
"Silahkan, Nona Kanaya, Tuan Adrian, Nyonya Clara, dan Nona Nabila. Tuan Reynard sudah menunggu kalian."
Juan, sekretaris Reynard sedang berdiri menyambut rombongan Gisel yang datang karena Rey mengundang mereka untuk makan malam.
Clara dan Nabila sedari tadi tidak berhenti berdecak kagum. Mereka terlihat sangat senang. Sepertinya, mereka belum pernah ke tempat seperti ini.
Sedangkan Ian yang dari tadi menggandeng tangan Gisel terlihat lebih tenang. Dia tidak tertarik dengan pemandangan di sekitarnya.
"Ian sudah lapar?," tanya Gisel dalam perjalanan mereka menuju meja yang sudah dipesan Rey.
Anak itu menganggukkan kepalanya. Rupanya, Ian hanya tertarik dengan makanannya.
"Bentar lagi pesan makanan yang banyak ya," kata Gisel lagi.
Kali ini, Ian mengangguk dengan penuh semangat. Senyumnya langsung mengembang di wajahnya.
Dari kejauhan, Gisel bisa melihat Rey sedang berdiri menunggu kedatangan mereka di depan pintu sebuah ruangan yang sepertinya ruangan khusus VIP. Pakaiannya cukup formal dengan setelan jasnya. Padahal ini hanya makan malam untuk menunjukkan sesuatu pada Clara.
Setelah beberapa hari melakukan pengamatan pada Rafael dan Clara, Rey dan Gisel merencanakan sesuatu untuk membuat Clara ragu pada Rafael. Ini adalah cara yang terpikirkan oleh Gisel agar Rafael bisa menjauh dari Clara. Dan makan malam ini termasuk dalam rencana mereka.
"Nggak perlu harus semewah ini, kan?," bisik Gisel pada Rey begitu mereka sudah mendekat.
Dengan santainya, Rey menjawab, "Kita harus memberikan yang terbaik untuk bisa menyakinkan penonton."
Gisel mendengus pelan mendengar jawaban Rey.
"Terima kasih, Tuan Reynard sudah mengundang kami untuk makan malam di tempat semewah ini," kata Clara begitu mereka sudah berada di tempat duduknya masing-masing.
Sekali lagi, Rey menjawab dengan sikap santainya. "Jangan begitu, Mama mertua. Panggil saja saya Reynard."
Bola mata Gisel hampir keluar dari tempatnya saat Rey mengatakan itu pada Clara. "Sejak kapan dia punya kemampuan berbicara semanis itu?," batinnya.
Melihat Clara yang tersipu karena ucapan Rey membuat Gisel melirik tajam ke arah Rey yang duduk di sampingnya.
Rey hanya tersenyum membalas tatapan Gisel itu, kemudian berkata pada Clara kembali. "Sejak Kanaya dan saya bertunangan, kita belum pernah mengadakan makan malam seperti ini. Saya minta maaf karena acara pertunangannya terjadi mendadak."
"Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Saya paham Tuan, maaf ... Reynard pasti sibuk dengan pekerjaannya," balas Clara.
"Nabila, bagaimana sekolahmu? Apakah ada masalah?," tanya Rey tiba-tiba.
Nabila sedari tadi sepertinya tidak tertarik berada di sana. Begitu dia melihat Rey, raut wajahnya berubah. Sepertinya Nabila masih marah pada Rey karena menghukum temannya.
__ADS_1
"B-baik, Pak. T-tidak ada masalah," jawab Nabila gugup karena dirinya tiba-tiba diajak bicara.
"Reynard. Panggil saya Reynard jika kita tidak di sekolah. Biar bagaimanapun saya akan menjadi adik iparmu, kan?," kata Rey.
Nabila menunjukkan senyum terpaksanya.
"Saya sangat berterima kasih karena kamu sudah merahasiakan siapa saya di sekolah," lanjut Rey lagi.
Nabila mulai merengut. "Itu juga bukan maunya saya yang merahasiakan."
Rey tersenyum melihatnya. Rey pernah cerita dia memang meminta Juan untuk memasukkan persyaratan untuk Nabila agar tidak membicarakan apapun tentang status dirinya saat ini, atau dia akan membuat Nabila mendapat kesulitan saat di sekolah. Bagaimanapun juga, Rey adalah guru sekolahnya. Ancaman itu ternyata cukup berhasil.
"Haha ... Jika kamu butuh bantuan apapun di sekolah, kamu bisa menghubungi saya, Nabila," kata Rey lagi.
Nabila tetap tidak menanggapinya. Clara hampir memarahi Nabila karena dia khawatir Rey akan tersinggung pada sikap Nabila. Tapi Rey memberinya isyarat untuk membiarkannya.
"Menurutmu ini akan berhasil? Apakah Clara akan mempercayainya?," bisik Gisel.
"Jangan khawatir. Clara mungkin licik, tapi dia adalah orang yang berpikiran pendek. Dia mudah untuk dipengaruhi," jawab Rey.
Makan malam mereka berjalan cukup lancar. Rey membuat Clara merasa santai terlebih dahulu sebelum dia melepaskan badainya. Dia bilang, jika kita ingin seseorang merasakan sesuatu dengan luar biasa, kita harus buat dia merasakan sebaliknya dulu. Karena ketika perubahan suasana terjadi tiba-tiba, itu lebih mengena rasanya.
Gisel tidak memahami maksud ocehan Rey. Dia mengira Rey hanya membual. Tapi ternyata tidak.
"Oh, itu ...," seru Gisel menunjuk Rafael yang baru saja masuk ke restoran itu bersama dengan seorang wanita cantik.
