
"Apa yang membuatmu yakin bahwa aku adalah Gisella?," tanya Gisel pada Risa. Tatapan tajam Gisel yang mengarah pada kedua mata Risa tidak membuat sekretaris Gisel itu takut sedikitpun.
Tentu saja, Risa sudah bekerja untuk Gisel selama bertahun-tahun. Meski Gisel sering memarahinya, Risa tidak pernah merasa takut. Mungkin dia sudah terbiasa dengan tatapan itu.
"Hehe ... cuma Ibu yang menatap saya seperti itu," jawabnya malu.
Risa mulai menjauhkan dirinya dari Gisel. Dia sepertinya tahu bahwa Gisel mulai tidak nyaman dengan jarak kedekatan mereka.
"Hanya saja ..."
Risa memperhatikan Gisel kembali dengan tatapannya yang aneh. Gisel juga tidak bisa memahami arti dari tatapannya itu.
"... ada satu orang lagi di dalam sana ...," kata Risa sambil menunjuk bagian tengah dadanya. Risa menatapnya heran. Dia seperti kebingungan menjelaskan apa yang sedang dilihatnya saat ini.
"Apa yang dilakukan orang itu, Risa?," tanya Gisel.
"... Tidur, Bu ..."
Gisel tahu apa yang dimaksud Risa, tapi tidak dengan Satrio dan Rendi. Karena itulah, mereka terlihat terkejut mendengar ucapan Risa.
Jika Risa melihat seseorang di dalam tubuhnya, itu artinya dugaannya benar selama ini. Tapi pertanyaannya ...
"Bagaimana kamu bisa melihat semua itu, Risa?," tanya Gisel.
Risa tersentak kaget. Seperti orang yang baru saja ketahuan melakukan kesalahan. Dia menjadi gugup.
"S-saya ... t-tidak tahu ... Bu," jawabnya.
Bukan kali pertama Risa bertingkah seperti ini. Gisel tahu terkadang dia punya jawaban-jawaban aneh yang tidak bisa Gisel pikir dengan logikanya. Tapi, untuk pertama kalinya, Gisel mempercayai perkataannya. Karena yang dikatakan Risa kali ini hampir bisa menjelaskan keanehan yang dialami Gisel saat ini.
"Ah, m-maafkan saya .... saya salah orang. Saya kira Bu Gisella," kata Risa lagi. Kali ini dia membungkukkan tubuhnya memohon maaf. Lalu, Risa langsung mohon pamit untuk meninggalkan ruangan itu. Gisel lebih terkejut lagi dengan perubahan sikap Risa. Begitu juga dengan Satrio dan Rendi.
Satrio hampir menariknya kembali, tapi terlepas begitu saja dari tangannya. Risa pun berhasil pergi dari sana.
"Apakah perlu saya panggil kembali?," tanya Rendi yang terlihat masih terkejut dengan semua yang diucapkan Risa tadi.
"Tidak perlu, Pak. Biarkan saja ...," jawab Gisel. "Suatu saat nanti, kita pasti akan bicara. Tapi bukan sekarang."
"Kamu mempercayainya?," tanya Satrio. Dia tahu Gisel selama ini selalu kesal jika Risa melantur seperti tadi. Tapi kali ini Gisel malah tidak marah sedikitpun.
__ADS_1
"Sebagian dari yang dia bicarakan menjelaskan kondisiku saat ini," jawab Gisel. Pandangannya kosong menatap ke arah meja yang ada di depannya.
"Yang mana? Ada orang tidur?," tanya Satrio lagi.
"Yang saya tahu, ingatan Kanaya masih ada di dalam sini," kata Gisel lagi. Dia menatap pasrah ke arah Satrio. Tapi tangannya menunjuk kepalanya.
"Beberapa kali saya mimpi suatu kejadian yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Lalu, saya terbangun dengan menangis. Jika itu bukan Kanaya, lalu siapa?"
Satrio dan Rendi lagi-lagi dibuat terkejut dengan kenyataan itu. Mereka mungkin tidak akan menyangka akan mendengar hal seabsurd itu hari ini.
"J-jadi, kamu tidak ingin bertanya lagi pada Risa?," tanya Satrio. Dia memilih percaya untuk saat ini. Jika dia sendiri melihat Gisel dalam tubuh gadis asing, seharusnya hal semacam itu juga bisa saja terjadi.
"Tidak sekarang, Om. Suatu saat nanti, pasti. Sekarang sudah sore. Saya hanya pamit pergi mengerjakan tugas kelompok. Saya khawatir Clara dan Nabila akan menggila jika saya tidak pulang."
