Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 50 : Rencana Pelarian Gisel


__ADS_3

Setelah Corens puas mengobrol dengannya, Gisel dikembalikan ke kamar dimana dia terbangun pertama kali. Dan lagi-lagi, mereka hanya membiarkan Gisel di dalam tanpa perlu melakukan apapun.


Gisel mencoba sekali untuk keluar dari sana, pintunya tidak terkunci. Tapi 4 orang pengawal sedang berjaga di depan kamarnya. Begitu Gisel membuka pintunya, keempat pengawal itu sudah bersiaga di posisi mereka. Gisel yakin, mereka akan langsung menyergapnya begitu dia menyerang mereka.


Gisel akhirnya duduk di bangku yang ada di kamar itu sembari memikirkan apa yang akan dia lakukan sekarang. Dia mulai memikirkan rute pelariannya untuk bisa keluar dari rumah ini. Terdengar nekat, tapi dia harus melakukannya, sebelum mereka melakukan hal gila padanya.


Gisel mengingat kembali denah rumah itu dari jalur yang dilewatinya tadi. Beruntung mereka tidak menutup matanya saat membawanya ke Corens. Dengan demikian, dia bisa mengira-ngira tata letak rumah ini.


"Aku hanya perlu menghindari kamera itu," pikir Gisel seraya menatap CCTV yang tergantung di atas pintu kamar itu.


Beruntung, kamera itu hanya ada satu yang terpasang di kamarnya. Itu artinya dia bebas bergerak di lokasi lain.


"Sekarang hanya tinggal menunggu waktu yang tepat," pikir Gisel.


......................


Seperti biasa, setiap sore seorang pelayan akan mengantarkannya berjalan-jalan di taman. Ini ada kali ketiganya, Gisel berada di taman itu.


Di sana terdapat sebuah bangku taman dan meja di depannya. Gisel akan diminta duduk di sana dan diberikan beberapa camilan untuk menemaninya santai sore.


Dua kali Gisel berada di sana, dua kali itu, Gisel mempelajari situasinya.


"Lima menit lagi ...," batin Gisel seraya menatap seorang pengawal yang sedang berdiri jauh di depannya.


Jantung Gisel terus berdetak keras saat dia menatap pengawal itu. Dia sedang menanti waktu pergantian personel. Lima menit pun terasa seperti berabad-abad.


Ketika pengawal lain datang dan mengobrol dengan temannya, tak lama kemudian, mereka pergi bersama-sama. Dan di saat itulah kesempatan yang dimiliki Gisel.


Perlahan, Gisel bangkit dari tempatnya duduk, lalu berlari ke arah depan dengan menundukkan tubuhnya. Pada jam-jam seperti ini, para pengawal masih tetap di posnya masing-masing, tapi jumlah personel mereka semakin sedikit. Dari pengamatan Gisel, di saat-saat seperti ini adalah kesempatan yang bagus agar bisa bergerak tanpa terlihat.


Dari kamarnya, dia bisa melihat jalan besar di bagian depan halaman rumah itu. Hanya saja, ada wilayah hutan yang cukup luas yang memisahkan halaman rumah itu dengan jalan besar. Itu artinya, Gisel hanya perlu berlari melewati hutan agar dia bisa mencapai jalan raya besar.


Entah seberapa luas hutan itu, tapi Gisel masih terus berlari hingga dia bisa mencapai jalan besar itu. Dia punya keyakinan yang sangat besar dia bisa mencapainya.

__ADS_1


Tepat di saat dia hampir menyerah, Gisel melihat sebuah cahaya yang cukup terang. Dia melihat sebuah jalur aspal yang sangat dinantikannya. Dia hampir mengira dia salah lihat, tapi ketika dia semakin mendekat, semua yang dia lihat terasa semakin jelas dan tidak terbantahkan. Dia hampir tertawa karena rasa senangnya itu.


Tapi, semua belum berakhir. Gisel belum keluar dari bahaya. Dia akhirnya mempercepat kecepatan larinya.


Hanya tinggal sekali melangkah, harapan Gisel seakan hilang saat dia melihat Rafael berdiri di hadapannya. Dia menghentikan langkahnya.


"Kenapa terburu-buru?," tanya Rafael dengan senyum sinisnya.


Napas Gisel yang terengah-engah tidak dapat ditahannya lagi. Napasnya sudah hampir mau putus karena sedari tadi dia sudah berlari tanpa henti. Dan sekarang semua usahanya seakan sia-sia.


