
Gisel terbangun dengan ingatan samar tentang mimpi semalam. Dia mengingat dia sedang berbicara dengan seseorang, tapi dia tidak ingat siapa, bagaimana rupanya, dan apa yang mereka bicarakan. Gisel hanya ingat sesuatu yang mereka bicarakan adalah hal yang penting.
Sepanjang pagi dia mencoba mengingatnya, tapi yang diingatnya hanyalah rambut hitam panjang seorang gadis yang melambai tertiup angin sepoi-sepoi.
"Aya, kamu sakit?," tanya Tika dengan tatapan khawatirnya. Pikiran Gisel akhirnya kembali pada tempatnya saat Tika memanggilnya.
Sudah berkali-kali Tika bertanya padanya karena melihatnya selalu termenung. Tika mengira dirinya sedang sakit. Padahal sebenarnya tidak.
Jangankan Tika, bahkan Rey juga menanyakan hal yang sama tadi pagi saat Gisel terlihat tidak fokus.
"Aku nggak apa-apa. Aku hanya ..."
Tika tiba-tiba teringat sesuatu. Dia langsung memotong pembicaraan Gisel. "Apa kamu masih mikirin Rafael breng sek yang kemarin nyakitin kamu?"
"Apa? Siapa? Rafael gangguin kamu? Dia ke rumah? Kamu diapain?" Adit yang mendengar ucapan Tika, langsung ikut bertanya.
"Tante Lia kemarin malam telepon papa. Dia cerita semuanya. Papa bilang si Rafael itu hampir melecehkan Aya," cerita Tika.
BRAK!!
"Dia ngapain?!"
Adit terlihat sangat marah. Tangannya yang terkepal baru saja memukuli mejanya hingga membuat semua orang yang ada di kelas menoleh padanya.
"Tidak bisakah kita melakukan sesuatu untuk mengatasi ini?," tanya Adit geram.
"Tante Clara selalu mengatakan dia cuma tamu. Jadi Papa tidak bisa melarangnya untuk datang kembali," jelas Tika yang semakin menambah kemarahan Adit saat mendengarnya.
"Tapi kamu jangan khawatir, Aya. Kalau papa nggak bisa atasi ini, aku sendiri yang akan menghajarnya," seru Tika.
"Ya! Aku juga!," sahut Adit.
Gisel hanya diam menatap kedua orang sahabat Kanaya yang sedang berapi-api membakar kemarahan mereka. Dia merasa ragu mereka bisa mengatasi Rafael yang seperti itu.
"Apa yang bisa anak SMA lakukan pada seorang Rafael yang seperti itu?," pikir Gisel.
Seiring berjalannya waktu dan kesibukannya di sekolah, Gisel akhirnya sudah tidak lagi memikirkan mimpinya itu. Terutama, ketika dia menerima pesan dari Satrio.
"Om akan jemput kamu nanti siang setelah pulang sekolah. Apakah ada waktu?"
Gisel menjawab, "Baik, Om. Jemput agak jauh dari sekolah saja. Agar tidak ada yang curiga."
Dan karena itulah, Gisel berjalan agak jauh setelah keluar dari sekolah. Sambil terus waspada terhadap orang-orang yang kemungkinan dia kenal, Gisel terus berjalan menghampiri mobil hitam yang sudah menunggunya di ujung jalan. Gisel juga melihat Rendi yang berdiri menunggunya di samping mobil.
Dari kejauhan, Rey yang mengenali mobil Satrio sedang bertanya pada dirinya sendiri.
"Kanaya kenal Pak Satrio? Mereka akan kemana?"
__ADS_1
Sedangkan dari tempat yang berbeda, Adit yang baru saja melihat papanya naik ke dalam mobil yang tidak dia kenali bersama dengan Kanaya, juga memiliki pertanyaan yang hampir sama.
"Kanaya? Papa? Mereka mau kemana?"
......................
Ternyata, Satrio membawa Gisel ke kantor untuk mengatasi beberapa masalah dalam proyek dan juga menandatangani beberapa dokumen penting.
