
Rendi baru saja pulang mengantarkan Adit dan juga Tika pulang. Tika datang bersama mereka, karena Bagas sedang sibuk mengurus gugatan untuk Wina.
Adit dan Tika yang semula tidak tahu menahu tentang kondisi Gisel tanpa sengaja mendengar pembicaraan ayah mereka yang sedang menelpon. Hasilnya, mereka langsung merengek meminta untuk diantarkan. Karena itulah, mereka tiba-tiba ada di rumah sakit bersama Rendi dan Satrio.
Sepulangnya mereka, banyak informasi yang Gisel terima dari Satrio.
"Mengenai sabotase pada mobilmu sudah hampir mendapatkan titik terangnya. Dan ini juga berkaitan dengan semua permasalahan yang terjadi di proyek. Semua penyelidikan hampir sepenuhnya mengarah pada Dave Corens. Kamu masih ingat?"
"Dave Corens dari Corens Corp?"
Satrio menganggukkan kepalanya.
Gisel ingat terakhir dia bertemu dengan pria itu saat mereka sedang melakukan presentasi pengajuan proposal pembangunan kota baru di Inggris 5 tahun lalu. Dia adalah wakil CEO Corens Corp, dimana ayahnya adalah CEO nya.
Tapi, itu 5 tahun yang lalu. Kini, dialah CEO nya.
"Bukankah ini sudah sangat terlambat untuk melakukan sabotase? Apakah dia berharap proyek ini akan diserahkan kepadanya kalau Skylar gagal?," tanya Rey yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
"Jika melihat dari hal yang dilakukannya, aku rasa dia hanya ingin menggagalkan proyek itu," jawab Satrio.
Tapi, Gisel meragukannya. "Aku rasa lebih dari itu."
"Tapi, ada yang lebih penting dari itu semua."
Gisel dan Rey kompak menatap Satrio begitu mendengar ucapannya. Apa yang lebih penting dari itu semua?
"Beberapa hari terakhir, Rafael keluar masuk gedung Corens Corp. Sudah lima kali dalam dua minggu terakhir ini."
Satrio meletakkan lemar per lembar foto-foto yang menampilkan Rafael sedang berjalan masuk dan juga keluar dari gedung itu. Gisel mengambil selembar, begitu juga dengan Rey.
"Mau apa dia?," tanya Rey.
"Belum diketahui. Tidak ada kasus yang sedang dia tangani yang berkaitan dengan Corens. Dan kita tahu siapa pengacaranya. Jadi aku rasa, Rafael tidak sedang melamar menjadi pengacara Corens."
Gisel mengernyitkan dahinya. Dia terus memandangi foto yang sedang dipeganginya. Kali ini dia berpikir sangat keras. Apa hubungannya antara Corens dan Rafael?
"Gi, mulai hari ini biarkan Tim Alpha bersamamu kemanapun kamu pergi."
Gisel menatap Rey yang mulai khawatir. Tapi, Gisel juga tidak yakin jika ini adalah jawabannya.
"Tidak boleh, Rey. Tim Alpha tidak boleh terlihat di dekat Kanaya untuk saat ini. Apalagi jika sudah seperti ini. Aku nggak tahu mereka punya informasi apa. Tapi, kalau sampai Tim Alpha terlihat bersama Kanaya, aku lebih khawatir itu akan mengkonfirmasi informasi yang mereka punya atau menggiring mereka ke informasi baru."
Rey tidak bisa mendebatnya.
"Dan Kanaya punya banyak kelemahan," lanjut Gisel.
"Bayangan," kata Satrio tiba-tiba. "Biar Tim Alpha menjaga kamu dari kejauhan. Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi."
"Setuju. Pokoknya harus, Gi. Ya?," tanya Rey yang rasanya tidak menginginkan jawaban tidak untuk pertanyaannya itu.
Gisel tidak punya pilihan lain selain menurutinya.
"Mengenai hak perwalian Kanaya, apakah sudah hampir final? Sudah dibicarakan dengan Bagas?," tanya Gisel.
"Kita sudah banyak bicara. Tapi kekurangan kita hanyalah bukti-bukti yang bisa memberatkan Clara. Seharusnya bisa selesai jika kita punya itu," jawab Satrio.
__ADS_1
"Kita harus segera menyelesaikannya. Perasaanku nggak enak tentang Rafael dan Clara. Aku khawatir rencana kita menjauhkan Clara dari Rafael tidak sepenuhnya berhasil."
