
"Ada apa ini?"
Begitu suara itu terdengar, Rey yang paling cepat bereaksi. Dia sepertinya tahu apa yang harus dilakukannya.
"Ibu Kepala Sekolah ..."
"P-pak Reynard? Ada apa? K-kok basah semua?"
Ibu Kepala Sekolah langsung tidak dapat berkata apa-apa lagi begitu melihat Rey yang basah kuyup. Kesempatan ini dibuat Rey untuk menjauh dari Gisel, lalu menjelaskan situasinya.
Beberapa saat kemudian, Ibu Kepala Sekolah pergi tanpa mengatakan apapun. Dan Rey kembali pada Gisel beserta dua tersangkanya.
"Ibu Kepala Sekolah mempercayakan kalian padaku," kata Rey.
Bersama-sama, Rey dan Gisel memperlihatkan senyum jahat mereka hingga membuat dua siswa tersangkanya merasa hidup mereka tidak akan lama lagi.
Rey dan Gisel akhirnya kembali ke ruang olahraga bersama kedua tersangka mereka. Di sanalah mereka menginterogasinya. Gisel bahkan melewatkan jam pelajaran pertamanya agar dia bisa bergabung bersama Rey.
"Kalian sebaiknya ngomong, apa tujuan kalian atau mungkin siapa yang menyuruh kalian?," tanya Rey memulai pembicaraan mereka dengan suasana yang cukup baik. Dia masih menunjukkan senyumnya.
Bajunya yang basah juga kini sudah diganti dengan yang baru dan kering. Untungnya dia menyimpan tas baju gantinya di ruang olahraga. Jadi, ketika Gisel menunggui mereka, Rey mengganti pakaiannya di gudang kecil dalam ruang olahraga yang biasanya menyimpan peralatan olahraga.
"T-tadi kita nggak sengaja, Pak."
"B-bener, Pak. T-tadi embernya mau dibawa ke kamar mandi, tapi malah terjatuh. Nggak sengaja, Pak. Beneran deh, Pak."
Mereka masih saja mengelak. Padahal sudah jelas-jelas Gisel melihat mereka masih sempat mengintip ke bawah sebelum mengangkat ember itu. Mana mungkin orang yang tidak sengaja masih sempat melihat situasi.
Rey mengambil bangku yang ada di dekatnya, lalu mendudukinya. Dia memandangi satu persatu siswanya itu. Kegugupan mereka semakin meningkat, dan mereka mulai terlihat cemas.
"Kalian dari kelas X-5, kan? Atau saya undang saja orang tua kalian ke sekolah?"
Keduanya langsung bersujud di depan Rey.
"Ampun, Pak. Jangan, Pak. Tolong, Pak jangan."
"Ampun, Pak. Kita cerita, Pak. Kita cerita."
......................
Pada jam istirahat, dua orang siswa laki-laki sedang berdiri di area belakang sekolah. Area yang sama yang pernah Gisel datangi bersama teman-teman Nabila waktu itu.
Mereka saat ini sedang menunggu seseorang. Orang yang sama yang menyuruh mereka melakukan semua gangguan terhadap Kanaya. Setelah mereka menjelaskan semuanya, Rey meminta kedua anak itu untuk menghubungi orang yang dimaksud agar mau datang menemui mereka di tempat biasanya bertemu.
Di tempat lain yang tidak jauh dari keduanya, Rey dan Gisel berdiri sambil mengamati mereka. Keduanya bersembunyi di balik dinding sekolah.
Gisel yang mengenakan rok sekolah terus menerus menepuk dan menggaruk kakinya sejak awal mereka berada di sana. Dia dari tadi terus mengerang karena orang itu tidak juga muncul.
__ADS_1
"Sabar, Gi. Sebentar lagi pasti datang," kata Rey menenangkan Gisel.
"Nyamuknya, astaga."
Rey meletakkan jarinya di depan bibirnya saat Gisel memelototinya. "Sstt ... dia datang ..."
Gisel segera mengintip lagi. Dilihatnya seorang siswa perempuan yang mendatangi kedua anak itu. Tidak terlihat jelas siapa, tapi sepertinya Gisel mengenali suaranya.
"Ngapain sih maksa-maksa ke sini?," kata siswa perempuan itu.
"A-ada masalah penting. S-sesuatu terjadi."
"Ada apa? Terjadi apa?"
Gisel kemudian muncul di antara kedua siswa laki-laki itu sembari menunjukkan senyum seringainya.
"Kita ketemu lagi," sapa Gisel.
"K-kamu? K-kalian menjebakku?"
Ranting semak dan dedaunan menghalangi Gisel untuk melihat siapa siswa perempuan yang datang ketika dia bersembunyi tadi. Tapi kini dia dapat melihatnya dengan sangat jelas saat dirinya berhadapan langsung dengan anak itu.
Salah satu teman Nabila dari tiga orang temannya yang pernah memintanya datang ke tempat itu. Dialah siswa perempuan itu.
"Cukup lama kita nggak ketemu, ya? Siapa namamu? Mona? Dina?"
"Wina!! K-kalian m-memanggilku untuk ini?" Wina membentaki dua orang siswa laki-laki itu hingga membuat mereka bersembunyi di balik Gisel.
"J-jadi kita b-boleh pergi, kan?," tanya salah satu dari mereka.
Begitu Gisel menganggukkan kepalanya, mereka langsung pergi begitu saja. Wina akan mengejar mereka, tapi kemudian Gisel mencengkeram bahu Wina untuk mencegahnya pergi.
