Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
Bab 63 : Akhir yang Dinantikan


__ADS_3

Perjalanan yang cukup jauh hingga ke luar kota. Jauh dari keramaian, dan hanya dikelilingi pepohonan rindang. Di sanalah tempat Reina beristirahat.


Selesai dengan terapinya, Rey yang sedari pagi menemani Gisel mengajaknya untuk istirahat sebentar di kafe rumah sakit sebelum akhirnya mereka berangkat bersama.


Makam Reina ada di luar kota. Di sebuah lahan kosong di area pegunungan, dekat dengan danau dan juga pemandangan indah di sekitarnya. Karena itu, butuh waktu yang lama untuk bisa ke sana.


Gisel tidak bertanya lagi alasan Rey yang tiba-tiba ingin mengunjungi makam Reina. Dia berpikir, Rey mungkin merindukan almarhum adiknya itu. Karena itu, ketika Rey memintanya, Gisel mengiyakan tanpa banyak bertanya lagi.


Dengan buket bunga di tangannya, Rey terus berjalan menaiki tanjakan langkah demi langkah. Sedangkan Gisel terus menggenggam erat tangan Rey sepanjang perjalanan mereka. Memberikannya kekuatan, karena dia tahu, Rey masih menyimpan banyak kesedihan setiap kali dia mengunjungi makam Reina.


Dan dari genggaman tangan Rey yang menyelimuti jemarinya, Gisel tahu Rey masih menyimpan kesedihan yang sama.


Gisel merapikan makam Reina, sementara Rey berdiri di depan makam tanpa mengatakan apapun. Gisel tahu, Rey saat ini sedang berbicara dengan adik kesayangan itu dalam hatinya.


Gisel tinggalkan Rey agar pria yang dicintainya itu bisa dengan leluasa mengucapkan semua yang ingin dia katakan. Dia menunggu Rey di sebuah gazebo yang ada di dekat makam sembari mengistirahatkan kakinya.


"Ada yang sakit?," tanya Rey tiba-tiba setelah cukup lama Gisel duduk di sana.


"Nggak apa-apa. Cuma nyeri sedikit. Biasanya begitu kalau habis terapi. Kamu sudah selesai?," tanya Gisel dengan cepat mengalihkan pertanyaan Rey agar dia tidak fokus pada kakinya. Dia sedari tadi sedang memijat kakinya tidak menyadari Rey akan datang menghampirinya.


"Sini biar kulihat."


Rey mengambil kaki Gisel dan meletakkannya di atas pangkuannya. Memijat pelan pergelangan kakinya sembari sesekali bertanya pada Gisel jika ada yang sakit.


"Kemarin Reina datang ke mimpiku," mata Rey tiba-tiba saat dia sedang memijat kaki Gisel.


"Rasanya seperti nyata. Suara tawanya, saat dia memanggilku, celotehnya, semua masih terdengar sama. Persis seperti yang kamu ceritakan waktu itu," lanjutnya lagi.


Gisel teringat saat dia di rumah sakit. Dia bercerita banyak hal tentang pengalamannya, termasuk pertemuannya dengan Reina. Rey terdengar antusias saat dia menceritakannya.


"Dia bilang apa saja?," tanya Gisel seraya mengambil kembali kakinya dari Rey, mengatakan padanya dia sudah baik-baik saja. Lalu mendekatkan dirinya pada Rey. Mendengarkan semua yang akan diceritakan Rey padanya.


Kali ini, ada semacam harapan baru dalam setiap ceritanya. Gisel bisa merasakan kedatangan Reina dalam mimpi Rey adalah untuk membuat Rey lebih mengikhlaskan Reina. Bukan untuk melupakannya, tapi untuk membiarkannya bahagia di tempatnya yang baru. Rey terlihat lebih siap kali ini.


Gisel kemudian menggenggam jemari tangan Rey. Dia kembali menyalurkan kekuatannya pada Rey melalui genggamannya itu. Gisel tidak pernah lelah mendengarkan pria itu bercerita.

__ADS_1


"Mama besok akan membersihkan kamar Reina. Barang-barang Reina akan disimpan di gudang. Kamarnya akan dipakai untuk kamar tamu," kata Rey tiba-tiba hingga mengejutkan Gisel.


"Tante nggak apa-apa?," tanya Gisel menyakinkan pernyataan Rey sekali lagi.


"Hmm ... Reina juga mendatangi Mama lewat mimpi. Karena itu, Mama terlihat sangat yakin," cerita Rey.


"Kalau dia memang setuju ... syukurlah. Besok aku ke rumah, ya. Sudah lama juga nggak ngobrol sama Tante," kata Gisel.


