
BRAK!!
"GI!"
Gisel mendengar suara yang memanggil namanya. Suara yang sudah lama dia kenal. Dan ternyata memang benar. Itu dia.
"Rey ...," panggilnya lemah.
Efek obat itu sudah mulai bekerja beberapa detik setelah suntikan itu menusuk kulitnya. Gisel mulai merasakan otaknya tidak lagi dapat bekerja seperti biasanya.
Beberapa orang di belakang Rey mulai masuk membubarkan semua yang ada di sana. Ada yang bertarung dengan pengawal yang berjaga di sana. Ada yang sudah mengamankan Clara. Dan beberapa lagi mengejar Rafael yang kabur lewat jendela. Sedangkan Rey hanya fokus pada Gisel.
Dengan cepat, dia melepaskan ikatan pada tangan Gisel.
"Obat apa yang kamu berikan? Obat apa?!"
Gisel dapat mendengar Rey berteriak memarahi pria berjas putih itu. Pria itu sudah cukup ketakutan dengan semua situasi yang terjadi saat ini, dan sekarang ditambah dengan kemarahan Rey. Pria itu sudah seperti tikus kecil yang tertangkap oleh kucing besar yang sedang mengamuk.
"Berikan penawarnya! Penawarnya!," bentak Rey lagi yang terus memarahi pria itu.
"B-baik, b-baik ..."
Dengan tangannya yang gemetar, pria itu mulai menyuntikkan sesuatu ke tangan Gisel.
"B-butuh waktu agar o-obatnya bekerja," kata pria itu lagi.
Rey segera melihat kondisi Gisel. Tapi, efek obat yang pertama masih belum hilang meskipun pria itu sudah memberikannya penawar. Dia masih merasakan rasa yang aneh pada kepalanya. Otaknya seperti tidak dapat dikendalikan lagi.
"Corens tahu siapa aku," kata Gisel yang masih terdengar cukup lemah.
"Aku tahu. Kita keluar dari sini dulu, ya."
Rey berniat akan menggendong Gisel, tapi ditolaknya. "Aku masih kuat jalan."
"Kamu yakin?"
Gisel menganggukkan kepalanya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rey langsung membawa Gisel keluar dari sana, dan membiarkan orang-orangnya membereskan semuanya.
Dalam perjalanannya di dalam mobil, Gisel tiba-tiba teringat sesuatu.
__ADS_1
"Ian! Aku harus menyelamatkan Ian!," teriak Gisel.
Tangannya sudah memegangi gagang pintu mobil dan akan membukanya. Jika pintu itu tidak terkunci, Gisel mungkin sudah akan membukanya lalu melompat keluar.
"Tenang, Gi. Tenang. Ian sama Nabila. Mereka baik-baik saja. Kita akan bertemu mereka di tempatku," jelas Rey menenangkan Gisel.
"Tempat ini ..."
Pandangan Gisel teralihkan saat dia melihat pepohonan yang dia lalui. Tempat yang rasanya tidak asing. Pepohonan, jalan besar, "Apakah ini yang aku lihat waktu itu?," pikirnya.
"Mansion Corens jauh dari sini. Tapi, wilayah ini masih wilayah Corens. Karena itu, aku membawa pengawalku bersama tim pengawalmu lainnya. Mereka berbagi tugas untuk mencarimu dan menyelamatkan tim yang lain. Beruntung, Nabila mengirimkan sinyal GPS saat menghubungi Pak Bagas. Karena itulah, aku bisa menemukanmu," jelas Rey.
"Mungkin ini yang dinamakan keberuntungan," ucap Gisel lirih.
Dia tidak tahu bagaimana menamakannya selain keberuntungan. Obat itu sudah masuk ke dalam tubuhnya sepenuhnya. Dia hampir kehilangan kesadarannya. Tapi sekarang keadaannya berbalik 180°. Jika bukan keberuntungan, apa namanya?
Tapi, Gisel tahu dia tidak bisa terus menerus bergantung pada keberuntungan itu. Tangannya seketika tergenggam sangat keras. Kemarahannya perlahan-lahan menaik saat dia mengingat perlakuan yang diterimanya tadi.
Dan pelan-pelan dia merasakan genggaman tangan Rey menyelimuti jari-jemarinya. Gisel menatap dalam-dalam pria itu.
"Kita akan membalasnya, Gi."
......................
"Kak Aya ..."
Panggilan Ian penuh semangat ketika dia melihat Gisel turun dari mobil. Anak itu langsung berlari menghampiri Gisel lalu memeluknya.
"Kamu nggak apa-apa, kan? Kamu nggak diapa-apain sama mereka, kan?," tanya Gisel.
Ian hanya menggelengkan kepalanya setiap kali Gisel bertanya. Senyumnya sesekali diperlihatkan sehingga sedikit mengurangi rasa cemas Gisel. Anak itu memang tidak apa-apa.
