
"Kanaya! Apa yang kamu lakukan? Mengapa dia pingsan?," teriak Clara. Gisel yakin saat ini dia sedang meneriaki orang itu.
Gisel memang tidak pingsan. Dia hanya berpura-pura. Dia ingin tahu apa yang mereka bicarakan di saat dirinya sedang tidak sadarkan diri.
"Aku tidak melakukan apapun. Dia jatuh sendiri," jawab pria itu. Dia tidak terdengar panik. Nadanya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melihat seorang gadis yang baru dia pukuli terjatuh di depannya.
"Kak Aya ...," panggil Adrian yang terdengar hampir menangis. Tangannya menyentuh pipi Gisel.
Tapi sentuhan itu hanya berlangsung sebentar saja.
"Sudah ... kamu jangan pegang dia," kata Clara seraya menarik tangan Adrian. "Kamu main sama Bik Idah saja, atau pergi ke kamarmu. Ayo! Sana!"
Adrian mungkin menuruti perintah ibunya, karena setelah itu tidak terdengar lagi suaranya.
"Sekarang bagaimana?," tanya Nabila.
"Gendong dia ke kamarnya, Rafael. Aku harus menghubungi Bagas, atau seseorang akan melaporkan pada Bagas, lalu dia akan mengira aku menyembunyikan masalah ini darinya. Dengar! Aku akan bilang kalau ini efek dari cidera di kepalanya. Kamu dengar itu kan, Bila?," kata Clara yang terdengar cukup panik.
"Rafael ... namanya Rafael. Siapa dia?," batin Gisel.
Tidak lama kemudian, Gisel merasakan tubuhnya diangkat ke atas dan beberapa goncangan kecil.
"Rafael ini benar-benar nurut sekali pada wanita tua itu," batin Gisel lagi.
Gisel merasakan kasur empuk tak lama setelah itu. Rafael melakukannya dengan hati-hati. "Sepertinya dia takut dimarahi lagi," pikir Gisel.
"Aku sudah menghubungi Bagas. Kamu harus pergi sebelum dia datang," kata Clara setelah itu.
Tapi, Rafael tidak langsung menjawabnya. Entah apa yang sudah dilakukannya. Dalam kepura-puraannya, Gisel gelisah menunggu Rafael memberikan tanggapannya.
"Jangan melihatnya terus! Kamu naksir dia?," bentak Clara.
"Apa kamu tidak curiga?," tanya Rafael tiba-tiba.
"Curiga apa?"
"Kenapa dia tiba-tiba bisa bela diri?," tanya Rafael.
DEG!
Jantung Gisel langsung merasakan sentakan. Dia lupa dia adalah Kanaya. Bagaimana bisa dia lupa sampai memamerkan kemampuan judonya pada orang-orang seperti mereka?
"Dia kan amnesia?," jawab Clara kesal. "Lagian bela diri apa? Yang aku lihat dia cuma menghindar darimu. Dia bahkan terjatuh saat kamu tangkap dia. Yang seperti itu kamu bilang bela diri?"
Rupanya, gerakan tadi masih terlalu cepat untuk bisa dilihat oleh mata awam seperti Clara. Dalam tidurnya, Gisel bernapas lega.
Gisel menunggu Rafael memberikan jawabannya. Tapi, cukup lama orang itu tidak menjawab apapun. "Apa dia sudah pulang?," pikirnya.
"Bila, kamu sebaiknya juga ke kamar kamu sekarang. Jangan sampai dia melihatmu disini, lalu mengira kamu ada hubungannya dengan pingsannya anak sialan ini," perintah Clara yang sama sekali tidak dibantah oleh Nabila.
__ADS_1
"Anak sial! Selalu bikin susah orang," maki Clara. Gisel yakin makian itu ditujukan untuk dirinya.
Entah berapa lama Gisel berpura-pura pingsan. Terlalu lama dirasa Gisel hingga akhirnya dia malah benar-benar tertidur. Saat terbangun, dia merasakan seseorang sedang melakukan sesuatu pada lengan tangannya.
"Tidak ada masalah dengan kondisi vitalnya. Semuanya baik-baik saja."
