Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 15 : Gisel vs Rafael dan Clara


__ADS_3

Saat sebuah lengan melewati samping kanannya, Gisel langsung mengingat lengan yang sama yang pernah mencoba mengunci lehernya dari belakang.


"Rafael!!," pekiknya dalam hati.


Gisel akan menghindar dari lengan Rafael, tapi kemudian Rafael mengunci tubuhnya tetap menempel pada counter dapur. Tangan Rafael yang lain mengunci tangannya ke belakang.


Gisel berusaha menggerakkan tubuh dan tangannya agar terlepas dari kuncian Rafael. Tapi tenaga Rafael terlalu kuat baginya, meski tubuh Rafael tidak terlalu besar.


"Hai, sayang ... Kita bertemu lagi."


Suara serak dan dalam milik Rafael terdengar sangat dekat di telinga Gisel yang menyebabkan dirinya semakin kuat memberontak.


"Lepas! Aku bilang lepas!," bentak Gisel.


"Sstt, sstt ... tidak perlu memanggil semua orang kemari hanya untuk melihat kita seperti ini."


Gisel menjadi semakin marah karena Rafael terus menindihnya dari belakang, membuatnya semakin sulit bergerak.


"Jangan khawatir. Aku tahu rahasiamu. Kamu bisa membohongi Clara, tapi aku tidak, sayang ..."


"Rahasia? Dia tahu? Bagaimana dia tahu?," teriak Gisel panik dalam hatinya.


"Kamu kira aku tidak bisa melihatnya? Aku tahu semuanya, sayang ..."


Gisel semakin tidak tenang. "Darimana dia tahu? Siapa yang memberitahunya? Atau ... dia orang indigo?"


"Hanya dalam sekali melihat, aku tahu yang kamu sembunyikan. Selama ini kamu latihan judo diam-diam, kan?"


"Hah?"


Gisel yang dari tadi memberontak kini mendadak bengong.


"Ternyata itu yang dia pikirkan," pikirnya.


"Tapi, kamu tidak akan bisa melawanku, Kanaya sayang. Karena kamu masih jauh di bawahku. Sama seperti sekarang."


Tangan kasar Rafael kini berada di pangkal paha Gisel. Dengan gerakan perlahan dan menggoda, tangan Rafael itu bergerak ke atas melewati rok sekolah Gisel.


Gisel semakin kuat bergerak untuk bisa melepaskan dirinya dari Rafael.


"Semakin kuat kamu bergerak, semakin membuatku ingin terus menggodamu."


Gisel semakin jijik mendengar suara Rafael yang terus dia dengar di telinganya. Terutama saat setiap kali napas Rafael mengenai kulitnya. Dia semakin ingin melepaskan dirinya dari Rafael dan menendang pria itu.


"Apa yang kamu lakukan pada Aya?!"


Teriakan Tante Lia menggema di dalam dapur hingga mengagetkan Rafael. Tak lama setelah itu, Rafael sudah menerima banyak pukulan dari Tante Lia.


"Lepas! Lepaskan Aya!"

__ADS_1


Rafael terlalu bodoh jika dia tidak melepaskan Gisel, karena Tante Lia terus memukulnya hingga Rafael benar-benar menjauh dari Gisel. Dia bahkan mengambil panci teflon yang menggantung bersama peralatan masak lainnya, lalu mengarahkannya pada Rafael seakan sudah siap melayangkannya ke kepalanya.


Rafael langsung menjauh dari Gisel. Dan Gisel langsung melampiaskan kemarahannya dengan mengambil spatula kayu yang ada di depannya, lalu memukulkannya tepat mengenai kepala Rafael.


Pria itu tidak mengelak. Dia malah mengusap darah yang mengalir dari kepalanya itu, lalu tersenyum jahat menatap Gisel.


Tante Lia yang melihat senyum jahat Rafael itu langsung memeluk Gisel untuk melindunginya. Tapi Gisel sama sekali tidak takut padanya.


"Ada apa ini?"


Kali ini suara Clara memecahkan ketegangan di antara mereka. Terlihat oleh mereka Clara dan Nabila membawa banyak tas belanja di kedua tangan mereka. Rupanya mereka baru pulang dari berbelanja.


