Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 56 : Kejutan di Detik Terakhir


__ADS_3

"Kamu mencurigai Om?," tanya Satrio dengan nada rendahnya. Tidak ada kemarahan dalam pertanyaannya itu. Dia masih terlihat tenang untuk seseorang yang baru saja dituduh melakukan pengkhianatan.


"Kamu lupa? Om sendiri yang bilang sama kamu kalau Corens adalah orang yang bertanggung jawab atas kecelakaanmu. Untuk apa Om katakan itu kalau Om ingin mencelakaimu, Gi?"


Gisel kembali memamerkan senyum sinisnya. Dia masih terlihat yakin dengan pemikirannya.


"Ingat. Sangat ingat. Tapi bukan begitu alurnya. Karena Om datang saat inilah membuat saya berpikir semua yang dilakukan Om saat itu hanya untuk rencana ini. Agar saya tidak curiga pada Om, lalu menyetujui kesepakatan itu. Benar kan, Om?"


Satrio tidak mengatakan apapun. Dia tetap berdiri di antara kedua pengawal Corens. Mereka memeganginya seakan-akan mereka khawatir Satrio akan kabur. Padahal tempat itu dikelilingi oleh orang-orang Corens. Untuk orang seusia Satrio, bisa lari kemana dia?, pikir Gisel.


"Hampir semua yang Corens ketahui hanya diketahui oleh beberapa orang. Tim Alpha, Kanaya ... siapa yang tahu soal itu jika bukan aku sendiri, Om Satrio, Pak Rendi, Rey. Tapi, di antara mereka semua hanya ada satu orang yang benar-benar tahu siapa saja pengawal terpilih yang berada di sekelilingku," jelas Gisel.


"Kesalahan terbesar Om adalah ... Om ada di sini saat ini," kata Gisel memberinya alasan. Kedua matanya langsung menatap lurus ke arah Satrio yang sedang berdiri tanpa ragu atau pun rasa takut. "Jika seandainya Om tidak datang, aku mungkin tidak akan berpikir sampai sejauh itu."


Satrio kemudian melepaskan dirinya dari genggaman para pengawal Corens. Dia kemudian berdiri tegak sambil merapikan jasnya. Dia balik menatap Gisel yang saat ini tidak menunjukkan senyumnya sama sekali.


"Om adalah orang yang saya percaya, karena papa juga demikian. Saya sangat menghormati Om. Haruskah seperti ini hingga saya kehilangan rasa hormat saya pada Om?"


Gisel menganggap sebagai pengganti orang tuanya. Saat pertama kalinya ayahnya menyerahkan kepemimpinan Skylar padanya, Satrio lah yang banyak membantunya. Dia percayakan semua urusan pada Satrio. Bahkan ketika dia menjadi Kanaya, orang yang pertama kali dia butuhkan dan dia percayai untuk bisa mengetahui semua hal ini adalah Satrio.


Rasanya menyakitkan saat dia menyadari hal ini. Dia tidak ingin mempercayainya. Tapi, semakin dia memikirkannya, semakin kebenaran itu terbuka begitu saja di depan matanya, dan semakin semuanya terlihat masuk akal untuk logikanya, sehingga semakin sulit baginya untuk menyangkal semuanya.


Satrio kini berjalan perlahan menuju Corens, lalu duduk di sampingnya. Dia tidak lagi terlihat tidak berdaya seperti tadi. Sikapnya menunjukkan semua hal yang tidak pernah Gisel lihat selama ini dari seseorang yang bernama Satrio itu.


"Sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi berpura-pura di depanmu, Gi," kata Satrio tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Gisel mengeratkan gigi-giginya, menahan semua rasa marahnya. "Jangan pernah ... menyebut namaku. Aku tidak ingin mendengar namaku disebut oleh orang seperti kamu."


Seperti kaca yang sudah hancur berkeping-keping, seperti itulah perasaan Gisel saat ini setiap detik dia melihat Satrio.


"Om tidak pernah mengkhianatimu atau pun papamu. Om menyayangimu seperti anak Om sendiri. Papa kamu juga akan selalu menjadi sahabat Om yang terbaik. Tapi ..."

__ADS_1


Satrio hanya diam menatap Gisel saat dia menghentikan kalimatnya itu. Tidak tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu.


"... Om punya rencana Om sendiri yang harus dilaksanakan. Atau, semua yang Om kerjakan selama ini berakhir sia-sia."


"Jadi, dari awal, semua ini cuma kebohongan?," tanya Gisel dengan nada tajamnya. "Semua hal yang Om katakan tidak pernah merupakan kebenaran. "


"Tidak, Gi. Beberapa hal mungkin adalah bohong. Tapi beberapa lainnya adalah benar. Contohnya rasa sayang Om sama kamu sebagai ayah yang bangga akan putrinya."


