Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 36 : Gisel dan Rey vs Wina


__ADS_3

Jam 9 malam.


Terlalu malam akhirnya Gisel tiba di rumahnya. Pembicaraan mereka terlalu panjang untuk bisa diselesaikan dalam waktu satu jam. Mereka bahkan masih butuh lebih untuk itu.


Suasana rumah saat itu cukup sepi saat Gisel tiba di rumah. Tentu saja. Jam segitu pelayan sudah pulang. Penghuni rumahnya mungkin sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing di kamar mereka sendiri.


Biasanya Rafael belum pulang pada jam segini. Tapi sejak kejadian itu, Rafael sudah belum pernah kemari. Entah karena Clara melarangnya, atau dia memang belum ingin kesini.


Gisel menghela napasnya sebelum dia membuka pintu rumah. Rasa lelah seharian ini mungkin sudah di ambang batas. Seluruh badannya saat ini sepertinya sudah sangat merindukan kasur dan segala penumpang yang ada di atasnya. Ingin rasanya dia segera berbaring.


Tapi ternyata tidak bisa ....


Begitu dia membuka pintunya, dua sosok perempuan yang sangat dia kenali sedang duduk di ruang tamu dengan pandangan sinis mereka. Sepertinya sudah lama mereka menunggu Gisel untuk pulang.


"Ya Tuhan, haruskah aku meladeni mereka hari ini?," batin Gisel mengeluh dengan pasrahnya.


Mereka hanya diam, begitu juga Gisel. Setelah menutup dan mengunci pintu rumahnya, Gisel berjalan melalui mereka tanpa mengatakan apapun.


Gisel hampir mengira dirinya akan baik-baik saja karena melihat situasi itu, tapi setelah beberapa langkah dirinya berjalan, mulut mereka sudah mulai mengoceh.


"Aku sudah dengar masalah Reynard di sekolah. Sekarang semua ibu-ibu di grup membicarakannya," kata Clara yang disertai dengan dengusannya yang sinis.


Nabila, seperti biasa, hanya duduk di sebelah mamanya sambil tersenyum mengejek.


"Kukira dia berbeda dari orang kaya biasanya, tapi ternyata dia sama saja."


Gisel menggenggam erat-erat jari jemarinya hingga membentuk sebuah kepalan. Dia menutup kedua matanya hanya agar bisa fokus mengatur napasnya yang sudah tidak beraturan karena emosinya.


Setelah dirasa sudah agak tenang, Gisel kembali membuka matanya. Lalu melanjutkan perjalanannya menuju kamar.


Langkah pertama sudah dilalui, tapi kemudian, Nabila yang kini mengoceh.


"Aku dulu sempat iri lho, Ma. Kok bisa ya cewek kayak gitu jadi calon istri konglomerat. Tapi kalau seperti ini, aku kok malah ketawa, ya. Haha ..."


Tawa Nabila disusul kemudian oleh Clara. Kedua anak dan ibu itu bahkan untuk urusan seperti ini mereka tetap kompak.


"Kenapa kamu harus iri? Mama akan terus berusaha agar kamu mendapatkan calon suami yang lebih hebat darinya. Kamu pasti nggak akan kalah."


Gisel kembali melangkahkan kakinya. Dan kali ini, Clara kembali berbicara.


"Aku tidak mau tahu, selama kalian bertunangan, perjanjian itu harus dia penuhi. Karena kalau tidak, dia tidak berhak melarang keputusanku atas kamu."


Gisel sudah tidak mau merespon lagi. Dia kembali berjalan dan masih tanpa sepatah katapun. Dan kali ini, tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut yang membuat langkah Gisel kembali terhenti.


Gisel puas. Setidaknya dia bisa segera kembali ke kamarnya.


......................


Setelah selesai mandi, Gisel langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur. Tidak peduli lagi dengan rambutnya yang masih basah. Dia sudah terlalu malas untuk mengeringkannya. Gisel langsung membenamkan wajahnya di atas bantal.


Setelah beberapa saat, Gisel menyandarkan kepalanya di atas bantal, memandangi kamarnya dengan tatapan kosong. Kedua matanya sudah terlihat sangat lelah, tapi di kepalanya terus memikirkan pembicaraannya tadi dengan Rey.


Hari ini Rey membawanya ke tempat latihan. Sembari berlatih mereka berbicara panjang lebar.


