
Suasana rumah hari ini benar-benar luar biasa, begitu menurut pendapat Gisel. Mungkin efek dari kejadian saat makan malam itu, kemarahan Clara bisa menjadi api yang akan membakar rumah sedikit demi sedikit.
"Makanan macam apa ini? Kalian bisa kerja nggak sih?"
"Bahkan nyetrika gini saja nggak bisa?"
"Bagas benar-benar goblok. Mengapa merekrut pelayan bego seperti mereka?"
Teriakan Clara di dapur bahkan bisa terdengar hingga kamar Kanaya.
"Hari ini sepertinya mama kamu sedang dalam tegangan tinggi," bisik Gisel pada Ian yang sedang menonton film dari laptop Kanaya. Ian tertawa cekikikan menanggapi ucapan Gisel.
"Sebaiknya hari ini kamu jangan dekat-dekat dia. Atau nanti kamu kesetrum." Tawa Ian semakin menjadi karena Gisel menggelitiknya.
PRANG ....
"Goblok semua! Piring masih basah kenapa ditaruh disini?"
Dan sepertinya piring hari ini akan menjadi sasaran amukan Clara.
"Semoga hari ini kita nggak kehabisan piring," ucap Gisel lirih yang lagi-lagi disambut dengan tawa tertahan oleh Ian.
Tak lama setelah itu, Nabila datang dengan segala gangguannya. Dia sepertinya juga sama dengan Gisel dan Ian, menghindari amukan Clara.
Brak ...
Gisel menatap sebuah buku tulis yang dilemparkan begitu saja di atas meja tepat di hadapannya. Lalu kemudian, pandangannya beralih ke Nabila yang sedang berdiri dengan congkaknya di dekat pintu. Kebencian jelas terpancar dari kedua mata Gisel.
"Kerjain itu. PR Bahasa Inggris," kata Nabila tanpa mempedulikan tatapan Gisel sama sekali. Dia bahkan tidak mau menatapnya. Setelah dia mengatakan keinginannya, Nabila langsung berbalik begitu saja dan melangkah keluar dari kamar itu.
"Kenapa nggak kamu kerjakan sendiri? Kamu sudah kelas 10. Aku rasa kamu bisa menulis, kan? Atau kamu mau belajar membaca dari Ian adikmu?," sindir Gisel.
Ian yang namanya disebut seketika bersembunyi di balik tubuh Gisel. Anak itu terlihat cukup ketakutan. Jika itu Clara mungkin bisa dipahami. Tapi ini Nabila. Apakah Nabila juga pernah mengganggunya?
"Dia bukan adikku."
Mata Nabila menatap rendah Gisel dari tempatnya berdiri. Terlihat jelas, dia tidak menyukai sebutan itu. Wajahnya bahkan menunjukkan betapa jijiknya dia menyebut Ian sebagai adiknya.
"Aku nggak pernah punya adik. Mama mungkin melahirkannya, tapi ayah kami berbeda. Itu artinya dia bukan adikku. Dan itu termasuk juga kamu."
Sekarang Gisel mengerti mengapa Ian begitu ketakutan pada Nabila. Ternyata ini alasannya.
"Aku kira attitude kamu masih bisa diperbaiki, tapi ternyata otak kamu yang memang bermasalah," kata Gisel.
"Kamu ..."
__ADS_1
"Ya sudah. Sana, sana pergi. Aku kerjakan kalau kamu pergi. Kamu bikin AC jadi panas," usir Gisel langsung memotong ucapan Nabila. Dia tahu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut bocah itu bukanlah sesuatu yang manis didengar. Karena itu lebih baik Nabila keluar sebelum dia mengamuk, lalu memanggil mamanya untuk ke kamar.
Dan Nabila pun pergi dengan kesal.
Alasan lain Gisel mengusir Nabila adalah dia sudah tidak mau berdebat lagi, apalagi jika menyangkut Ian. Anak itu sudah sangat ketakutan, dan sekarang masih ditambah dengan harus mendengarkan kata-kata kasar Nabila. Bagi Gisel, lebih baik dia mengerjakan tugas Nabila dan mengusirnya keluar.
"Pantas saja Kanaya sangat menyayangi anak ini. Ternyata mereka punya nasib yang sama di rumah ini," pikir Gisel.
Lamunan Gisel dibuyarkan oleh Ian yang sedang mengintip buku milik Nabila.
"Kak Aya akan mengerjakannya?," tanya Ian.
Gisel menunjukkan senyum jahatnya pada Ian.
"Tentu saja. Tapi Kak Aya nggak bisa Bahasa Inggris," jawab Gisel berbohong dengan raut wajah sedihnya.
Gisel sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Jelas saja dia berbohong. Tapi Ian paham dengan niat jahat Gisel itu. Mereka akhirnya tertawa cekikikan bersama.
"Kamu juga. Kalau ada yang minta kamu mengerjakan pekerjaannya, lakukan seperti Kak Aya. Okay?"
Ibu jari dan jari telunjuknya dibuat melingkar oleh Gisel lalu ditunjukkannya pada Ian. Anak itu meniru gerakan tangan Gisel dan juga kedipan matanya. Terakhir, mereka kembali tertawa bersama.
Berdua, mereka mengabaikan amukan Clara yang tidak juga reda dengan menghibur diri mereka sendiri. Setidaknya ini lebih baik daripada harus menjadi ikutan gila bersama orang-orang yang ada di rumah itu, begitu pikir Gisel.
......................
Tubuh Gisel terpental menghantam dinding sekolah ketika Nabila dan kedua temannya dengan sengaja menabrakkan dirinya pada Gisel. Suara keras yang terdengar menandakan betapa kerasnya mereka menabrak Gisel.
