Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 24 : Melawan Keputusan Clara


__ADS_3

"Ini beneran kamu, kan? Kamu sudah sadar, kan?"


Tika berulang kali memeriksa Gisel. Kanan, kiri, depan, belakang. Mungkin masih kurang yakin, sekali lagi dia memeriksa Gisel.


Bersamaan dengan itu, mulutnya tidak berhenti bertanya.


"Kamu beneran sudah sadar? Kapan kamu sadar? Kamu nggak apa-apa, kan? Sudah diperiksa dokter?"


Adit yang masuk bersama Tika masih berdiri di dekat pintu menatap tak percaya pada sosok Kanaya yang dilihatnya saat ini sedang duduk di atas ranjangnya, sehat, tak terlihat sakit sedikitpun.


"Aya ... k-kapan kamu sadar? D-dokter, kamu sudah panggil dokter? A-aku pergi tanya dokter ..."


Dan begitu saja, Adit langsung menghilang dari pandangan Gisel.


Gisel masih terkejut dengan kedatangan Tika dan Adit yang tiba-tiba. Dia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan mereka akan tiba lebih awal dari jam besuk karena hari ini sekolah libur. Kalau seandainya dia memikirkan hal ini, tentu saja dia akan tetap di atas ranjangnya.


Tapi sekarang, Adit dan Tika sudah tahu. Apa lagi yang disesali? Yang harus Gisel pikirkan sekarang adalah langkah selanjutnya.


Gisel melirik ke arah Rey, begitu juga dengan Rey. Mereka berbicara dengan gerakan kepala, mata, dan juga bahu mereka.


"Gimana ini?" Gisel menggerakkan kepalanya sedikit.


Rey juga sedikit mengangkat sedikit bahunya. "Nggak tahu ..."


Gisel langsung menyipitkan kedua matanya. Rey pun mengalihkan pandangannya.


Tidak butuh waktu yang lama untuk Adit membawa dokter dan perawat ke kamar. Seperti yang diharapkan, reaksi mereka juga sama, terkejut.


Gisel hanya menjawab beberapa pertanyaan saat para dokter memeriksanya. Tangan, kaki, wajah, semua diperiksa. Apakah ada yang sakit? Apakah ada yang terasa tidak nyaman? Apakah ini? Apakah itu?


Bagi ilmu medis, apa yang dialami oleh tubuh Kanaya itu mungkin bisa dibilang tidak masuk akal. Karena itu, mereka menginginkan pemeriksaan secara keseluruhan.


Jangankan mereka, Gisel juga masih belum menemukan alasan yang logis yang bisa menjelaskan kondisinya ini. Alasan terlogis yang bisa mereka berikan pada Gisel adalah amnesia.


Dokter dan perawat pada akhirnya keluar setelah lebih dari 30 menit mereka di kamar. Gisel masih harus menjalani beberapa pemeriksaan lainnya, sebelum akhirnya dia diperbolehkan pulang.


"Ngomong-ngomong ..." Adit akhirnya mulai bersuara. "Pak Reynard dari tadi disini?"


Tika sepertinya juga tertarik dengan jawaban Rey, karena kemudian dia mengarahkan pandangannya ke arah Rey.


Rey mendadak menjadi gugup. "Er ... iya, saya dari tadi disini."


Adit masih belum puas. "Pak Reynard sering kesini? Karena baru kali ini saya bertemu Bapak disini."


"Kadang-kadang. Saya kadang-kadang menengok Kanaya," jawab Rey. Terlihat sekali dia sedang gugup.

__ADS_1


"Apa kalian bawa sesuatu? Aku baru bangun, rasanya lapar sekali." Gisel berusaha membantu Rey keluar dari situasi yang tidak menyenangkan itu.


Tika dan Adit datang untuk menengok sahabatnya yang mereka kira masih dalam keadaan koma. Tentu saja mereka tidak membawa apa-apa. Adit adalah yang pertama menawarkan dirinya untuk mencari makanan.


Di saat mereka sedang berdiskusi tentang makanan yang akan Adit beli, Rey memanfaatkan kesempatan itu untuk keluar dari kamar.


"Apa kalian saling kenal selain di sekolah?"


Menyelamatkan Rey bukan berarti membuat dirinya juga aman. Setelah Rey dan Adit keluar dari kamarnya, kali ini Tika mulai menanyai Gisel.


Gisel memilih berhati-hati dalam menjawab sebelum Tika mencurigainya. "Pak Rey? Cuma di sekolah aja, kok."


Tika menyipitkan kedua matanya. "Aku sempat lihat tadi tangan Pak Rey memegang kepalamu. Kalian terlihat akrab."


Gisel menelan ludahnya. Kedua matanya berputar ke atas. Dia sedang memaksa otaknya untuk mencari alasan yang tepat.


"Nyamuk. Iya, nyamuk. Tadi ada nyamuk terbang ke atas kepala. Pak Rey membantu mengusirnya."


Untuk lima detik, Tika masih memproses perkataan Gisel. Lalu kemudian, menganggukkan kepalanya. "Oh ... benar juga."


Napas Gisel berhembus penuh kelegaan.


Berbohong bukanlah hal yang tidak pernah dia lakukan. Terkadang, dia melakukannya jika sedang bernegosiasi dengan rekan-rekan bisnisnya. Tapi, untuk kali ini, entah mengapa, rasanya begitu sulit saat membohongi anak-anak itu. Dia hampir mengira berada di tubuh Kanaya membuatnya kehilangan kemampuannya.


