Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 12 : Problema Hak Asuh Kanaya


__ADS_3

"Aya ...."


Seorang wanita tiba-tiba memanggil namanya lalu memeluknya erat saat dia baru tiba di rumah. Wanita yang entah siapapun dia, memeluk Gisel dengan cukup erat, dan terdengar seperti sedang menangis.


"Maafkan Tante Lia, ya. Tante tidak tahu kalau kamu hampir tenggelam di kolam renang. Bagas baru memberitahu Tante kemarin. Karena itu, Tante langsung terbang ke sini dari Singapura tadi pagi."


Wanita itu melepaskan pelukannya lalu memandangi wajah Gisel sambil memegang wajahnya.


"Kamu nggak apa-apa, kan? Bagas bilang kamu melupakan banyak hal. Ya Tuhan, Kanaya ..."


Wanita itu memeluknya lagi. "Tega banget Tuhan sama kamu. Begitu banyak cobaan yang harus kamu terima, sayang ...," tangis wanita itu.


Setelah Tika, kini datanglah Tante Lia, orang asing yang memeluk Gisel tanpa ijin darinya. Sepertinya Gisel harus belajar pasrah saat dipeluk oleh orang yang tidak dikenalnya. Terutama ketika dia masih menjadi Kanaya, entah akan ada berapa orang lagi yang akan memeluknya setelah ini.


"Saya ... tidak apa-apa ...," kata Gisel yang bingung memutuskan apakah dia harus memeluk wanita yang menyebut dirinya sendiri dengan Tante Lia, atau membiarkan kedua tangannya tetap terbuka.


Setelah puas memeluk keponakannya, Tante Lia mengajak Gisel ke kamar tamu, tempatnya menginap beberapa hari ke depan. Di sana dia bercerita banyak hal tentang dirinya untuk membantu Gisel mengingat kembali.


Dahlia Pramudya, atau yang biasanya Kanaya sebut dengan Tante Lia adalah adik kandung dari mamanya Kanaya. Dia sudah menikah dengan pria berkebangsaan Singapura, dan menetap di sana selama ini.


Semenjak Emma, saudaranya meninggal, dia selalu berusaha untuk mendapatkan hak asuh Kanaya, tapi selalu gagal.


"Entah apa yang ada di pikiran Emma saat itu, sampai-sampai dia memberikan rasa percayanya pada Clara untuk merawat kamu daripada aku saudaranya," kata Tante Lia yang terlihat sangat kesal.


"Maksud tante?," tanya Gisel.


Tante Lia menghela napasnya perlahan.


"Sebelum meninggal, Emma menuliskan sebuah wasiat. Isinya dia ingin Clara menikah dengan Farhan untuk menjadi ibu pengganti bagi kamu. Dan apapun yang terjadi suatu hari nanti, dia ingin hak perwalian kamu dipegang oleh Clara. Karena itu, sekeras apapun tante berusaha mendapatkan hak asuh atas dirimu selalu saja gagal karena pengadilan memegang teguh keinginan terakhir Emma itu."


"Jadi begitu ...," kata Gisel lirih.

__ADS_1


"Emma tidak hanya menjadikannya itu sebagai wasiat terakhirnya, tapi juga mengesahkannya melalui notaris dan juga pengacara. Karena itu, posisinya tidak dapat dibantah."


Satu lagi puzzle drama keluarga Kanaya dikumpulkan Gisel untuk melengkapi potongan puzzle lainnya. Meski terbilang cukup aneh bagi Gisel, tapi keanehan ini yang mengikat Kanaya dalam hubungan yang disebut keluarga oleh Clara.


Pertanyaannya, untuk apa? Gisel yakin, Clara punya agenda lain dalam rencananya itu.


"Tapi, Bagas bilang, kamu tidak ingin memperpanjang masalah kolam renang itu. Kamu jangan seperti ini, Aya. Yang dilakukannya itu sudah termasuk kejahatan. Jangan mentolerir perbuatan yang seperti itu. Dia hampir membunuhmu," kata Tante Lia lagi.


"Bukan tidak ingin memperpanjang. Saya hanya menunggu sampai saya benar-benar ingat kembali. Jangan sampai nanti malah salah tuduh. Akhirnya malah tidak adil bagi Nabila," kata Gisel mencoba membujuk Tante Lia.


Meskipun dalam hatinya dia memikirkan hal lain. "Salah tuduh apanya? Sudah memang benar-benar si tuan putri gila itu."


"Dengar, Aya. Tante tahu kamu mirip sekali dengan Emma. Tapi, jangan sampai mereka memanfaatkan kebaikanmu itu untuk kepentingan mereka sendiri. Pisahkan mana yang harus dibela, dan mana yang tidak bisa kamu lindungi selamanya."


