Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 58 : Reina Di Perbatasan Antara Kehidupan dan Kematian


__ADS_3

Gisel segera mengikatkan sebuah gelang yang membentuk menyerupai gelang pada pergelangan tangan tubuhnya. Gelang yang didapatkan dari Risa yang dia katakan dari kakeknya itu yang akan membantunya dalam proses mengembalikan jiwanya pada tempatnya.


"Gelang ini yang akan menuntun Ibu kembali. Begitu juga dengan Kanaya. Ibu hanya perlu mengikatkan ini pada masing-masing pergelangan tangan Ibu dan juga Kanaya," begitu kata Risa saat menyerahkan gelang ini.


Gisel kemudian duduk di sebuah kursi yang ada di dekat ranjang. Lalu ketika dia merasa dirinya sudah siap, dia memandangi dokter itu. "Lakukan!," perintahnya.


Dokter itu pun melakukan seperti yang diperintahkan Gisel. Segera dia menyuntikkan obat yang sedari tadi dia bawa saat diperintahkan untuk menyuntikkan Gisel sebelum kekacauan ini terjadi. Dan hanya dalam kurang dari 5 detik, semua cairan itu sudah memasuki selang infus yang terhubung pada raga Gisel.


Untuk beberapa detik awal setelah obat itu masuk, Gisel tidak merasakan apapun. Entah karena dia cemas karena suara gemuruh orang-orang di luar sana, atau memang obatnya berproses cukup lambat saat ini. Gisel merasa kali ini dia menunggu cukup lama hingga rasa sakit seperti waktu itu datang menyerangnya.


Tepat di saat itu, entah karena pengaruh obat atau karena rasa tegangnya, dia mendengar suara seseorang memanggilnya.


"Kak Gigi ..."


"Reina?"


Dengan cepat kepala Gisel langsung menoleh ke arah suara itu berasal. Tapi, tentu saja dia tidak menemukan apapun. Ruangan itu adalah ruangan tertutup. Tidak ada siapapun di sana selain dirinya dan dokter itu.


Tapi, yang cukup aneh adalah Gisel yakin benar itu suara Reina. Sangat jelas terdengar hingga membuat Gisel yakin sepenuhnya.


"Kak Gigi ..."


"Reina! Akh ..."


Panggilan berikutnya membuat dada Gisel merasakan sakit yang luar biasa. Sakit yang sama seperti waktu itu. Rupanya, ini saatnya, begitu pikirnya.


Gisel mendengar suara Rey memanggil namanya dari luar sana. Tapi, rasa sakit itu terlalu menyakitkan hingga Gisel merasa tidak memiliki tenaga untuk membalas panggilan itu. Dokter yang ada di sampingnya akhirnya menjawab pertanyaan Rey. Tapi, apapun yang mereka bicarakan, Gisel hanya terfokus pada rasa sakit dan suara Reina yang terus memanggilnya.


"Reina ...," panggilnya lirih.

__ADS_1


Entah panggilan ke berapa, rasa sakit Gisel terus bertambah hingga akhirnya Gisel tidak sadarkan diri. Dia hanyut dapma kegelapan yang perlahan menariknya ke dalam. Gisel sudah tidak tahu lagi apa terjadi pada dirinya.


......................


Semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi menerbangkan dedaunan. Bahkan bunga-bunga di sekelilingnya juga ikut bergoyang mengikuti arah angin bertiup. Gisel memandangi padang bunga, tempat dirinya berada saat ini. Tempat yang sama yang pernah dia ingat dirinya pernah berada. Tempat yang pernah dia anggap sebagai sebuah mimpi.


"Kak Gigi!"


Gisel terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang. Suara yang terdengar sangat akrab di telinganya, memanggil namanya dengan suara cerianya. Gisel sangat mengenal suara itu.


Dengan perlahan Gisel berbalik mencari asal suara itu seraya memanggil namanya, "Reina?"


Kali ini, cukup jelas dia melihat sosok itu. Gadis remaja cantik dengan senyum indahnya. Gadis itu sudah lama tidak dilihatnya, tapi senyumnya masih terlihat sama dalam ingatannya. Gisel tidak benar-benar lupa tentang Reina.


"Reina? Ini kamu? Ini benar-benar kamu?," tanya Gisel sekali lagi. Tanpa disadarinya, kedua matanya mulai berkaca-kaca, air mata mulai turun perlahan.