Meski agak lama, Adit akhirnya datang dengan makanannya. Keadaan masih tenang selama itu. Badainya baru datang setelah itu.


Ketiga pasang mata yang ada di kamar itu tertuju langsung pada seorang wanita yang mereka anggap gila. Ya, Clara. Wanita gila itu datang dengan wajah sumringahnya. Dia terlihat bahagia melihat Kanaya begitu sehatnya.


"Kamu tahu berapa lama aku menunggumu untuk sadar?," kata Clara seraya menggoncangkan tubuh Gisel.


Gisel berusaha melepaskan dirinya dari Clara. Tika bahkan ikut membantunya.


"Kali ini, jangan coba-coba untuk koma lagi."


"He, Nyonya! Memangnya Aya mau koma seperti itu? Dikira Aya bayar premium kali ya buat bisa koma terus," bentak Tika.


Gisel tidak menyangka Tika akan seberani itu bicara pada Clara dengan nada bicara yang seperti itu. "Sepertinya, mereka sudah sering begini," batin Gisel.


"Kamu harusnya belajar kendalikan mulut kamu itu. Orang tua kamu nggak pernah ngajarin sopan santun, ya?" Clara terus mendelik pada Tika.


"Orang tuanya kenapa? Ada masalah?"


Suara bariton Bagas membuat Clara mulai ketar-ketir. Dia seperti maling yang baru ketahuan mencuri. Jaraknya dengan Tika yang tadi begitu dekat, kini beringsut menjauh.


Tika begitu melihat Bagas langsung berlari memeluk papanya itu, yang ternyata datang bersama seorang wanita yang dipanggil Tika dengan panggilan mama. Gisel teringat saat dia baru bertemu Bagas, pria itu pernah menyebutkan namanya sekali.

__ADS_1


"Kamu punya masalah denganku? Katakan saja sekarang," tantang Bagas sekali lagi.


Clara yang ditekan seperti itu memilih diam dan tidak melanjutkan emosinya. Di antara kegilaannya, dia sepertinya tahu hidupnya juga bergantung pada Bagas.


"Aku keluar saja! Disini pengap!"


Tidak ada yang peduli dengan keluarnya Clara dari kamar itu. Mereka lebih fokus pada Gisel daripada merajuknya Clara.


"Apa kata dokter?," tanya Bagas.


Tika yang sedari tadi memeluk lengan mamanya, sekarang membawa mamanya masuk, lalu maju ke hadapan Bagas, papanya.


"Dokter bilang, Aya masih harus diperiksa lebih lanjut. Mereka ingin memastikan kalau Aya benar-benar tidak apa-apa."


"Mereka masih belum tahu penyebabnya?," tanya Bagas lagi.


"Belum, Pa. Dalam 2 hari, kalau tetap tidak ditemukan apapun, Aya sudah boleh pulang. Tapi, Aya akan melakukan check up seminggu dua kali."


Maya, mamanya Tika, melangkahkan kakinya mendekati Gisel. Sosok wanita yang terkesan lembut dan penyayang itu duduk di samping Gisel, lalu membelai rambut Gisel.


"Bagaimana perasaanmu? Kamu yakin tidak ada keluhan apapun?," tanyanya.


Gisel menganggukkan kepalanya. "Iya, saya yakin."


"Apa tidak apa-apa membiarkannya pulang begitu saja?," tanyanya lagi pada Bagas, suaminya.


"Dokter juga tidak menemukan apapun. Berlama-lama disini juga percuma. Setidaknya dokter masih memintanya untuk check up setiap minggu. Itu artinya dokter masih mencari tahu dan memastikan dia baik-baik saja," jawab Bagas yang nada suaranya tidak segalak tadi sewaktu berbicara dengan Clara.


Untuk waktu yang cukup lama, mereka ada di sana untuk menemani Gisel. Saat siang menjelang sore, barulah mereka pergi.


Setelah cukup lama Gisel sendirian di dalam kamarnya, Clara masuk menemui Gisel.


"Dengar, ya! Pernikahan itu akan tetap terjadi. Kamu akan tetap menikah dengan Tuan Abraham. Kamu masih ingat kan apa yang akan terjadi jika kamu berani melawanku? Tuan Abraham sudah memutuskan untuk menikah denganmu minggu depan."


Clara sepertinya menunggu mereka semua benar-benar pulang barulah dia masuk menemui Gisel. Sepertinya, Clara tidak ingin semuanya tahu tentang rencananya itu. Yang artinya, dia akan melakukannya dengan sembunyi-sembunyi.


Tapi Gisel tidak sebodoh itu.


"Jadi itu yang mau kamu tunjukkan sama Om?"


Gisel menatap pria tinggi gagah yang baru saja keluar dari kamar mandi sesaat setelah Clara keluar dari ruangan itu. Secara diam-diam, tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk Tika ataupun Maya, Gisel memintanya untuk kembali melalui pesan.


Untungnya, Bagas dengan cepat menanggapinya. Dia bahkan tidak keberatan bersembunyi di dalam kamar mandi dan menunggu Clara datang kembali.


"Jadi, kamu punya rencana?"

__ADS_1


Gisel menatap kedua mata Bagas dengan tatapannya yang penuh percaya diri. Keyakinannya sangat kuat bahwa dia bisa membatalkan pernikahan itu.


"Iya, Om. Saya punya."


__ADS_2