"Rey hanya ingin aku nggak banyak bertanya. Makanya dia memaksaku berlatih," kata Gisel geram.


Bahkan nada bicaranya tidak terdengar seperti orang yang sedang marah. Rasa lelah sudah benar-benar menghajar Gisel saat ini.


#

__ADS_1


(flashback on)


"Kenapa Adit?," tanya Gisel.


Lengan Rey sedang menggenggam pundaknya. Tugasnya hari ini adalah menjatuhkan Rey dan membuatnya tidak kembali berdiri. Karena itu, tangan Gisel langsung menarik lengan Rey, lalu melangkahkan kakinya ke belakang untuk menjegal kaki Rey.


Tapi, ternyata Rey bisa menghindar. Dia kemudian menarik Gisel ke arahnya, lalu menguncinya. Gisel menepuk lengan Rey sebagai tanda untuk melepaskannya. Lalu dia dan Rey kembali pada kuda-kuda mereka.


"Adit kebetulan ada di sana. Aku langsung minta tolong padanya," jelas Rey. Napasnya saat ini masih teratur, berbeda dengan Gisel yang sudah terengah-engah.


Percobaan kedua Gisel kembali gagal. Mereka kembali lagi pada posisi awal kuda-kuda.


"Lalu, kenapa aku nggak boleh menemuimu? Kamu sampai menyeretku kesini. Kenapa memangnya kalau kita bicara di sekolah?"


"Karena kita nggak bisa terlihat bersama, Gi. Mereka pasti akan menanyaimu besok. Aku khawatir mereka akan memberatkanmu dengan hubungan ini," jawab Rey.


Lalu, dia melanjutkannya lagi. "Lagipula, pertunangan ini hanya sementara sampai kamu benar-benar aman di keluarga Kanaya. Aku tidak berniat menjadikannya permanen."


"Tunggu, tunggu ..." Gisel mengatur napasnya kembali. Dia mengangkat tangannya untuk menghalangi Rey maju menyerangnya. Entah sudah berapa kali Rey merobohkannya. Tapi pria itu masih saja dapat mengatur napasnya dengan baik.


"Kenapa ... hah ... nggak permanen? Kalau seandainya ... hah ... Kanaya kembali itu kan bisa mudah untuk kalian," lanjut Gisel.


Rey menghela napasnya sembari menggelengkan kepalanya. Lalu kemudian, dia menarik tangan Gisel yang terangkat lalu membuatnya mengunci dirinya sendiri.


Gisel pun mengomel. "Kamu curang, Rey! Kan aku minta rehat!"


"Kamu yang lengah, Gi. Kan sudah dibilang jangan lengah."


Tepat setelah itu, Rey menyentil kening Gisel.


"Aw ... Rey! Sakit!"


"Sekolah jangan tahu soal pertunangan ini, karena kalau sampai satu sekolah tahu, kamu atau mungkin Kanaya sendiri jika suatu saat dia kembali, kalian yang akan kesulitan. Akan ada banyak protes. Yang aku khawatirkan salah satu dari kita terpaksa harus keluar sekolah. Kalau aku nggak masalah, Gi. Tapi kita nggak bisa merusak masa depan Kanaya."


Rey akhirnya melepaskan kunciannya, karena dia melihat Gisel sudah memahami maksudnya. Kali ini Gisel dibiarkan mengambil napasnya.


"Rey benar-benar menghajarku hari ini," pikir Gisel. Tangannya berulang kali menyeka keringat yang keluar bercucuran dari keningnya.


Mungkin melihat Gisel yang sudah benar-benar kewalahan, akhirnya Rey menghentikan latihan mereka.


"Kita istirahat dulu, Gi."


Gisel langsung ambruk di tempat begitu Rey berkata demikian.


"Kamu ... hah ... hari ini ... hah ... sengaja, ya?"


Napas Gisel sudah memburu. Dia bahkan kesulitan untuk mengaturnya kembali. Rey hanya tertawa melihat Gisel yang seperti itu.


"Minum dulu."


Gisel langsung mengangkat tubuhnya untuk duduk, lalu menerima sebotol air yang diberikan Rey. Dengan cepat, dia menenggaknya.


"Pelan-pelan, Gi," teriak Rey. Tangannya kemudian mengambil kembali botol minum itu.


"Rey, Rey ... belum ...," rengek Gisel.


"Pelan-pelan. Jangan banyak-banyak."


