
Seperti yang Rey katakan, saat Gisel terbangun, dia tidak melihat Rey dimana pun. Banyak orang yang keluar masuk kamar rawatnya sebelum dia pulang, tapi Rey bukan salah satunya. Meskipun dia tahu kemana Rey pergi, tapi setiap kali pintu terbuka dan bukan Rey yang dia lihat, sebuah lubang besar seperti sedang ditancapkan di hatinya. Semenit kemudian, Gisel sudah mulai merindukannya.
"Haahh ...." Gisel mengambil napasnya dalam-dalam lalu membuangnya bersamaan dengan rasa gundahnya. "Aku juga punya pekerjaan yang harus aku lakukan."
Sehari setelah setelah Gisel keluar dari rumah sakit, dia kembali ke sekolah. Hal pertama yang diingatnya sudah jelas Rey. Saat dia memikirkannya, ternyata ada banyak hal yang dilaluinya bersama Rey selama dia bersekolah.
"Sepuluh hari ya, Rey?," tanyanya lirih. Senyumnya cukup pahit, tapi setidaknya itu bisa menenangkan sedikit hatinya.
......................
Gisel sedang berjalan bersama Tika menuju kantin saat mereka melewati lorong sekolah yang paling ujung. Lorong itu berada di paling ujung. Karena itulah, lorong itu sangat sepi.
Biasanya mereka yang ingin naik ke ruang praktikum yang ada di lantai atas pasti akan lewat sini, karena ada tangga yang mengarah ke sana.
Tapi, oleh Gisel dan Tika, jalan itu digunakan sebagai jalan pintas ke kantin, ya karena jarang ada yang melewatinya.
Tapi, kemudian ...
PLAK!
Gisel dan Tika langsung berhenti melangkah. Mereka yakin mereka baru saja mendengar suara tamparan. Perlahan-lahan, mereka berjalan untuk mengintip apa yang sedang terjadi.
Ternyata, Nabila bersama kedua temannya.
"Gara-gara saudara tirimu itu, Wina terancam dipenjara. Padahal Wina selalu belain kamu. Ternyata begini balasannya."
Gisel dapat melihat Nabila hanya terdiam memegangi pipinya. Rupanya mereka baru saja menamparnya. Tidak ada amarah dirbaut wajah Nabila, juga tidak ada rasa takut. Nabila bahkan tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia hanya diam menerima perlakuan mereka terhadapnya.
"Kalau bukan karena Wina, aku nggak bakalan deket-deket kamu."
Kedua orang remaja yang dulunya selalu Gisel sebut sebagai teman Nabila, kini tidak terlihat demikian. Satu persatu dari mereka maju mendekati Nabila, lalu membuatnya terpojok dan tidak dapat bergerak.
Mereka memukul bahunya, mendorongnya terus ke belakang, bahkan menjambak rambutnya.
Hingga, salah satu dari mereka maju mendekati Nabila, lalu mendorong kepalanya dengan jari tangannya. Berulang-ulang.
"Kamu bisa ada di circle kita juga karena Wina."
Itu dia! Cukup sudah! Gisel mulai geram. Dia tidak menyukai pemandangan yang sedang dilihatnya saat ini. Segera dia keluar dari persembunyiannya. Tika mengikutinya dari belakang.
Gisel langsung menangkap tangan itu, menghentikannya mengganggu Nabila.
"Lepas! Kamu nggak usah ikut campur. Ini urusan kita."
Gisel dapat melihat tatapan kebencian dari anak yang dia pegangi tangannya. Kedua mata anak itu terus memelototinya. Sedangkan, anak yang lain sedang ditahan oleh Tika, sehingga dia tidak dapat maju membantu temannya yang lain.
__ADS_1
Gisel terus memegangi tangan itu, menekannya cukup keras tanpa membuatnya kesakitan. Itu saja sudah cukup menaikkan emosi anak itu.
"Kamu sendiri yang bilang, dia saudaraku. Itu artinya, ini sudah menjadi urusanku," tantang Gisel balik.
Anak itu terdiam. Tak lama kemudian, dia menarik tangannya dari cengkeraman Gisel dengan kasar.
Kekesalan anak itu sudah cukup tinggi, tapi mereka mengambil langkah cerdas dengan bersiap pergi. Sebelum pergi dia berkata, "Selama Wina belum bebas dari saudara kesayanganmu itu, kamu bukan bagian dari kita."
Gisel masih memelototi kedua anak itu pergi. Tika bahkan mendengus saat mereka melewatinya. Tapi, tidak ada satupun dari mereka yang bereaksi.
"Aku nggak butuh kamu kasihani. Jadi, nggak perlu membelaku," kata Nabila yang ikut menyusul pergi teman-temannya tadi.
Tika hampir kesal mendengarnya. Dia akan mengomel jika Gisel tidak menahannya.
Sebelum Nabila cukup jauh perginya, Gisel mengatakan sesuatu padanya, "Kamu juga punya hak untuk memilih teman, Nabila. Mereka nggak berhak memperlakukan kamu seperti ini."
Nabila berhenti sejenak, lalu berkata, "Kamu nggak tahu apa-apa tentang hidupku. Jadi, nggak perlu repot-repot memberi motivasi konyol."
Dan, Nabila melanjutkan perjalanannya.
"Dasar cewek sombong!," teriak Tika sembari memberikan tendangan kakinya di udara.
"Sudah, sudah ... ayo, ke kantin. Adit pasti sudah nunggu lama," kata Gisel menenangkannya.
