Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 21 : Tujuh Hari Mencari Jalan Kembali


__ADS_3

"Tunggu!"


Gisel berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Rey. Dia tidak menyangka Rey akan bereaksi seperti itu. Rey tidak pernah memeluknya sebelumnya. Suasana menjadi begitu canggung setelahnya.


"Dari mana kamu tahu ini aku?," tanya Gisel pada Rey.


Rey sempat merasa gugup saat akan menjawabnya, tapi kemudian dia ingat sesuatu.


"Kamu! Bisa-bisanya kamu menyembunyikan ini dariku. Mau sampai kapan kamu akan diam begini?," kata Rey memarahi Gisel.


Gisel langsung menciut. "Bukan aku nggak mau bilang. Aku takut kamu nggak percaya."


"Pak Rendi bisa, kenapa aku nggak bisa? Aku sudah kenal kamu bertahun-tahun, Gi. Masak iya aku nggak bisa mengenali kamu."


"Tapi nyatanya kamu nggak bisa, kan?" Kali ini Gisel mulai berani bersuara. Dia ikut kesal dengan pernyataan Rey. "Berapa kali kita ketemu di sekolah, kamu tetap nggak mengenaliku"


"Siapa bilang aku nggak mengenalimu. Aku sudah curiga waktu kamu melawan preman kemarin. Nggak mungkin ada orang lain yang bisa gerakan itu, selain kamu dan aku."


Gisel tiba-tiba teringat kejadian waktu itu. Dia tidak menyangka ternyata Rey bisa menyadarinya. "Jadi, karena itu kamu menghubungi Om Satrio?," kata Gisel yang nadanya tidak setinggi tadi.


"Ya aku mau menghubungi siapa lagi, Gi? Kamu tidak bisa aku tanyai," jawab Rey yang masih kesal.


"Ehm ... Pak, Bu ..." Risa berusaha menenangkan sepasang manusia yang lebih terlihat seperti sepasang suami istri ketimbang sahabat.


"Diam dulu, Risa!"


Risa pun kena semprot oleh mereka.


"Kalian tenang dulu!" Satrio kini ikut bicara. Setidaknya, begitu Satrio mulai bicara, Rey dan Gisel kembali tenang. Mereka mulai memisahkan diri mereka.


"Kita tidak punya banyak waktu. Keluarga Kanaya bisa saja muncul tiba-tiba," jelas Satrio yang diikuti mereka dengan mencari tempat duduknya masing-masing.


"Sekarang jelaskan, bagaimana kalian semua ada di sini?"


Segera setelah Gisel bertanya, satu-persatu mulai bergantian berbicara menceritakan kejadian yang terjadi beberapa hari terakhir ini.


Dari Satrio, Gisel akhirnya tahu kejadian yang dia sangka itu adalah mimpi, ternyata bukanlah mimpi. Kejadian itu adalah nyata terjadi pada raga Gisel yang dirawat di rumah sakit yang sama dengan Kanaya saat ini.


Pelakunya adalah dokter yang biasanya merawat Gisel selama ini. Dia mendapatkan obat dari seseorang yang menyuruhnya. Dengan terpaksa, dia melakukannya karena mereka menahan keluarganya.


Obat yang disuntikkan ke dalam selang infus Gisel adalah obat keras yang memiliki efek dapat mengakibatkan gagal jantung jika diberikan melebihi dosis. Dan itulah yang terjadi pada Gisel.


Saat itu, Rey dan Risa sudah keluar dari kamar Gisel. Mereka berpapasan dengan pelaku tanpa mencurigai apapun. Lalu, tiba-tiba Risa merasakan ada aneh dari Gisel, karena itu dia langsung berlari kembali ke kamar. Rey mengikutinya.


Saat itulah, Rey melihat dokter itu dengan jarum suntik di tangan kanannya, dan selang infus Gisel di tangan kirinya. Rey langsung mencabut selang infus dari Gisel, lalu menangkap dokter itu.


Tapi, sebagian obat sudah masuk, karena itu jantung Gisel sempat berhenti selama beberapa menit. Tapi, masih bisa diselamatkan dan harus diawasi perkembangannya selama berhari-hari.


Risa menjelaskan, Gisel belum sepenuhnya meninggal. Jiwa Gisel masih terhubung dengan semua yang ada di raganya sendiri, termasuk rasa sakitnya. Jadi, jika raga Gisel mengalami sesuatu pada jantungnya, maka jiwa Gisel juga ikut merasakan rasa sakitnya. Meski demikian, tubuh Kanaya tidak merasakannya.