Hari sudah hampir sore saat mereka akan bersiap pulang. Gisel sedang membereskan bawaannya saat tiba-tiba Rey merebut tangannya lalu menyelipkan sesuatu di jari manisnya.


Rasanya bercampur jadi satu. Gisel bahkan tidak dapat memutuskan apa yang sebenarnya dia rasakan. Ada rasa bahagia, tapi juga terkejut saat dia melihat sebuah cincin melingkar di jari manisnya itu. Tidak sedikit juga ada rasa heran, untuk apa Rey menyelipkannya di sana.


"Kita menikah, ya," kata Rey kemudian.


Gisel menatap kedua mata Rey lekat-lekat. Dia bisa melihat kesungguhan Rey dari tatapannya itu. Tapi, Gisel masih saja tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya.


"Kamu mau, kan? Menikah denganku, ya."


"K-kamu yakin?," tanya Gisel gugup. Pada dasarnya, dia juga tidak tahu apa yang sedang dia tanyakan.


Gisel mengalihkan pandangannya. Dia menghindari Rey dengan berjalan menjauhinya. "B-bukan begitu maksudku. Aku cuma ..."


Rey kemudian menarik pergelangan tangan Gisel hingga membuat gadis itu kembali padanya. Tangannya segera menangkap tubuh Gisel dan membuatnya menempel padanya. Sehingga dia bisa dengan mudah meraih wajah Gisel dan menciumnya.


"M-maaf ... aku cuma gugup," kata Gisel saat Rey melepaskan ciumannya. Kedua matanya tertutup karena dia masih tidak berani menatap kedua mata Rey.


Tapi kemudian, Gisel memukul dada bidang milik Rey itu.


"Kamu juga! Jangan bikin orang terkejut seperti itu!," bentak Gisel memelototi Rey tajam.


Rey bernapas lega akhirnya. Dia tertawa melihat reaksi Gisel itu. Reaksi yang dia kenali dengan sangat baik. Memang seharusnya seperti itu reaksi dari gadis yang dicintainya itu.


"Minggu depan aku akan ke rumah sama mama dan papa. Bersiaplah!," kata Rey. Dia menggandeng tangan Gisel lalu menariknya pergi.


"Apa?! Aku belum menyetujuinya, Rey!," teriak Gisel marah pada Rey.

__ADS_1


Rey tidak peduli. Dia tetap tertawa dan terus menggandeng Gisel. "Nggak mau tahu. Pokoknya minggu depan aku ke rumah."


"Kalau aku nggak mau, gimana?" Gisel masih saja berteriak memarahi Rey.


"Ya sudah, nggak masalah. Aku minta Om dan Tante kurung kamu di kamar sampai hari pernikahan kita."


"Kamu gila, ya?"


Rey tertawa dengan keras. "Iya, gara-gara kamu. Auch, Gi ..."


Gisel menendang kaki Rey karena rasa kesalnya pada pria itu. Meski kesakitan, Rey masih saja terus tertawa. Melihatnya yang seperti itu, rasa kesal dan amarah Gisel perlahan-lahan menghilang. Yang dirasakannya kini adalah rasa bahagia. Kini dia bisa merasakan dengan jelas rasa bahagia itu.


Dilihatnya genggaman tangan Rey pada tangannya. Dia juga bisa melihat sekilas kilau logam dari cincin yang melingkar di jarinya. Rasa dingin dari logam itu memberinya tanda bahwa ini bukan lagi mimpi. Gisel merasakan kebahagiaan itu.


Hari baru yang dia jalani saat ini memberikannya banyak arti dan juga kebahagiaan. Jika ini adalah kesempatan kedua dari Tuhan, maka Gisel dengan sukacita akan menjalaninya. Dia tidak akan menyia-nyiakannya.


......................


...FIN...


......................


Author's Note :


Halo semuanya ... 😄


Setelah melewati begitu banyak rintangan hingga menyebabkan lama update, akhirnya cerita ini sampai juga pada penghujungnya 😅


Terima kasih saya haturkan untuk semuanya yang sudah mengikuti perjalanan Gisella dari awal sampai akhir.


Saya memahami, ada banyak kekurangan dari cerita ini disebabkan banyak ini dan itu selama pembuatannya. Sempat dilanda rasa malas untuk melanjutkan, tapi tetap saya selesaikan hingga akhir. Setidaknya, untuk ending seperti yang saya harapkan dari semula. 🥲


Sekali lagi, terima kasih, terima kasih, terima kasih banyak untuk semua yang tetap setia dari awal sampai akhir. Ada banyak pelajaran dari proses pembuatan cerita ini. Semoga bisa menjadikan saya lebih baik untuk ke depannya.


Salam hangat,

__ADS_1


Cygni 🌟


__ADS_2