Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 13 : Identitas Gisel Akhirnya Terungkap


__ADS_3

"Hooaamm ...."


Mulut Gisel terbuka sangat lebar saat dia melepaskan semua rasa kantuknya. Bagaimana tidak, semalam dia sulit memejamkan matanya meskipun sudah pukul 2 pagi. Saat dia akan memejamkan matanya, isi di kepalanya terus berputar memikirkan semua masalah di Skylar. Pada akhirnya, dia tidak bisa tidur sama sekali.


Dia sampai harus membuka musik penghantar tidur yang katanya bisa membuat orang mengantuk dalam hitungan detik.


"Hitungan detik apanya? 1 jam aku mendengarkannya sampai telingaku sakit," rutuk Gisel dalam hatinya.


Entah bagaimana akhirnya dia tertidur. Yang dia ingat, dia hanya memejamkan matanya, dan tahu-tahu hari sudah pagi.


"Selamat pagi, Kanaya."


Gisel mengenal suara ini.


"Selamat pagi, pak," balas Gisel menyapa Rey.


"Kamu belajar sampai tengah malam? Kedua matamu sepertinya sangat lelah," kata Rey.


Gisel hanya tertawa. "Hah! Belajar! Belajar menghitung domba," batinnya.


"Aku akan mencarikan sesuatu untuk kedua matamu. Kamu pergilah ke ruang olahraga lebih dulu dan tunggulah di sana, ya," kata Rey setengah berbisik, lalu pergi meninggalkan Gisel.


"Dia baik. Terlalu baik. Nggak heran banyak yang salah sangka sama kebaikannya," kata Gisel


Gisel mengeluarkan kerikil kecil di hatinya melalui helaan napasnya.


"Dia sebenarnya tahu atau nggak sih, kalau dia itu sudah mematahkan hati banyak wanita."


Sambil berjalan menuju tempat yang diminta Rey, Gisel mengingat kembali masa-masa sekolah dulu dimana banyak yang mengira dia dan Rey berpacaran karena kedekatan mereka.


Dan ketika mereka tahu bahwa hubungan keduanya hanya sebatas sahabat, Gisel menjadi sasaran para fans Rey untuk bisa mendekati Rey. Saat Rey menolaknya, Gisel juga yang menjadi ember ... bukan, bukan, lebih tepatnya kolam tempat penampungan air mata mereka.


Semua karena Rey terlalu bebas memberikan banyak perhatian kepada mereka, sehingga membuat mereka berpikiran bahwa Rey menyukai mereka.


Padahal sebenarnya tidak. Rey hanya menganggap semua manusia berjenis kelamin perempuan itu sama seperti ibu dan Reina, adik kesayangannya. Padahal, tidak semua perempuan mau dijadikan ibu dan adik dari seorang Reynard Hardiyanto.


"Reina ... kalau saja kamu masih hidup."


Gisel kembali menghela napasnya karena apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Onigiri yang disediakan Rey hari ini bahkan tidak terasa apapun di mulutnya.


"Apakah tidak enak?"


Suara Rey yang tiba-tiba terdengar menggema di ruang olahraga mengagetkan Gisel yang masih larut dalam pikirannya sendiri.


"Kamu terlihat tidak menikmatinya," katanya lagi.


"Ah, tidak. Enak kok, pak," jawab Gisel gugup.


Rey memberikan sebuah handuk basah pada Gisel. Ternyata dia pergi mengambil itu untuk Gisel.


"Kompres sebentar kedua matamu, agar kamu bisa merasa nyaman," kata Rey.


"Kamu habiskan saja makananmu. Handuknya kalau sudah selesai, nanti letakkan saja di atas meja. Saya pergi dulu ya."

__ADS_1


"Eh, Bapak mau kemana?," tanya Gisel.


"Mempersiapkan jam pertama pelajaran kelas kalian," seru Rey seraya pergi meninggalkan Gisel sendirian.


"Jam pertama? Kelasku? PJOK??? Dia guru olahraga?," teriak Gisel.


......................


"Untuk hari ini, kalian akan bermain menangkap dan melempar bola basket. Bentuk kelompok dengan 2 orang ...."


Bukan hal aneh sebenarnya melihat Rey dengan aktifitas olahraganya. Sejak dulu dia memang menyukai segala bentuk olahraga. Sangat kontras dengan Gisel yang paling malas bergerak saat pelajaran olahraga.


Tapi seorang Rey yang menjadi guru olahraga, Gisel hanya merasa belum terbiasa melihatnya. Rey yang selama ini, dilihatnya mengenakan setelan kemeja saat bekerja, kini dia melihat Rey dengan atasan kaos dan celana trainingnya.


"Untuk Kanaya, sementara ini kamu memperhatikan teman kamu dari sana, ya," kata Rey seraya menunjuk bangku kosong yang ada di pinggir lapangan. "Oke, anak-anak. Mulai bergerak!"


Priitt ...


Begitu Rey membunyikan peluitnya, semua anak yang sudah berpasangan dengan teman kelompoknya sudah memulai melempar bolanya. Sedangkan temannya yang lain menangkap bola itu.


Gisel yang hanya duduk di pinggiran untuk pertama kalinya merasa bersyukur bisa berada di tubuh Kanaya. Setidaknya, untuk sementara ini dia terbebas dari pelajaran olahraga.


Gisel sedang memandangi teman-teman sekelasnya yang sedang melakukan perintah Rey saat tiba-tiba dia mendengar suara teriakan memanggil namanya.


"Awas, Kanaya!"


Gisel mencari pemilik suara yang memanggil namanya, tapi ternyata mereka menunjuk arah yang berbeda.