Gisel hanya menganggukkan kepalanya sekali. Gisel berpikir Tante Lia salah menduga jika dia mengira dirinya adalah orang yang sebaik itu. Dia hanya sedang menunggu waktu yang tepat menggunakan semua itu untuk menyerang mereka. Atau mungkin, untuk melindungi dirinya sendiri dari mereka.


......................


Hal lain yang terasa berbeda adalah Nabila. Semenjak dia pulang sekolah, Gisel tidak melihatnya, bahkan saat makan malam. Gisel tidak tahu, apakah Nabila sedang menghindari dirinya atau dia memang benar-benar sakit.


Tapi melihat Clara yang terbilang cukup tenang jika anak kesayangannya benar-benar sakit, rasanya Nabila hanya ingin menghindar dari Gisel.


Setelah selesai mengobrol dengan Tante Lia, Gisel kembali ke kamarnya dengan alasan menyelesaikan tugas sekolahnya. Padahal sebenarnya, dia ingin mencari tahu berita lain tentang megaproyek Skylar.


Masalah demi masalah yang datang baru-baru ini membuat Gisel tidak bisa berhenti berpikir tenang bahwa ada sesuatu yang sedang berusaha mengacaukan proyek ini. Entah siapapun itu, Gisel kesulitan untuk mencari tahu karena dirinya saat ini bukanlah dirinya yang biasanya bisa dengan bebas keluar masuk Skylar dengan mudah.


Yang paling ditakuti Gisel adalah jika fakta dirinya yang saat ini sedang koma mulai diketahui. Dewan direksi akan segera melakukan voting untuk menurunkan dirinya. Skenario terburuk yang bisa Gisel prediksikan adalah pemerintah Inggris akan membatalkan proyek kerja sama itu. Dan itu artinya bencana besar bagi Skylar.


"Kanaya! Tidak bisakah kamu berdiam di ragaku? Daripada kamu cuma diam saja di dalam sana," kata Gisel pada dirinya sendiri seakan-akan sedang memarahi Kanaya.


Gisel mulai membuka laman demi laman yang memuat berita tentang Skylar dengan laptop Kanaya. Setelah beberapa saat, salah satu tajuk berita menarik perhatiannya.

__ADS_1


"Kabar CEO Skylar Corp Sedang Mengalami Koma. Apakah Benar?"


Meski ditulis seakan-akan ini adalah rumor, tapi Gisel tahu ini adalah permulaan. Seseorang sedang mencoba menggoyangkan Skylar.


Gisel langsung meraih ponselnya untuk menghubungi Adit. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa dimintai informasi saat ini.


"Aya? Tumben nelpon jam segini?," tanya Adit dari ujung sana.


"Adit ... apakah Pak Rendi mengatakan sesuatu ... tentang berita hari ini?," tanya Gisel.


"Wah, Aya ... kamu benar-benar mengikuti semuanya, ya? Ada sih, baru saja papa bercerita tentang kebocoran informasi soal Ibu Gisella yang koma. Seharusnya ini tidak boleh diketahui orang banyak."


"Apakah sudah ditemukan solusinya?," tanya Gisel lagi.


"Sementara mereka masih membereskan berita-berita itu agar tidak bertambah besar. Selebihnya, papa tidak banyak bercerita. Sepertinya memang tidak tahu. Karena mereka pasti tidak akan mengijinkan papa terlibat di dalamnya."


Adit benar. Pak Rendi hanyalah eksekutif lapangan, bukan eksekutif manajemen. Urusan seperti ini seharusnya memang bukan wewenang Pak Rendi. Tapi, dari mana lagi Gisel akan mendapatkan informasi?


Setelah, Gisel mengucapkan terima kasih pada Adit, dia memutuskan panggilan itu. Dia kembali memikirkan permasalahan yang saat ini terjadi.


"Satrio ... aku harus menemui Satrio. Dia adalah pengacara kepercayaan papa. Dia juga tahu aku," kata Gisel tiba-tiba.


Selain itu juga, Satrio juga akan bisa membantu untuk mendapatkan informasi yang sulit diketahui tentang kelaurga Kanaya.


Satrio lah jawabannya.


Tapi ... bagaimana caranya dia menghadapi Satrio? Apa yang harus dikatakannya? Apakah Satrio akan bisa mempercayainya?


"Bagaimana jika dia langsung mengatakan aku orang gila?," katanya lagi.


Tapi setidaknya, Gisel merasa dia harus mencobanya. Dia harus berusaha keras agar Satrio mempercayainya.

__ADS_1


"Aku akan menemuinya besok sepulang sekolah."


__ADS_2