Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 28 : Pelaku Teror, Tertangkap Kau!


__ADS_3

Gisel turun dari mobil yang mengantarkannya ke sekolah dengan segera. Dia bahkan meninggalkan Nabila tanpa mengatakan apapun. Padahal biasanya, Nabila lah yang meninggalkannya lebih dulu, karena Gisel selalu memasuki gerbang sekolah dengan enggan.


Tujuannya saat ini cuma satu, dia ingin segera menemui Rey untuk memintanya penjelasan. Karena tidak ada satupun dari mereka yang kemarin datang dan terlibat dalam keributan itu dapat memberikannya penjelasan.


Bahkan di saat Clara sudah mengembalikan laptop dan juga ponsel milik Kanaya, Gisel masih berusaha menghubungi mereka satu persatu, mulai dari Bagas, hingga Satrio. Tapi, mereka seakan-akan sudah sepakat untuk menjawab dengan jawaban yang sama.


"Nanti Reynard yang akan menjelaskannya."


Gisel semakin kesal, karena pria yang ditunjuk oleh semua orang untuk menjelaskan semua hal padanya seperti sedang mengabaikan panggilannya. Dia tidak menjawab satupun panggilan atau pesannya.


Gisel tidak berencana menunggu Rey untuk mencarinya. Keinginannya untuk segera mendapatkan jawaban begitu besar hingga dia memutuskan untuk langsung mencari Rey. Gisel langsung mendatangi ruang olahraga, tempat dimana dia dan Rey selalu bertemu setiap pagi.


"Tenang, Gi. Sabar dulu," kata Rey begitu dia menemukan Gisel sudah berdiri di belakangnya saat dia sedang membuka kunci ruang olahraga.


Gisel terus memelototi Rey. Sedangkan Rey, dia masih terlihat santai. Dia bahkan masih bisa tertawa saat meminta Gisel untuk bersabar.


"Makan ini dulu. Nanti aku ceritakan. Kamu pasti buru-buru ke sekolah, terus nggak sarapan, kan?," kata Rey seraya memberikan sekotak roti krim kesukaan sahabatnya itu.


Gisel masih marah saat dia menerimanya. Tapi dia tetap memakannya. Rey tahu bagaimana menjinakkan kemarahan seekor macan yang sedang lapar. Tentu saja, kini dia tahu Kanaya adalah Gisel. Dia tahu bagaimana mendamaikan Gisel yang saat ini sedang punya banyak pertanyaan padanya.


"Kamu masih ingat waktu kita mengirim Clara dan yang lainnya agar keluar dari rumah untuk sementara waktu?," tanya Rey setelah dia mendapatkan tempat terbaik untuk duduk menghadap Gisel yang sedang melahap rotinya.


Dari penjelasan Rey, akhirnya Gisel memahami alasan Rey memutuskan bertunangan.


Saat Gisel mengirim Clara pergi berlibur, dia melupakan seseorang yang sama pentingnya dengan Clara sendiri, yaitu Rafael.


Ketika mereka sibuk memindahkan barang-barang Emma, Rafael ternyata ada di dekat rumah Kanaya memperhatikan semua aktifitas yang terjadi di sana. Saat Rey memeriksa CCTV yang sengaja diletakkan di dekat rumah Kanaya waktu itu, saat itulah Rey tahu tentang ini.


Cerita selanjutnya mungkin sudah bisa diduga apa yang akan dilakukan Rafael. Dan ternyata memang benar, dia menceritakannya pada Clara yang akhirnya membuat Clara semakin berani merencanakan pernikahan itu.


"Pantas saja. Barang-barang Emma disimpan di gudang belakang. Dia hampir tidak pernah memeriksa ke sana. Aku memperkirakan setidaknya butuh waktu yang cukup lama sampai dia menyadarinya. Jika dia percaya Bik Idah berhenti kerja, maka seharusnya semua akan baik-baik saja sampai waktunya tiba aku gunakan ancaman Clara untuk menyerangnya di kemudian hari."


