Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 45 : Nabila Mulai Memberontak


__ADS_3

"Sebenarnya, apa yang ada di kepala Clara?"


Begitu yang dipikirkan Gisel ketika dia mendengarkan penjelasan Bagas dan Satrio mengenai perusahaan boneka itu.


Semua kebenaran yang dikatakan Rafael padanya hampir tidak dapat dipercayai oleh Gisel. Terutama pada bagian dimana Clara akan mengorbankan anak-anaknya untuk menjadi tameng untuknya. Ya, termasuk Nabila di dalamnya.


Bagas menemukan salah satu dokumen yang mengatasnamakan Nabila di dalamnya. Tidak hanya itu, ada juga Adrian dan juga Kanaya. Itu artinya, Clara sedang memindahkan kepemilikan menjadi nama mereka. Dan artinya lagi, jika suatu saat Clara menghilang, anak-anak mereka yang harus menghadapi permasalahan yang dibuat Clara.


"Ini jahat!," kata Gisel geram.


Tapi, bukan itu bukti yang dimaksud Rafael pada waktu itu. Bukti yang dimaksud Rafael baru datang beberapa hari setelah pertemuan Gisel dengan Rafael.


"Dengar! Kalian jangan bikin keributan hari ini. Tetap di dalam kamar. Nggak usah keluar! Ini bukan acara untuk kalian. Kamu! Jaga adikmu. Kamu dengar, kan?"


Begitu kata Clara dengan semua perintah-perintahnya.


Gisel tidak banyak membantah. Dia mengiyakan semua yang Clara katakan. Dia lebih ingin tahu apa yang ingin Clara lakukan daripada berdebat dengannya.


Meski Gisel sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengikuti apa yang diperintahkan Clara hari ini, tapi Gisel tetap saja keluar dan mengintip apa yang sedang terjadi di ruang tamu setelah dia menyuruh Ian untuk tetap di kamar.


Dengan cara yang sama saat dia mengintip Clara dan Rafael, kini Gisel menggunakannya untuk mengetahui acara penting Clara hari ini.


Dari atas, Gisel dapat melihat Clara sedang duduk berdampingan dengan Nabila. Dua orang pria dengan seorang wanita duduk di hadapan Clara. Pria yang satu terlihat lebih muda. Gisel menduga itu calon suami Nabila.


"Setidaknya, Clara tidak mencarikan Nabila jodoh pria tua," ucap Gisel lirih.


"Nabila cantik sekali, ya," kata wanita itu pada pria muda yang ada di sebelahnya. Pria muda itu menjawab dengan senyum yang lebar sekali.


Keceriaan di ruangan itu sangat kontras terasa ketika Gisel memperhatikan Nabila. Meski dengan dandanannya yang cantik, senyum Nabila tidak terlihat seceria para orang tua yang ada di sana. Bahkan ketika para orang tua sengaja mendudukkan mereka berdampingan, Nabila hanya menunjukkan senyum tipisnya yang terkesan dipaksakan.


"Nabila tidak menyukainya?," tanya Gisel dalam hatinya.


Pertanyaan Gisel ini bukan tanpa sebab. Dia ingat bagaimana Nabila tertawa senang saat ibunya itu mengatakan akan menjodohkannya dengan pria yang lebih baik dengan Kanaya. Nabila tidak terlihat keberatan. Lalu, mengapa sekarang dia terlihat begitu tidak menyukainya?


Gisel akhirnya kembali ke kamarnya. Di kepalanya kini membawa pertanyaan-pertanyaan baru. Mengapa Rafael memberikan semua informasi itu padanya? Apa sebenarnya yang diinginkan Rafael? Apa benar dia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri? Jika dia kenal dengan Corens, mengapa tidak minta tolong pada Corens untuk melindunginya?


Bahkan dengan semua bukti yang diberikan Rafael padanya, masih sulit bagi Gisel untuk bisa langsung mempercayainya. Terlalu banyak hal buruk yang dia alami bersama dengan Rafael. Mempercayai Rafael begitu saja terlalu mudah rasanya.

__ADS_1


Lamunan Gisel tiba-tiba buyar ketika ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk untuknya. Dari Rey, rupanya.


"Aku sudah dengar dari Pak Satrio. Jangan mudah terpancing Rafael, Gi. Pokoknya kamu jangan ikuti kemauannya dia. Tunggu aku kembali, kita akan cari jalan keluarnya sama-sama. Paham kan, Gi?"


Gisel mendengus pelan. Bahkan di Jepang dia masih bisa dapat informasi tentang Gisel. Dia benar-benar menakutkan, pikir Gisel. Meski sebenarnya, bukan menakutkan dalam makna denotatif yang dimaksud Gisel. Karena itulah, Gisel tersenyum sinis membaca pesan itu.


Lalu, dia membalasnya, "Iya, iya. Meskipun di Jepang pun masih tetap aja bawel. Bawain oleh-oleh pas balik."


Dan tak lama kemudian, "Siap, Bu Komandan."


Gisel kembali tersenyum membaca pesan itu.