"Kalau dokumen ini terlalu lama tidak ditandatangani, mereka akan mengira semua rumor itu benar. Meskipun ini bukan kamu sepenuhnya, setidaknya kamu masih ingat tanda tanganmu, kan? Ternyata Tuhan masih mau menyelamatkan kita."
Dan Gisel pun setuju dengan itu. Tentu saja dia masih ingat tanda tangannya sendiri. Tapi dia tidak setuju dengan Satrio tentang Tuhan. Dia masih marah pada Tuhan karena memberinya kehidupan yang aneh seperti ini.
Pembicaraan Satrio dan Rendi selanjutnya adalah seputar masalah-masalah kecil yang biasanya terjadi dalam proyek. Hal-hal yang hanya bisa diputuskan oleh Gisel, kini bisa dilanjutkan kembali.
Semua pembicaraan itu membuat semangat Gisel kembali muncul. Inilah yang sangat Gisel inginkan lakukan sejak dia terbangun menjadi Kanaya.
"Mengenai informasi keluarga Bharatajaya, Om sudah kirimkan filenya. Dan ini adalah peralatan yang kamu minta kemarin," kata Satrio seraya menyerahkan sebuah kardus kecil.
Gisel menerima kotak kecil itu dan mengintipnya sebentar. Dia tersenyum sebentar sebelum dia menutup kembali kotak itu.
"Sepanjang yang saya tahu tentang Clara, dia terlihat sangat menyayangi Kanaya. Tapi, sangat berbeda kalau Adit yang bercerita. Katanya, Clara dan Nabila lebih sering menyiksa Kanaya," kata Rendi yang juga ikut berkomentar.
"Apakah mereka sering menyiksamu?," tanya Satrio cemas.
"Mereka nggak akan berani."
Satrio juga melaporkan informasi mengenai Rafael. Siapa yang menyangka, ternyata dia adalah seorang pengacara.
"Rafael Diandra, pengacara, 35 tahun. Sepertinya sudah kenal dengan Clara 5 tahun terakhir ini. Dia banyak membantu Clara mengurus berbagai masalah. Terakhir kali, beberapa bulan lalu, sepertinya masalah perusahaan milik Farhan."
"Mereka sepertinya punya hubungan lebih dari itu," kata Gisel yang terlihat mengerutkan dahinya. Dia punya kecurigaan yang belum terjelaskan mengenai Clara dan Rafael.
"Yang Om tahu, Rafael bukan pengacara yang baik. Dia sering terlibat masalah. Baru-baru ini, pelecehan seksual terhadap pelayan bar saat dia sedang mabuk. Yang masih dalam proses hukum adalah kasus pemukulan seorang karyawan swasta. Sepeda motornya menabrak mobil Rafael. Tapi, sepertinya kasus ini dibiarkan mengambang begitu saja."
Pembicaraan mereka selanjutnya mengarah pada surat wasiat yang dibuat Farhan sebelum meninggal. Surat wasiat yang menyerahkan seluruh hartanya hanya kepada Kanaya, dan membagi sedikit bagian untuk Clara, Nabila, dan Adrian.
Dalam surat itu, selama Kanaya belum mencapai usia 18 tahun, perusahaan akan diawasi oleh orang kepercayaan Farhan. Dan setiap keputusan yang menyangkut perusahaan harus mendapatkan persetujuan Kanaya. Untuk kebutuhan sehari-hari, masing-masing dari ahli waris mendapatkan jatah setiap bulannya.
"Kanaya tahu soal ini?," tanya Gisel.
"Iya. Semua dibacakan oleh Bagas saat pembacaan surat wasiat di depan semua ahli waris," jawab Satrio.
"Bagas bagaimana? Apakah dia bisa dipercaya?"
"Dia sahabat Farhan sejak mereka masih sekolah. Mereka sudah dekat sejak lama. Dia dipercaya Farhan menjadi pengacara selama bertahun-tahun. Jika bukan pengacara, mungkin dia akan jadi orang kepercayaannya di perusahaan," jawab Satrio.