Tidak berhenti sampai di situ, Rey menjelaskan peran Rafael dalam pernikahan Tuan Abraham dan Kanaya. Rafael ternyata adalah pengacara yang disewa Tuan Abraham untuk mengurus masalah pernikahan di bawah umur yang dilakukan Tuan Abraham dengan anak remaja lain.


Kasus yang diurus Rafael ini berakhir tanpa masalah, tapi kemudian Rafael menawarkan anak remaja lainnya, dan itu adalah Kanaya. Dengan iming-iming uang pada Clara, Rafael berhasil membuat Clara mau menandatangani kontrak dengan Tuan Abraham. Tapi Rey curiga Rafael juga mendapatkan sesuatu dari kontrak itu, dan Clara hanya mendapatkan sisanya.


"Meski itu cuma sisanya, aku yakin nomimalnya sangat besar hingga membuat Clara tergiur," kata Gisel seraya menerima sebotol air dari Rey.


"Memang besar. Uang tunai 250 juta setiap bulan selama masa kontrak enam bulan. Itu yang didapat Clara. Bayangkan berapa yang di dapat Rafael? Aku yakin ada lebih dari satu milyar, karena dia orang yang serakah."


"Sekarang aku nggak heran melihat Rafael kemarin marah besar pada Clara. Bahkan Clara nggak berani menatapnya," kenang Gisel.

__ADS_1


Untuk menghindari Clara melakukan usaha yang lain untuk menikahkan Kanaya, yang akhirnya malah semakin membahayakan Gisel, Rey akhirnya memutuskan untuk bertunangan dengan Kanaya.


"Bagaimana kamu menyakinkan Clara untuk menerima lamaran itu? Kamu tidak menjanjikannya uang, kan?," tanya Gisel. Dia memberikan tatapan penuh kecurigaan pada Rey.


"Sedikit. Hehe ..." Rey menunjukkan tawanya yang tanpa dosa, yang membuat Gisel langsung melotot padanya.


"Jangan khawatir. Pak Bagas sudah mengatur agar Clara tidak menerima apapun selain dari jatah warisannya. Dia sudah sangat marah saat tahu apa yang dilakukan Clara pada Kanaya," kata Rey mencoba menjelaskannya sekali lagi.


"Clara langsung menerima begitu saja?"


"Dengan sedikit ancaman," jawab Rey dengan polosnya tanpa dosa.


"Begitu juga dengan Tuan Abraham," lanjut Rey lagi. "Aku hanya perlu menekannya agar dia mundur dari pernikahan itu. Karena itu, aku meminta Pak Bagas ke tempatmu lebih dulu untuk mengulur waktu."


Tapi Rey tidak menjelaskan cara apa yang dia pakai untuk membuat mereka mematuhinya meski Gisel memaksa.


"Itu nggak penting. Yang penting sekarang ini kamu bisa tenang soal Tuan Abraham," begitu Rey menjawabnya.


"Tapi aku nggak bisa tenang begitu saja. Setelah semua kejadian kemarin, aku jadi semakin yakin Rafael dapat mengendalikan Clara. Itu artinya Rafael tidak akan berhenti begitu saja."


Gisel kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi selama dia menjadi Kanaya pada Rey. Mulai dari kejadian saat pertama kali dirinya bertemu dengan Rafael, hingga saat Rafael dengan mudahnya melemparkan Ian ke atas hanya untuk mengancam Gisel.


Gisel memang akan meminta Rey mengajarinya, tapi dia tidak menyangka Rey akan melakukannya secepat itu. Dengan mengingat semua kejadian yang baru terjadi, dia merasa mungkin dia memang membutuhkannya dengan segera.


"Tadi malam aku bermimpi tentang Ian. Tidak heran Clara menggunakan Ian untuk mengancam Kanaya, karena Kanaya lah yang merawat Ian sejak anak itu lahir. Meskipun Clara adalah ibunya, Clara sama sekali tidak mempedulikannya. Kanaya sangat menyayanginya," kata Gisel. Pandangannya menerawang jauh mengingat semua yang dia lihat dalam mimpinya semalam.


