
Gisel terus menerus memandangi jendela kamarnya yang menghadap langsung ke pagar depan rumahnya. Dari sana dia bisa melihat dan memastikannya sendiri, apakah Clara, Nabila, dan Adrian sudah benar-benar pergi.
Hari ini adalah hari keberangkatan mereka untuk berlibur ke Thailand. Ini juga adalah rencana awal Gisel untuk membuat mereka pergi dari rumah.
Dengan mengatakan bahwa mereka memenangkan tiket liburan untuk tiga orang, Clara akhirnya bisa keluar dari rumah dengan mudah. Ya meskipun sebenarnya tidak semudah itu.
Clara sempat tidak percaya pada orang yang mengirimkan hadiah itu. Dia mengira dirinya sedang ditipu. Tapi, untuk itulah alasan mengapa Rey mengirimkan penjual terbaik di perusahaannya. Agar dengan mudah membujuk orang seperti Clara. Dan ternyata, berhasil!
Pada hari keberangkatannya, Gisel terus berada di kamar untuk menghindari konflik yang tidak perlu dengan Clara ataupun dengan Nabila. Tapi suara ributnya terdengar hingga ke kamar. Karena itu, setiap suasana mendadak menjadi hening, dia melongok ke jendela untuk memastikan mereka benar-benar sudah berangkat.
"Mereka ngapain saja, sih? Lama bener!," bisik Gisel kesal. Bahkan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh, mereka masih juga belum berangkat. Padahal tiket yang dipesan untuk penerbangan jam dua belas siang. Kalau sampai terlambat, Gisel terpaksa meminta maskapainya menunda penerbangannya, agar mereka bisa benar-benar berangkat.
Untungnya, Gisel tidak perlu melakukan itu. Lima menit sejak terakhir Gisel memeriksa pagar depan, kali ini mereka benar-benar berangkat. Gisel melihat sendiri mereka masuk ke dalam mobil dan berangkat setelah itu. Dia bisa bernapas lega.
Rencananya kini bisa dijalankan segera.
Rencana Gisel adalah menyingkirkan segala hal yang menjadi kelemahan Kanaya. Jika semua itu tidak ada, maka Clara tidak akan punya senjata yang akan ditodongkan padanya.
Clara mengancam akan merusak semua barang-barang peninggalan Emma. Karena itu, dia akan menggunakan salah satu gudang kosong milik Skylar untuk menyimpan barang-barang itu. Setidaknya untuk sementara ini, barang-barang itu akan aman di sana.
Ancaman lainnya adalah Bik Idah dan semua yang bekerja di rumah itu.
Gisel mengira, dengan semua perlakuan Clara dan Nabila pada Kanaya selama ini, keberadaan Bik Idah bisa jadi teman bagi Kanaya saat di rumah. Cara Bik Idah memperlakukannya mungkin membuatnya merasa tidak sendiri lagi. Karena itu, Clara mengancamnya menggunakan mereka.
Dan karena itu juga, Gisel terpaksa harus membuat mereka tidak lagi berada di sana.
"Kemana mereka akan dibawa?," tanya Rey saat dia datang mengunjunginya.
"Mereka akan tinggal di rumahku. Mereka bilang mereka ingin menunggu sampai kondisinya sudah lebih baik, jadi aku sarankan mereka untuk tinggal di tempat lain. Aku minta tolong Bagas untuk mengantarkannya seakan-akan tempat itu milik kenalannya."
Rey sepertinya sedang memikirkan sesuatu, karena pria itu terdiam cukup lama.
"Ada apa?," tanya Gisel.
"Apa Pak Bagas sudah tahu kamu ...,"
"Iya," jawab Gisel. "Aku harus memberitahunya kalau ingin dia membantuku. Setidaknya aku tidak perlu was-was dia akan mencurigaiku. Adit dan Tika saja yang curiga sudah membuatku kelelahan."
"Bagaimana kamu memberitahunya?"
"Aku minta tolong Pak Rendi untuk menjelaskannya. Setidaknya mereka saling kenal. Adit dan Tika, anak-anak mereka bersahabat. Jadi, penjelasan Pak Rendi bisa dengan mudah diterima oleh Bagas," jelas Gisel.
Sembari melepaskan lelahnya setelah seharian cukup sibuk, Gisel menatap setiap inci rumah itu dari tempatnya duduk. Rumah besar itu kini terasa sangat sepi.