Beberapa anak mulai berkumpul untuk melihat apa yang sedang terjadi. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani maju ataupun membantu. Yang mereka lakukan hanyalah saling berbisik dengan teman di sebelah mereka.
"Maksudmu apa ini, hah?," bentak Nabila seraya menyodorkan dengan kasar sebuah buku ke dada Gisel.
Gisel tahu ini tentang apa. Sepertinya Nabila sudah melihat kalau PR Bahasa Inggrisnya sudah dikerjakan dengan baik.
"Kenapa? Ada yang salah? Kan kamu minta dikerjain, sudah dikerjain, kan?," jawab Gisel dengan entengnya.
"Kamu sengaja kan mencoret-coret bukuku dengan gambar-gambar konyol ini?" Nabila kembali melemparkan bukunya. Dia sengaja membuka bagian yang dicoret Gisel, lalu menyodorkan paksa ke wajah Gisel.
Beberapa anak yang menyaksikan pertengkaran itu menahan tawanya ketika melihat gambar yang dibuat Gisel. Nabila langsung menyadari dia telah melakukan kesalahan dengan mencegat Gisel di depan banyak orang.
Gisel menyeringai di depan Nabila. "Dengar, ya. Itu tugasmu, kamu kerjakan sendiri. Kan kamu masih sehat."
"Tangan punya ..." Tangan Gisel meraih tangan Nabila lalu melepaskannya kembali.
"Otak juga punya ..." Kali ini tangan Gisel menunjuk kepala Nabila dan mengetuknya pelan dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Jadi, jangan minta aku untuk mengerjakannya lagi. Atau, kalau kamu memaksa, aku akan mengerjakannya dengan caraku sendiri."
Nabila terlihat sangat kesal mendengar ucapan Gisel. Ditambah lagi semua anak yang menyaksikan pertengkaran mereka kini lebih mendukung Gisel.
"Kenapa? Mau lapor ke mama seperti yang biasanya kamu lakukan?"
Merasa gerah dengan Nabila dan teman-teman yang mengerumuninya, Gisel berjalan maju ke depan sehingga mereka ikut mundur saat Gisel melakukannya.
"Ah, iya. Berhenti mengganggu adikmu. Dia masih anak-anak. Suka atau tidak suka, dia adikmu. Jadi jangan lampiaskan kekesalanmu sama adikmu," kata Gisel sebelum akhirnya dia beranjak pergi.
Tapi kemudian, sebuah tangan menarik tangan Gisel dan menahannya untuk melangkah lagi. Dengan kasar, tubuh Gisel dibalikkan untuk menghadap ke arahnya, yang ternyata adalah salah satu teman Nabila. Dan tanpa disangka oleh Gisel, teman Nabila itu mengangkat tangannya yang lain dan akan mendaratkannya ke wajah Gisel.
Dengan cepat, Gisel menangkapnya. Lalu mencengkramnya dengan keras. Teman Gisel itu berteriak kesakitan.
"Ah, sakit ..."
"Kukira kamu sudah lupa. Aku pernah melakukan hal yang sama seperti ini. Dan sekarang, aku akan mengingatkanmu lagi," kata Gisel yang terus memelintir tangan teman Nabila itu.
Teman Nabila yang lain memilih untuk mundur ketika Gisel berhasil menghentikan temannya itu. Sedangkan Nabila, wajahnya terlihat sangat marah, tapi kemudian dia juga mengangkat tangannya dan berniat untuk melakukan hal yang sama seperti temannya tadi.
Tapi sebelum tangan Nabila mengenainya, seseorang menahannya.
"Kamu mau apa? Tiga lawan satu, nggak malu?"
Ternyata Tika.
"Pantesan lama banget. Ternyata disini."
Tika langsung menghempaskan tangan Nabila dengan kasar. Begitu juga dengan Gisel. Nabila dan temannya itu langsung mengurut tangan mereka.
Tapi, itu masih belum selesai bagi Nabila rupanya. Karena sekali lagi, anak itu maju berhadapan dengan Gisel. Tika hampir akan maju menghalangi Nabila, tapi kemudian Gisel menghalanginya. Gisel membiarkan Nabila melakukan apa yang ingin dilakukannya sekarang.
Nabila mendekatkan wajahnya hingga cukup dekat dengan Gisel. Dia kemudian berbisik tepat di wajah Gisel.
"Kamu merasa hebat karena bertunangan dengan guru? Aku ingin lihat apa yang akan tunanganmu itu lakukan sekarang. Itupun jika dia masih bisa bertahan di sekolah ini."
Raut wajah Gisel mendadak berubah. Sesuatu pasti telah terjadi, tapi apa?
"Dia pasti melakukan sesuatu pada Rey," pikir Gisel.
Tepat di saat itu, Tika menarik tangan Gisel, lalu mengajaknya pergi. Gisel sempat menolak, tapi Tika terus memaksa.
"Ayo, Aya. Ada hal yang lebih penting," bisik Tika.
Saat Gisel menjauhi Nabila karena Tika menariknya, pandangan matanya tidak berpaling dari Nabila yang terus mengejeknya dengan melambaikan tangannya. Gisel yakin betul Nabila sedang merencanakan sesuatu.
__ADS_1
"Aya, ayo," bisik Tika sembari terus menarik lengan Gisel. "Pak Reynard sekarang lagi disidang Ibu Kepala Sekolah."
Gisel langsung menoleh menatap Tika. Kali ini pasti benar-benar serius, pikir Gisel.