
Gisel berusaha menyembunyikan semua yang dipikirkannya dari pandangan Rey. Dia tidak ingin Rey mengetahui apapun itu yang akan Gisel rencanakan tentang raganya. Mendengar semua penolakan itu, Gisel yakin, Rey juga pasti akan berusaha menggagalkannya.
Bahkan ketika mereka berkumpul di ruang pertemuan yang ada di rumah Rey, Gisel berusaha bersikap senormal mungkin.
"Aku nggak melihat Om dan Tante. Apakah mereka baik-baik saja?," tanya Gisel pada Rey. "Apa mereka nggak keberatan kita semua disini."
Rey yang sedang menarik kursi yang ada di samping Gisel, kemudian berkata, "Papa sedang ada pertemuan bisnis di luar negeri. Mama menemaninya. Kalau itu kamu, mereka nggak pernah keberatan."
Rey benar. Mereka sangat senang setiap kali melihat Gisel berkunjung ke rumahnya. Di tempat itu, Gisel selalu disambut dengan hangat. Tapi, itu jika dia berpenampilan sebagai Gisel, bukan sebagai Kanaya. Bahkan para pelayan yang Gisel temui sedari tadi, mereka terus berbisik setiap kali dirinya melewati mereka.
"Kamu sudah nggak apa-apa, Gi? Sudah mendingan? Rey bilang tadi malam kamu demam," kata Satrio melihat Gisel dengan cemas.
Gisel mencoba menenangkannya dengan tersenyum. "Saya nggak apa-apa, Om. Obat dari dokternya Rey sangat bagus. Saya sudah lebih baik sekarang."
Satrio tersenyum lega mendengarnya. "Syukurlah kalau begitu. Bagas sekarang sedang menangani Clara. Sedangkan Rafael masih dalam pencarian. Pengawal Rey ikut membantu. Kamu jangan khawatir."
Gisel tidak mengatakan apapun. Dia hanya menganggukkan kepalanya. "Aku tidak mengkhawatirkan Rafael," kata Gisel. "Aku yakin, saat ini Corens sedang mengatasinya. Karena dia sudah tidak membutuhkan Rafael. Entah bagaimana Corens akan menyelesaikannya."
Suasana di ruangan itu kemudian menjadi hening. Tanpa perlu banyak bicara semua yang ada di ruangan itu menyetujui pendapat Gisel. Rencana Corens sudah gagal. Clara tertangkap, sedangkan Rafael hilang entah kemana. Sudah jelas, Corens akan menangani yang Rafael.
Gisel kembali terdiam ketika Rey dan Satrio saling bicara tentang kejadian semalam. Beberapa hal dapat Gisel dengarkan, tapi beberapa lainnya seakan tidak terdengar karena Gisel lebih fokus ke bagian lain. Di kepalanya saat ini yang ada hanyalah pembicaraan antara Rey dan Risa yang baru saja dia dengarkan. Padahal dia baru saja berpikir untuk menyembunyikannya dari Rey.
"Kamu nggak apa-apa? Apa ada yang sakit?," tanya Rey tiba-tiba.
Gisel cukup terkejut dengan pertanyaan Rey. Bagaimana tidak? Pikirannya sedang melayang entah kemana.
"Aku nggak apa-apa," jawab Gisel singkat.
Drrt ...
Tiba-tiba saja ponsel Gisel bergetar. Sebuah panggilan dari nomer yang tidak dia kenali.
"Siapa?," tanya Rey setelah dia mengintip layar ponsel Gisel.
Gisel menggelengkan kepalanya. Dia juga menaikkan kedua bahunya yang menandakan dia juga tidak tahu siapa.
"Halo," sapa Gisel ketika dia menjawab panggilan itu.
"Halo, Gisella ..."
Kedua mata Gisel langsung terbelalak lebar. Dia tahu suara siapa itu.
"Corens ...," panggil Gisel lirih.
__ADS_1
Rey yang duduk di samping Gisel mendengar ucapan Gisel itu. Dia ikut terkejut mendengarnya. Berkali-kali dia memberi isyarat pada Gisel untuk menyalakan speaker ponselnya. Tapi, Gisel tidak menggubrisnya.
"Apa maumu, Corens?," tanya Gisel.
"Temui aku," jawab Corens singkat.
"Untuk apa?"
"Kita akan membuat kesepakatan."
Gisel mendengus sinis. "Jangan buat aku tertawa. Tidak perlu ada kesepakatan apapun. Kamu masih butuh aku untuk semua rencanamu."
"Tapi rencanaku baru saja berubah. Kamu tidak ingin tahu?," tanya Corens dengan nada menggoda.
Tapi, Gisel tidak menjawab apapun, dia hanya diam menunggu Corens yang menjawabnya sendiri.
"Apa kamu tahu? Salah satu dewan direksimu sepakat untuk bekerja sama denganku," kata Corens dengan santainya.
Gisel tetap terdiam mendengarkan informasi itu, meski di kepalanya terus bertanya, "Siapa?"