Kepala Gisel langsung menghadap ke arah yang mereka tunjuk. Terlihat jelas sebuah bola basket sedang menuju ke arahnya dengan cepat. Secara refleks, Gisel langsung mengangkat lengan tangannya untuk melindunginya, lalu menutup kedua matanya. Tapi, kemudian dia merasakan pelukan dari seseorang.


Perlahan dia membuka matanya. Dan yang muncul pertama kali di hadapannya adalah bagian depan tubuh seseorang.


"Kamu nggak apa-apa, Aya?"


Ternyata Adit yang sedang melindunginya. Dia baru saja berdiri membelakangi bola itu dan menerimanya dengan punggungnya. Gisel yakin soal itu meski dia tidak melihatnya. Suara hantaman bola dan juga hentakan kecil pada tubuh Adit bisa dia rasakan saat Adit memeluknya.


Rey dan Tika datang setelah itu dan langsung memeriksa keadaan Gisel dan juga Adit. Tapi, yang dipikirkan Gisel bukan keadaannya sendiri, melainkan siapa pelemparnya?


Gisel langsung berdiri dan melihat ke arah bola itu datang tadi. Tidak ada apapun di sana.


"Siapa yang melempar?," bentaknya.


Suasana mendadak menjadi hening. Tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan Gisel. Mereka hanya berdiri menatap Gisel. Yang artinya mereka juga tidak tahu siapa yang melemparnya.


Pertanyaannya, bagaimana bisa seseorang melempar bola tanpa diketahui oleh banyaknya orang yang sedang berkumpul?


Gisel berjalan menyusuri jalan arah datangnya bola. Dia memperhatikan apa saja yang bisa dia jadikan petunjuk. Tapi, tidak ada satupun yang bisa dia dapatkan dari semua yang dia lakukan.


"Lolos lagi," pikirnya.


Gisel yakin pelakunya adalah orang yang sama dengan yang melemparinya balon air waktu itu.


"Kamu kembali ke kelas dulu. Saya akan bantu selidiki nanti," kata Rey pada Gisel.

__ADS_1


Gisel memandangi sekali lagi tempat itu sebelum dia benar-benar pergi. Sekali lagi, dia merasa marah karena pelaku itu lolos lagi. Tapi kali ini, tekadnya lebih kuat daripada sebelumnya.


"Selanjutnya, aku pasti akan mendapatkanmu," kata Gisel dalam hatinya.


......................


Gisel sudah tidak lagi memikirkan tentang kejadian saat pelajaran olahraga tadi ketika pulang sekolah. Sekarang yang dipikirkannya adalah Satrio yang akan dia temui sebentar lagi.


Dia sudah meminta Nabila untuk pulang lebih dulu karena ada hal yang harus dia kerjakan. Nabila sepertinya tidak peduli, tapi Gisel yakin anak itu mendengarnya.


Buktinya, supir yang biasanya mengantarkan mereka sudah tidak terlihat lagi, begitu juga dengan Nabila. Karena teman-temannya yang biasanya terlihat bersama Nabila, kini sedang melihat ke arahnya dengan tatapan kebencian.


Jika mengingat apa yang sudah dia lakukan pada mereka terakhir kalinya, tatapan itu rasanya sudah bukan hal yang aneh.


Perjalanan Gisel menuju kantornya sendiri terbilang cukup jauh dari sekolahnya. Kepadatan kendaraan pada jam-jam pulang sekolah membuat perjalanan menjadi semakin lama. Hampir 90 menit Gisel berada dalam mobil taksi online yang dia pesan sedari sekolah.


Dan saat dia berdiri di depan kantornya, perasaannya menjadi sangat lega.


"Sudah berapa lama aku nggak kesini? Rasanya kangen sekali," katanya.


"Maaf, Adik ada keperluan apa?"


DEG!


"Aku lupa berganti baju."


Tentu saja satpam kantor tidak mengenalinya. Dia adalah Kanaya. Bukan Gisel, pimpinan mereka.


"Adik ada janji dengan seseorang disini?," tanya satpam itu lagi.


"S-saya, saya ingin bertemu dengan Pak Satrio," jawab Gisel gugup.


"Apakah Adik sudah bikin janji sebelumnya?," tanya satpam itu lagi.


Gisel mulai merasa kesal, meskipun satpam itu sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. "Satpam ini terlalu banyak bertanya," katanya geram dalam hati.


"Kanaya?"


Gisel baru akan mengatakan sesuatu pada satpam itu, saat seseorang menyebut nama Kanaya. Saat dia menoleh, dia mendapati Pak Rendi, ayah Adit sedang berdiri menatapnya.


"Pak Rendi mengenalnya? Dia bilang ingin bertemu dengan Pak Satrio, pak," kata satpam itu.


"Oh, kamu ingin bertemu dengan Satrio? Kamu mengenal Satrio?," tanya Pak Rendi.


"Saya, saya mengenalnya sedikit."


"Hmm ... biar saya yang bawa," kata Pak Rendi lagi pada satpam itu sembari mengajak Gisel ke suatu tempat.


Gisel tidak berpikiran apapun saat Pak Rendi membawanya. Yang dia pikirkan adalah ada seseorang yang akan mengantarkannya pada Satrio, itu sudah cukup. Tapi, mengapa Pak Rendi membawanya ke area parkir belakang kantor?


Saat tiba-tiba Pak Rendi berhenti di hadapannya, Gisel merasakan perasaan tidak nyaman dalam hatinya.


"Kanaya ...," panggil Pak Rendi saat dia berbalik menghadap Gisel.

__ADS_1


"Siapa kamu sebenarnya?"


__ADS_2