
Dua hari berada di rumah, hanya makan, tidur, dan main, benar-benar membuat Gisel mati kebosanan. Dia yang berusaha mencari alasan untuk menunda sekolah, kini tidak punya alasan lain selain kembali ke sekolah.
Tapi, pilihan apa yang dia punyai sekarang? Selama apapun dia menundanya, dia tetap harus kembali ke sekolah. Karena tubuh Kanaya adalah tubuh seorang remaja 15 tahun.
Masalahnya adalah Gisel memikirkan banyak hal di kepalanya saat dia membayangkan dirinya pergi ke sekolah.
"Bagaimana caranya bergaul di era sekarang???"
"Bagaimana kalau aku terlihat seperti anak paling tolol??"
"Matematika ... Kimia ... Fisika ... Sosiologi ...? TIDAAAKK!!"
Langkah gontai Gisel begitu turun dari mobil yang mengantarnya mengawali harinya memasuki gerbang sekolah. Nabila yang juga berangkat bersamanya sudah lebih dulu berjalan di depannya dan meninggalkannya.
"Ayyyaa ..."
"Tidak ...," seru Gisel lirih. Dia mendadak harinya akan semakin buruk begitu mendengar suara Tika yang sudah memanggilnya dari kejauhan.
"Kamu kenapa? Kok lemes? Kamu belum sarapan? Atau masih sakit, ya?," tanya Tika seraya mengulurkan tangannya menyentuh kening Gisel untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Sepertinya nggak ...," kata Tika lagi tanpa menunggu Gisel menjawab semua pertanyaannya.
Dia lalu menarik lengan Gisel. "Ayo, buruan ke kelas ... Aku anterin kamu ke kelas, kamu pasti lupa, kan?"
Gisel mengikuti ajakan Tika tanpa ada kesempatan untuk bisa menolak.
"Kelas X-2," ucap Gisel lirih membaca papan tanda ruang kelas yang dipasang di atas pintu kelasnya.
Di dalam ruangan itu sudah ada banyak anak yang sudah datang. Ada beberapa anak yang begitu melihatnya langsung menyapa. Beberapa lagi hanya sibuk dengan obrolan atau pekerjaan mereka.
"Nah, mejamu disini," kata Tika seraya menunjukkan salah satu kursi yang ada di tengah ruangan. Lalu, setelah itu, Tika meletakkan tasnya di kursi yang ada di sampingnya.
Tanpa sengaja, Gisel melihat Adit sedang mengobrol dengan temannya. Saat Adit melihatnya, dia melambaikan tangannya.
Gisel tidak tahu harus melakukan apa. Yang dia lakukan hanyalah duduk di kursi itu dan mulai melihat-lihat keadaan di sekitarnya.
Meskipun saat ini dia sedang berada dalam tubuh seorang anak remaja, tapi pikirannya adalah pikiran Gisel yang lama. Dia tidak paham apa saja yang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Tolong, selamatkan aku ...," batinnya.
Tak berapa lama, suara bel terdengar cukup keras. Seluruh anak di ruangan itu yang tadinya mengerumuni temannya, kini mulai duduk di tempatnya masing-masing.
Adit tiba-tiba menepuk pundaknya pelan. "Kalau kamu merasa tidak enak badan, bilang ya. Biar nanti istirahat di UKS saja," katanya, lalu duduk di kursi yang di samping berlawanan dengan Tika.
Tak lama setelah itu, seorang pria tinggi melewati pintu ruang kelas itu. "Selamat pagi, anak-anak," sapanya yang dijawab oleh semuanya yang ada di kelas.
Dalam hitungan detik, Gisel lalu berdiri. Suara kursi yang bergeser memecah kesunyian kelas hingga mengakibatkan menarik perhatian semua orang tertuju pada Gisel.
"Kamu!! Rey!!! ... apa yang kamu lakukan disini?," seru Gisel seraya menunjuk pria itu dengan jari telunjuknya.
Seluruh anak dalam kelas mulai berbisik membicarakan Kanaya yang mereka lihat saat ini sedang menunjuk guru mereka.
Rey, pria itu, menatap lurus ke arah Gisel.
"Ya, Kanaya," jawab Rey. "Saya Reynard, wali kelasmu. Jangan lupa panggil saya Pak Reynard, karena saya adalah gurumu."
Gisel mendadak ingat, dia adalah Kanaya. Tapi, melihat Reynard yang menjadi guru, itu lebih mengejutkannya hingga dia melupakan semua hal tentang Kanaya.
Rey adalah sahabatnya sejak dirinya masih SMA. Dan yang dia tahu, Rey bukanlah guru. Dia adalah memimpin perusahaan milik ayahnya. Tapi, mengapa Rey ada disini? Apa yang sedang dia lakukan disini?
Gisel langsung duduk di atas kursinya tanpa banyak bertanya lagi, meski raut wajahnya masih menunjukkan kebingungan.