Jiwa yang berada di tubuh Kanaya tidak hanya milik Gisel saja, tapi juga Kanaya. Bedanya, milik Gisel bersifat aktif, sedangkan Kanaya bersifat pasif. Sejak kecelakaan itu, yang menjadi pilot raga Kanaya adalah jiwa milik Gisel. Ketika jiwa Gisel sudah tidak mampu menahannya, tubuh Kanaya akan kehilangan kesadarannya, karena pilotnya tidak ada.


Itulah yang terjadi pada Kanaya selama tujuh hari terakhir ini. Kanaya dinyatakan koma karena tidak diketahui penyebab Kanaya tidak sadar. Para dokter tidak dapat menemukan masalah apapun pada tubuhnya setelah beberapa tes dan pemeriksaan.


Dan, selama tujuh hari terakhir ini pula, sementara para dokter berusaha membuat raga Gisel terbebas dari efek obat, Risa berusaha memulihkan jiwa Gisel yang tersangkut di tubuh Kanaya yang masih tertidur karena rasa sakit di raganya sendiri.


Itulah yang baru saja Risa lakukan tadi saat Gisel terbangun.

__ADS_1


"Bagaimana bisa ragaku tetap koma, sementara jiwaku ada di tubuh Kanaya?," tanya Gisel setelah mendengar penjelasan dari Risa.


"Eerr ... anu, Bu ... itu, jiwa Ibu tidak sepenuhnya di tubuh ini. Saat kecelakaan itu, separuh jiwa Ibu meninggalkan raga Ibu sendiri dan tidak sengaja masuk ke tubuh ini. Setengahnya disini, dan setengahnya lagi masih disana."


Dan itu adalah hal paling aneh dari semua hal yang pernah dia dengar tentang pindah raga.


"Jadi maksudmu, jika raga Gisel ... dibunuh oleh seseorang, maka aku akan benar-benar meninggal?" Gisel berhenti saat dia akan mengatakan kata 'dibunuh'.


Lidahnya terasa berat saat akan mengatakannya, terutama ketika dia membayangkan seandainya obat itu sepenuhnya masuk ke dalam tubuhnya. Mungkin saat ini dia tidak akan berada di sini dalam tubuh Kanaya.


Risa menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana kamu bisa tahu sebanyak itu?" Gisel menatap curiga pada Risa.


"Ehehe ... saya belajar dari kakek saya, Bu." Risa mendadak menjadi gugup.


"Kamu bisa melihat Kanaya sedang tidur di dalam sini. Waktu aku memanggilmu, kamu benar-benar tidak mendengarnya, atau kamu sengaja melakukannya?"


Gisel berjalan selangkah demi selangkah menghampiri Risa yang sudah mulai ketakutan.


"Kamu memanggilnya?," tanya Rey yang berada di antara mereka.


"Kamu sengaja kan, Risa?!"


Gisel langsung maju menyerang Risa. Keinginannya untuk menarik baju Risa sangatlah kuat. Untung saja Rey cepat bergerak. Dia merangkul tubuh Gisel agar gadis itu tidak dapat bergerak maju.


Risa yang terkejut segera berdiri di belakang Rey untuk melindungi dirinya.


"Ampun, Bu. Saya beneran nggak tahu itu Ibu. Saya ngiranya itu hantu jahat, Bu," jawab Risa yang ketakutan melihat Gisel yang mengamuk.


"Hantu?!"


"Kakeknya?"


"Dia datang kemarin untuk melihat kondisimu, dan juga membantu memulihkan kamu," jelas Rey. Dia merenggangkan rangkulannya setelah melihat Gisel sudah mulai tenang.


"Lalu, dari mana kamu tahu semua ini?" Kali ini Gisel ingin tahu bagaimana Rey bisa bergabung dengan mereka.


"Aku menginterogasi Risa. Sangat aneh karena dia tiba-tiba berlari sambil meneriakkan namamu. Dari mana dia tahu ada sesuatu yang aneh di kamarmu?," jelas Rey.


"Aku sudah lama curiga kepadamu karena tingkahmu yang sangat aneh. Suka ngomong sendiri, tiba-tiba marah atau berteriak, atau selalu ketakutan sendiri tanpa sebab, ternyata ini alasannya," kata Gisel memandangi sekretarisnya itu. Risa sendiri hanya tertawa canggung menanggapinya.


"Om terpaksa bercerita pada Rey karena situasinya tidak memungkinkan. Dan Rey langsung percaya." Kali ini Satrio ikut berkomentar.


"Rey langsung percaya? Pada hal-hal seperti itu?," tanya Gisel menatap Rey dengan tatapan curiga.