"Dia akan membuat para dewan direksimu tahu dimana kamu sebenarnya saat ini," lanjut Corens.
Kedua mata Gisel kini terbelalak lebar.
"Benar. Saat ini aku sedang bersamamu. Terima kasih pada salah satu pengawalmu."
Saat Gisel membukanya, dia melihat sebuah gambar tubuhnya yang sedang berbaring. Di sampingnya, Corens sedang berpose sangat bahagia.
"Kejutan!," tulis Corens dalam pesannya.
Rey yang ada di sampingnya, ketika melihat foto itu langsung merebut ponsel Gisel. Dia segera mengaktifkan speakernya. Gisel tidak membantah sedikitpun meskipun tadinya dia tidak menggubris permintaan Rey tadi.
"Permintaanku mudah. Datang dan temui aku. Pastikan kamu datang sendiri, Nona Gisella. Kita akan membicarakan hal yang akan membuatmu tetap hidup," lanjut Corens dalam telepon. "Dan bisa jadi, itu juga akan melindungi kedua orang tuamu."
Dan panggilan itu berakhir begitu saja.
Rey yang sudah menahan amarahnya sedari tadi, kini dia mulai mengatakan sesuatu, "Kamu akan datang?"
Gisel terdiam sejenak. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Dia mengancam dengan menggunakan orang tuaku, Rey," kata Gisel.
"Aku akan mengirim pengawalku untuk menjemput Om dan Tante. Kamu jangan khawatirkan mereka," sahut Rey menjawab kekhawatiran Gisel.
__ADS_1
"Tapi, bukan itu yang aku pikirkan."
Gisel kembali menatap meja di depannya dengan tatapan kosong. Pikirannya kembali disibukkan dengan segala pertanyaan di kepalanya.
"Dia foto di mana itu? Sepertinya bukan rumah sakit. Aku nggak pernah melihatnya," tanya Gisel pada Rey dan Satrio yang ada di hadapannya saat ini.
"Itu ..." Satrio terlihat ingin mengatakan sesuatu. Dia memandangi Rey dengan ragu.
"Aku yang memintanya, Gi. Setelah kejadian dokter waktu itu, dan setelah aku tahu tentang kondisimu dari Risa, aku putuskan untuk melindungi ragamu dari bahaya yang mungkin akan muncul setelah itu. Karena itu, aku meminta persetujuan Om dan Tante untuk membawa ragamu ke tempat yang aman," jelas Rey.
"Om juga tahu tentang ini?" Pandangan GIsel kini beralih pada Satrio.
"I-iya, Gi. Tempat itu adalah gudang K milik Skylar juga. Rey merombaknya agar kamu bisa nyaman di sana," jawab Satrio.
"Lokasi gudang K sangat terpencil. Karena itu, gudang itu jarang digunakan. Bagaimana Corens bisa menemukannya?," pikir Gisel.
Rey menepuk pundak Gisel begitu dia melihat raut wajah Gisel yang berubah menjadi cukup serius. "Apa kamu mencurigai sesuatu?," tanya Rey.
Gisel menggelengkan kepalanya.
"Kamu jangan khawatir. Pengawalku akan mengeluarkan ragamu dari sana. Kamu nggak perlu menemui Corens," kata Rey lagi.
"Nggak, Rey. Aku tetap harus datang," jawab Gisel singkat yang semakin menambah kekesalan Rey.
"Gi!"
Satrio dan Rey berteriak menyebut nama Gisel hampir bersamaan.
"Aku ingin tahu apa yang dia inginkan dariku," lanjut Gisel.
Kali ini, baik Satrio maupun Rey tidak ada yang berkomentar menanggapi perkataan Gisel itu.
"Dia bisa saja langsung membunuhku saat ini juga. Tapi tidak dia lakukan. Dia memintaku untuk datang. Itu artinya dia menginginkan sesuatu dariku. Karena dia mengancamku dengan menggunakan kedua orang tuaku, itu juga berarti dia ingin aku menyetujui kesepakatan yang entah apapun itu."
"Jadi ... daripada aku mati tanpa mengetahui apapun, lebih baik aku datang dan dengarkan sendiri permintaannya," kata Gisel mengakhiri penjelasannya.
Rey langsung terduduk sambil memegangi keningnya. Dia mengurutnya lembut, tanda-tanda dia sudah tidak dapat menemukan alasan untuk menahan Gisel.
"Selain itu ..."
Gisel ingin melanjutkan kalimatnya itu. Tapi kemudian dia menahannya. Dia perhatikan Satrio dan Rey yang saat ini sedang memandanginya.
"Nggak apa-apa. Nggak ada apa-apa," kata Gisel.
__ADS_1
Gisel mengurungkan kembali niatnya. Dia memikirkan sesuatu dari percakapan Rey dan juga Risa.
"Corens sepertinya hanya tahu jika terjadi sesuatu pada ragaku, aku akan mati. Itu artinya, pembicaraan antar Rey dan Risa hanya terjadi di antara mereka saja. Jika aku ingin kembali, aku harus datang dan memastikan sendiri Corens membunuhku," pikir Gisel.