
Setelah mendengar dari Adit, pikiran Gisel sudah tidak bisa dikontrol lagi. Dia terus memikirkan masalah-masalah yang terjadi pada pembangunan kota baru. Mengapa justru masalah-masalah itu muncul di saat dirinya sedang dalam kondisi yang seperti ini? Bagaimana dia bisa mengatasi semuanya jika raganya masih terbaring koma, sedangkan jiwanya sedang nyangkut di raga orang lain?
"Dan lagi, apa tujuan orang-orang itu? Aksi ketidaksetujuan? Kukira pemerintahan setempat sudah mengatasinya. Persaingan? Mungkinkah?"
Lamunan Gisel bubar begitu saja, saat seseorang menepuk pundaknya.
"Ada yang nyariin kamu," kata salah satu teman sekelasnya sambil menunjuk seseorang yang sedang menunggu di luar kelas.
Dari tiga orang yang sedang menunggunya di luar sana, tidak ada satupun yang bisa dia kenali. Dan sekarang mereka memanggilnya yang entah untuk urusan apa.
"Ada apa?," tanya Gisel datar pada ketiga gadis yang menatapnya dengan tatapan sinis. Rasa kesal Gisel mendadak mencuat.
"Ikut kita," perintah salah satu dari mereka sambil berbalik pergi meninggalkan Gisel.
"Ada apa lagi ini astaga?," rutuk Gisel dalam hatinya.
Mereka ternyata mengajak Gisel ke suatu tempat yang ada di area belakang sekolah. Tempat ini biasanya dijadikan tempat tongkrongan anak-anak yang mencoba lari dari pelajaran. Puntung rokok yang tersebar dimana-mana menjadi bukti bahwa tempat ini menjadi tempat favorit para murid nakal di sekolah ini.
Ketiga gadis itu tiba-tiba berhenti lalu berbalik menghadap Gisel. Tanpa mengatakan apapun, mereka hanya menatap Gisel dengan tatapan merendahkan dari atas lalu ke bawah, lalu kemudian ke atas lagi. Terakhir mereka menambahkan senyum sinis mereka.
"Kalian ada perlu apa?," tanya Gisel yang sudah tidak sabaran ingin segera mengakhiri pertemuan aneh ini.
Salah satu dari mereka kemudian maju mendekati Gisel. Dia mendorong salah satu bahu Gisel hingga dirinya tersentak ke belakang.
"Kamu pikir kamu sudah hebat, ya?," katanya.
Sekali, dua kali, tiga kali, Gisel tidak mendengarkan dia berbicara, melainkan menghitung berapa kali gadis muda itu mendorong dirinya.
"Nabila bilang kamu mencelakai dia kemarin. Kamu patahkan pinggangnya. Benar, kan?"
Kali ini, gadis yang berbeda yang maju dengan pertanyaan yang berbeda, tapi masih dengan sikap dan perlakuan yang sama terhadap Gisel.
"Jadi, mereka teman-temannya si gila itu," pikir Gisel.
"Kamu ingin kita kurung di kamar mandi seperti waktu itu, ya?"
Dorongan terakhir dari gadis ketiga membuat Gisel terpental cukup jauh. Dia hampir jatuh terduduk jika dia tidak bisa menjaga keseimbangannya.
"Jadi, selama ini, si gila itu tidak hanya menyiksa Kanaya di rumah, tapi juga di sekolah?"
Kemarahan Gisel semakin lama semakin tertumpuk ke atas setiap kali ketiga gadis muda itu mendorongnya. Dia menjadi sangat marah saat mengetahui perundungan yang mereka lakukan pada Kanaya sebelum-sebelum ini.
Karena itu, pada dorongan yang ke sekian kalinya, Gisel langsung menangkap tangan salah satu gadis itu, lalu memelintirnya.
"Ah, ah, sakit, sakit ...," teriaknya.
Temannya yang lain menyerang kembali untuk menyelamatkan temannya. Dengan tangannya yang lain, Gisel melakukan hal yang sama padanya.
