Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 48 : Pertemuan yang Berbahaya


__ADS_3

Gisel memandangi sekelilingnya. Sepi. Tidak ada siapapun kecuali pepohonan. Gelap. Hanya ada cahaya bulan yang menerangi. Dingin, karena udara malam yang terbawa angin hingga membuat Gisel dapat merasakan betapa menusuknya udara dingin malam itu.


Berbeda dengan pertemuannya yang terakhir kalinya, Rafael kali ini meminta mereka bertemu di tempat yang cukup terpencil, jauh dari jalan besar ataupun tempat keramaian orang-orang. Entah apa rencananya.


Saat Rafael memberikan lokasi pertemuan itu, Gisel sudah merasakan sesuatu yang aneh dari pertemuan itu. Karena itu, dia langsung menolaknya. Tapi, Rafael ternyata sudah punya rencana lain. Dia mengirimkan foto Ian yang sedang bersamanya. Pada akhirnya, mau tidak mau, Gisel akhirnya berangkat juga.


Dengan membawa dokumen yang diminta Rafael, Gidel akhirnya pergi ke lokasi yang diminta Rafael itu.


Cukup lama Gisel berdiri di tengah lahan kosong yang hanya dikelilingi pepohonan. Tidak ada seorangpun yang muncul untuk menemuinya, Rafael pun tidak. Entah dimana pria itu, dia seharusnya sudah ada di sana, kan?


Hingga akhirnya, Gisel melihat sebuah bayangan orang yang keluar dari kegelapan yang ada di depan Gisel. Bayangan seorang pria yang dia kenal. "Rafael ...," pikirnya.


"Dimana Ian?," tanya Gisel langsung tanpa basa-basi.


Rafael langsung memberikan tanda pada seseorang yang ada di dalam mobil. Orang itu membuka jendelanya, dan terlihat Ian yang diikat dan dibekap mulutnya.


"Ian! Tunggu di sana, ya," teriak Gisel. Anak itu langsung mengangguk dengan cepat.


"Dokumennya sudah dibawa?," tanya Rafael.


Gisel mengangkat map yang dipegangnya, lalu melambaikannya di hadapan Rafael.


"Ternyata banyak juga ya hasil pancingan kalian," sindir Gisel.


Rafael tertawa. Bahkan dengan jarak mereka yang cukup jauh, Gisel dapat mendengar nada sinis dalam tawanya itu.


"Tidak perlu repot-repot menjadi hakim. Nggak cocok sama kamu," balas Rafael.


Rafael melangkahkan kakinya ke arah Gisel pelan-pelan tapi pasti. Udara di sekitarnya semakin lama semakin dingin terasa. Gisel tiba-tiba menyesali keputusannya tidak mengenakan jaket.


"Lepaskan Ian!," perintah Gisel.

__ADS_1


"Tenanglah dulu. Dia pasti akan kulepaskan. Sekarang katakan padaku, sudah dapat bukti-bukti yang kamu inginkan?," tanya Rafael setengah menyindir.


Gisel hanya menaikkan ujungnya bibir menandakan ketidaksukaannya ada pertanyaan Rafael itu.


"Kamu sama saja dengan Clara. Kamu juga adalah penjahatnya," kata Gisel geram.


"Haha ... Tapi Clara yang merencanakan semuanya. Aku hanya menjalankan perintahnya," kata Rafael yang tidak memperlihatkan sedikitpun rasa bersalah.


"Kamu pikir aku akan diam saja. Semua bukti-bukti itu cukup membuat kalian berada di penjara untuk waktu yang sangat lama." Gisel tidak berhenti memelototinya. Rasa marah yang besar terus teroancar jelas dari kedua matanya. Meski demikian, Rafael sama sekali tidak terlihat menciut mendengar ancaman Gisel itu.


"Kamu lupa satu hal, sayang. Hukum itu baru bisa dijalankan kalau ada pelakunya. Kalau aku tertangkap, mereka bisa menghukumku, tapi kalau nggak ..." Rafael mengangkat kedua bahunya dan memainkan bibirnya itu. Terlihat sekali dia sangat meremehkannya.


"Dan satu lagi ... kamu lupa siapa aku? Aku punya banyak kenalan yang akan membantu melindungiku. Aku hanya perlu memberikan apapun yang mereka inginkan, dan aku akan menjadi tak terlihat. Pyiuu ..." Rafael memainkan tangannya, lalu membuat suara dengan mulutnya itu.


