
"Jadi orang baik itu ternyata melelahkan," keluh Gisel yang sudah terlalu lelah.
Bagaimana tidak? Sudah satu jam terakhir Tika memaksanya berlari ke sana ke mari, mencobai semua mesin permainan yang ada di game center. Bar indikasi energi Gisel mungkin saat ini sudah berada di angka 10%.
Karena Rey hari ini tidak mengajaknya latihan, Gisel memanfaatkan hari ini untuk melakukan sesuatu, yaitu menyenangkan Tika.
Dalam pembicaraan singkatnya dengan Rey saat di bawah anak tangga tadi, Gisel tiba-tiba berpikir bahwa dia sudah terlalu sering menolak Tika mendekati dirinya. Padahal, jika mendengar dari penjelasan Bagas, Tika melakukan ini karena dia mengkhawatirkan Kanaya.
Karena itulah, Gisel berpikir untuk meredakan sedikit kekhawatirannya. Dan dia yakin, Kanaya juga akan melakukan hal yang sama saat dia tahu hal ini.
Langkah pertama yang dilakukan Gisel adalah mengajaknya pulang terlambat bersama-sama. Hal simple itu saja sudah membuat Tika terkejut. Dia hampir tidak percaya Kanaya, sahabatnya melakukan itu.
Langkah selanjutnya adalah mengajaknya menjelajahi mall.
Dan, game centre adalah tujuan kesekian mereka hari ini.
"Ayo, Aya. Kita main itu," seru Tika kegirangan seraya menunjuk mesin basketball arcade yang sedang kosong pemain. Tangan Gisel terus ditariknya.
Belum puas dengan itu, kini Tika berpindah lagi ke arcade yang lain, begitu seterusnya hingga napasnya benar-benar sudah tidak sanggup lagi memompa jantungnya.
"Istirahat yuk, Aya. Cari makan," ajak Tika.
"Akhirnya, Ya Tuhan ...," seru Gisel di dalam hatinya. Kepalanya sedang menyanyikan pujian rasa syukur atas mukjizat ini. Dia hampir mengira mungkin seseorang akan menggendongnya pulang.
................
"Aku kira tadi aku salah dengar, " kata Tika tiba-tiba saat mereka sedang makan es krim di ruang outdoor dari mall itu.
Setelah berjam-jam bermain, lalu makan es krim sambil memandangi pemandangan taman bisa jadi pereda lelah yang menyenangkan.
"Apanya?," tanya Gisel seraya mengincipi es krim dari atas cone yang dipeganginya.
"Tadi. Waktu kamu ajak aku pulang bareng. Aku kira aku tadi salah dengar." Tika terlihat sangat antusias saat menjelaskannya. Dia sepertinya menyukai momen itu.
"Dulu kita sering melakukan ini. Kalau kamu merasa malas untuk pulang, kamu pasti ngajak aku jalan-jalan. Sejak papa bilang kamu amnesia, aku mengira sepertinya kita nggak bisa jalan-jalan seperti ini kayak dulu. Tapi ternyata ... Hihi ..."
Dan sepanjang mereka menikmati es krim mereka, selama itulah Tika mulai mengoceh, bercerita tentang saat-saat dia bersama Kanaya.
Pelan-pelan, dari cerita Tika, Gisel mulai memahami mengapa Kanaya bersikap menjauh dari teman-temannya sendiri.
Terlalu bahagia. Itu jawabannya.
Terlalu bahagia adalah jawaban dari kesimpulan Kanaya untuk pertanyaan mengapa pada akhirnya semua orang akan pergi meninggalkannya.
Dia terlalu bahagia bersama ibunya. Lalu kemudian, ibunya meninggal. Dia mencoba bahagia bersama ayahnya, tapi ternyata dunianya dipenuhi oleh Clara dan Nabila.
Terlalu menikmati kebahagiaan hingga Kanaya takut jika rasa bahagianya itu lama-kelamaan akan pergi lalu menghilang.
Karena itulah, dia membatasi dirinya dengan Tika dan Adit. Tapi, mungkin rasa sayangnya yang terlalu besar untuk mereka hingga Kanaya menjadi sulit untuk bisa benar-benar melakukannya.