"Mama tidak akan pernah menyakiti Ian. Dia hanya ingin memanfaatkannya untuk nakut-nakutin kamu."
Gisel memandangi Nabila yang sedang berjalan menghampirinya. Dia tersenyum melihat Nabila. Dia mulai berpikir bahwa ada yang salah dari caranya memandang gadis itu. Pada dasarnya, Nabila tidak seperti yang dia sangkakan selama ini.
"Hari ini kamu melakukan hal yang luar biasa, Nabila," kata Gisel.
Nabila sempat terkejut mendengar ucapan Gisel, tapi kemudian dia membuang wajahnya ke arah lain. Dia mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapan Gisel padanya. Meski bibir Nabila mengerucut seraya dia mengoceh lirih, Gisel dapat melihat wajah Nabila yang tersipu. Gisel tersenyum melihat hal itu.
"Ayo, kamu masuk dulu, istirahat dulu di dalam. Kita akan bicara lagi setelah dokter memeriksa kamu."
__ADS_1
Perintah Rey tidak bisa ditentang oleh Gisel. Karena pria itu sudah lebih dulu mendorongnya masuk saat dia mengatakannya.
Setelah Gisel membersihkan dirinya, seorang dokter datang memeriksa keadaan Gisel. Rey benar-benar mendatangkan seorang dokter untuk memeriksa keadaan Gisel. Terutama setelah Gisel menerima obat itu. Meski dia sudah memaksa untuk memberikan penawar untuk Gisel, tapi kekhawatirannya tetap tidak juga hilang.
"Aku sudah baik-baik saja, Rey," kata Gisel seraya memberikan tatapan kekesalannya pada Rey.
"Kamu bisa menjamin kamu akan baik-baik saja? Kamu yakin obatnya sudah benar-benar hilang?," tanya Rey menantang Gisel kembali.
Raut wajah Gisel langsung berubah muram, meski dia masih tetap kesal.
"Periksa semuanya. Pastikan tidak ada yang terlewat," perintah Rey pada dokter yang memeriksa Gisel setelah dia melihat gadis itu tidak lagi melawannya . Kini Gisel hanya bisa pasrah dengan semuanya.
......................
Gisel terbangun dengan perasaan yang lebih baik dari kemarin. Dia dapat merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya, tapi perasaannya kali ini tidak seburuk kemarin. Tenang dan tanpa rasa gusar sedikitpun seperti yang dia rasakan semalam, kini sudah tidak ada lagi.
Gisel dapat melihat Rey sedang tertidur di atas bangku. Lagi-lagi Gisel terbangun dan mendapati pria itu sedang menungguinya.
Gisel teringat kembali kata-kata Rey sebelum dia berangkat ke Jepang.
"Aku menyukai seseorang. Tunggu aku kembali, dan aku akan memberitahumu."
Dan sekarang, Gisel melihatnya seperti ini. Seketika dia merasa tubuhnya dibuat melayang tinggi. Hatinya dikelilingi oleh banyak bunga dan kupu-kupu berterbangan. Gisel dibuat bertanya pada dirinya sendiri, "Mungkinkah aku?"
Dan sedetik kemudian, Gisel membuyarkan kerumunan kupu-kupu di atas kepalanya. Dia membersihkan hatinya dari bunga-bunga yang bermekaran.
"Nggak. Nggak. Mungkin ada orang lain," pikirnya. Gisel merutuki dirinya sendiri dan menganggapnya bodoh.
Gisel membiarkan Rey tetap tertidur di sana dengan keluar dari kamar itu tanpa membangunkannya. Saat dia keluar, dia memandangi seluruh sudut rumah itu. Semuanya masih terlihat sama.
Dulu sewaktu Reina masih hidup, dia sering kemari. Reina pasti mengajaknya bermain di rumah ini. Jika Gisel lama tidak kemari, Reina pasti akan menelpon Rey dan meminta Rey untuk memberikannya pada Gisel. Di saat itulah, gadis itu memohon padanya untuk datang ke rumah.
Semenjak Reina meninggal 5 tahun yang lalu, Gisel sudah tidak pernah kemari lagi. Bukan tidak ingin, tapi dia tidak punya alasan untuk kemari.
Gisel memasuki sebuah kamar yang dulu dia kenal sebagai kamar milik Reina. Saat membukanya, dia melihat semuanya masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah.
Dia melewati meja belajarnya. Buku-buku, foto, tempat pensilnya, semuanya masih di tempatnya. Gisel terduduk di tempat tidurnya, lalu memandangi sekeliling kamar itu. Semuanya tepat seperti yang dia ingat sebelumnya. Waktu seakan berhenti di kamar itu.
"Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kamu disini."
Sebuah suara yang Gisel kenal mengembalikannya pada waktu saat ini setelah dia berkeliling ke masa lalu.
__ADS_1