"Itu mimpi?"


"Aku terkadang melihat ingatan Kanaya melalui mimpi. Aku menganggapnya itu cara Kanaya berkomunikasi denganku. Dia terkadang memberitahuku sesuatu melalui mimpi."


Gisel kemudian teringat mimpi lain yang dia lihat sebelum dia terbangun di rumah sakit terakhir kalinya. Dia masih belum bisa mengingat apa yang dikatakan Kanaya dalam mimpi itu. Hanya kata 'maaf' yang bisa dia ingat. Tapi, mengapa dia meminta maaf?


"Jadi, apa rencanamu?," tanya Rey setelah itu.


"Aku harus menjauhkan Rafael dari Clara. Untuk itu, aku harus cari tahu siapa sebenarnya Rafael bagi Clara," jelas Gisel.


"Pastikan kamu berhati-hati, Gi. Rafael bukan orang yang sembarangan."


Gisel paham yang dimaksud Rey. Seseorang yang bisa dengan tega memperlakukan anak kecil seperti Rafael memperlakukan Ian kemarin entah apapun namanya itu, orang itu jelas bukan orang yang tidak punya hati.


......................

__ADS_1


Perjalanan dari ruang olahraga ke ruang kelas cukup jauh, karena posisinya yang berada jauh di belakang sekolah dekat dengan lapangan.


Beberapa menit sebelum bel berbunyi, Rey menyuruh Gisel untuk kembali lebih dulu. Dia akan keluar setelahnya, begitu katanya. Karena itu, saat ini Gisel sedang menyebrangi lapangan untuk kembali ke kelasnya.


Saat Gisel berada di tengah lapangan, dia merasakan sesuatu yang mencurigakan. Dia menangkap sebuah gerakan dari balkon di lantai atas. Sekilas Gisel melihat punggung seseorang yang mengenakan pakaian berwarna putih.


"Hah! Kali ini pasti ketangkap!"


Gisel kemudian berlari menuju tangga yang akan membawanya ke atas.


"Ka ..."


Panggilan Rey langsung dihentikan oleh Gisel.


"Sst ..." Jari tangannya direkatkan pada bibirnya seraya terus berlari.


Rey akhirnya mengikuti Gisel dari belakang.


Saat Rey hampir mendekati tangga, Gisel melarangnya ikut naik. Dia memberi tanda pada Rey agar mereka tetap mengira Gisel masih di bawah. Rey memahaminya.


Gisel mengintip dari anak tangga, dua anak laki-laki yang sama-sama adalah murid sekolah itu sedang mengintip ke bawah dari balik dinding balkon. Gisel kembali memberi tanda pada Rey. Dan di saat itu, secara bersamaan mereka melakukan tugas mereka. Gisel bersiap untuk menyergap mereka, dan Rey berjalan ke arah lapangan untuk membuat mereka itu Kanaya dan tetap melakukan niat buruk mereka.


BYAR!!


Ternyata seember air sudah siap di dekat mereka. Dan begitu Rey melintas, secara bersama-sama mereka mengguyurnya ke bawah. Gisel dapat melihat mereka masih kaget dan tercengang melihat siapa yang baru saja mereka guyur. Itulah kesempatan Gisel untuk menangkap mereka.


"Hei, nyariin siapa?"


Begitu mereka menoleh, Gisel tidak menunggu lagi, dia langsung menghantamkan buku kamus tebal yang sedari tadi dibawanya melayang tepat di wajah salah satu anak itu. Anak yang lain bersiap akan kabur, Gisel kembali menghantamkan bukunya ke kepalanya. Keduanya kini jatuh ke bawah dengan wajah memelas menatap Gisel yang ada di atas mereka.


Rey muncul kemudian dengan kondisi sudah basah kuyup.


"Pfft ..."


"Jangan coba-coba ketawa!," perintah Rey.


Gisel mencoba sekuat tenaganya untuk menahannya.


"Ada apa ini?"


Sebuah suara dari seorang wanita menghentikan niat Gisel untuk menertawakan Rey.

__ADS_1


__ADS_2