
Untung saja, Tika selalu membawa baju ganti. Tapi, justru kebiasaan ini ya karena orang-orang yang selalu mengusili Kanaya. Biasanya Kanaya akan membawa juga. Tapi, karena Kanaya yang sekarang bukanlah Kanaya yang biasanya, maka kebiasaan itu digantikan oleh Tika. Karena dia yakin sahabatnya itu pasti tidak ingat tentang masalah ini.
"Kejadian ini sudah berkali-kali terjadi meski tidak setiap hari. Tapi, aku sama Adit juga masih belum dapat juga pelakunya. Mereka selalu melakukannya sembunyi-sembunyi," kata Tika saat menunggu Gisel berganti baju di UKS.
"Guru-guru juga sudah menyelidiki bahkan pernah melakukan razia. Tapi, tidak ada yang membawa barang-barang aneh. Jadi sampai sekarang ya nggak ketemu pelakunya," lanjutnya.
"Sudah berapa lama begini?," tanya Gisel dari balik gorden putih yang menutupi berganti pakaian.
"Hmm ... sebulan terakhir ini aku rasa," jawab Tika seraya mengingat kembali.
Gorden putih itu akhirnya dibuka oleh Gisel. Kini, dia sudah mengenakan seragam baru yang dibawakan Tika. Bentuk badan Tika dan Kanaya sama, tentu saja seragam Tika pasti akan muat untuk Kanaya.
"Apakah selalu disiram balon air seperti itu? Atau ada yang lain?," tanya Gisel sambil merapikan seragamnya.
"Hhmm ... seingatku mereka pernah menuang isi tempat sampah tepat di atas kepalamu. Saat dikejar, yang ada cuma tempat sampahnya yang tertinggal di atas. Terus ... pernah juga mejamu di kelas hilang. Terpaksa kamu harus ambil meja lagi di gudang sekolah," jelas Tika.
"Jadi, mereka bisa melakukan apa saja, ya?"
"Iya," jawab Tika. "Dan semuanya selalu dilakukan saat sepi. Karena itu pelakunya selalu lolos."
"Anak-anak ini memang harus dihajar," kata Gisel sembari menahan rasa gerammya.
"Kalian sudah selesai?"
Tiba-tiba, suara Adit terdengar dari luar. Selama Gisel berganti pakaian, dia menunggu di luar.
"Kukira kamu balik ke kelas," kata Tika sambil membuka pintu UKS untuk Adit.
"Belum. Kita kembali sama-sama saja. Kamu gimana, Aya? Apa ada yang sakit? Aku baru dari kantin tadi. Minumlah dulu biar hilang kagetnya," kata Adit seraya memberikan sebotol air mineral pada Gisel.
"Cuma balon air. Aku nggak apa-apa," jawab Gisel datar.
Setelah Gisel sudah benar-benar siap, mereka akhirnya kembali ke kelas. Untuk saat ini, rasa kesal Gisel masih harus ditahan hingga pelaku itu melakukannya lagi. Tapi, ketika itu terjadi lagi, Gisel sudah memastikan dirinya harus benar-benar siap.
Enam jam pelajaran berikutnya dijalani Gisel dengan tidak antusias. Dia mulai merasa dirinya kembali ke masa sekolah. Rasa bosan mengulang kembali pelajaran yang sudah diketahuinya terus menerus membuatnya ingin cepat pulang.
Dan begitu pulang sekolah, sepanjang perjalanannya menuju gerbang sekolah dihabiskan dengan merutuk semua pelajaran yang dia dapat hari ini.
"Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, membosankan! Cih, Aku bisa mendapatkan nilai A hanya dengan menutup mata. Tapi, Fisika? Tolong Tuhan, apa itu gerak lurus? Untuk apa aku menghitung kecepatan kereta? Apa mereka berharap aku menjadi masinis?," tangis Gisel yang kesal dalam hatinya.
