Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 60 : Menemukan Jalan Pulang, Tanpa Rey


__ADS_3

"Kamu harus kembali dan membayarkan hutang-hutangmu padaku, Kanaya," kata Reina seraya menunjukkan senyum nakalnya itu.


"Kamu harus tetap hidup dan menjalani kehidupanmu. Kamu harus kembali dan bantu aku menyelesaikan mimpi-mimpiku."


Reina kemudian membisikkan sesuatu di telinga Kanaya. Beberapa detik kemudian, Kanaya ikut tertawa bersama Reina.


Gisel yang hanya menjadi penonton mau tidak mau harus menjadi curiga melihat gelagat mereka berdua.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?," tanya Gisel.


"Rahasia! Hihi ..."


Keduanya menjawab dan tertawa hampir bersamaan. Gisel pun menghela napasnya perlahannya. Dia memainkan bibirnya saat dia memikirkan kira-kira apa yang sedang mereka rencanakan.


Tapi kemudian ... DEG!


Gisel merasakan sesuatu yang menyebabkan dadanya merasakan dentuman yang hebat. Tidak hanya Gisel, Kanaya sepertinya merasakan hal yang sama. Dia melihat Kanaya memegangi dadanya.


"Kamu merasakannya juga?," tanya Gisel yang dijawab Kanaya dengan anggukan kepalanya.


"Aku rasa itu adalah tanda kita untuk kembali," kata Gisel lirih. Dia memandangi langit biru yang ada di atas kepalanya.


"Kalian harus kembali ke pintu kehidupan. Dari sanalah kalian datang, dan kesanalah kalian harus kembali," kata Reina sraya menunjuk pintu yang terlihat sangat jauh dari tempat mereka berdiri.


"Ayo, aku akan mengantarkan kalian. Kanaya, berpeganglah pada Kak Gigi," kata Reina seraya menarik tangan Gisel. Sementara Kanaya menggandeng tangan Gisel yang satunya lagi. Bersama-sama mereka berlari menuju pintu yang baru saja ditunjuk oleh Reina.


Kanaya sudah lebih dulu masuk setelah Reina memintanya untuk pergi. Setelah itu, barulah Reina meminta Gisel untuk mengikuti Kanaya. Tapi, langkah Gisel tiba-tiba terhenti.


Dengan masih menggenggam jemari Reina, Gisel memanggil namanya, "Reina ..."


Reina sepertinya tahu apa yang akan dikatakan Gisel padanya. Dia menghentikan Gisel untuk mengatakannya. "Jangan, Kak. Jangan ..."


Senyum Reina terlihat seperti sebuah sumber air di tengah padang bunga yang mengelilingi mereka. Di tengah rasa bersalah Gisel yang harus kembali tanpa Reina, dengan melihat senyum itu rasanya seperti meredakan rasa getir di hatinya.


Meski tidak sepenuhnya menghilangkan rasa bersalahnya itu, tapi melihat senyumnya itu, Gisel seperti memahami maksud yang ingin disampaikan Reina padanya.


"Kak Rey selalu mengatakan dia ..."


"Aku tahu, Reina. Rey sudah mengatakannya," kata Gisel menghentikan kalimat Reina itu.


"Benarkah?," tanya Reina yang terkejut mendengarnya. "Serius, Kak? Kak Rey sudah bilang?"

__ADS_1


Gisel tersenyum malu-malu seraya menganggukkan kepalanya. "Hmm ... dengan caranya yang juga ..."


"Reina tahu ...," potong Reina. "Kak Rey pasti banyak bilang maaf. Dia memang sepantasnya minta maaf. Otaknya hanya pintar di urusan lain. Urusan beginian selalu saja lamban. Hihi ..."


Gisel tersenyum melihat tawa Reina itu. Dia kembali berpikir, jika bukan karena Kanaya, dia mungkin tidak akan pernah bisa melihat senyum Reina lagi.


"Tidak, Reina. Aku rasa waktunya sudah tepat. Bukan hanya Rey yang bodoh. Tapi, aku juga. Dan semua ini adalah cara Tuhan menunjukkan kebodohanku itu," kata Gisel. "Mungkin kita berdua cocok karena kita sama-sama bodoh."


Mereka berdua akhirnya tertawa bersama, menertawakan kata-kata Gisel yang terdengar aneh tapi tidak ada salahnya di telinga mereka. Mereka menghela napas mereka hampir bersamaan di akhir tawa mereka.


"Kak Gigi dan Kak Rey kali ini harus benar-benar bahagia. Aku mendoakan kalian dari sini."


Pelukan Reina yang tiba-tiba hampir mengejutkan Gisel. Meski demikian, Gisel tersenyum pada akhirnya. Dia membalas pelukan Reina itu. Seperti melepaskan seorang adik yang akan pergi jauh, seperti itulah perasaan Gisel saat melepaskan pelukannya dari Reina. Dia ingin menangis, tapi sekuat tenaganya dia menahannya.


Dia pernah menangis saat akan melepaskan peti mati Reina yang akan dimasukkan ke dalam liang lahatnya. Tapi kali ini, meski di alam yang berbeda, Gisel bisa melihat Reina baik-baik saja. Dia merasa tidak sepantasnya mereka berpisah dengan air mata.


"Kalau kamu butuh apa-apa, beri tanda. Entahlah apa itu, mimpi? Atau mungkin hujan? Apa saja ..."