Dokter. Ternyata seseorang itu adalah dokter. Rupanya Bagas datang bersama seorang dokter. Clara benar-benar tidak berani membohongi Bagas jika dirinya baru saja pingsan.
Beruntungnya, dokter tidak mengatakan hal yang aneh-aneh. Dia hanya memastikan jika kondisinya baik-baik saja. Dan alasan mengapa dia pingsan, karena terlalu capek atau stress.
Gisel mencoba perlahan membuka matanya. Dia masih berakting menjadi pasien yang baru saja sadar dari pingsannya.
"Sudah waktunya putri tidur bangun menemui kurcacinya," pikirnya.
"Aya ... kamu sudah sadar?," teriak Tika di sampingnya.
Gisel berusaha untuk tetap tenang meski Tika tidak. Dia terus bertanya, meskipun dia mengatakan dia baik-baik saja.
Dokter kembali memeriksa keadaan Gisel yang sudah dalam keadaan sadar. Dia masih yakin bahwa kondisinya baik-baik saja.
"Kamu yakin nggak apa-apa, Aya?," tanya Tika untuk kesekian kalinya saat Bagas sedang mengantarkan dokter itu keluar.
"Aku nggak apa-apa, Tika. Kalian kesini kenapa?," tanya Gisel berpura-pura.
"Tante Clara bilang kamu pingsan. Papa langsung kesini. Aku yang maksa papa pengen ikut," jawab Tika. "Kamu pingsan kenapa?"
Gisel melirik Clara yang ada di belakang Tika yang terlihat sangat cemas. Berkali-kali di memelototi Gisel, memberinya isyarat agar tidak mengatakan apapun. Gisel tidak bereaksi apapun selain menyunggingkan senyum tipis di wajahnya.
"Kamu ini. Jangan terlalu serius belajar sementara ini. Cidera kepalamu itu butuh banyak istirahat kata dokter," kata Tika memarahi Gisel lagi-lagi.
Tika dan Gisel masih mengobrol sampai Bagas kembali ke kamarnya. Bahkan ketika Bagas kembali, dia masih ditanyai mengenai kondisinya. Dan untuk kesekian kalinya, Gisel harus menjawab bahwa dia tidak apa-apa.
Bagas dan Tika masih di sana sampai makan malam. Bagas hanya bilang, dia masih ingin melihat kondisi Kanaya sampai beberapa jam ke depan. Jika Kanaya benar-benar baik-baik saja barulah dia dan Tika akan pulang.
Tapi ternyata, ada alasan lain mengapa Bagas masih bertahan di rumah .
"Kamu masih ingat om pernah bilang akan memeriksa rekaman CCTV di dekat kolam renang? Om mau menunjukkan sesuatu sama kamu," kata Bagas setelah berkumpul di ruang keluarga di lantai atas, termasuk juga Clara dan Nabila.
Saat Bagas mengatakan tentang CCTV, Gisel melirik ke arah Nabila. Raut wajahnya kali ini benar-benar tidak sedap dipandang. Dia terlihat sangat ketakutan.
Bagas lalu memainkan rekaman itu dari sebuah laptop miliknya. Dan semua gambaran yang sudah dia lihat sebelumnya, kini dimainkan kembali. Perbedaannya hanyalah rekaman itu memperlihatkan kejadian waktu itu dari sudut yang lain.
Rupanya jarak CCTV itu lumayan jauh dari tempat kejadian. Sehingga gambar yang terlihat tidak begitu jelas. Tapi seharusnya, yang mengenalinya bisa langsung dapat menebak.
Gisel melirik ke arah Clara yang ada di samping Nabila. Dia terlihat sama pucatnya dengan anaknya sendiri. Bahkan mungkin lebih pucat, karena rasa khawatirnya ikut tercampur di dalamnya. Dia paling takut kalau Nabila ikut terlibat dalam masalah ini.
"Jangan bilang itu kamu, Nabila," kata Tika yang langsung menuduh Nabila.
"Hei, kamu jangan asal nuduh ya. Rekaman itu tidak jelas, bagaimana bisa kamu langsung menuduh anak saya?," bentak Clara. Tapi nyalinya langsung menciut saat dia melihat Bagas sedang memelototinya karena membentak Tika.