"Tapi, mungkin lebih baik begitu. Sebagai pengacara, Bagas sudah sering membantu melindungi Kanaya dari Clara. Dia juga beberapa kali menggagalkan usaha Clara mengambil alih aset perusahaan," kata Rendi yang ikut menambahkan.
__ADS_1
Satrio menambahkan poin penting dalam surat wasiat itu. Clara diwajibkan untuk merawat Kanaya hingga umurnya 18 tahun. Selama itu tidak boleh terjadi sesuatu pada Kanaya. Jika Kanaya terluka atau yang paling parah meninggal karena sebab yang tidak wajar, seperti kecelakaan, keracunan, atau terbunuh, maka secara otomatis semua harta warisan yang diberikan pada Clara, Nabila, dan Adrian akan dibatalkan. Mereka tidak akan mendapatkan apapun.
"Pantas saja, mereka terlihat ketakutan setiap kali aku merengek kesakitan," kata Gisel mengingat-ingat saat pertama kali dia mengerjai Clara.
"Tapi, bukankah itu klausul yang cukup aneh untuk sebuah surat wasiat?," tanya Rendi.
"Hhmm ... aku rasa tidak. Ini artinya Farhan mengetahui sesuatu bahwa Clara bisa sangat berbahaya untuk Kanaya, tapi dia tidak bisa menjauhkannya dari Kanaya. Karena itu dia membuat surat wasiat ini untuk melindungi Kanaya," jelas Satrio.
Gisel memahami maksud Satrio. Tapi dia tidak mengerti apa yang membuat Farhan tidak bisa menjauhkan Clara dari kehidupan Kanaya. Apa yang membuat Clara begitu kuat?
"Surat wasiat Emma!," seru Gisel.
"Emma?"
"Mamanya Kanaya. Dahlia, adiknya mengatakan bahwa dia sulit mendapatkan hak asuh Kanaya karena surat wasiat Emma. Bisakah om mencari tahu soal itu?," tanya Gisel.
"Baiklah. Om akan cari tahu soal ini."
Tok, tok, tok ...
Saat pintu ruang pertemuan itu diketok, semua menjadi diam. Gisel tidak lagi melanjutkan pembicaraannya.
"Maaf, Pak Satrio. Minumannya kelamaan. Hehe ..."
Gisel langsung menghela napasnya begitu dia melihat sekretarisnya, Risa. Sekretaris yang sudah cukup lama bekerja dengannya itu adalah sekretaris yang sangat dia percayai, meskipun penampilan dan kelakuannya akan membuatnya kesal setiap hari.
Gisel memilih diam selama Risa memberikan laporannya pada Satrio. Itu yang biasanya dia lakukan setiap hari jika Gisel tidak berada di tempat. Satrio lah yang akan membantu menyampaikan pesan Risa pada Gisel.
Tepat di saat Risa meletakkan gelas minuman di hadapannya, Risa memandangi dirinya.
"Lho, Bu Gisella ternyata disini. Tahu gitu saya kan tadi laporannya sama ibu saja."
DEG!
Gisel terkejut saat Risa menatapnya dan mengatakan hal itu.
"K-kamu salah lihat, ya? Itu bukan Bu Gisella. Dia keponakannya Pak Satrio," kata Rendi yang tampaknya juga terkejut dengan perkataan Risa.
"Eh? Masak?"
Risa memperhatikannya lagi. Dia semakin mendekat pada Gisel hingga Gisel merasa bertambah gugup dan risih.
"Apa yang kamu lihat, Risa?," tanya Satrio dengan tenang.
"Bu Gisella, Pak. Tapi ... kok wajahnya beda ya?"
Gisel yang sedari tadi merasa risih karena Risa yang semakin mendekat, kini dia hanya memandangi Risa tanpa ekspresi apapun.
__ADS_1
"Bagaimana dia bisa tahu?," pikir Gisel.