"Dan aku tidak bangga dengan itu," bantah Gisel dengan tegas.


Satrio memberikan tawa kecilnya. Kepalanya tertunduk tanpa berani menatap Gisel lagi. Rasa bersalahnya mungkin saat ini sedang menyelimutinya.


"Jadi, Skylar? Kalian menginginkan Skylar?," tanya Gisel sekali lagi menyakinkan dirinya sendiri.


"Kamu hanya perlu melakukan seperti yang tadi Corens katakan. Om pastikan setelah itu kamu akan baik-baik saja," jawab Satrio.


"Dan itu adalah kata-kata dari seorang pengkhianat? Haruskah aku mempercayainya?," lanjut Gisel sinis. Salah satu sudut bibirnya tersungging ke atas.


"Kalian akan tetap membunuhku, entah aku menolaknya ataupun menyetujuinya. Karena kalian tahu, selama aku masih hidup, aku pasti akan merebut Skylar kembali."


Gisel melipat kedua tangannya di depan dadanya, lalu mengalihkan pandangannya. "Aku sudah memutuskan untuk tidak mempercayai kalian sejak 20 menit yang lalu."


Kembali Satrio tertawa dengan kerasnya. "Haha ..."


Gisel melirik ke ruangan tempat tubuhnya terbaring. Sekilas dia melihat sebuah bayangan yang dengan cepat menghilang. Dan sedetik kemudian, salah satu ujung bibirnya terangkat sedikit. Tapi kemudian dia melepaskannya seakan-akan dia tidak ingin orang lain melihatnya.


"Baiklah!"


Satu kata yang diucapkan Gisel merubah raut wajah Corens dan juga Satrio seketika. Kedua mata mereka melotot lebar. Bukan karena mereka marah, tapi karena mereka terkejut mendengar ucapan Gisel itu.


"Aku akan melakukan semua yang kalian minta. Aku hanya perlu obat itu, kan?," tanya Gisel seraya menunjuk sebuah botol kecil yang sedari tadi duduk dengan manis di atas meja yang ada di depannya.

__ADS_1


"Ayo! Segera dimulai!"


Gisel menunjukkan lengannya secara terbuka pada semua orang yang ada di sana. Sementara Corens dan Satrio masih terpaku dengan keterkejutannya, Gisel terlihat begitu santai tanpa rasa takut sama sekali. Dia bahkan tidak takut mengingat kematian baru saja ditawarkan padanya.


Corens baru akan beranjak dari tempat duduknya saat Satrio menahan untuk melanjutkannya.


"Tunggu!," kata Satrio seraya memegangi lengan Corens. "Kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran, Gi?"


Gisel tersenyum sinis. "Apa yang bisa aku lakukan sekarang? Lari?" Dia kemudian menggelengkan kepalanya. Bibirnya juga mencibir seakan menjawab pertanyaannya sendiri.


"Kemana aku bisa lari? Pilihan lain apa yang aku punya selain mati di tangan kalian?," jawab Gisel santai.


"Ayo ... lakukan! Sebelum aku berubah pikiran," perintah Gisel seraya memamerkan lengannya pada mereka.


"Terserah bagaimana hidupku setelah ini. Kalian yang tentukan," tambah Gisel.


Corens memberi tanda pada dokter yang ada di sampingnya. Dokter yang sedari tadi menunggu dengan cemas saat-saat dirinya melakukan tugasnya kini berjalan dengan ragu mendekati Gisel. Dari dalam tas yang dia bawa, dia keluarkan peralatan yang dia butuhkan.


Gisel menganggukkan kepalanya, memberinya tanda bahwa dia akan baik-baik saja. Dan dokter itu seketika menelan ludahnya kasar. Dia melanjutkan apa yang menjadi tugasnya.


Saat jarum itu hampir menusuk kulit Gisel, sebuah suara datang dari belakang dokter itu.


"Bergerak sedikit saja, pisau ini akan merobek nadi arterimu. Selanjutnya, kamu tahu apa yang akan terjadi."


Gisel memandangi Rey sedang mengancam Corens dengan pisau di tangannya yang mengarah langsung ke pangkal lehernya. Senyumnya kini tidak sungkan lagi untuk diperlihatkan.


Beberapa saat kemudian, sebuah suara terdengar di antara keheningan yang ada di ruangan itu.


"Aku tahu dari awal, kamu memang tidak bisa dipercaya."


CKLAK!

__ADS_1


Gisel yakin itu adalah sebuah pistol kecil yang pelatuknya sedang disiapkan.


"Akhirnya kamu keluar juga, Rafael," gumam Gisel dalam senyumnya yang dingin.


__ADS_2