Gadis yang bernama Reina itu tertawa lembut seraya mengusap pipi Gisel yang basah karena air matanya sendiri. "Iya, Kak. Ini Reina. Kak Gigi, apa kabar? Reina kangen sama Kak Gigi. Hihi ..."


Gisel langsung memeluk Reina dengan erat. "Ini benar-benar kamu, Reina? Kamu nggak tahu semua orang merindukan kamu. Kemana saja kamu selama ini, Reina?"


Gisel terus meraung dalam tangisnya. Dia melampiaskan semua kerinduannya pada Reina. Meski selama ini tidak memperlihatkannya, ternyata Gisel menyimpan semuanya dalam-dalam hingga dia tidak bisa merasakannya lagi. Dan sekarang ketika dia melihat Reina begitu nyata di depannya, semua yang tadinya terkubur sangat dalam sekarang melesat keluar dengan cepat hingga dia tidak dapat mengendalikannya lagi.


Reina yang menerima semua emosi Gisel itu hanya tersenyum dan membalas pelukan Gisel itu. Sesekali dia menepuk punggung Gisel lalu menggosoknya perlahan.


"Kak Gigi ... Reina disini baik-baik saja," katanya menenangkan Gisel.


Pelan-pelan, Gisel merenggangkan pelukannya, dilihatnya kembali Reina yang masih terlihat tersenyum. Reina masih sama seperti yang biasanya dia lihat dulu. Penuh senyum, selalu ceria, dia seperti tidak pernah punya kesedihan dalam hidupnya.


"Kita ... dimana?," tanya Gisel.

__ADS_1


"Ini adalah perbatasan. Di sisi sana adalah pintu kehidupan," kata Reina seraya menunjuk sisi kananya. Kali ini, Gisel dapat melihat sebuah pintu yang berdiri di kejauhan sana.


"Dan di sisi sana adalah pintu menuju keabadian. Orang-orang bilang ... akhirat," lanjut Reina lagi seraya menunjuk sisi kirinya. Lagi-lagi, Gisel melihat sebuah pintu yang berbeda.


Cukup lama, Gisel memandangi pintu yang baru saja ditunjukkan oleh Reina. Kali ini, Gisel benar-benar kembali pada kesadarannya.


"Jadi ... kamu benar-benar sudah ..."


Reina tersenyum kembali memandangi Gisel yang wajahnya masih basah karena air matanya. Tapi, kali ini, senyum Reina mencerminkan betapa sakit hatinya melihat Gisel yang seperti itu. Seakan-akan dia tahu selama ini seperti apa keadaan orang-orang yang sudah dia tinggalkan.


"Reina tahu, mama, papa, Kak Rey, dan ... Kak Gigi juga ... Reina sudah menyakiti banyak orang. Saat kecelakaan itu terjadi, semua orang juga ikut terluka. Tidak hanya Reina ..."


Kesedihan jelas terpancar dari raut wajah Reina. Meski senyumnya masih terlihat, tapi sangat kontras dengan raut wajah Reina saat ini.


"Tapi, Reina tidak pernah menyesalinya, Kak Gi. Kalau pun seandainya waktu diulang kembali, Reina pasti akan mengambil keputusan yang sama."


Gisel bisa melihat kesungguhan hati Reina. Memang seperti itulah Reina, sama seperti Rey. Mereka memiliki tekad yang kuat pada keputusan mereka yang tepat. Hanya saja, mereka memiliki keputusan yang berbeda.


Kedua tangan Gisel perlahan mendekati kedua sisi wajah Reina, menyentuhnya lembut hingga mengarahkannya hingga membuat Reina menatapnya.


"Nggak ada yang menyalahkanmu, Reina. Semua orang bangga sama kamu. Kak Rey juga," kata Gisel dengan lembut.


"Mereka sangat merindukanmu. Tapi ... tidak ada satu pun yang menyesali keputusanmu. Kak Gigi juga ...," lanjut Gisel lagi.


Reina kembali tersenyum. Kali ini senyumnya sama cerianya dengan raut wajahnya.


"Karena itulah, Kak Gigi berada di sini untuk mencari Kanaya."


Reina langsung terkejut. "Ah, iya ... Kanaya!"

__ADS_1


Reina kemudian menunjuk salah satu arah, dan dari arah itu muncul sebuah pohon besar dengan bunga bermekaran warna merah muda di atasnya.


"Kanaya ada di sana," kata Reina pada Gisel.


__ADS_2