
"Apa yang terjadi?," tanya Gisel dalam perjalanan mereka menuju ruang kepala sekolah.
"Anak-anak bilang, ayahnya Wina tidak terima anaknya diskors," jawab Tika sambil terus menggandeng tangan Gisel, menariknya untuk mengikutinya.
"Wina?"
Gisel hampir berteriak menyebut nama itu. Ternyata ini yang dilakukan Wina, pikir Gisel.
Langkah Gisel mulai cepat. Dia ingin segera sampai dan melihat situasinya. Tika yang sedari tadi ada di depannya kini bahkan berada di sampingnya. Kekhawatiran jelas terpancar dari kedua matanya.
Saat Gisel dan Tika tiba, di depan kantor kepala sekolah sudah dikerumuni oleh beberapa anak dari kelas yang berbeda. Tidak heran jika akan menarik banyak perhatian, bahkan dari kejauhan suara teriakan dan amarah mereka dapat dengan jelas terdengar.
"Misi, misi. Geser dikit dong," bisik Tika pada anak-anak yang berkerumun agar memberikannya tempat.
Dari tempatnya berdiri, Gisel dapat melihat Rey berada di ruangan itu bersama kepala sekolah.
"Rey ...," kata Gisel dengan suaranya yang lirih.
Seperti biasa, pria itu terlihat cukup tenang. Sangat berbeda dengan Ibu Kepala Sekolah yang sangat jelas sedang menyembunyikan kepanikannya.
Agak jauh dari Rey, tepat di sebelahnya, ada Wina. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan.
"Drama apalagi yang sedang dia buat?," pikir Gisel.
Tidak hanya itu, ada tiga orang pria di sana. Pria yang satu rasanya tidak susah dikenali, wajah mereka mirip. Itu pasti ayahnya Wina.
"Pria yang lain itu siapa? Pengacara? Hanya untuk masalah skorsing?"
"Saya ingin keadilan untuk anak saya. Saya tidak terima anak saya diperlakukan seperti ini. Ini sudah merupakan kejahatan," teriak ayah Wina.
"Kejahatan? Apa maksudnya kejahatan? Cuma karena diskors?," pikir Gisel yang menyaksikan semua itu dari luar.
"Bapak tenang dulu. Kita bicarakan ini baik-baik. Saya akan mendengarkan keluhan Bapak," kata Ibu Kepala Sekolah. Dia mengusap keningnya yang sudah berkeringat dengan sapu tangan yang baru diambilnya dari dalam sakunya.
"Bagaimana bisa Ibu bilang bicara baik-baik kalau anak saya diperlakukan seperti ini?"
PLANG! ...
Sebuah ponsel terlempar ke atas meja kaca yang ada di depannya. Sebelum Ibu Kepala Sekolah mengambilnya, dia masih sempat melirik ke arah Rey. Raut wajahnya seketika berubah ketika dia melihat sesuatu yang di dalam ponsel itu.
#
"AAHH, jangan, Pak ... Saya minta maaf, pak ... "
"Jangan lari kamu ..."
__ADS_1
"Ampun, pak. Tolong jangan, pak. Aahh ..."
#
"Itu mirip suara Rey. Tapi, itu bukan Rey!," teriak Gisel merutuk dalam hatinya.
Darah Gisel mendidih seketika. Dia sama sekali tidak menyangka seorang remaja 15 tahun akan membuat drama rekayasa yang kotor seperti itu.
"Dia bukan anak-anak lagi. Dia memang adalah seorang penjahat," pikir Gisel. "Itu bukan Rey. Wina berbohong."
Gisel langsung mundur dari tempatnya berdiri. Dia sudah ingin segera melabrak Wina di depan ayahnya sendiri. Dia tahu bagaimana Rey. Jelas tidak mungkin Rey akan melakukan itu.
Tapi sebelum Gisel melangkah lebih jauh, sebuah tangan menarik lengannya. Gisel diseret oleh seseorang yang tidak dia ketahui. Tika yang tadi berada di sampingnya, kini dia dapat melihatnya anak itu sedang mengejarnya.
"Aya ... Adit, Aya mau dibawa kemana?," teriak Tika.
"Adit? Lepasin, Dit!," berontak Gisel. Dia terus menarik lengannya.
Tapi, genggaman Adit lebih keras, seakan-akan tidak membiarkan Gisel lepas begitu saja.
"Lepasin, Dit! Lepas!"
Saat mereka tiba di area belakang sekolah, Gisel berontak semakin keras. Dia tarik tangannya hingga terasa sangat sakit. Gisel tidak peduli lagi. Dia harus kembali ke ruang kepala sekolah.