Gisel langsung berubah lebih tenang. Dia meminumnya kembali, kali ini pelan-pelan seperti kata Rey.

__ADS_1


Perlahan, napas Gisel kembali teratur. Dia mulai bisa fokus kembali. AC di ruangan itu sudah bisa dia rasakan sejuknya. Gisel menjadi lebih tenang daripada tadi.


"Kamu nyuruh Adit apa?," tanya Gisel setelah itu.


Tapi Rey malah bertanya balik. "Apa kamu tahu kalau Adit adalah anak klub sinematografi?"


Gisel menganggukkan kepalanya.


"Jadi, proyek klub mereka saat ini adalah membuat film pendek untuk dokumentasi sekolah. Beberapa waktu lalu, klub mereka minta ijin meletakkan kamera di ruang detensi untuk merekam aktifitas konseling anak-anak bermasalah. Dan kamera itu terus on dari pagi, karena memang ruangannya dipakai terus."


"Jadi maksudmu ada bukti kalau Wina berbohong?," tanya Gisel langsung memotong perkataan Rey.


"Seharusnya ada. Karena saat itu, rekaman sudah dimulai. Ruangan yang aku lihat dalam video tadi juga aku yakin di ruangan itu. Aku memang keluar meninggalkan Wina sendirian untuk merenungi kesalahannya. Tapi ternyata dia punya rencana yang berbeda. "


"Ya kalau gitu, kenapa nggak tunjukkan saja ke Wina tadi?," tanya Gisel kesal. Kalau seandainya itu dilakukan, Gisel yakin masalah ini pasti sudah selesai.


"Masalahnya, kamera videonya itu pinjam dari kakak salah satu anggota klub. Dan sekarang kamera itu sedang dibawa ke luar kota untuk keperluan pekerjaan. Sialnya, memori cardnya juga. Jadi, Adit sekarang sedang dalam perjalanan ke sana untuk membawa memori cardnya kembali."


"Jadi ... kamu butuh aku untuk mengulur waktu?," tebak Gisel yang ternyata adalah benar. Karena Rey tersenyum menanggapi pertanyaan Gisel itu.


(flashback off)


#


Gisel tersenyum saat mengingat kembali pembicaraan mereka tadi. Dia senang, setidaknya Rey tidak melupakannya untuk ikut serta dalam rencananya.


Tapi kemudian, wajah Gisel menjadi memerah. Dia mengingat sesuatu yang Rey lakukan tadi. Sesuatu yang tidak pernah dilakukannya pada Gisel.


#


(flashback on)


Saat Rey sedang mematikan semua lampu, Gisel bersiap untuk keluar. Tepat di saat Gisel akan membuka pintu, Rey memanggilnya.


"Gi ..."


"Ya?"


Gisel langsung berbalik menjawab panggilan Rey. Tepat di saat itu, Rey memeluknya. Jiwa Gisel seakan-akan hilang melayang entah ke mana.


Gisel teringat saat pertama kalinya dia terbangun di rumah sakit. Rey juga melakukan hal yang sama seperti ini. Sama-sama eratnya. Sama-sama enggan untuk dilepaskan. Sama-sama menyihir Gisel hingga membuatnya kehilangan kata-katanya.


"Rey ..."


Kedua tangan Gisel terus tergenggam erat. Lengannya lurus kaku tanpa ada keberanian untuk membalas pelukan Rey.


"Terima kasih, Gi. Terima kasih kamu selalu mempercayaiku," kata Rey dengan suaranya yang lirih.


Gisel sedang mencari kata-kata yang sesuai untuk membalas ucapan Rey itu, tapi yang keluar hanyalah, "A-aku ... aku ... "


(flasback off)


#


Kembali Gisel membenamkan wajahnya ke bantal. Dia berharap rasa panas di wajahnya bisa berkurang jika dia bisa menimbunnya pada kain sarung bantal yang dingin itu.


"Kenapa aku tersipu, Bodoh?! Hentikan, Gi! Dia cuma Rey. Rey biasa melakukan ini pada siapapun, Bodoh!," kata Gisel memarahi dirinya sendiri.


Rasa lelah setelah berlatih berjam-jam, sepertinya tidak langsung membuat Gisel tertidur. Otak di kepalanya masih harus bekerja keras memikirkan alasan Rey melakukan itu. Esok pagi, sepertinya Gisel akan terbangun dengan rasa lelah yang hebat.

__ADS_1


__ADS_2