"Aya! Kamu kenapa?," bisik Tika dengan keras yang ada di sampingnya.
Tapi Gisel tidak menjawab. Dia terus memandangi Rey yang sudah memulai kelas hari itu. Dia juga tidak mendengarkan apa saja yang Rey katakan. Dia hanya bertanya-tanya, apa yang sedang Rey lakukan di sekolah ini?
"Kanaya, ikut saya ke ruang guru sekarang," perintah Rey dengan jelas didengar oleh Gisel saat akhir jam pelajaran saat itu.
Gisel berdiri dan mengikuti Rey dengan langkah berat. Dia juga tidak mempedulikan tatapan Tika dan Adit yang khawatir.
"Dia pasti akan memarahiku," batin Gisel.
Dia dan Rey bersahabat sudah sangat lama. Mereka bahkan kuliah di luar negeri bersama-sama. Selepas kuliah mereka masih bertemu meskipun tidak sering. Tapi, Rey yang paling banyak membantu Gisel dalam hal apapun termasuk masalah pekerjaan.
Karena persahabatan mereka yang sangat lama, Rey selalu menjaganya. Gisel tidak tahu apakah semua bentuk perhatian Rey itu karena mereka adalah sahabat atau karena kenangan adiknya yang sudah meninggal. Dia juga tidak berani bertanya. Pada akhirnya yang dia lakukan adalah terus menjadi sahabat Rey hingga akhir waktu yang tidak Gisel ketahui kapan.
__ADS_1
Dan, tentu saja dimarahi Rey itu bukan hal yang pertama. Tapi, bagi Gisel, setiap kali pria itu memarahinya, Gisel hanya bisa diam dan tidak berani mengatakan apapun.
"Kamu baik-baik saja? Apa kamu sudah benar-benar sehat sehingga kamu kembali ke sekolah hari ini?," tanya Rey saat mereka sudah berada di ruang guru.
"Eh ..." Gisel terkejut karena ternyata semuanya tidak seperti yang dia pikirkan.
"Kamu masih sakit?," tanya Rey lagi.
"Saya, saya tidak apa-apa. Hanya kaget," jawab Gisel singkat menutupi kegugupannya.
"Saya sudah dapat laporannya. Katanya kamu terkena amnesia, ya? Jangan terlalu dipaksakan. Kalau merasa tidak sehat, istirahat saja di UKS. Mengenai teman-teman sekelasmu, mereka sudah tahu mengenai amnesia yang kamu alami. Jadi, saya sudah memperingatkan mereka untuk tidak memaksamu, dan bersikap seperti biasa."
Gisel benar-benar yakin pria yang ada di hadapannya ini adalah Reynard Hardiyanto. Karena cuma Rey yang bisa begitu terhadap seseorang.
"Terima kasih, Pak. Atas perhatiannya," jawab Gisel.
Gisel akhirnya dipersilahkan kembali ke kelas untuk pelajaran selanjutnya, setelah Rey selesai memberitahunya ini itu. Setelah memohon diri, dia keluar dari ruangan itu.
Gisel sedang berjalan menyebrangi lapangan sekolah untuk kembali ke kelasnya. Saat tiba-tiba sesuatu menghantamnya.
Splash...!
Begitu benda yang tidak Gisel ketahui mengenai tubuhnya, seketika itu juga seragam sekolahnya menjadi basah kuyup. Gisel memandangi tubuhnya dengan perasaan marah. Dia melihat sobekan bahan seperti karet berwarna kuning.
"Balon?," tanya Gisel lirih.
Dia langsung menengadahkan kepalanya ke atas untuk mencari pelaku yang melakukan ini padanya. Karena dia merasa seseorang melemparnya dari atas. Tapi, dari 4 lantai yang dia telusuri dari bawah, tidak ada gerakan yang terlihat.
"Ada apa? Mengapa kamu basah kuyup?"
Ternyata Rey datang menghampiri setelah melihat sosok Kanaya sedang berdiri di tengah lapangan dengan kondisi seperti itu.
Gisel hanya memberikan potongan balon yang tadi tertinggal di bajunya. Matanya masih terus menyusuri balkon sekolah dengan tatapan kemarahan.
Tak lama kemudian, Tika dan Adit datang menanyakan hal yang sama dengan Rey. Tika yang sedang mengenakan jaket langsung mengenakannya pada Gisel.
"Dit, kamu anterin Aya ke UKS dulu. Aku kembali ke kelas untuk ambil seragam gantiku," perintah Tika pada Adit yang segera dilakukannya.
__ADS_1
Pada saat itu, Gisel mengetahui satu hal bahwa ternyata kehidupan sekolah Kanaya tidaklah seindah masa SMA nya dulu. Ada orang yang tidak menyukainya. Dan Gisel memutuskan untuk menangkap orangnya. "Tunggu saja kalian," geram Gisel dalam hatinya.