"Astaga! Apa yang terjadi? Mengapa kepalamu berdarah?"


Clara seketika itu juga langsung menjatuhkan tas belanja yang dibawanya, dan berlari menghampiri Rafael yang masih berdiri dengan darah yang mengalir dari kepalanya.


Melihat spatula kayu yang dipegang Gisel, Clara langsung mendelik tajam menatapnya.


"Apa yang kamu lakukan padanya?"


"Seharusnya kamu tanyakan itu padanya. Dia sudah kurang ajar pada Aya," teriak Tante Lia membela keponakannya.


Clara langsung menatap Rafael.


"Aku tidak melakukan apapun. Dia menggodaku, aku membela diriku, lalu kemudian seperti yang kamu lihat ... dia memukulku dengan itu," kata Rafael dengan santai seakan-akan hal yang dia lakukan tadi tidak benar-benar terjadi.


Gisel semakin marah saat Rafael mengatakannya. Tante Lia apalagi.


Rafael tetap pada sikapnya yang santai meski Tante Lia memojokkannya. Tapi yang paling mengejutkan justru adalah sikap Clara.


"Kamu kira aku akan mempercayainya? Aku tahu bagaimana Kanaya. Selama ini aku selalu mendengarnya dari Nabila. Tapi sekarang aku melihatnya sendiri. Aku nggak nyangka, bahkan dia menggoda orang yang jauh lebih tua darinya," kata Clara panjang lebar.


"Apa?! Kamu menuduh Aya sehina itu?," teriak Tante Lia.


"Cukup! Kamu tantenya tentu saja kamu akan membelanya. Tapi kamu bahkan tidak tinggal bersamanya. Aku yang lebih tahu bagaimana dia setiap harinya," bentak Clara.


Semakin lama Gisel mendengar omong kosong yang dikatakan Clara, semakin marah Gisel dibuatnya. Clara yang terus menerus membela Rafael membuatnya semakin penasaran dengan hubungan yang mereka miliki.


"Benarkah?," kata Gisel yang tiba-tiba bersuara setelah sedari tadi dia hanya diam. Dengan sambil memegangi spatula yang tadi dia pakai untuk memukuli Rafael, Gisel melangkahkan kakinya mendekati Clara.


"Aku jadi penasaran, ada hubungan apa dengan kalian berdua? Mengapa sepertinya kamu sangat membelanya?"


Clara yang tadi terlihat sangat percaya diri saat berbicara, kini kehilangan kata-katanya. Kedua matanya menggambarkan kegugupannya. Meski dia sedang mendelik menatap Gisel, tapi Gisel tidak merasakan kegalakan dalam tatapannya itu.


"Sudah cukup! Aku nggak punya waktu meladeni kalian. Ayo, Rafa! Kita ke rumah sakit obati lukamu," bentak Clara seraya menarik Rafael pergi.


Gisel terus memandangi Clara yang pergi membawa Rafael bersamanya. Sedangkan Nabila mengikuti mereka dari belakang. Tentu saja dia tidak mau ditinggal sendirian bersama Gisel dan Tante Lia.


"Kamu nggak apa-apa, Aya? Dia tidak melakukan apapun selain memegangimu, kan?," tanya Tante Lia yang langsung memeriksa keadaan Gisel begitu Clara sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


"Saya nggak apa-apa, Tante. Jangan khawatir."


Selanjutnya yang terjadi adalah kepanikan Tante Lia, tentu saja. Dia sangat mengkhawatirkan Gisel jika Rafael kembali lagi.


"Bagaimana kalau dia masuk ke kamarmu saat kamu sedang tidur? Bagaimana kalau hal tadi terulang lagi?"


Entah sudah berapa pertanyaan yang ditanyakan Tante Lia pada Gisel. Dia bahkan berniat untuk tidur bersama Gisel di kamarnya. Tentu saja Gisel menolaknya. Dia mungkin adalah tantenya Kanaya, tapi Gisel tidak mengenalnya. Bagaimana bisa Gisel tidur bersamanya? Dia bahkan tidak menyukai saat Tika memeluknya.