"Kak Gigi ...," kata Reina menghentikan ocehan Gisel. "Reina baik-baik saja disini." Dia tersenyum dengan lebarnya saat menatap Gisel dengan kedua mata indahnya itu.


Gisel kini yakin, Reina sudah tenang di sana.


"Ayo ... Kak Gigi harus segera kembali." Reina mendorong Gisel memasuki pintu itu.


Gisel pun ikut tertawa bersama Reina.


Dan saat Gisel memasuki pintu itu, dan berjalan beberapa langkah saja, dia bisa melihat Reina masih berdiri di pintu seraya melambaikan tangannya. Gisel pun membalas lambaian tangan itu.


Saat Gisel akan mengatakan sesuatu, dengan cepat, Gisel merasakan sesuatu menarik tubuhnya ke belakang. Reina yang tadi terlihat hanya beberapa langkah darinya, kini menjadi semakin menjauh dan menjauh dengan begitu cepatnya, hingga akhirnya benar-benar menghilang.


Gisel merasakan tubuhnya meluncur begitu cepat ke belakang tanpa tahu kemana dia akan pergi. Dan saat tubuhnya didorong maju ke depan, Gisel melihat sebuah titik cahaya yang lama kelamaan menjadi besar dan semakin membesar. Hingga terlihat begitu jelas, dia melihat dari atas tubuhnya yang sedang terbaring. Beberapa detik kemudian, Gisel terlempar ke bawah dengan kerasnya. Dan semua pandangan menjadi benar-benar gelap. Gisel tidak dapat melihat apapun.


......................


"Hah!"


Gsiel merasa seperti orang yang baru saja tenggelam dari air yang dalam. Dia terbangun dan langsung terduduk begitu merasakan udara masuk kembali dalam paru-parunya. Dengan napas yang terengah-engah, dia menata kembali pikirannya yang kacau yang dia sendiri tidak tahu alasannya.


"Gi! Kamu bangun, Nak. Kamu bangun, Gi sayang."


Pelukan yang lembut datang dari wanita yang sangat dia kenali. Bersamaan dengan itu, dia juga melihat seorang pria sedang menatapnya cemas. Gisel mengumpulkan semua kesadarannya, mengingat kembali apa yang baru saja dia dengar.

__ADS_1


"Ma, Pa ...," panggilnya lirih.


Dengan jelas dia baru saja mendengar mamanya memanggil namanya. Dia juga dapat melihat dengan jelas, papanya yang saat ini ada di hadapannya. Gisel mulai merasa ini seperti mimpi.


"Gi ... Apa ada yang sakit? Kamu nggak apa-apa, kan?," tanya mamanya.


Sentuhan lembut tangan mamanya itu mulai menyakinkan Gisel dirinya tidak bermimpi. Tapi, sebagian kecil hatinya masih menolak untuk mempercayainya.


Gisel mencoba untuk turun dari tempat tidurnya. Dia menghempaskan kain tebal yang menyelimutinya ke samping, lalu mencoba menurunkan kedua kakinya.


"K-kamu mau kemana? K-kamu belum bisa kemana-mana, Sayang. Kamu baru sadar, tubuhmu masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri."


Mamanya benar. Gisel merasakan rasa yang aneh pada kedua kakinya. Dia juga masih belum dapat menggerakkannya. Tapi, Gisel harus melakukan sesuatu untuk memastikannya.


"Cermin ... aku butuh cermin," katanya lirih.


Papa Gisel segera bangkit mencarikan cermin seperti yang diminta pleh putri semata wayangnya itu. Tapi, dia tidak dapat menemukannya cermin yang bisa dia bawa untuk ditunjukkan pada putrinya itu.


Mama Gisel akhirnya mengeluarkan ponsel dari tasnya. "Tidak ada cermin kecil disini. Tapi, kamera ponsel mama bisa, kan?"


Gisel menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dengan segera, mamanya membukakan kamera untuk Gisel, lalu memperlihatkannya di hadapan Gisel.


Gisel tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya saat dia melihat bayangannya sendiri dalam kamera itu. "Aku benar-benar kembali," katanya dalam hati. Dan selanjutnya air mata turun membasahi pipinya.


Dia kembali memandangi mamanya yang sedang duduk di sampingnya, lalu memeluknya tiba-tiba. "Mama ... Gi kembali ...," katanya lirih dalam tangisnya.


Melihat putri dan istrinya saling melepaskan kebahagiaan mereka, Papa Gisel ikut bergabung bersama mereka. Dia memeluk keduanya dalam tangisan kebahagiaannya.


Tapi, kebahagiaan itu perlahan-lahan hilang saat Gisel teringat dirinya terakhir kali berada di gudang itu.


"Rey ... Dimana Rey?"


Gisel terus memanggil nama Rey. Tapi baik mama atau pun papanya sama-sama terlihat kesulitan untuk menjelaskannya. Raut wajah mereka mendadak berubah cemas ketika Gisel menyebut nama Rey.


"Ada apa dengan Rey?"


Keduanya tetap diam.


"Ma, Pa ... Rey kenapa?"


Melihat Gisel yang tidak akan berhenti bertanya, Papa Gisel akhirnya mencoba untuk menjelaskan sesuatu.

__ADS_1


"Rey ... dia ... Satrio bilang dia sedang terluka. Seseorang menembaknya."


__ADS_2