"Sakit!," teriaknya seraya menghempaskan tangan Gisel.
"Katakan. Nabila yang menyuruhmu?," tanya Gisel.
"Tebak aja sendiri."
Wina memalingkan pandangannya dari Gisel. Dia menunjukkan ekspresi jijiknya saat Gisel menatapnya. Gisel menjadi semakin geram saat Wina melakukan itu.
Dia maju perlahan mendekati Wina, menatapnya tajam hingga membuat gadis itu kini tidak lagi jijik padanya, melainkan rasa takut yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Aku bukan orang yang sabaran. Jadi aku akan menanyakannya sekali lagi. Jawab yang benar, atau aku akan membuatmu menyesalinya."
"A-apa yang akan k-kamu lakukan?" Suara Wina kini tidak sekencang dan setegas tadi. Rasa panik mengubahnya menjadi burung yang sayapnya tidak lagi mengembang.
"Tebak saja sendiri," jawab Gisel dengan remehnya membalas perlakuan Wina padanya.
__ADS_1
Wina menelan ludahnya keras-keras. Menatap kedua mata Gisel yang penuh dengan keyakinan melawan dirinya yang saat ini sudah benar-benar terpojok.
"M-inggir!," bentak Wina seraya mendorong Gisel untuk mundur darinya. "J-jangan kira aku bakalan takut sama kamu."
Gisel tahu Wina hanya menggertak. Wina ingin menunjukkan padanya bahwa dia tidak takut. Tapi, justru yang dilihat Gisel adalah sebaliknya.
Meski demikian, Gisel tetap memberikan ruang untuk Wina. Dia mundur selangkah. "Toh dia tidak akan bisa lari dari sini," pikir Gisel.
"Aku dan Nabila, kita sama-sama nggak pernah suka dengan kamu. Tapi ini bukan ide Nabila," kata Wina.
"Kalaupun Nabila tahu, aku yakin, dia juga pasti nggak akan keberatan kalau aku melakukan ini." Salah satu ujung bibir Wina terangkat ke atas, tanda-tanda dia masih memiliki kepercayaan dirinya, bahkan di saat dia sudah terpojok.
"Biar kutebak, ini pasti masalah cinta. Siapa? Evan?"
Wina langsung mendelik. Matanya terbelalak sangat lebar bahkan mungkin Gisel bisa masuk ke dalamnya.
"Evan?! Jangan samain aku sama kamu, ya. Aku nggak seperti kamu yang bisanya cuma merebut pacar orang."
Gisel mengerutkan dahinya, lalu memutar bola matanya ke atas. Dirinya sedang mengingat-ingat siapa lagi cowok yang sedang mendekati Kanaya akhir-akhir ini.
"Kenapa? Penasaran? Terlalu banyak cowok untuk bisa diingat? Dasar cewek gatel!"
Gisel kembali geram mendengar tuduhan Wina. Dia sudah hampir mencengkeram lengannya kembali sebelum akhirnya Rey muncul.
"Oke, bubar! Acara selesai!"
"Pak Reynard," teriak Wina yang terkejut melihat Rey. "Kamu lapor ke Pak Reynard?!"
Gisel hanya mengangkat kedua bahunya ke atas, seraya mencibirkan bibirnya. Dia bersikap seolah-olah dia tidak tahu menahu soal ini.
"Pak, saya nggak tahu apa-apa. Saya cuma disuruh kesini sama dia," elak Wina menunjuk Gisel dengan jarinya.
"Dua temanmu tadi sudah cerita, jadi, kamu ikut ke ruang BK," kata Rey seraya menggerakkan jarinya di depan Wina agar dia bergerak mengikutinya.
Sebelum Wina pergi mengikuti Rey, dia masih sempat memelototi Gisel. Dia mengira Gisel telah merencanakan semuanya untuk menjebaknya.
Bug ... "Aduh! Jangan berhenti mendadak dong, Pak," omel Wina saat dia tidak sengaja menabrakkan dirinya pada Rey yang tiba-tiba berhenti dan berbalik.
"Kanaya, kamu kembali ke kelas setelah ini. Dan, ingat pesan saya," kata Rey sebelum akhirnya dia pergi bersama Wina.
Gisel mengamati perginya Wina dan Rey hingga mereka tidak terlihat lagi olehnya. Di kepalanya kini terus memutar hal-hal yang dialaminya selama dia menjadi Kanaya.
Di rumah dan di sekolah, kedua tempat dimana Kanaya banyak menghabiskan waktunya. Tapi di kedua tempat itulah hidupnya justru selalu dirundung masalah.
"Clara dan Nabila, sekarang Wina dan sepertinya masih akan ada banyak lagi. Permasalahannya bukan pada hidupmu yang tidak adil, Aya. Tapi karena kamu membiarkan mereka memperlakukanmu seenak mereka."
"Kamu sebaiknya tidak tidur di dalam sana, Aya. Kamu harus bangun dan lihat sendiri bagaimana seharusnya memperlakukan orang yang meremehkanmu. Agar ketika kamu kembali, kamu bisa melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan, Aya."
__ADS_1
Gisel hanya tahu Kanaya tidak sepasif yang Risa katakan. Kanaya tahu setiap hal yang dialami Gisel. Karena itu, Kanaya selalu membawa Gisel ke alam mimpi untuk melihat ingatannya.
"Dan mungkin karena itu juga, Aya bilang 'maaf' saat itu. Karena dia merasa bersalah membiarkanku menjalani semuanya," pikir Gisel. "Jadi, duduk dan lihatlah. Belajarlah untuk menghadapi masalahmu, Aya."