"Apa yang kamu curigai?," tanya Satrio.
"Aku juga nggak tahu. Aku hanya merasa ada sesuatu yang salah."
Gisel merasa reaksi Clara masih terbilang cukup tenang untuk seseorang yang mencurigai kekasihnya, meski waktu itu dia terlihat marah-marah. Mereka pasti punya sesuatu yang membuat mereka begitu kuat dan percaya diri.
"Om akan urus semuanya. Kamu tetaplah waspada. Ingat pesan, Om."
Gisel menganggukkan kepalanya. Dia merasa akan terjadi sesuatu yang cukup besar sesaat lagi.
......................
Gisel terbangun dengan napas yang tidak lagi teratur. Keringat dingin sudah membasahi kening dan seluruh tubuhnya. Dia bisa merasakan jantungnya sedang berdegup sangat kencang.
Mimpi buruk yang baru saja dialaminya mengingatkannya kembali pada saat-saat Wina membawanya. Dia seperti diingatkan kembali tentang rasa takutnya waktu itu. Rasa jijik kembali menggerotinya.
"Gi?"
Rey baru saja masuk langsung berlari menghampiri Gisel saat dia melihat sahabatnya itu pucat pasi sambil memegangi dadanya.
"Gi, kamu nggak apa-apa? Ada apa?," tanyanya sembari menyeka keningnya yang terus mengeluarkan peluh.
Gisel tidak menjawab apapun. Dia masih terus fokus mengatur napasnya. Tangannya terus menggenggam erat selimutnya.
"Minumlah dulu, ya," kata Rey lagi seraya memberikan sebotol air untuk Gisel. Dia meminumnya sedikit demi sedikit.
Untuk beberapa saat Rey tetap di sana menemani Gisel hingga dia tenang kembali. Mengusap lembut punggungnya tanpa banyak bertanya. Membiarkan Gisel menenangkan dirinya.
Gisel menganggukkan kepalanya. "Aku sudah nggak apa-apa, Rey. Terima kasih," kata Gisel seraya menjauhkan tangan Rey darinya.
"Kamu yakin?," tanya Rey sekali lagi.
Gisel kembali menganggukkan kepalanya.
"Rey ..."
"Hm?"
"Pulang saja. Aku nggak apa-apa, Rey."
Rey terdiam. Meski Gisel tidak sedang menatapnya, tapi Gisel tahu Rey sedang memandanginya.
"Kamu kemarin semalam disini, sekarang juga. Aku tahu kamu khawatir. Tapi aku nggak apa-apa sekarang. Jadi, lebih baik kamu pulang saja beristirahat," lanjut Gisel lagi.
Rey kali ini berdiri meletakkan botol air yang dipegangnya ke atas nakas. "Kamu yang butuh istirahat, Gi. Aku bisa istirahat di mana saja. Di sofa juga bisa. Nggak perlu memikirkan soal itu."
"Apa menurutmu ini nggak berlebihan, Rey?"
"Apa maksudmu, Gi?"
Rey berbalik perlahan menghadap Gisel. Pandangannya penuh dengan pertanyaan. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
"Aku dengar pembicaraan kamu dengan Juan tadi di luar," ucap Gisel lirih.
__ADS_1
"Aku dengar kamu menolak untuk berangkat ke Jepang. Kamu meminta Juan untuk menolak semua jadwal ke luar kota atau ke luar negeri. Aku tahu ini pertemuan penting. Tapi, kamu dengan mudahnya memutuskan hal seperti itu. Untuk apa? Atau mungkin ... untuk siapa?"
Baru sekarang, Gisel akhirnya membalas tatapan Rey yang sedari tadi terus memandanginya.
"Aku melihatmu berjuang untuk bisa sampai ke posisi ini, Rey. Kamu mencintai Falcon, karena itu kamu terus membuktikan pada ayahmu kalau kamu layak. Lalu sekarang, aku melihatmu sedang menghancurkan kerja kerasmu sendiri demi Kanaya?"
"Gi ..."
"Aku mencoba untuk tidak ikut campur saat kamu bilang kamu rela membagi pekerjaan dan waktumu dengan sekolah, meskipun aku mengkhawatirkan kesehatanmu. Tapi, untuk yang ini, aku nggak bisa tetap diam, Rey."