"Kamu nggak apa-apa, Aya? Wajahmu terlihat ... lelah," tanya Adit dengan raut wajah khawatirnya.
"... Aku lelah dengan semua pelajaran ini," gumam Gisel.
__ADS_1
"Kamu lapar, Aya?" Kali ini Tika yang bertanya. Wajah khawatirnya sama dengan Adit.
"Aku nggak apa-apa. Kalian jangan khawatir," jawab Gisel yang akhirnya bisa melihat bahwa dirinya telah membuat dua orang sahabat Kanaya mengkhawatirkan dirinya.
"Hai, Aya."
Suara seseorang menghentikan langkah mereka. Saat berbalik, Gisel melihat seorang remaja pria lainnya yang mengenakan seragam yang sama dengannya. Dia merasa tidak nyaman dengan nada bicara remaja itu yang terdengar sok mesra. Sisi baiknya adalah dia sudah tidak kaget lagi dengan kemunculan orang-orang yang tidak dia kenali dalam kehidupan Kanaya.
"Kamu mau ngapain?," tanya Tika ketus.
"Mau nyapa Aya," jawab anak itu santai.
"Nggak usah sok akrab manggil Aya, deh. Kanaya saja sudah cukup," kata Tika lagi.
"Ya, kan aku sama Aya sudah akrab. Ya kan, Ay?"
Anak itu membalas perkataan Tika sembari mengangkat lengan kanannya dan bersiap untuk menyandarkannya pada leher Gisel.
Gisel sudah bersiap mundur. Tapi, Adit langsung menghalangi dengan cukup keras menggunakan pukulan telapak tangannya.
"Jangan coba-coba. Minggir!," bentak Adit seraya mendorongnya untuk mundur. Lalu, tangan Adit meraih pergelangan tangan Gisel dan menariknya pergi menjauh dari anak itu. "Ayo, Aya."
Tika langsung mengikuti mereka dari belakang setelah dia puas memelototi anak itu yang menunjukkan senyum tanpa dosa.
"Ingat wajahnya baik-baik ya, Aya. Aku ingatkan lagi, namanya Evan, anak kelas X-3. Dekat-dekat dengannya cuma akan mengundang masalah. Terutama dari si Nabila, saudara tiri kamu," jelas Tika dengan nada yang masih terdengar kesal.
"Evan? Dimana aku pernah dengar nama itu?," batin Gisel.
"Pokoknya jauhi saja dia. Kalau ada apa-apa, panggil kita, ya," kata Adit mengingatkan.
Gisel sudah akan mendapatkan informasi lebih banyak lagi dari Adit dan juga Tika tentang Evan, jika bukan karena Nabila yang berteriak kesal dari dalam mobil menunggu Gisel yang belum juga naik. Seketika itu juga, Gisel meninggalkan Adit dan Tika dan naik ke mobil seperti yang diminta Nabila.
......................
Gisel baru saja dari dapur dan akan naik ke atas menuju kamarnya ketika dia selesai makan siang. Clara dan Nabila baru selesai makan siang bersamanya dan sekarang entah apa yang mereka lakukan, karena Gisel sudah tidak melihat mereka lagi semenjak itu.
Saat Gisel sedang berjalan menuju tangga yang akan membawanya ke kamarnya di lantai atas, Gisel merasakan sesuatu sedang mengikutinya dari belakang. Dia mulai waspada.
Gisel sengaja memperlambat langkahnya, agar orang itu bisa dengan mudah mendekatinya. Tapi, orang yang sedang mendekatinya itu justru tidak curiga, dan malah semakin mendekatinya.
Gisel menjadi lebih waspada saat dia merasakan jarak antara dirinya dan orang itu semakin dekat. Ketika dia merasakan jarak di antara mereka sudah bisa dia gapai, dengan gerakan cepat Gisel berbalik, lalu mengincar bagian bawah tubuh orang itu, dan kemudian membantingnya ke arah sebaliknya.
