
"GI! ..."
Sekali lagi suara itu terdengar. Kali ini cukup jelas di telinganya. Gisel memaksakan dirinya untuk tetap fokus.
"Rey ...," panggilnya lirih.
"Ayo, Gi. Kita keluar dari sini."
Rey sudah bersiap akan menggendongnya, tapi kemudian Gisel mendorongnya.
"Lepas! ...," katanya lemah.
Dengan kedua tangannya, dia menutupi tubuhnya. Tapi, kemudian dia menyadari tubuhnya kini telah ditutupi oleh selembar kain tebal.
"Tenanglah," kata Rey lagi. Gisel dapat merasakan sentuhan tangan Rey di sisi wajahnya. "Ayo, aku akan bawa kamu keluar dari sini."
Kali ini, Gisel pasrah kemanapun dan dengan cara apapun Rey akan membawanya keluar dari gudang itu.
Dalam gendongan Rey, Gisel dapat mendengar suara keributan di dalam gudang itu. Tendangan, pukulan, teriakan kesakitan dan minta tolong, bahkan raungan minta ampun. Semuanya bercampur menjadi satu.
"Jangan biarkan ada yang keluar dari sini! Kalian dengar?!"
"Siap, Captain!"
Suara itu ...
Gisel mengenalnya dengan sangat baik. Dulu, dia sering bersama orang itu. Orang yang tugasnya secara khusus melindunginya.
"Tim Alpha? ..."
"Pak Satrio terpaksa memberi tahu identitas kamu ke ketua Tim Alpha. Saat ini Kanaya adalah prioritas mereka," jelas Rey.
Tepat pada kata terakhir yang diucapkan Rey, Gisel sudah tidak sadarkan diri.
......................
Saat Gisel membuka matanya, dia sudah berada di sebuah ruangan yang bersih dan rapi. Rumah sakit, tentu saja.
"Berapa kali sudah aku terbangun di tempat ini?," pikir Gisel.
Dia mengingat kembali kejadian yang dia alami semalam. Seketika, semua perasaan yang tadi malam muncul kembali satu persatu dalam ingatannya, lalu bercampur aduk. Air mata Gisel kembali mengalir.
Saat dia akan mengangkat tangan kanannya untuk mengusap air matanya, Gisel merasakan beban pada tangannya itu.
Rey. Ada di Rey di sana yang sedang tertidur sambil memegangi tangannya.
"Sejak kapan dia disitu?"
Gisel memandangi Rey yang sedang tertidur. Ada rasa yang cukup aneh menyelimuti hatinya saat ini. Rasa aneh yang sebenarnya pernah dia rasakan sebelumnya, dan sekarang seperti diingatkan kembali.
Gisel tidak lupa. Meski dia berusaha untuk menguburnya dalam-dalam, Gisel tidak pernah melupakannya. Mengapa Rey harus membawanya kembali? Mengapa Rey harus seperti ini hingga membuatnya kembali goyah?
Gisel menarik perlahan tangannya itu. Tapi Rey merasakannya. Pria itu mulai membuka matanya. Gisel langsung menutup matanya kembali.
__ADS_1
Saat dia memejamkan kedua matanya, Gisel merasakan usapan lembut pada punggung tangannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Rey?!?," batin Gisel berteriak.
Tak lama setelah itu, ponsel Rey berbunyi, dia keluar kemudian untuk menjawabnya. Perlahan Gisel membangkitkan tubuhnya.
Bahkan ketika Rey sudah tidak bersamanya, sentuhan Rey masih terasa di tangannya. Gisel terus memandangi tangannya itu.
"Kamu cuma khawatir sama Kanaya kan, Rey?," ucapnya lirih.
"Gi?"
Gisel terlalu larut dalam perasaannya hingga dia tidak menyadari Rey baru saja masuk. Pria itu jelas terkejut melihat Gisel yang sedang terduduk di atas tempat tidurnya.
Begitu Rey melihatnya, dia langsung berlari menuju Gisel dan memeluknya.
"Syukurlah, Gi ...," katanya.
Gisel terpaku. Matanya terbuka cukup lebar. Rey kembali memeluknya seperti waktu itu. Jantung Gisel berdetak cukup keras hingga dia mendorong Rey jauh-jauh hanya karena dia khawatir Rey akan mendengarnya.
Tapi, dengan cepat, Rey menahannya, dan semakin erat pelukannya itu. Tidak dibiarkannya Gisel melepaskannya meski berkali-kali gadis itu mencoba.
"R-rey!," serunya.
"Maaf, Gi. Gara-gara aku .... Aku seharusnya membiarkanmu pulang waktu itu. Semua salahku," ucap Rey lirih.
"R-rey ... a-aku ..."
"Aku nggak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau seandainya ... seandainya ..."
"Rey ..."
Suara Gisel sudah seperti orang yang kehabisan napasnya. Berulang kali dia menepuk lengan Rey agar melepaskan pelukannya.
"Ah, maaf ... Kamu nggak apa-apa, kan? Apa ada yang sakit?"
Dekat, terlalu dekat, begitu pikir Gisel saat dia melihat wajah Rey berada sangat dekat tepat di hadapannya, menatapnya dalam-dalam dengan tatapan penuh kekhawatirannya. Kedua mata Gisel hampir tidak berkedip karenanya.
Sebelum rasa panas yang saat ini menyerang tubuhnya naik hingga ke wajahnya, Gisel segera mengalihkan pandangannya dari Rey. Dia tidak sanggup lagi menatap pria itu lebih lama lagi.
"J-jangan menyalahkan dirimu sendiri, Rey. Itu bukan salahmu. Jika bukan saat itu, Wina pasti akan melakukannya lain waktu. J-jadi, itu tidak ada hubungannya dengan kamu."