Tapi, tiba-tiba, kegembiraan Tika berubah.
"Tunggu!"
Saat Tika mengatakannya, pandangan matanya sudah menatap Gisel lurus dan tajam. Tika memincingkan kedua matanya seakan sedang mencari jawaban yang sedang disembunyikan Gisel. Padahal, Gisel tidak tahu, apa yang sedang Tika inginkan darinya?
"K-kenapa? M-mau main lagi?," tanya Gisel gugup.
__ADS_1
"Kamu hari ini tiba-tiba ngajak pulang bareng, terus kita jalan-jalan seharian, main, makan, ini itu."
Kedua tangan Tika kemudian memegangi bahu Gisel, lalu menggocangkannya berulang. "Jujur, Aya! Kamu nggak punya penyakit serius, kan? Dokter nggak bilang hidup kamu tinggal beberapa bulan lagi, kan?," tanya Tika curiga.
"Ke-kenapa malah tiba-tiba kepikiran itu, sih?"
Gisel mulai ingat kembali bahwa Tika adalah ratunya drama. Anak itu pasti sedang memikirkan hal yang berlebihan hingga menciptakan sebuah adegan drama di dalam kepalanya.
"Kalau orang tiba-tiba berubah biasanya dia mau ..." Tika buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Tapi Gisel tahu apa kata selanjutnya. Jika itu adalah pertanyaan soal Bahasa Indonesia, dia mungkin akan dapat poin dari pertanyaan itu.
"Kamu nggak berharap aku cepat mati, kan?"
"Mana ada?!? Aku kan sayang banget sama kamu, Aya!"
Gisel berusaha keras melepaskan dirinya dari pelukan Tika. Orang-orang mulai memandangi mereka. Gisel berulang kali tersenyum canggung pada mereka semua.
"Lepas, Tika. Orang mulai berpikiran kita pasangan ..."
Gisel tidak dapat melanjutkannya. Dia sudah merasakan bulu di seluruh tubuhnya merinding.
"Biarin! Kita kan soulmate!"
Tika semakin mengeratkan pelukannya.
"Mampus!," batin Gisel berteriak.
Pada akhirnya, Gisel hanya bisa pasrah.
......................
"Kamu sudah pulang?," tanya Rey pertama kali saat Gisel menghubunginya.
"Hmm ... kamu di kantor? Nggak usah kesini deh, Rey. Aku pulang sendiri saja."
"Jangan! Aku kesana sekarang. Aku baru selesai meeting. Jaraknya sekitar 10 menit dari tempat kamu. Jadi, tunggu, ya. Nggak lama, kok," pinta Rey.
Tapi, Gisel menyangsikannya. "Beneran?"
"Beneran! Pokoknya, tunggu aku, Gi!"
Gisel melihat ada penjual minuman di seberang mall. Dia berpikir untuk membelinya daripada harus kembali masuk ke dalam mall.
"Kalau gitu, aku tunggu di taman yang ada di sebelah mall, ya."
"Oke, aku ke sana sekarang."
Dan, panggilan itu terputus. Rey memutuskannya.
Gisel hanya bisa menghela napasnya menerima sikap memaksa sahabatnya itu. Mau tidak mau, dia harus menunggu.
Lima menit berlalu, Gisel masih sabar menunggu sambil menikmati minuman yang baru dibelinya. Kondisi taman yang Gisel lihat saat ini cukup sepi. Hanya ada beberapa pasang kekasih yang duduk di bangku taman sedang berbincang tanpa mempedulikan orang lain yang ada di sekitarnya.
Saat Gisel sedang memasangkan lotion anti nyamuk pada kakinya, dia melihat sepasang sepatu milik seorang perempuan sedang berdiri di depannya. Gisel menengadahkan kepalanya.
Wina. Dia melihat Wina ada di depannya saat ini.
__ADS_1
Gisel melanjutkan aktifitasnya tanpa memandangi Wina sama sekali. "Ada apa? Kamu mau apa?"
Kali ini, beberapa pasang kaki muncul di belakang sepasang kaki milik Wina. Kali ini pula, kaki-kaki itu milik pria. Gisel kembali menengadahkan kepalanya.
