua anak itu akhirnya pulang. Gisel menunggu cukup lama untuk memastikan mereka tidak kembali lagi.


Tapi kemudian, pintu kamarnya dibuka kembali oleh seseorang. Gisel tetap mempertahankan aktingnya.

__ADS_1


"Siapa kali ini?," batinnya.


__ADS_2