"Ha! Nggak sia-sia latihan judo selama ini!," batin Gisel kegirangan penuh kemenangan.
__ADS_1
"Aduh, aduh, aduh .... Mamaaaa ..."
Gisel terkejut ketika dirinya melihat orang yang dia banting sedang terbaring di lantai sambil memegangi pinggangnya. Lebih terkejut lagi, ternyata itu adalah Nabila.
"Ada apa? Nabila?! .... Kamu kenapa?"
Tentu saja, setelah itu mamanya yang datang dengan kepanikan.
"Kamu apain Nabila? Kenapa bisa begini?," bentak Clara.
Gisel hanya mengangkat kedua bahunya dan mencibirkan bibirnya seakan-akan dia tidak tahu menahu mengenai masalah ini.
"Aku dibanting dia, Ma," tangis Nabila yang masih menahan rasa sakitnya.
"Apa?? Kamu mau mencelakai anakku, ya? Kamu mulai berani?," bentak Clara. Matanya terus mendelik pada Gisel.
Gisel masih terus merasa tidak bersalah. "Ya, mana kutahu? Kukira dia maling, pakai jalan pelan-pelan di belakang orang," jawabnya santai.
"Dia bohong, Ma. Kamu sengaja kan mau celakain aku? Biar bisa bebas sama Evan kalau aku nggak ada, seperti tadi, kan?," bentak Nabila. Clara membantunya berdiri meski sambil memegangi pinggangnya yang kesakitan itu. Tanpa matras, Gisel tahu seperti apa rasa sakitnya.
"Oh ... jadi semua ini karena Evan? Tadi aku lupa siapa Evan, tapi sekarang ... rasanya aku mulai ingat siapa bocah itu," kata Gisel sambil mendekati Nabila dan mendelik ke arahnya tanpa rasa takut pada Clara yang sedang memelototinya.
Sedangkan wajah Nabila terlihat seperti maling yang akan segera terbongkar kejahatannya. Dari raut wajah mengamuknya pada Gisel tadi, kini berubah menjadi pucat.
Tiba-tiba dari samping, Gisel melihat lengan seseorang meluncur dari belakang dan akan mengunci lehernya. Begitu menyadarinya, Gisel langsung menghindarinya ke arah berlawanan dengan gerakannya yang cepat.
Tapi, orang itu lebih cepat. Sedetik kemudian, orang itu sudah melayangkan serangan. Gisel kembali menghindar.
Saat Gisel akan menjegal kaki orang itu dan menguncinya, dia melihat Adrian ada di dekatnya. Perhatiannya teralihkan. Dan sedetik kemudian, Gisel dirobohkan. Tubuhnya ditahan oleh orang itu menghadap ke ubin lantai, sedangkan kedua tangannya dikunci oleh genggaman erat orang itu.
Gisel dapat melihat wajah takut Adrian yang memandanginya dan orang yang sedang menguncinya. Tapi, Gisel tidak dapat melihat siapa orang yang berhasil mengalahkannya. Jika melihat dari gerakan dan pukulan orang itu, Gisel yakin dia adalah pria.
Pertandingan yang tidak adil ini membuat dia harus memutarkan otaknya untuk melepaskan dirinya dari orang itu.
"Aduh, kepalaku ... sakit ... kepalaku," jeritnya kesakitan.
Clara langsung datang memukuli orang itu. "Lepas! Lepasin! Jangan sampai kenapa-kenapa sama kepalanya. Dokter bilang kalau kepalanya cidera lagi bisa bahaya."
Dan orang itu langsung melepaskannya. Gisel langsung berdiri untuk memuaskan hatinya mencari tahu siapa orang yang baru saja mengalahkannya.
"Ternyata benar pria. Tapi, siapa lagi ini?," tanya Gisel dalam hatinya.
Kemudian Gisel merasakan tubuhnya terasa lemas dan dia jatuh kembali. Tapi kali ini, Gisel pingsan.
__ADS_1