Tapi, yang jelas, Gisel merasa dia bisa mendekati Nabila.
......................
Gisel baru saja kembali dari acara jalan-jalannya sepulang sekolah bersama Tika, saat seseorang menyapanya ketika dia hampir mendekati rumahnya.
"Selamat sore, Kanaya sayang."
Suara itu, suara yang sangat Gisel kenal. Suara yang sudah cukup lama tidak didengarnya, tapi tidak akan mudah Gisel lupakan begitu saja. Karena pemilik suara itu adalah orang yang sudah banyak memberikan dirinya masalah selama ini.
Rafael, tentu saja.
Gisel tidak menjawab sapaan Rafael begitu saja. Dia hanya memberikan pria itu tatapan kedua matanya yang tajam dan sangat tidak ramah.
Tapi sesekali Gisel melirik keadaan di sekelilingnya. Dia bisa melihat anggota Tim Alpha sudah bersiap di posisinya. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan jika Rafael menyerangnya.
Itupun jika itu rencana Rafael. Tapi, apa yang diinginkan Rafael?
Pria itu tiba-tiba saja tertawa dengan keras.
"Nggak perlu sewaspada itu. Haha ... Aku kemari hanya ingin mengobrol," kata Rafael.
__ADS_1
Gisel masih tetap diam tanpa kata. Dia masih berusaha membaca situasi apa yang sedang dibawa Rafael ke hadapannya. Di kepalanya masih teringat jelas pembicaraannya dengan Satrio tentang Rafael dan Corens. Tapi, jelas tidak mungkin Gisel akan bertanya soal itu padanya.
"Haha ... aku akan langsung saja."
Rafael baru akan melangkahkan kakinya, Gisel langsung menghentikannya.
"Berhenti! Cukup disitu saja. Katakan apa yang ingin kamu katakan dari sana."
Rafael terlihat cukup terkejut. Tapi, dia menurutinya.
"Bukan hal yang serius, tidak perlu terlalu tegang," katanya lagi.
Sikap santainya seakan tidak pernah lepas dari caranya berbicara. Entah dalam situasi apapun, sikapnya itu terlalu menjengkelkan untuk dilihat bagi Gisel.
"Aku tahu kamu dan Bagas mengira selama ini akulah orang di balik semua rencana jahat mama tiri kamu itu. Tapi, kalian salah. Penjahat sebenarnya itu justru adalah Clara, mama tiri kamu sendiri."
Gisel belum menunjukkan ekspresi tertarik pada semua yang dikatakan Rafael. Dia masih mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan Rafael.
"Aku yakin kalian sudah tahu tentang perusahaan boneka milik Clara. Perusahaan itu bukan ideku, tapi Clara sendiri. Kalian salah kalau kalian mengira perusahaan itu hanya untuk mengalihkan aset Farhan menjadi milik Clara. Oh tidak, lebih dari itu."
"Pengalihan aset hanya tujuan awal. Tujuan akhirnya adalah membuat kalian hancur bersama dengan perusahaan boneka itu. Lalu pergi bersama dengan uangnya."
"Apa maksudmu? Kalian siapa yang dimaksud?," tanya Gisel.
"Apa kamu tahu kalau perusahaan itu juga menerima investasi dari orang lain? Begitu Clara sudah menguangkan aset Farhan, dia akan menguras habis semua dana investasi yang ada di dalamnya. Lalu pergi dengan uang-uang itu. Dan siapa yang akan menanggung semua dosa-dosanya? Tentu saja, kalian. Ya, kalian. Kamu, Adrian, dan Nabila, anak-anaknya."
Gisel masih tidak percaya Rafael menyebut nama Nabila bersama dengan namanya dan Ian. Bagaimana mungkin dia akan melukai Nabila? Selama ini Gisel mengira Clara menyayanginya.
"Haha ... sudah kukatakan tadi, bukan? Penjahat sebenarnya itu adalah Clara sendiri. Dia tidak pernah peduli dengan siapapun, termasuk anak yang dia lahirkan sendiri." Rafael terlihat puas dengan reaksi yang ditunjukkan Gisel yang jelas memperlihatkan keterkejutannya.
"Apa tujuanmu mengatakan ini? Kamu pikir aku akan mempercayainya?," tanya Gisel menyangsikan semua perkataannya.
"Aku? Tentu saja, aku ingin menyelamatkan diriku sendiriku. Tidak hanya kalian yang akan terseret dalam masalah ini nanti, tapi juga aku. Karena itu, aku berbaik hati mengatakannya pada kalian untuk menyelamatkan diri kalian juga."
"Bukan masalah kalau kamu tidak mempercayainya. Tapi dalam beberapa hari ini, kamu akan mendapatkan salah satu bukti kalau omonganku ini benar. Datanglah padaku, jika kamu sudah percaya dengan omonganku."
Setelah puas mengatakan semuanya, Rafael akhirnya pergi meninggalkan Gisel yang masih berdiri memikirkan semua ucapan Rafael.
Apakah yang dikatakannya benar? Apakah ini hanya salah satu rencana Rafael? Apakah Rafael sedang menjebaknya?
Begitu banyak pertanyaan di kepala Gisel saat ini. Tapi memercayai Rafael adalah pilihan yang sulit dipilih olehnya.
Yang bisa dilakukannya saat ini adalah menunggu dan mencari tahu.
"Benar! Aku harus mengatakannya pada Bagas dan Satrio. Perusahaan boneka itu, apakah sedemikian berbahaya, kah?," pikir Gisel.
__ADS_1