Gisel tidak tahu bagaimana reaksi Rey saat ini. Dia benar-benar sedang tidak sanggup untuk menatapnya lagi. Untuk beberapa saat, baik Gisel maupun Rey sama-sama tidak mengatakan apapun. Gisel semakin tidak tenang dengan kesunyian mereka.
Tiba-tiba saja, Rey berjalan menjauhi Gisel. Dia mengambilkan sebotol air untuk Gisel. "Minumlah dulu," katanya setelah membuka penutupnya.
Setelah itu, dia menghampiri sofa yang ada di seberang tempat tidur lalu mendudukinya. "Dokter bilang obat yang ada di dalam tubuhmu sudah dibersihkan. Luka-lukanya juga nggak terlalu parah. Besok kalau kamu mau, kamu sudah bisa pulang."
"Benarkah? Secepat itu? Serius?"
"Hmm ... Jangan khawatir tentang Clara. Pak Bagas sudah mengurus semuanya."
Gisel kemudian memikirkan tentang Wina. Bagaimana nasib anak itu sekarang?
__ADS_1
"Wina juga. Gugatannya sudah diurus oleh Pak Bagas," kata Rey sebelum Gisel menanyakannya seakan-akan dia tahu apa yang sedang dipikirkan Gisel.
"Jadi, fokus sama kesehatanmu. Luka di punggung dan di kepalamu adalah yang paling parah." Rey terlihat cukup serius mewanti-wanti Gisel.
BRAK!
"AYA!!"
Tika langsung saja berlari menerjang pengawal yang ternyata sedang berjaga di depan pintu kamarnya. Dia langsung teringat kata-kata Rey sebelum dirinya tidak sadarkan diri. Ternyata benar, Satrio sudah mengatakannya pada Tim Alpha.
"Seharusnya aku paksa kamu pulang bareng aja. Kenapa aku malah ninggalin kamu di sana?," oceh Tika seraya memeluk Gisel erat-erat. Gisel dapat mendengar isakannya.
Gisel berusaha melepaskan pelukan Tika itu. Alih-alih untuk membebaskan dirinya sendiri dari Tika, Gisel justru ingin menenangkannya. Tapi sepertinya Gisel tidak punya pilihan selain selain membiarkan Tika terus memeluknya.
Gisel dapat merasakan bagaimana dirinya semakin hari semakin bisa menerima apa yang dilakukan Tika padanya. Bahkan sebelum Bagas bercerita tentang usaha-usaha Tika, Gisel sudah lebih dulu mulai terbiasa dengan semua yang Tika lakukan. Dia tidak keberatan sama sekali.
Gisel yang dulu tidak pernah menyukai sikap agresif Tika kini perlahan-lahan mulai membuka hatinya dan membiarkan Tika dengan segala keinginannya. Dan kenyataannya, Gisel semakin menyukainya. Ada perasaan yang cukup hangat rasanya.
Tak lama kemudian, Adit masuk ke dalam ruangan itu. Gisel terus memandangi Adit yang sedang berdiri dengan sikap yang tidak biasanya.
Raut wajahnya menggambarkan kekhawatiran. Tapi sedetik kemudian, ada rasa penyesalan, takut, dan ini yang paling aneh, rasa tidak percaya.
"Kamu kenapa, Dit?," tanya Tika setelah melepaskan pelukannya.
Perlahan Adit maju mendekati Gisel. Dia memegangi tangan Gisel yang sontak membuat Gisel terkejut.
"A-aya ...," panggilnya lirih.
Dengan gerakan yang tiba-tiba, Adit sudah memeluknya. Kedua mata Gisel sontak melotot.
Dengan Tika, itu tidak masalah. Tapi ini Adit. Itu beda cerita, pikir Gisel.
Tidak butuh waktu yang lama, Adit akhirnya melepaskan pelukannya. Itu juga karena Rey memaksanya untuk melepaskannya. Tangan Rey mendorong kening Adit untuk menjauhi Gisel.
"Tahan, Anak Muda. Jangan lupa kalau kita punya perjanjian," kata Rey yang masih terus mendorong Adit lalu menariknya untuk berdiri di sampingnya.
"Perjanjian? Perjanjian apa?"
Gisel memandangi Adit dan Rey secara bergantian. Berharap salah satu dari mereka ada yang bisa menjelaskan apa maksud ucapan Rey tadi.
Adit hanya bisa menunduk, lalu mengalihkan pandangannya dari Gisel. Tapi Rey ... Gisel yakin, pria itu tidak akan menjelaskan apapun.
"Rahasia pria. Kamu wanita, dilarang ikut campur."
Gisel mengerutkan dahinya. Dia menatap Rey dengan kesal. Dia tahu Rey akan begitu, tapi tetap saja, penolakan itu rasanya menjengkelkan.
"Syukurlah, kamu sudah sadar, Gi."
Kamar Gisel menjadi semakin ramai dengan kedatangan Satrio dan Rendi. Gisel tersenyum memandangi kedatangan mereka.
Saat dia terbangun, kamar itu masih terpantau sepi dan sunyi. Tapi kini mendadak begitu ramai dengan banyak orang. Dan Gisel menyukainya.
Gisel selalu menghindar dari keramaian. Dia tidak pernah suka berada di antara banyak orang. Membuatnya terasa tidak nyaman. Rey lah yang selama ini menemaninya setiap kali Gisel menghindari keramaian.
__ADS_1
Tapi kini, berada di keramaian di tengah ruangan yang tidak bisa dikatakan luas ini, Gisel merasakan kenyamanan. Dia tidak ingin keluar dari sana. Dia bahkan ingin momen seperti ini bisa berlangsung agak lama sedikit jika diijinkan.
Untuk pertama kalinya dia merasa menjadi Kanaya tidaklah terlalu buruk.