Mereka terlihat sangat mesra. Wanita itu terus menggandeng Rafael dengan sangat eratnya. Mereka tertawa bersama bahkan Rafael menciumnya mesra. Jelas sekali terlihat mereka adalah sepasang kekasih.
Clara sempat terkejut ketika dia membalikkan badannya dan melihat Rafael, tapi kemudian berbalik kembali dan seketika menjadi tenang seakan-akan tidak terjadi apapun. Tapi sekilas tetap terlihat Clara tidak tenang.
Gisel memainkan bibirnya untuk menyembunyikan sudut bibirnya yang sedang terangkat ke atas. "Umpan telah dimakan," pikirnya.
Sejak itu, Clara mulai tidak tenang. Sekali dua kali dia mengambil kesempatan untuk bisa melihat Rafael. Menjatuhkan sendok atau napkin, lalu menoleh ke arah pria itu. Untuk beberapa detik, itu cukup bagi Clara untuk memastikan bahwa pria itu adalah Rafael yang dikenalnya.
Beberapa kali, Rey mengajak Clara berbicara, menanyakan hal yang cukup basi hanya untuk membuat Clara bertambah gugup.
"Apa Mama Mertua baik-baik saja?," tanya Rey.
"Ah, iya iya, saya baik-baik saja. Maaf, saya ke toilet sebentar," jawab Clara seraya beranjak pergi dari tempat duduknya.
Cukup lama Clara berada di kamar mandi, atau mungkin tidak. Gisel bisa melihat mama tiri Kanaya itu sedang mengintip dari balik dinding. Tawa Gisel hampir lepas karena melihat itu.
__ADS_1
"Kak Aya ..."
Terlalu fokus pada tingkah bodoh Clara, Gisel hampir terkejut saat tangan Ian menepuk pelan lengannya. "Kak Aya, boleh minta itu lagi?," bisik Ian pada Gisel seraya menunjuk semangkuk es krim yang baru saja dihabiskannya.
"Tentu. Kamu mau yang banyak?," tanya Gisel. Alis matanya terus bergerak ke atas dan memamerkan senyum menggodanya.
Ian tentu saja mengangguk senang.
Tidak lama setelah Rey meminta mereka membawakan semangkok besar es krim, Clara kembali ke tempat duduknya. Wajahnya terlihat sangat kesal. Ponsel di tangannya digenggamnya erat. Sebelum meletakkannya di atas meja, dia mengeceknya sebentar.
Sepertinya, Clara mencoba menghubungi Rafael. Tapi sepanjang Gisel mengamatinya, pria itu tidak menyentuh ponselnya sama sekali. Itu artinya, ponsel Rafael dalam keadaan hening atau mungkin dia tidak mengaktifkannya.
"Artismu hebat bisa membuat Rafael mengabaikan ponselnya," bisik Gisel.
"Dia bukan artis," jawab Rey singkat.
Mata Gisel langsung terbelalak lebar. Perlahan dia melihat ke arah Rey. Pria itu masih tetap menatap lurus ke arah Rafael.
"Adiknya pernah menjadi korban Rafael. Dia hamil, dan Rafael tidak mau bertanggung jawab, lalu bunuh diri. Aku berjanji padanya untuk membalaskan dendam adiknya pada Rafael, karena itu dia mau membantuku hari ini."
Untuk orang seperti Rafael, cerita seperti ini seharusnya sudah tidak mengherankan lagi. Tapi Gisel tetap terkejut bercampur geram dengan cerita Rey. Orang seperti Rafael memang hanya memperlakukan perempuan hanya sebagai objek. Itu juga yang Gisel rasakan ketika dulu Rafael melecehkannya.
"Orang yang berikutnya juga bukan artis," lanjut Rey lagi yang membuat Gisel berpikir, kali ini apa lagi.
Tepat saat es krim Ian datang, di saat itulah datang seorang wanita muda dengan raut wajah penuh amarahnya. Begitu melewati pintu masuk, arahnya berjalan lurus langsung menuju ke tempat dimana Rafael duduk. Dan tepat di hadapan Rafael, wanita itu langsung melemparkan segelas air yang diambilnya dari meja yang dia lalui.
Sontak semua orang berteriak dan berdiri menyaksikan kegaduhan yang baru saja terjadi. Perhatian mereka sekarang tertuju pada meja dimana Rafael dan teman wanitanya duduk.
"Kamu berani memperlakukan aku seperti ini? Kamu pikir kamu siapa?," teriak wanita itu.
Beberapa orang pelayan restoran datang meminta wanita itu pergi, tapi teriakannya malah semakin menjadi.
"Lepaskan!"
Setelah wanita itu menghempaskan pegangan tangan pelayan yang menyentuhnya, dia kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dan kemudian dilemparkan ke atas meja, tepat di hadapan Rafael.
"Dia janji sama kamu akan mencintai kamu selamanya? Tenang, dia juga berjanji hal yang sama padaku. Dan itu buktinya," teriak wanita lagi seraya menunjuk benda yang baru saja dilemparnya.
Teman wanita Rafael yang juga merupakan orang yang disuruh oleh Rey mengambil benda yang ternyata adalah sebuah test pack.
Rafael benar-benar ahlinya. Dia bahkan masih terlihat tenang di situasi seperti itu.
__ADS_1
"Jelas terlihat, kan? Positif! Ya, aku hamil 3 bulan. Dan janin ini adalah anaknya dia!"
Tidak hanya orang-orang di sekitar Rafael yang terkejut dengan pernyataan itu, Clara yang ikut menyaksikannya dari ruangan yang berbeda juga ikut terkesiap mendengarnya. Dia bahkan menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya.