
"Siapa kali ini?," batin Gisel.
Suasana masih tetap hening. Gisel tidak berani menggerakkan tubuhnya ataupun membuka matanya. Tapi, dia terlalu penasaran untuk ingin tahu siapa yang sedang ada di kamarnya.
Apakah Tika atau Adit yang kembali? Atau mungkin Clara? Entahlah. Karena sampai sekarang orang itu belum mengatakan apapun.
"Atau jangan-jangan ... orang yang menyamar seperti waktu itu?," batin Gisel. Dia hampir berteriak karena terlalu panik.
Tiba-tiba dia merasakan seseorang sedang duduk di bibir ranjangnya itu. Dia merasakan tekanan pada sisi kanan ranjangnya. Gisel mendadak menahan napasnya. Dia mulai berpikir bagaimana seharusnya orang koma bernapas. Apakah yang dia lakukan sudah benar?
"Semuanya sudah pulang."
Gisel langsung terduduk, lalu menghembuskan napasnya. Dia mengatur napasnya yang hampir terputus.
"Kenapa nggak bilang dari tadi sih, Rey?", bentak Gisel.
Rey tertawa melihat Gisel yang terengah-engah karena kehabisan napasnya. Dia membukakan air untuk Gisel minum yang diambilnya dari nakas.
"Nih, minum dulu ..."
Dia menenggak air yang diberikan Rey untuknya. Rasanya benar-benar seperti oasis yang ada di padang pasir.
Lima jam lebih dia berbaring, tanpa membuka matanya, tanpa gerak, dan tanpa bersuara sedikitpun. Dia tidak bisa makan ataupun minum karena harus berpura-pura koma. Ini jelas menyiksanya.
"Mau makan nggak? Aku beli makanan tadi ke bawah waktu Atika dan Raditya disini," kata Rey lagi seraya menunjukkan isi kotak makanan yang berisi daging panggang kesukaan Gisel.
Tanpa menunggu untuk ditanya lagi, Gisel langsung meraih kotak makanan itu.
"Dari mana kamu tahu kalau aku lapar?," tanya Gisel setelah menelan suapan pertamanya. Daging yang empuk menambah kembali energi yang hilang karena terlalu lama berbaring.
"Sejak kamu terbangun, kamu nggak makan ataupun minum apa-apa. Terus harus berbaring lagi karena banyak yang datang. Sudah pasti kamu akan kelaparan."
"Om Satrio dan yang lainnya kemana?," tanya Gisel lagi dengan mulut penuh daging.
"Mereka sudah pulang. Aku yang akan menunggu disini."
"Untuk apa? Yang perlu dijaga tuh ragaku. Pulang sana. Besok pagi kamu masih harus ke sekolah," kata Gisel.
"Sudah aku bawain makanan, sekarang malah diusir. Sini, kembalikan!," Rey langsung mengambil kotak makanan yang dipegang Gisel. Sebaliknya, Gisel merebut kembali kotak makanan itu.
"Eh, eh ... jangan," kata Gisel seraya memasukkan lagi potongan daging ke dalam mulutnya. "Aku bukan mengusir. Ini namanya perhatian. Tahu perhatian, kan?"
"Aku juga lagi perhatian, Gi. Kamu kan nggak pernah suka rumah sakit."
Gisel berhenti mengunyah. Potongan daging yang baru saja dipotongnya, kini menggantung di udara, karena tangannya berhenti bergerak.
Rey benar. Semenjak dia kecil, dia tidak pernah suka rumah sakit. Dia tidak suka baunya.
"Sejak menjadi Kanaya, aku berusaha menyukainya. Karena aku nggak bisa minta tolong siapapun untuk menemani. Jadi, aku sudah terbiasa."
Dia kemudian memasukkan kembali potongan daging yang menusuk pada garpu yang dipegangnya ke dalam mulutnya.
Rey yang tadinya tersenyum, kini menatap Gisel dalam-dalam. Melihat raut wajahnya, Gisel yakin Rey sedang merasa bersalah.
"Tidak perlu merasa bersalah. Aku baik-baik saja sekarang. Aku hanya perlu bertahan hidup disini," kata Gisel.