__ADS_1
"S-saya yakin itu bukan Nabila. Saya ibunya. Tentu saja, saya tahu apakah itu Nabila atau bukan hanya dengan sekali melihat," kata Clara membela Nabila.
"Dimana kamu saat kejadian itu?," tanya Bagas langsung pada Nabila tanpa menghiraukan Clara.
"A-aku, aku sedang ... di kamar. Nonton," jawab Nabila gugup.
Bagas masih memelototi Nabila untuk mendesaknya agar bisa mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Tapi kemudian, Gisel menghentikannya.
"Sepertinya itu hanya kecelakaan."
"Apa maksudmu?," tanya Bagas yang disertai dengan helaan napas lega dari Nabila.
"Coba om lihat. Dari sini bisa terlihat, sepertinya kaki saya mengenai sesuatu. Karena itu akhirnya saya terjatuh," jelas Gisel seraya memutar kembali rekaman itu.
Bagas dan Tika kini memperhatikan dengan seksama.
"Tapi kita tidak bisa mengabaikan bahwa ada seseorang yang menyebabkan kamu terjatuh," kata Tika seraya melirik ke arah Nabila.
"Sudahlah, saya tidak ingin memperpanjang permasalahan di kolam renang. Setelah melihat rekaman ini, saya yakin bahwa saya hanya kecelakaan," kata Gisel menyakinkan Bagas.
"Tapi, Aya ..."
Bagas menghentikan Tika berbicara lagi.
"Kamu yakin?," tanya Bagas sekali lagi untuk memastikannya.
"Iya, Om. Biarkan ini begini dulu. Tapi, jika saya ingat sesuatu, saya akan mengabari om."
"Baiklah ..."
"Tapi, Pa ..."
"Tika, kita hormati saja keputusan Aya. Dia juga sudah berjanji untuk memberitahu kita jika dia sudah ingat. Jadi, jangan paksa Aya lagi," kata Bagas menenangkan putri kesayangannya itu.
"Tapi, rekaman ini akan tetap saya simpan. Ini bisa menjadi bukti kuat jika kamu mau menjadikan ini kasus percobaan pembunuhan," kata Bagas dengan tegas pada Gisel sambil juga melirik ke arah Nabila dan Clara yang mendadak menjadi tegang.
Pada akhirnya, Bagas dan Tika pulang setelah menunjukkan rekaman itu. Gisel mengantarkannya keluar hingga mobil mereka meninggalkan rumah. Dan di saat dia kembali masuk ke dalam rumah, Nabila sudah menunggunya di ruang tamu.
"Aku tidak memiliki hutang budi apapun denganmu hanya karena kamu melindungiku dari Bagas hari ini," kata Nabila begitu melihat Gisel.
Sebenarnya, Gisel tidak ingin meladeninya. Tapi ketika dia mendengar kalimat angkuh dari seseorang yang pernah hampir membunuhnya, dia merasa dia tidak bisa begitu saja tidak menghiraukannya.
"Kamu pikir aku sedang melindungimu?"
Gisel berjalan langkah demi langkah menghampiri Nabila dengan tatapan tajamnya.
"Apa kamu lupa apa yang kukatakan tadi? Aku bilang kalau aku ingat kembali, aku akan memberitahu Om Bagas. Dan menurutmu kapan kira-kira aku seharusnya ingat kejadian waktu kamu memojokkanku di kolam renang karena kamu cemburu pada bocah tengik yang bernama Evan itu?"
Mata Nabila langsung mendelik keluar. Sebuah kalimat yang didengarnya dari mulut Gisel membuatnya tersadar bahwa sebenarnya Gisel sudah mengingat kejadian waktu itu.
__ADS_1
"Jadi, kusarankan padamu, berbaik-baiklah padaku mulai sekarang. Atau ... aku bisa saja keceplosan. Ups ..."
Gisel menepuk pelan pipi Nabila berulang-ulang sebelum dia meninggalkan Nabila yang masih berdiri membeku di ruang tamu. Mungkin itu untuk pertama kalinya, wajah cantik Kanaya melukiskan senyumnya yang jahat.