Rey menghela napas cukup panjang. Gisel tidak paham mengapa Rey melakukan itu. Kalau Rey hanya diam, Gisel mungkin akan berpikir Rey sedang merenungi ucapannya. Tapi, menghela napas? Mengapa dia terdengar seperti sedang mencoba untuk bersabar?
Rey mengambil kursi yang ada di ujung ruangan, lalu membawanya menghadap Gisel. Dia mendudukinya, dan kemudian menatap Gisel kembali dengan penuh kelembutan.
"Jadi sekarang, kamu ingin aku melakukan apa?," tanya Rey.
Gisel menemukan hal yang berbeda saat Rey melakukan itu. Dia bukan Rey yang biasanya Gisel lihat. Ada aura yang berbeda dari biasanya.
"Sudah jelas, kan? Aku ingin kamu pergi. Jangan khawatir tentang Kanaya. Aku sudah setuju agar Tim Alpha berjaga di sekitarku. Itu artinya Kanaya akan baik-baik saja. Aku janji aku akan berhati-hati, baik itu di rumah, di sekolah, ataupun saat di luar. Jadi, pergilah, Rey. Selesaikan pekerjaan yang seharusnya kamu selesaikan."
Tanpa berpikir dua kali, Rey langsung berkata, "Oke. Aku pergi. Tapi ..."
Gisel masih memperhatikannya.
"Tapi, ada hal-hal yang harus kamu ketahui, Gi. Kamu dan Kanaya adalah dua orang yang berbeda. Kamu adalah kamu, dan Kanaya adalah Kanaya. Alasanku berada di dekat kalian juga berbeda."
"Maksudnya berbeda?," tanya Gisel.
"Waktumu 10 hari sampai aku kembali. Dan saat aku kembali, aku akan langsung mencari kamu untuk menjelaskannya. Kalau kamu penasaran kenapa, kamu punya waktu 10 hari untuk memikirkan jawabannya."
Gisel menatap Rey kesal. "Nggak bisa dijelasin sekarang?," tanyanya.
Rey menggelengkan kepalanya seraya menyunggingkan senyum jahatnya.
"Sekarang kembalilah tidur. Besok pagi, aku akan berangkat sebelum kamu bangun. Jadi, tepati janjimu tadi selama aku pergi, Gi. Jangan lakukan hal bodoh," kata Rey lagi.
Gisel membantahnya, "Aku nggak bilang hal bodoh tadi."
"Artinya sama saja." Rey mendorong Gisel untuk berbaring, lalu menarik selimut untuk menutupinya. Dia tidak peduli meski Gisel memanggil namanya.
"Gi ...," panggil Rey lagi seraya menahan lengan Gisel agar tidak lagi bergerak menghadapnya. Rey ingin Gisel tetap berada di bawah selimutnya dan berbaring membelakanginya.
"Seharusnya aku mengatakan ini dari dulu. Jadi, aku akan mengatakannya sekarang. Aku minta maaf untuk semua hal yang kamu lalui dulu karena aku. Kalau saja aku tahu, aku akan melindungimu waktu itu."
"Rey, aku ..."
Gisel mencoba untuk berbalik, tapi kemudian Rey menahannya lebih keras lagi.
"Kamu pernah bertanya padaku, siapa orang yang aku sukai? Aku memang punya. Dari dulu hingga hari ini, aku hanya menyukai satu orang saja. Aku semakin menyayanginya, Gi. Aku nggak mau kehilangannya. Tapi, karena kesalahanku sendiri, aku membuatnya mengira aku adalah orang yang paling nggak bisa diandalkan. Aku merasa telah menjadi orang yang paling bodoh sedunia. Jadi, tunggu aku kembali. Aku akan memberitahumu siapa orangnya."
Gisel menelan ludahnya keras-keras. Dia mendengar semua ucapan Rey, kata per kata. Dia bisa merasakan keyakinan Rey yang sangat besar. Tapi kali ini, dia sendiri yang ragu. Dia ragu, apakah hatinya sudah siap mendengar apa yang akan dikatakan Rey 10 hari lagi? Apakah dia akan siap mengetahui gadis yang disukai Rey?
"Berhati-hatilah besok selama perjalananmu. Dan juga, jaga kesehatanmu, Rey," kata Gisel dari balik selimutnya.
"Hm ... pasti."
__ADS_1