Ternyata benar. Beberapa orang pria yang tampang yang tidak menyenangkan sedang menatap sinis ke arah Gisel. Ada yang hanya tangan kosong. Ada yang membawa sebatang kayu di tangan mereka. Ada pula yang membawa tongkat bisbol.
"Sepertinya ini serius. Sangat serius," pikir Gisel.
Dia bisa melihat dirinya kini sendirian menghadapi Wina dan teman-temannya. Orang-orang yang tadi dilihatnya, kini semuanya hilang entah kemana. Gisel yakin mereka tidak akan mau repot membantunya saat ini.
Dia meletakkan botol lotion miliknya, dan meletakkan tas sekolahnya di atas bangku. Perlahan, Gisel berdiri menghadapi Wina dan orang-orang yang dia bawa bersamanya. Gisel menghitungnya. Lima orang.
"Hari ini aku lihat, kamu membawa banyak teman. Kamu bawa aku kemana?," tanya Gisel. Dia sedang waspada. Tapi disembunyikan dengan sikap cueknya.
"Pintar juga," komentar Wina dengan senyum sinisnya. "Bagaimana kalau kamu ikut dengan sukarela agar kamu bisa tahu kemana aku akan membawamu?"
"Maaf. Tapi kata mama, aku nggak boleh ikut orang asing."
Gisel semakin waspada, saat Wina mulai melangkah mundur, sedangkan orang-orang Wina mulai maju mendekati Gisel.
Saat Wina memberi tandanya untuk mereka semua maju bersamaan. Gisel mulai menghindar untuk mencari ruang geraknya yang lebih luas.
Pertarungan Gisel dengan kelima orang itu tidak dapat dihindari. Lima lawan satu jelas bukan lawan yang seimbang, tapi melihat kemampuan mereka, Gisel masih percaya diri bisa menghadapi mereka semua.
Permasalahannya adalah ketika mereka mulai berpencar. Gisel tidak dapat membagi konsentrasinya pada mereka secara terpisah. Dia semakin paham alasan Wina membawa begitu banyak orang hanya untuk membawanya.
"Seandainya saja ada Rey ...," pikir Gisel.
Tapi, Rey tidak ada disini. Sekarang hanya ada Gisel sendiri yang harus menghadapi mereka semua.
Pukulan demi pukulan bisa Gisel hindari. Beberapa dari mereka juga mendapatkan pukulan dan bantingan dari Gisel. Setidaknya, tiga dari lima orang itu sudah terluka dan kewalahan menghadapi Gisel.
Di saat itulah, tiga orang yang terluka mundur dari pandangan Gisel, menyisakan dua orang di hadapannya saat ini.
Saat salah satu dari kedua orang itu melayangkan pukulannya, Gisel menangkap tangannya, lalu memberikannya pukulan tepat di wajahnya. Orang itu berteriak kesakitan.
Dan di saat Gisel akan melepaskannya, sesuatu mengenai belakang lehernya.
BUG!
Gisel langsung mencari asal pukulan yang baru saja diterimanya.
BUG!
Pukulan kedua mengenai punggungnya. Gisel mulai roboh. Tubuhnya sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Tenaganya seperti terkuras habis karena pukulan itu.
Di saat itulah, kedua pria memegangi lengannya dan menbawanya pergi. Sekali Gisel mencoba melawan. Tapi kemudian, pria lainnya memukuli lagi punggungnya. Gisel semakin jatuh dan tidak berdaya.
Samar-samar dia melihat sebuah mobil van putih sedang menunggunya untuk dinaiki. Sebelum mereka mendorongnya ke dalam, Gisel mendengar sebuah suara.
"GI!"
"Rey ..."
Itu suara Rey. Dia ingin bisa melihat Rey. Tapi, kepalanya terlalu berat untuk diangkat.
"GGIII!!!"
__ADS_1
Panggilan terakhir Rey terdengar cukup putus asa di telinga Gisel. Dan kedua mata Gisel semakin berat untuk tetap dibuka. Perlahan, kesadaran Gisel mulai menghilang. Dia seperti tenggelam dalam air yang dalam. Yang entah akan membawanya kemana.