Kembali Gisel teringat kata-kata Rey sebelum dia pergi. Dan kembali dia merasakan rasa perih di hatinya setiap kali dia memikirkan siapa gadis yang dimaksud Rey. Sulit rasanya mencari tahu jawabannya sekarang. Gisel berpikir mungkin lebih baik jika Rey yang memberitahunya langsung. Tapi, pertanyaannya, apakah dia sudah siap? Masih saja seputar itu.


"Halah, terserahlah," kata Gisel mengipasi udara di atas kepalanya seakan sedang membuyarkan pikirannya yang sedang melayang di atas kepalanya. Bahkan Ian memandanginya dengan tatapan penuh kekhawatiran. Mungkin dia mengira Gisel sedang sakit.


Gisel pun menghampirinya, menemaninya bermain untuk menghilangkan kekhawatiran Ian dan juga dirinya sendiri.


"Ini lebih baik daripada harus memikirkannya sepanjang hari," pikirnya.


Gisel baru saja mengisi botol minumnya di dapur, dan akan kembali ke kamarnya, saat dia mendengar suara aneh yang terdengar di dekat tangga. Dia hampir mengira itu adalah ulah maling, tapi untungnya langsung terlihat olehnya Nabila yang sedang membawa tas ranselnya.


"Mau kemana dia?," pikir Gisel.


Entah apa isi tas ransel yang dibawa Nabila itu. Tapi apapun itu, Nabila tetap ngotot membawanya meski terlihat sangat berat.


Melihat Nabila yang sedang berjalan ke arahnya, Gisel tidak bersembunyi ataupun lari. Dia membiarkan Nabila melihat dirinya.


Langkah Nabila terhenti saat dia melihat Gisel sedang berdiri dengan botol minum di tangannya. Tanpa satu katapun yang keluar dari mulutnya, Nabila melanjutkan langkahnya menuju pintu belakang rumahnya.


"Mau kabur dari rumah?," tanya Gisel menebak.


Nabila menghentikan langkahnya, lalu berkata, "Bukan urusan kamu." Lalu, mulai melangkah lagi. Gisel pun menyusulnya.


Nabila tidak mempedulikan Gisel yang terus mengikutinya. Begitu juga dengan Gisel yang terus mengikutinya. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Gisel selama dia mengikuti Nabila.


Perjalanan Gisel mengikuti Nabila terbilang sudah cukup jauh. Mereka sudah keluar dari rumah mereka, dan Nabila masih terus berjalan tanpa Gisel tahu kemana tujuannya.

__ADS_1


Sudah pukul setengah sembilan malam. Jalanan sudah sepi dari orang-orang yang melewatinya. Mereka bahkan tanpa rasa khawatir berjalan di jalanan yang sepi itu. Padahal mereka hanyalah dua orang gadis yang berjalan di jalan yang sepi pada malam hari.


"Berhenti ngikuti aku, bisa nggak sih?," teriak Nabila kesal pada Gisel hingga menghentikan langkahnya.


"Katakan, kamu mau kemana?," tanya Gisel balik.


"Aku kan sudah bilang. Bukan urusan kamu. Nggak usah ikut campur!"


Nabila kembali berjalan meninggalkan Gisel. Tas ransel yang berat itu kini digantung di kedua bahunya.


"Apa karena kamu nggak bisa menolak mama kamu?," tanya Gisel.


Langkah Nabila terhenti.


Gisel merasa dirinya baru saja menangkap ikan dengan pertanyaannya. Dia merasa puas bisa membuat Nabila menghentikan langkahnya.


"Kamu nggak setuju dengan perjodohan itu. Benar, kan?," tanya Gisel pelan-pelan.


Gisel berjalan perlahan mendekati Nabila yang saat ini sedang berdiri membelakanginya. Gisel tidak tahu bagaimana raut wajah Nabila saat ini. Yang bisa Gisel lihat saat ini adalah gerakan lengan tangan Nabila yang sedang mengusap wajahnya.


"Dia menangis," pikir Gisel.


Jarak di antara mereka semakin lama semakin mengecil. Dan saat Gisel hampir berjarak beberapa langkah dari Nabila, gadis itu langsung berbalik menghadap Gisel.


"Kamu ingin menertawaiku, kan? Ketawa aja. Ketawa yang puas. Itu kan yang kamu mau," rutuk Nabila.


Gisel berdiri terpaku melihat reaksi Nabila itu. Kemarahan yang tidak Gisel duga sebelumnya.


"Untuk apa aku menertawaimu?"


Nabila meletakkan tas ranselnya ke bawah. Dia mungkin sudah kelelahan membawanya.


"Kamu merasa puas kan melihat aku kayak gini? Kamu puas kan ternyata nasibku sama saja dengan kamu? Kamu dulu dijodohkan dengan orang tua. Aku? Ha! Calonku adalah orang depresi. Yang setiap saat bisa saja mengamuk dan memukul orang-orang."


Gisel hanya diam. Dia hanya mendengarkan Nabila bercerita.


"Semua hanya karena uang. Karena orang tua laki-laki itu mau memberikan mama uang yang banyak. Aku dijual, Kanaya!"

__ADS_1


__ADS_2