Setelah itu, tidak ada lagi perbincangan di antara mereka. Gisel dengan tenang menghabiskan makanannya, sedangkan Rey hanya duduk di ujung ranjangnya.
__ADS_1
"Astaga, kenyang sekali!"
Dengan santainya Gisel memegangi perutnya. Lega rasanya setelah menahan lapar berjam-jam.
"Menurutmu perawat nggak akan kesini lagi, kan? Mereka sudah kesini tadi waktu ada Tika dan Adit," katanya sambil terus memperhatikan pintu kamarnya.
"Mereka tidak akan datang lagi. Mereka nggak tahu harus melakukan apa untuk membuat kamu sadar. Jadi mereka hanya mengecek saja, lalu pergi."
Rey kembali duduk di sebelah Gisel setelah menyingkirkan kotak makanan Gisel ke tempat sampah.
"Aku dengar tadi pembicaraan Adit dan Tika. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya terhadap mereka?," tanya Rey.
"Melakukan apa? Aku nggak akan melakukan apapun. Aku nggak berpikiran untuk memberitahu mereka," kata Gisel. Dia beranjak dari ranjangnya lalu meregangkan otot-ototnya.
Rey sepertinya belum puas dengan jawaban Gisel. "Mereka akan terus menyelidikimu. Apa kamu nggak apa-apa?"
Gisel berhenti bergerak. "Biar nanti aku pikirkan itu. Yang terpenting sekarang adalah Tuan Abraham."
"Tuan Abraham?"
"Hmm ... pria tua yang akan dijodohkan untuk Kanaya. Aku harus memikirkan cara untuk menghindarinya. Begitu aku bangun, pernikahan itu tidak akan bisa dielakkan. Keputusan mereka sepertinya tidak akan batal," kata Gisel.
"Pak Satrio sempat melihat orangnya tadi. Dia langsung mencari tahu. Tuan Abraham hanya seorang pemilik perusahaan dagang. Beberapa minimarket dan supermarket di kota ini adalah miliknya. Dia memang dikenal sebagai penyuka gadis remaja. Jika dia suka dengan seorang gadis dia pasti akan menawari kontrak untuk menikahinya," jelas Rey panjang lebar.
"Pasti uang alasannya. Tua bangka itu pasti menawari uang yang besar."
"Jadi kamu akan berencana bangun dan menemui mereka?," tanya Rey.
"Aku nggak punya pilihan lain. Aku nggak bisa terus-terusan tidur dan menghindari mereka. Hanya dengan dihadapi, aku baru bisa tentukan langkahku selanjutnya."
"Tapi, kamu harus kasih tahu apapun rencanamu sama aku. Kamu dengar kan, Gi?"
Gisel mulai merasa dengan Rey tahu kondisi dirinya bukanlah hal yang buruk. Setidaknya dia tidak perlu memikirkan masalah ini sendirian.
"Tunggu. Kamu nggak mau menjelaskan padaku, mengapa kamu ada di sekolah Kanaya?," tanya Gisel tiba-tiba.
Rey tidak mengatakan apapun. Dari kedua bola matanya terlihat jelas, dia sedang memikirkan sebuah jawaban. Gisel merasa Rey mungkin belum siap untuk menceritakan padanya.
"Ya sudah kalau kamu belum bisa menceritakannya. Katakan saja, bagaimana kamu membagi waktumu? Perusahaan gimana? Setiap hari kamu ke sekolah. Jam sekolah selesai waktu sore, begitu juga jam kerja."
"Sekretarisku akan memberitahu kalau terjadi sesuatu. Kalau bisa aku atasi via conference ya aku lakukan. Kadang terpaksa lembur di kantor," jelas Rey.
Gisel menyipitkan matanya memandangi Rey. Dia berpikir cinta macam apa yang sedang Rey berikan untuk Kanaya sampai-sampai dia tidak bisa jauh dari Kanaya?
Tapi kemudian, Gisel mengalihkan pandangannya. Dia duduk di sebelah Rey.
"Tapi sekarang kan kamu sudah tahu Kanaya adalah aku, jadi seharusnya kamu nggak perlu khawatir lagi."
"Justru karena sekarang Kanaya adalah kamu, aku makin tidak bisa meninggalkan kamu," kata Rey dengan santainya yang membuat Gisel kesal.