"Lepas, Dit!" Kali ini teriakan Gisel lebih keras daripada tadi. Kemarahannya sudah melebihi batas normalnya.
"Aya! Pak Reynard yang minta agar aku menghalangi kamu masuk ke sana," teriak Adit.
Gisel langsung terdiam. Dia berbalik menatap Adit hanya untuk mencari tahu apakah Adit sedang membohonginya atau tidak. Tapi ternyata anak itu mengatakan yang sebenarnya. Gisel bisa melihat ketegasan dari kedua matanya. Adit tidak berbohong.
"Aku sedang berpapasan dengan Pak Reynard, terus dia bilang apapun yang terjadi aku harus halangi kamu menerobos masuk ke sana. Dia tahu kamu pasti akan lakukan ini," jelas Adit.
"Untuk apa Rey minta kamu melakukan itu?," tanya Gisel untuk memastikannya lagi.
Tapi Adit tidak menjawab apapun. "Intinya, kamu nggak boleh kesana."
"Tika!"
"I-iya ..."
Adit memanggil Tika yang sedari tadi hanya diam memandangi ketegangan di antara kedua sahabatnya itu tanpa tahu harus berbuat apa. Panggilan Adit sontak membuat Tika terkejut.
"Kamu sama Aya kembali ke kelas. Pokoknya kamu jaga dia, jangan sampai kemana-mana apalagi menemui Pak Reynard."
"K-kamu mau kemana?," tanya Tika.
__ADS_1
"Aku harus pergi. Pak Reynard memintaku melakukan sesuatu."
Gisel langsung bereaksi. "Rey nyuruh kamu apa?"
Adit tidak langsung menjawab pertanyaan Gisel. Dia memandanginya untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangannya kembali pada Tika.
"Dia mengabaikanku?," rutuk Gisel dalam hatinya.
"Pokoknya pastikan dia nggak kemana-mana untuk saat ini," kata Adit lagi sebelum dia pergi meninggalkan Tika dan Gisel yang masih tercengang.
"Adit baru saja mengabaikanku, Tika. Kamu lihat kan tadi?," tanya Gisel yang masih tidak percaya Adit melakukan itu padanya.
"I-iya, iya. Kita balik kelas saja, ya," bujuk Tika seraya menarik lengan Gisel.
Meski emosinya belum juga reda, tapi Gisel turuti juga permintaan Tika.
......................
Langkah Gisel dipercepat begitu dia melihat sosok Rey sudah berada di dekat motornya. Gisel yang sejak sepulang sekolah sudah menunggu dan bersembunyi di dekat area parkir sekolah sampai-sampai harus membohongi Tika yang sejak Adit menyuruhnya untuk menjaganya, benar-benar melakukan apa yang Adit minta. Dia bahkan memastikan Gisel naik ke atas mobilnya dan berangkat pulang. Gisel terpaksa turun di suatu tempat lalu kembali ke sekolah tanpa sepengetahuan Tika.
Demi Rey, dia rela sampai harus menunggu dan berperang melawan nyamuk yang terus mengganggunya selama dia menunggu. Ah, tidak. Dia hanya ingin tahu apa sebenarnya rencana Rey. Karena itu, dia sampai nekad melawan permintaan Adit.
"Rey!"
BUG!
Begitu Rey berbalik, Gisel langsung melemparkan tas sekolahnya. Rey, tentu saja, dengan gesit pria itu menangkapnya.
"Gi?!"
Tapi, Gisel belum berhenti sampai disitu. Tanpa bisa Rey duga, kaki Gisel langsung menendang betis kaki Rey.
"Ah, Gi! ..." Rey langsung memegangi kakinya yang sudah kesakitan karena tendangan Gisel tanpa melepaskan tas sekolahnya.
Gisel tidak peduli. Dia sudah menahan amarahnya sedari tadi. Dengan berkacak pinggang, dia memandangi Rey yang sudah kesakitan di bawah sana.
"Bisa-bisanya kamu cerita rencanamu sama Adit, tapi nggak sama aku. Jadi, kamu sudah nggak anggap aku temanmu?," teriak Gisel.
Rey langsung bangkit dan membekap mulut Gisel, tapi dia masih mempertahankan tas sekolah Gisel dalam pegangannya. Meski tas sekolah itu hampir jatuh, Rey dengan sigap menangkapnya lalu menahannya dengan lengannya menempel pada tubuhnya.
"Jangan keras-keras!," bisik Rey dengan keras.
Lalu kemudian, dia mengembalikan tas sekolah Gisel, sebelum akhirnya dia menyiapkan motornya.
"Ayo, kita ke tempat lain saja," kata Rey ketika dia sudah siap di atas motornya.
__ADS_1