__ADS_1
Untuk teman mereka yang terakhir yang mencoba menyerang Gisel, kaki Gisel langsung ditendangkan di area perutnya. Cukup keras hingga gadis itu terjungkal ke belakang. Mereka kompak berteriak kesakitan.
"Lepasin nggak? Lepas! Kamu mulai berani ya?," kata salah satunya yang tangannya dipelintir oleh Gisel.
"Kenapa? Kalian nggak suka? Terus kalian pikir aku suka digituin seperti tadi? Masih muda kok sudah sok jagoan? Mau jadi apa nanti?," kata Gisel.
"Hei, kalian. Ngapain kalian disana?"
Suara teriakan terdengar dari kejauhan. "Rey!," pekiknya dalam hati.
Gisel lalu melepaskan tangannya dari mereka, lalu terjatuh ke bawah.
"Aduh, pak ... tolong ...," teriaknya.
Ketiga gadis yang membawanya melihat ke arah Gisel dengan tatapan heran. Mereka mungkin bertanya apa yang sedang dilakukannya.
"Kanaya?"
Rey langsung berlari menghampiri Kanaya. Dia memeriksa kondisi Kanaya yang terlihat olehnya sedang memegangi tangannya yang kesakitan.
"Apa yang kalian lakukan padanya?," bentak Rey pada ketiga orang muridnya itu.
Mereka cukup pintar untuk langsung mengetahui situasi apa yang sedang mereka hadapi sekarang. Karena saat Rey bertanya, mereka langsung membela dirinya.
"Nggak, pak. Kita nggak ngapain-ngapain."
"Benar, pak. Kita malah yang dipelintir tangannya sama dia."
"Dan kalian berharap saya mempercayainya?," tanya Rey. "Kalian! Ke ruang guru sekarang. Ayo, Kanaya. Bapak antar kamu ke UKS."
Gisel memamerkan senyum kemenangannya di depan teman-teman Nabila itu tanpa sepengetahuan Rey. Di saat yang bersamaan, ketiga gadis itu menggertakkan gigi mereka, menahan amarah mereka di depan guru mereka itu. Gisel sengaja melakukannya agar mereka tahu mereka sedang berhadapan dengan orang yang salah.
Dan Gisel kembali lagi ke UKS pada akhirnya. "Dalam sehari mengunjungi UKS dua kali, rekor terbaik sepanjang masa mungkin," katanya dalam hati.
"Coba saya lihat tanganmu. Apa yang mereka lakukan tadi? Tanganmu keseleo nggak?," tanya Rey sambil memeriksa tangan Gisel.
"Mereka hanya memegang tangan saya cukup keras tadi, pak. Lalu melempar saya saat mendengar Bapak datang," kata Gisel beralasan.
"Apakah mereka selalu melakukan itu sama kamu? Sudah berapa kali mereka begitu? Kalau seandainya tadi saya tidak melihat kamu dibawa mereka, entah apa yang akan mereka lakukan sama kamu di sana."
Gisel memandangi Rey yang terlihat panik di matanya. Sesuatu yang aneh dilihatnya adalah rasa panik Rey karena seorang Kanaya yang terluka. Hal ini membuat Gisel bertanya-tanya, mengapa Rey sangat mengkhawatirkan Kanaya?
"Cobalah cerita pada teman-teman kamu kalau mereka mengganggumu lagi. Jangan kamu pendam sendiri. Atau kalau butuh teman cerita, kamu bisa cerita pada saya," kata Rey lagi.
"Apakah saya dulu tidak pernah bercerita pada Bapak tentang apa saja yang terjadi pada saya?," tanya Gisel.
"Kamu adalah orang yang cukup tertutup, menurut saya. Karena itu saya khawatir kamu hanya akan menyimpan masalahmu sendiri. Padahal ada banyak orang di sekitarmu yang sangat peduli sama kamu," jelas Rey.