Gisel hanya tidak ingin Clara dan Nabila mencari masalah dengannya saat ini hanya karena dia pulang terlambat. Setidaknya tidak untuk saat ini, saat dimana dia belum tahu banyak tentang keluarga Kanaya itu.
"Oke, Om akan cari tahu semua yang kamu minta tadi. Sekarang om akan antar kamu pulang."
......................
Perjalanan yang panjang dan cukup jauh, lagi-lagi Gisel tiba di rumahnya hampir malam. Satrio juga menurunkannya agak jauh dari rumah Kanaya seperti yang Gisel minta. Sisa perjalanannya dia tempuh dengan berjalan.
"Rey? Dia juga tahu rumah Kanaya? Atau dia punya kenalan di sekitar sini?," pikir Gisel.
Tapi, akhirnya pertanyaan Gisel terjawab, saat Rey berdiri tegak ketika dia melihat Gisel berjalan ke arahnya.
"S-selamat sore, Pak. M-mau ke rumah teman ya, Pak?," kata Gisel berbasa-basi.
"Kamu baru pulang jam segini?," tanya Rey, tapi Gisel tidak merasakan kemarahan pada nada pertanyaannya.
"S-saya baru ..."
"Kamu kenal Pak Satrio?," tanya Rey tanpa menunggu Gisel menyelesaikan kalimatnya, seakan-akan dia tahu bahwa Gisel akan berbohong padanya.
"Apakah dia melihatku tadi?," pikir Gisel.
"Saya melihatmu masuk ke dalam mobil Pak Satrio. Kalian saling kenal?," tanya Rey lagi.
Gisel tidak tahu harus mengatakan apa pada Rey. Dia masih belum ingin menceritakan yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
__ADS_1
"Tidak sekarang. Tidak sebelum aku tahu apa yang diinginkan Rey dari Kanaya," pikirnya.
"S-saya ... kenal Pak Satrio dari almarhum papa. Ya! Itu dia! Dari almarhum papa!," seru Gisel. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba alasan itu muncul begitu saja di kepalanya.
"Kebetulan saya lewat, terus Pak Satrio mengajak saja makan siang. Ternyata kesorean."
Dan Rey sepertinya mempercayainya. Karena dia tidak lagi bertanya setelah itu.
"Saya cuma mau bilang, kamu bisa menghubungi saya jika kamu ada masalah, Kanaya. Saya akan membantumu. Setidaknya, jangan simpan sendiri masalahmu."
Rey mengatakan itu dengan raut wajah khawatir. Dia bahkan memberikan Gisel secarik kertas yang saat dibuka ternyata adalah nomor ponsel pribadinya.
"Apa ini? Sedekat itukah?," pikir Gisel.
Setelah Rey mengatakan itu, kini pria itu sudah bersiap di atas motor sport yang Gisel tahu itu adalah kesayangannya. Gisel lebih terkejut lagi ketika dia menyadari bahwa Rey menemuinya hanya untuk mengatakan itu.
Rasa ingin tahunya yang sangat besar membuat kepala Gisel terasa penuh dengan banyak pertanyaan. Dan entah mengapa, dadanya kini terasa sesak dan penuh. Dia terus menatap Rey dengan pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya.
Ini bukan yang pertama kalinya dia melihat Rey seperti itu, tapi perlakuannya terhadap Kanaya terasa sangat berbeda dari semua teman wanitanya. Apakah memang begitu? Atau Gisel memang tidak tahu semuanya?
"Mengapa Bapak ingin membantu saya?," tanya Gisel tiba-tiba ketika dirinya sudah tenggelam dalam-dalam di antara pertanyaan-pertanyaan di kepalanya.
Rey tersenyum dengan lembut saat menatap sosok Kanaya yang ada di hadapannya. "Karena saya tahu kamu pasti akan membutuhkannya," katanya.
Setelah Rey mengatakan itu, dia melajukan motor sportnya itu dan pergi begitu saja meninggalkan Gisel yang sedang berdiri terpaku karena ucapan Rey itu.
"Alasan macam apa itu?," katanya geram. "Kebiasaan! Selalu saja bikin orang salah paham!"
Gisel bahkan melampiaskan kemarahannya dengan menendangkan kakinya ke udara.
"Kanaya masih 15 tahun, pedo fil!," teriaknya.
Teriakannya mampu mengeluarkan kekesalannya pada Rey. Tapi napasnya kini menjadi terengah-engah. Dia benar-benar kesal dibuatnya.
"Ingin rasanya kutimpuk kepalanya dengan batu besar," katanya lagi.
Setelah mengatur napasnya kembali, dia berbalik menuju rumah Kanaya. Di sana, ternyata Tante Lia sudah menunggunya.
"Tante akan kembali besok. Tante baru dapat kabar, suami tante sakit."
__ADS_1