Dan dengan kalimat itu, Gisel langsung teringat sesuatu. "Corens! Jadi itu alasannya dia mendekati Corens," pikir Gisel.


"Jika ingin menyelamatkan diri, setidaknya bawa anakmu juga bersamamu," bentak Gisel. "Orang tua macam apa yang tega melukai anaknya seperti ini?"


Rafael terdiam. Dia memandangi Gisel tanpa ekspresi apapun. Tapi kemudian, sudut bibirnya terangkat. "Jadi, kamu sudah tahu rahasia yang lain? Sepertinya kamu sudah menemukan yang disembunyikan Farhan di ruangan itu?"


"Aku tidak tahu dimana dia menyembunyikannya. Tapi aku tahu apa yang disembunyikannya, dan apa tujuannya," jelas Rafael.


"Kalau kamu tahu, untuk apa kamu menyuruhku mengambil barang-barang kalian?," kata Gisel.


"Karena aku butuh kamu untuk datang bersama dengan pengawal barumu itu."


Bertepatan dengan itu, Rafael menjentikkan jarinya. Dan beberapa detik kemudian, puluhan orang sudah mendorong mundur semua pengawal Gisel mendekat ke arah Gisel berdiri saat ini.


Gisel memperkirakan Rafael akan melakukan sesuatu padanya, karena itu dia datang dengan pengawal yang lebih banyak dari biasanya. Tapi ternyata, kedatangan Gisel sudah diperhatikan sejak awal. Mereka mempersiapkan lebih banyak pengawal.


Permasalahannya bukan itu sekarang.

__ADS_1


Seorang pria datang bersamaan dengan langkah maju para pengawal yang mengepung Gisel dan pengawal-pengawalnya.


"Corens ...," panggil Gisel dalam hatinya.


Tidak jauh dari Corens, di belakangnya Gisel dapat melihat Clara sedang berjalan ke arahnya.


"Kenapa aku sudah nggak heran lagi dengan semua ini?," kata Gisel sinis.


"Well ... ternyata benar. Anak ini pasti kesayangannya Gisella. Lihatlah, dia bahkan dikelilingi oleh pengawal eksklusif Gisella," kata Corens.


Kali ini, Clara maju mendekati Corens. "Ternyata, prediksi Tuan tepat sekali. Saya yang ibu tirinya saja tidak pernah menduga hal ini."


"Jadi, kalian mendapatkan perlindungan, asalkan kalian menyerahkan aku ke dia?," tanya Gisel.


Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Gisel. Mereka hanya tersenyum melihat Gisel yang sudah terpojok.


Gisel pun ikut tersenyum, meski terpaksa.


"Katakan saja, bagaimana kamu menghubungi Gisella?," tanya Corens tiba-tiba.


"Bukankah aneh ya kalau bertanya pada saya? Saya hanya pelajar, saya nggak tahu apa-apa," jawab Gisel dengan ketus.


"Atau, Gisella memang tidak bisa dihubungi karena dia sedang koma."


Kedua mata Gisel langsung terbelalak lebar mendengar ucapan Corens itu. Dia terus menatap tajam ke arah Corens dengan pertanyaan di kepalanya, "Dia tahu?"


"Ah, ternyata benar," kata Corens saat dia melihat reaksi Gisel.


"Mereka adalah pengawal yang selalu berada di dekat Gisella. Melihat kamu mendapatkan previlege itu, aku rasa kamu pasti memiliki hubungan yang istimewa dengan Gisella. Kita akan lihat, seberapa istimewanya dirimu."


Dalam hitungan detik, pandangan Gisel mendadak menjadi gelap. Gisel merasakan sesuatu menutupi wajahnya. Bersamaan dengan itu, dua orang sedang memegangi kedua lengannya. Gisel dibawa ke suatu tempat yang tidak Gisel ketahui.

__ADS_1


Berkali-kali, Gisel mencoba berontak melawan, tapi pegangan mereka menjadi begitu erat. Entah apa rencana mereka selanjutnya, tapi yang Gisel khawatirkan saat ini adalah Ian.


Di saat Gisel terus menggerakkan tubuhnya untuk melepaskan dirinya, di saat itulah dia merasakan sentakan pada bagian lehernya. Seseorang baru saja memukulinya untuk membuatnya tidak sadarkan diri. Dna dalam hitungan detik, Gisel sudah tidak tahu lagi apa yang sedang terjadi.


__ADS_2