__ADS_1
Lalu kemudian, nada suaranya berubah menjadi lirih. "Sama seperti ..."
Gisel tidak dapat mendengar gumaman terakhir yang keluar dari mulut Rey. Dia seperti menyebut nama seseorang. Tapi, sepertinya Rey sengaja tidak ingin didengar pada bagian itu.
"Yang terpenting, jangan biarkan mereka menganggap rendah dirimu. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu oleh mereka, Kanaya."
Keheningan menyelimuti mereka di ruangan itu untuk beberapa saat.
"Bapak benar. Seharusnya saya menjadi lebih berani jika berhadapan dengan mereka. Mereka dan saya sama saja. Bedanya mereka bertiga, saya sendirian," kata Gisel yang mengundang tawa Rey.
"Haha ... sekarang cara kamu mengatakannya malah seperti teman saya."
Tawa Rey perlahan menghilang saat dia mengatakan itu. Perubahan raut wajah Rey sangat kentara hingga sulit untuk diabaikan. Rey sekarang terlihat cukup sedih. Sangat kontras dengan tawanya tadi.
"Apakah ... terjadi sesuatu, pak?," tanya Gisel pelan-pelan.
"Dia ... kecelakaan baru-baru ini," cerita Rey sambil menatap jemari tangannya. "Dia sedang koma di rumah sakit."
Gisel seakan tidak percaya, Rey sedang membicarakan dirinya saat ini. Jika seseorang yang bercerita tentang bagaimana perasaan Rey saat dirinya kecelakaan, mungkin dia tidak akan pernah percaya. Tapi sekarang, Gisel melihatnya sendiri. Dia melihat pria itu sedang duduk di depannya dengan tatapan kesedihan dari kedua matanya.
"Bagaimana ... kata dokter? Apakah ... dia akan baik-baik saja, pak?"
Salah satu sudut pada bibir Rey terangkat sedikit. Dia seperti mencoba untuk tersenyum.
"Dia ... harus baik-baik saja. Saya ... menunggunya untuk sadar."
Rey masih terus memperhatikan jemari tangannya tanpa mengatakan apapun. Dia memikirkan sesuatu, tapi Gisel tidak dapat menebak apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya itu.
"Doakan saja dia akan segera sadar. Saya minta tolong, ya," kata Rey pada Gisel seraya menunjukkan senyumnya.
Gisel tidak tahu bagaimana menanggapinya. Dia hanya menatap Rey dalam-dalam. Pikirannya saat ini sedang menimbang, apakah Rey akan percaya jika dirinya bercerita tentang apa yang sedang terjadi padanya saat ini? Apakah dia bisa bercerita tentang siapa dia sebenarnya pada Rey saat ini? Apakah Rey tidak akan menganggapnya sebagai orang konyol?
KRING ...!
Suara bel yang cukup panjang tiba-tiba berbunyi. Sepertinya waktu istirahat sudah selesai.
"Kamu sudah baik-baik saja sekarang? Atau kamu masih ingin beristirahat disini?," tanya Rey.
Gisel masih terkejut karena suara bel yang cukup keras itu membuyarkan semua yang ada di pikirannya. "Saya ... akan kembali saja, pak."
"Baiklah kalau begitu. Saya akan mengurus ketiga anak tadi. Kamu yang semangat, ya," kata Rey lagi.
Gisel memandangi punggung Rey yang sedang membelakanginya. Dalam hitungan detik, bayangan Rey sudah menghilang dari ruangan itu.
Meski di kepalanya masih menyimpan banyak pertanyaan tentang Rey dan Kanaya, tapi bayangan bagaimana Rey membicarakan dirinya tadi masih membekas dalam ingatannya.
Yang dipikirkannya kini adalah ternyata Rey bisa begitu terlihat sedih saat terjadi sesuatu pada dirinya.
__ADS_1
"Rasanya menyakitkan melihatnya seperti itu ...," kata Gisel dalam hatinya.