Tapi, sayang rasanya jika harus menyerah sekarang. Pintu keluar menuju kebebasan sudah ada di depannya saat ini. Dia hanya perlu melewati manusia satu itu.


Gisel mengambil kuda-kudanya dan bersiap menyerang Rafael.


Rafael yang melihat Gisel dengan kuda-kudanya juga melakukan hal yang sama.


Pertarungan antara Gisel dan Rafael pun akhirnya pecah. Latihan yang selama ini dia terima dari Rey pada akhirnya dia gunakan juga untuk melawan Rafael. Kekuatan mereka pun menjadi imbang.


Gisel terus menyerang Rafael dengan agresif. Rafael sendiri sedari tadi hanya menghindar, tapi dia sudah cukup kewalahan dengan serangan Gisel.


Pada pukulan terakhirnya, Gisel menguasai keadaan, Rafael jatuh tersungkur. Gisel merasakan kemenangannya.


Agar Rafael tidak mengejarnya, Gisel berniat akan memukulnya untuk membuatnya tidak sadarkan diri. Dia saat dia sudah mengangkat lengannya, sesuatu menghantam kepalanya.


BUG!


Pandangan Gisel mulai gelap dan dia tidak sadarkan diri.


......................


Gisel membuka matanya dengan rasa sakit pada kepalanya. Dia bisa merasakan sesuatu mengalir lambat dari keningnya.


"Aku rasa kepalaku berdarah," pikirnya.

__ADS_1


Dia perhatikan sekelilingnya, sudah ada banyak orang yang mengelilinginya, termasuk Clara dan Rafael.


Gisel perhatikan tempat dimana dia kembali disekap. Sebuah rumah kecil, tanpa perabotan, kosong. Hanya ada dirinya dan orang-orang itu disana. Tapi, Gisel yakin, dia masih di area rumah Corens.


Gisel menggerakkan kedua tangannya, dan mendapati mereka telah mengikatnya.


"Jangan terlalu banyak bergerak, atau kamu akan melukai dirimu sendiri," kata Clara yang terdengar sangat lembut.


"Sepertinya Clara juga tahu siapa aku," pikir Gisel.


"Setelah ini, kamu akan menjadi anak yang baik, Kanaya ...," kata Clara seraya tersenyum pada Gisel.


"Atau mungkin tidak ...," pikir Gisel lagi.


Seorang pria dengan jas putihnya sedang berdiri di hadapan Gisel. Dia memegangi sebuah jarum suntik di tangannya yang bersarung tangan lateks. Apapun itu isi jarum suntiknya, Gisel yakin itu yang dimaksud Corens waktu itu.


Gisel terus berontak melepaskan dirinya dari ikatan di tangannya. Tidak ada perubahan, tentu saja. Mereka mengikatnya dengan tali karet tebal yang dikunci seperti sebuah sabuk. Bukan hal mudah untuk bisa lepas dari itu.


Tapi, Gisel tidak tidak peduli. Dia terus berontak meski yang dilakukannya itu melukai lengannya.


"Lepas! Lepas nggak?," teriak Gisel.


"Tenanglah. Hanya sebentar saja. Dan semuanya akan baik-baik saja setelah itu," kata Clara. Tangannya membelai lembut wajah Gisel.


Gisel semakin marah dengan apa yang dilakukan Clara padanya.


Clara akhirnya memanggil pengawal yang ada di belakang mereka untuk memegangi Gisel. Dengan kuat, mereka memegangi lengan Gisel.


Melihat Gisel yang sudah diamankan, pria berjas putih mulai maju selangkah demi selangkah dengan jarum suntik yang sudah siap di tangannya.


"Jangan coba-coba! Aku bilang mundur," teriak Gisel memelototi pria itu.


Tapi pria itu tidak mau mendengarnya. Dia terus melakukan apa yang sudah menjadi tugasnya.

__ADS_1


Cengkeraman orang-orang yang memegangi Gisel semakin mengerat saat pria berjas putih itu semakin mendekatkan jarum suntiknya ke lengan Gisel. Dan Gisel semakin kesulitan untuk bergerak lagi.


Dalam hitungan detik, jarum suntik itu sudah disuntikkan, dan cairan yang ada di dalamnya telah dipindahkan ke dalam tubuh Gisel.


__ADS_2