"Kamu yakin akan melakukan ini? Kamu akan sendirian di rumah ini setelah ini," tanya Rey tiba-tiba.
Gisel menganggukkan kepalanya. "Ehm, aku harus melakukannya agar aku bisa melawan Clara. Lebih mudah melawannya jika aku tidak membawa apapun di pundakku."
Rey tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap Gisel. Terlalu lama memandanginya hingga membuatnya salah tingkah.
__ADS_1
Gisel sedikit menggerakkan kepalanya. "Apa?," tanyanya pelan.
Rey tidak langsung menjawab. Dia masih menatap Gisel. Sesaat setelah itu, barulah dia mengalihkan pandangannya.
Lalu, dia berkata, "Pergilah tidur. Besok kita masih punya banyak pekerjaan, kan?"
Gisel menganggukkan kepalanya. "Kamu mau pulang?"
"Aku akan tetap disini sampai semuanya selesai. Jangan khawatir," kata Rey seraya mengacak rambut Gisel.
"Rey!" Tangan Gisel segera menangkap tangan Rey untuk menghentikannya. Entah mengapa, akhir-akhir ini Rey sering melakukan itu.
Sembari merapikan kembali rambutnya, dengan kesalnya Gisel berkata, "Siapa bilang aku khawatir."
Rey hanya tertawa. Gisel menjadi semakin kesal karenanya. Dia menganggap Rey sedang menertawakannya. Tapi, dia tidak marah. Karena Gisel tahu pria itu suka menggodanya. Dia sering melakukannya.
Malam itu, seperti yang dikatakannya, Rey menemani Gisel di rumah. Dia tidur di lantai kamar Kanaya dengan beralaskan kasur lipat. Meski Gisel memintanya untuk pulang, Rey tidak menghiraukannya. Pada akhirnya, Gisel lelah sendiri dan membiarkan Rey dengan kemauannya.
Tapi, dengan Rey berada di dekatnya, untuk pertama kalinya sejak dia berada di rumah Kanaya, Gisel merasa aman. Dia dapat merasakan tidurnya malam itu benar-benar nyenyak dan menyenangkan. Dia sangat menikmatinya.
......................
Reaksi pertama yang ditunjukkan Clara saat pulang seperti yang dibayangkan Gisel. Clara mengamuk karena tidak dapat menemukan siapapun yang dia kenal di rumahnya.
"Bik Idah dan yang lainnya memutuskan untuk berhenti," kata Bagas menjelaskannya pada Clara.
"Mereka bilang, kamu selalu menjadikan mereka alat untuk membuat Kanaya menurut sama kamu. Apakah itu benar?"
"M-mereka bohong! Mereka berkomplot menyerangku. Kamu nggak bisa mempercayai mereka, Bagas!"
"Apakah yang dikatakan Bik Idah dan yang lainnya itu benar atau tidak, Aya?," tanya Bagas pada Gisel.
Gisel memainkan perannya dengan sangat baik. Dia menghapus mengusap ujung matanya yang sama sekali tidak mengeluarkan air mata. Saat dia melirik ke Clara, wanita itu sedang melotot padanya. Dia gerakkan mulutnya tidak beraturan hanya untuk menyuruh Gisel mengatakan sesuatu pada Bagas.
"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau mengatakannya, Aya. Tapi om akan lihat sendiri bagaimana mereka akan melaporkannya pada om."
Siapapun yang dimaksud Bagas dengan kata 'mereka', orang-orang itu masuk setelah Bagas mengatakannya. Dan 'mereka' ini langsung berbaris di belakang Bagas.
"Tujuh pelayan ini akan membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga secara bergantian dimulai dari jam 7 pagi. Setelah jam tujuh malam, tugas mereka selesai."
"Apa? Jam 7 malam? Bagaimana ..." Protes pertama datang dari Clara. Tidak heran.
Tapi Bagas tidak mau kalah. "Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan."
Clara terlihat menciut ketika Bagas mulai melotot dan bicara dengan nada tertahan.
Tapi, Nabila masih berani untuk bicara. "Aku dan Aya berangkat sekolah jam 6.30. Mereka bahkan belum datang. Siapa yang akan masak sarapan untuk kita?"
"Mereka akan menyiapkannya sebelum pulang. Kamu bisa memanaskannya besok pagi. Jika kamu tidak ingin makanan yang dimasak semalam, panggang saja roti atau buat sereal. Semuanya sudah tersedia di ruang makan."