"Sebegitu nggak percayanya, ya?," kata Gisel seraya menatap Rey tajam. Gisel menusuk Rey dengan tatapan matanya. Tapi Rey hanya tertawa kecil. Gisel benar-benar tidak tahu apa yang ada di kepala pria itu.
"Sudah sana berbaringlah. Kamu mau bilang apa saat mereka masuk dan melihatmu begini?"
"Kejutan?," goda Gisel.
Gisel dan Rey akhirnya tertawa bersama. Seharian ini banyak perdebatan di antara mereka, dan sekarang mereka bisa tertawa bersama, Gisel merasa harinya tidaklah terlalu buruk. Dia merindukan saat dia dan Rey bisa tertawa bersama seperti ini. Terlepas seberapa seringnya mereka bertengkar.
__ADS_1
"Rey ...," panggil Gisel saat dia sudah terbaring di atas ranjangnya.
"Ehm ..."
"Berapa lama kamu mengenal Kanaya?"
Rey tidak langsung menjawab. "Aku rasa belum lama."
Gisel tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan Rey saat ini. Dia belum lama mengenal Kanaya dan sekarang pria itu tidak mau jauh darinya. Padahal dia mengenal begitu banyak wanita.
"Aku jadi penasaran seistimewa apa Kanaya? Sampai membuat Reynard Hardiyanto tergila-gila padanya."
Mata Gisel semakin lama semakin berat, tapi dia masih ingin mengobrol dengan Rey.
"Tergila-gila?," tanya Rey keheranan.
"Hmm ... Kamu sampai ... meninggalkan perusahaan ... hanya agar bisa ... bersamanya. Kalau bukan ... cinta, terus ... apa ...?"
"Cinta?! Kamu ngomong a ...."
Melihat Gisel yang sudah tertidur, Rey tidak menyelesaikan pertanyaannya. Dia hanya menatap Gisel yang terbaring dari tempatnya duduk.
"Kadang aku nggak bisa memahami dengan jalan pikirannya dia," kata Rey lirih.
......................
Mata Gisel merasakan sesuatu yang terang mengenainya. Pelan-pelan dia membuka salah satu matanya, dan mendapati jendela besar dengan terangnya langit yang menghiasinya.
Hari sudah pagi ternyata. Dia teringat lagi, dia tertidur saat sedang mengobrol dengan Rey.
"Selamat pagi, tukang tidur."
Gisel langsung terbangun, dan mendapati Rey sedang duduk dengan sebuah buku di tangannya.
"Semalaman kamu nggak pulang?," tanya Gisel. Pakaian Rey masih sama seperti kemarin, tentu saja pria itu di kamarnya semalaman.
"Kamu mau aku pulang? Seorang perawat datang memeriksamu semalam, kamu hampir mengigau. Kalau bukan karena aku masih disini, apa menurutmu kamu bisa tidur dengan tenang semalaman?"
Gisel menahan tawanya. "Maaf, maaf."
"Lagipula, hari ini Sabtu. Sekolah libur."
Pada dasarnya, Gisel juga tidak ingat hari apa dia tidak sadar waktu itu, dan di hari apa dia terbangun. Jika mengingat terakhir dia sadar saat pulang dari taman bermain, masuk akal juga jika sekarang hari sabtu.
"Ternyata benar-benar seminggu ya aku nggak sadarkan diri," batinnya.
"Aku akan pulang sebentar untuk berganti pakaian, setelah itu aku akan kembali lagi," kata Rey lagi seraya mengacak rambut Gisel.
Gisel tentu saja kesal. "Rey!"
Tapi kemudian, mereka dikejutkan oleh suara seseorang.
"Aya ..."
Gisel dan Rey langsung membeku. Mereka saling berpandangan, melemparkan rasa panik melalui tatapan mata mereka. Tangan Rey bahkan masih berada di atas kepala Gisel.
"Ayyyaa ..."
__ADS_1
Tika langsung berlari menuju Gisel lalu memeluknya. "Ini beneran kamu, kan? Kamu sudah sadar, kan?"
Gisel menelan ludahnya. Dia tidak bisa berbohong lagi.