"Aku sudah bilang, kan? Kalau kamu menjelaskannya dengan benar, bagaimana bisa aku tidak percaya?" Rey mendelik marah pada Gisel.


Mereka akhirnya saling melemparkan pandangan mereka satu dengan yang lainnya, dan berakhir dengan dengusan kasar dari mereka.


"Jadi, apa rencanamu sekarang, Gi?," tanya Satrio.


Gisel kali ini diam sejenak memikirkan jalan keluar untuk semua permasalahannya sendiri. Masalah Kanaya belum selesai, dan sekarang masalahnya sendiri.


"Dimana dokter itu?," tanya Gisel.


"Sudah diamankan Tim Alpha. Pihak rumah sakit tidak bisa ikut campur dalam masalah ini. Karena ini sudah masuk dalam tindak pidana. Ada saksi dan juga bukti."

__ADS_1


"Minta Tim Alpha membentuk tim khusus untuk menyelamatkan keluarganya dan mencari tahu siapa yang menyuruhnya. Setelah itu, lepaskan dia," kata Gisel lagi.


"Kamu tidak ingin memprosesnya secara hukum?," tanya Satrio heran.


"Tidak, Om. Untuk apa? Dia cuma disuruh, itupun terpaksa. Kita hanya butuh informasi siapa yang menyuruhnya. Aku yakin pasti ada hubungannya dengan kecelakaanku."


"Kamu belum dapat petunjuk apapun?," tanya Rey. Dia masih disana mendengarkan pembicaraan Gisel dan Satrio.


Gisel menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku baru berhubungan kembali dengan Om Satrio. Aku baru tahu situasinya. Sebelum itu, kehidupan Kanaya sendiri sudah kacau balau. Dan sekarang aku harus bertahan hidup di antara keduanya."


"Apa maksudmu?," tanya Rey.


Sebelum Gisel bisa menjawabnya, ponsel Satrio berbunyi hingga mengagetkan semua orang yang ada di ruangan. Semua yang pada awalnya terfokus pada pembicaraan Gisel dan Rey, kini berubah.


"Hmm ... Tolong bantu tahan sebentar. Oke. 5 menit sudah cukup."


Dan panggilan itu diakhiri.


"Clara datang dengan Rafael dan seorang pria tua. Mereka tidak tahu siapa pria selain Rafael, karena pria itu belum pernah terlihat dalam profil keluarga Kanaya," kata Satrio menjelaskan situasinya saat ini.


"Pria tua? Seberapa tua?"


Gisel tidak mau menyia-nyiakan waktunya. Di saat mereka sedang berjalan menuju ke tempatnya, maka Gisel harus bergerak ke atas ranjangnya, atau mereka akan menemukan Kanaya sudah sadar dari komanya.


"Sangat tua. Mungkin ..."


"Aku tahu. Dia calon suami Kanaya. Mau apa tua bangka itu kesini?," jawab Gisel yang saat ini sudah menyelimuti dirinya.


"Apa?!" Seperti yang Gisel harapkan, Rey sangat terkejut mendengarnya.


"Ya, murid kesayanganmu ini akan segera menikah. Aku rasa si Clara tidak akan membiarkannya lulus SMA," kata Gisel dengan senyum sinisnya.


"Kalian keluarlah. Akan sulit menjelaskan pada mereka jika kalian disini," kata Gisel lagi sebelum dia bersiap pura-pura tidur.


"Aku akan disini. Aku gurunya Kanaya."


Gisel langsung melotot ke arah Rey. "Lebih aneh lagi kalau gurunya Kanaya berada disini menunggui Kanaya."


"Aku ingin dengar apa kata mereka." Rey melipat kedua tangannya untuk menekankan keseriusannya.


Gisel semakin mendelik.


"Mereka tidak akan mengatakan apapun kalau kamu masih tetap disini."


"Kalau begitu, aku akan sembunyi di kamar mandi."


"REY!!"


"Oke, oke ... aku pergi."


Dan dengan hanya sekali bentakan, Rey akhirnya menurut.


"Heran! Sebegitu cintanya kah sama Kanaya? Baru bilang calon suami langsung nggak mau pergi, memangnya mau ngapain dia?," gumam Gisel sembari menutup matanya. Aktingnya baru saja dimulai.


Dan tak lama kemudian ...


"Orang-orang itu benar-benar keterlaluan. Mari Tuan, masuk saja. Di dalam ada kamar mandi, kok. Bersihkan saja dulu pakaiannya."

__ADS_1


Suara Clara yang sedang marah-marah, akhirnya terdengar di telinga Gisel.


__ADS_2