__ADS_1
Bagas melihat Nabila ingin mengatakan hal yang lain lagi. Tapi, kemudian dia mencegahnya. "Tugas mereka hanyalah memasak, bersih-bersih, merawat taman dan kolam renang, serta mencuci dan merapikan pakaian. Selain dari itu, kalian kerjakan sendiri."
"Apa?! Nggak bisa begitu dong, Om."
Bagas mengangkat tangannya, tanda untuk Nabila agar berhenti bicara.
"Gaji mereka akan dibayarkan seperti biasa. Tapi jika kalian memintanya melakukan sesuatu di luar pekerjaan mereka, itu artinya kalian akan membayar sendiri jasa tambahannya. Itu jika mereka mau melakukannya."
"Kamu nggak bisa melakukan ini, Bagas. Aku nyonya rumah ini. Dulu Farhan selalu mempercayakanku untuk mengurus semuanya," protes Clara untuk kesekian kalinya.
"Dan aku adalah pengacara yang ditunjuk oleh Farhan untuk mengurus Kanaya dan semua hal yang berkaitan dengannya. Jangan khawatir, kamu tetap adalah nyonya rumah ini. Tapi sekarang tugas kamu sudah tidak perlu mengurus asisten rumah tangga lagi. Bukankah sudah mengurangi pekerjaanmu?"
Clara tidak mengatakan apapun lagi meskipun wajahnya terlihat masih belum puas dan ingin memprotes lagi.
"Jangan khawatir. Kalian akan tetap mendapatkan seorang supir. Tugasnya hanya mengantarkan Nabila dan Aya ke sekolah dan mengantarkan pulang. Setelah itu, dia akan bekerja di perusahaan."
"Apa?! Lalu, bagaimana kalau kita butuh mobil?," kata Clara.
"Sekarang jaman sudah canggih. Pakai ponsel kalian dan cari taksi online," jawab Bagas dengan santainya.
"Dan satu lagi." Bagas baru akan beranjak pergi tapi kemudian dia ingat sesuatu. "Para pelayan ini hanya mengenal empat orang yang tinggal di rumah ini. Selain dari kalian, mereka akan menganggapnya sebagai tamu. Yang artinya, mereka akan mengusir siapa saja yang bertamu jika tuan rumahnya tidak ada di rumah."
Clara langsung melotot begitu Bagas selesai mengatakannya. Dia pasti sudah menyadari siapa yang dimaksud.
"Dan jangan berpikir untuk memasukkannya setelah jam tujuh malam. Karena satpam akan berjaga di depan setelah itu," tambahnya lagi.
Gisel menyembunyikan senyum kemenangannya dengan menundukkan kepalanya. Dia puas melihat wajah panik Clara dan Nabila.
Gisel merasa beruntung Bagas mau bekerja sama dengannya setelah mendengar kondisi Kanaya yang sebenarnya. Selama ini, dia tahu semuanya tentang Clara dan Nabila. Tapi dia tidak bisa apa-apa, karena Kanaya selalu melindungi mereka.
Dan sekarang Gisel yang memerankan Kanaya sendiri yang akan bergerak menangani mereka. Itu akan memudahkannya mengurus semuanya.
Sebelum pergi, kedua mata Bagas dan Gisel saling bertemu meski hanya untuk beberapa detik. Dari tatapan mata itu, mereka seakan sedang melakukan tos kemenangan. Keduanya tetap diam dan menyembunyikan senyum mereka dari Clara dan Nabila yang saat ini sedang meratapi kehidupan mereka setelah ini.
......................
Ternyata, rencana yang sudah disusun rapi itu tidak menghentikan niat Clara untuk menikahkan Kanaya dengan Tuan Abraham. Pagi-pagi, Clara sudah menggedor pintu kamar Gisel yang terkunci.
"Ngapain pakai dikunci segala?," kata Clara memarahi Gisel yang masih menyipit matanya karena belum terbiasa dengan cahaya pagi.
"Nih ..."
Clara melemparkan sebuah kebaya lengkap dengan sarungnya kepada Gisel.
"Mandi, terus pakai itu! Sebentar lagi make up artist akan datang!"
Gisel masih memproses ucapan Clara setelah wanita itu pergi. Dilihatnya pakaian yang baru saja dilemparkan padanya. Beberapa detik kemudian, Gisel baru menyadarinya.
"Dia masih ingin menikahkanku?"
__ADS_1