"Tante jangan khawatir. Dia tidak mungkin kemari lagi. Saya juga akan mengunci pintu kamar sebelum tidur." Begitu Gisel membujuknya.


Meski ragu dan berat meninggalkan keponakannya sendirian, Tante Lia akhirnya mau menuruti Gisel.


Ada alasan lain mengapa Gisel ingin sendirian di kamarnya. Karena Gisel ingin menelpon Satrio. Tidak mungkin dia bisa leluasa berbicara jika Tante Lia tidur di kamarnya.


"Tolong carikan informasi tentang Rafael, Om," kata Gisel saat menelpon Satrio.


"Rafael?"


"Saya tidak tahu nama lengkapnya. Tapi jika itu berhubungan dengan Clara, nama Rafael seharusnya akan muncul. Dia sepertinya sangat dekat dengan Clara," jelas Gisel.


Gisel sudah bertemu dengan Rafael sebanyak dua kali. Tapi dari dua kali pertemuan yang tidak menyenangkan itu, Gisel bisa melihat bagaimana Clara sangat melindunginya. Clara bahkan tidak ingin Bagas tahu Rafael ada di sana saat tahu Gisel pingsan.


Dan sekarang, Rafael justru dengan santainya muncul di rumah ini. Itu artinya, dia sering kemari dan bisa dengan bebas keluar masuk.


Satu lagi yang mengkhawatirkan adalah dia bisa bela diri dan jauh lebih kuat dari Gisel. Yang artinya lagi, kejadian tadi bisa terulang lagi dan Gisel tidak mungkin akan seberuntung tadi.


"Hmm ... Baiklah, akan Om cari tahu. Kamu butuh hal lain lagi?"


"Saya butuh semua informasi tentang keluarga Bharatajaya. Semuanya, semua orang yang terlibat dengan keluarga ini, termasuk juga Kanaya, dan ... surat wasiat Farhan."


"Om akan segera kirim filenya," kata Satrio menyanggupinya.


"Dan satu lagi, Om ... Ini tentang Rey. Apakah dia pernah bercerita tentang apa yang dia lakukan saat ini?," tanya Gisel.


"Tidak ada. Dia hanya datang mengunjungimu, lalu duduk di samping tempat tidurmu. Hanya itu. Dia tidak mengatakan apapun meskipun om ada di sana. Apakah kamu ingin om mencari tahu?"


Gisel terdiam sejenak. Sebagian besar hatinya ingin tahu alasan mengapa Rey mengajar di sekolah dan kedekatannya dengan Kanaya. Tapi sebagian kecil lainnya, dia tidak ingin mencari tahu apapun tentang Rey dan membiarkannya melakukan apapun yang diinginkannya. Mungkin saja memang itu yang dia inginkan.


"Tidak, Om. Saat ini tidak ...," katanya ragu, dan setelah itu dia menyesalinya. Tapi kemudian dia memilih untuk tidak memikirkannya.


"Bahkan jika aku menyetujuinya, aku juga akan tetap menyesalinya. Mungkin rasa sesalnya lebih besar," kata Gisel dalam hati.


Gisel menjatuhkan dirinya pada kasur empuknya begitu dia mengakhiri panggilannya. Pandangannya lurus menatap langit-langit rumah. Pikirannya sudah melanglang buana memikirkan banyak hal, termasuk di dalamnya adalah Rey.


"Rey ... di antara ratusan murid perempuan yang ada di sekolah itu ... mengapa Kanaya? Benarkah kamu menyukainya?," ucap Gisel lirih.


"Hei, Kanaya ... Apakah kamu juga menyukainya karena perhatian Rey itu?"


Semakin dia memikirkannya, semakin mata Gisel terasa berat. Dan perlahan pikirannya sudah membawanya ke alam mimpi.

__ADS_1


Dalam mimpi itu, dia melihat seorang gadis berambut panjang sedang berdiri membelakanginya di antara bunga matahari yang memenuhi padang yang luas. Dengan rambut yang melambai lembut mengikuti angin yang bertiup sepoi-sepoi.


__ADS_2