
Gisel memasuki ruang kerja Farhan dengan hati-hati meski dia tahu tidak akan ada siapapun yang akan memergokinya hari ini.
Nabila dan Ian sedang sibuk di kamar mereka masing-masing. Terutama Ian, bocah itu mungkin sudah tidur dari tadi. Sedangkan Clara, seperti yang dikatakan Rafael, mereka berangkat tadi pagi untuk urusan bisnis katanya. Dan rumah seketika menjadi sepi.
Selama ini, tidak pernah sedikitpun Gisel memikirkan ruang kerja Farhan. Dia tidak pernah berpikir ada sesuatu yang disimpan di dalam sana. Dan sekarang, dia memutuskan untuk memeriksa ruangan yang baru pertama kalinya dia datangi itu.
Ruangan itu tidak terlalu besar. Tapi cukup luas untuk meletakkan sepasang meja dan kursi kerja beserta rak buku di dalamnya. Cukup nyaman dengan jendela besar di sampingnya. Entah bagaimana pemandangannya saat siang hari, tapi dengan melihat jendela besar itu saja cukup memberikan gambaran bagaimana nyamannya ruangan ini saat siang.
"Jadi, dari mana aku harus mulai?," tanya Gisel lirih. Pandangan matanya terus menyusuri seluruh sudut ruangan itu.
Gisel akhirnya memutuskan untuk mendatangi meja kerjanya terlebih dahulu. Mencoba membuka beberapa laci yang terkunci. Dan baru akhirnya Gisel tersadar.
"Nggak ada orang nyimpan rahasia di laci yang nggak terkunci," katanya lirih seraya mengacak rambutnya.
Masalahnya sekarang adalah dimana kuncinya?
Gisel beralih ke bagian lain. Di belakang meja kerja ada sebuah lemari kecil yang cukup panjang. Bagian atasnya sudah terjejer rapi buku-buku dan beberapa hiasan meja.
Gisel berjongkok untuk mengecek isi di dalam lemari itu. Ternyata, sebuah brankas.
Brankas yang tidak terlalu besar, sesuai dengan tinggi lemari yang hanya sepinggang. Melihat dari bentuknya, brankas itu sepertinya bukan brankas baru.
"Rasanya aku pernah lihat tipe ini. Ini model lama."
Gisel memeriksa seluruh bagian brankas itu. Tapi, dia tidak menemukan petunjuk apapun di sana. Lalu, apa yang harus dilakukannya sekarang?
Pandangannya sekarang mengarah pada rak-rak buku yang ada di depannya. Dia kemudian berdiri memeriksa satu persatu buku itu.
Tidak ada yang istimewa. Hanya ada buku-buku bisnis dan motivasi. Beberapa buku adalah buku-buku tua, terlihat jelas dari cover bukunya. Saat Gisel menengadahkan kepalanya ke atas, barulah dia melihat sesuatu yang aneh di atas sana.
Sebuah buku terlihat agak maju ke depan, berbeda dengan buku-buku lain yang ada di sebelahnya. Pertanyaannya, mengapa?
Gisel tidak berlama-lama lagi memikirkan hal itu. Perlahan dia mengambil buku yang ada di atas kepalanya itu. Ketika dia membukanya, buku itu ternyata sengaja dilubangi hanya untuk menyimpan sesuatu di dalamnya. Sebuah kunci.
Saat Gisel mengambilnya, di dalamnya terdapat sebuah deretan angka yang ditulis tangan.
"Apakah ini sandinya?," pikir Gisel.
Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya. Gisel pun segera mencobanya.
Dan ... KLAK! Brankas terbuka.
Jantung Gisel sempat berhenti sesaat. Tapi kemudian dia segera mengembalikan kesadarannya. Segera dia mencari tahu apa isi brankas itu.
Uang, emas, dan ... ini dia ... dokumen. Tapi, dokumen apa?
__ADS_1
Satu persatu Gisel membuka map-map itu. "Sepertinya, ini dokumen yang dimaksud Rafael."
Gisel menyisihkan dokumen itu ke sampingnya. Dia kembali membongkar apa saja yang ada di dalam sana. Dan sesuatu menarik perhatian Gisel. Sebuah flash disk.
Dengan cepat Gisel bergerak membuka komputer yang ada di meja kerja. Begitu menyala, dia langsung menghubungkannya dengan flash disk itu.
Dan yang ditemukan cukup mengejutkan. Hampir semua file itu adalah video.
Gisel membuka salah satunya. File itu menunjukkan hubungan yang dilakukan oleh Rafael dan Clara saat di ruang tamu. Dilihat dari gambarnya, video itu diambil dengan menggunakan video recorder.
"Sepertinya Farhan mengambil gambarnya sendiri."
Gisel membuka file video lain. Terlihat bagaimana Clara menyiksa Kanaya. Dan beberapa video juga menunjukkan hal yang sama, tapi di tempat yang berbeda.
"Farhan mungkin mulai curiga pada Clara. Karena itu dia menempatkan kamera tersembunyi," kata Gisel lagi.
Secara keseluruhan bukan flash disk yang istimewa, tapi cukup bagus untuk Bagas, begitu pikir Gisel.
Kembali Gisel membongkar brankas. Sayangnya dia tidak menemukan apapun di sana. Gisel mendengus pelan.
"Pasti ada sesuatu yang lain," pikir Gisel.
Kembali Gisel memperhatikan ruangan itu inci per inci. Dia mencari sesuatu yang berbeda seperti saat dia menemukan kunci brankas itu.
Dari tempatnya duduk di dekat brankas itu, Gisel memperhatikan sesuatu yang aneh yang ada di rak paling atas. Tempat yang sangat sulit diraih jika tanpa bantuan tangga. Tempat yang juga pasti akan luput dari perhatian karena posisinya yang tidak biasa. Jika Gisel berada di posisi yang berbeda, dia mungkin tidak akan mendapatkan petunjuk itu.
Ternyata, sebuah lemari kayu kecil. Mungkin karena posisinya yang tinggi, dan seseorang begitu yakinnya tidak akan ketahuan, lemari itu bisa dengan mudahnya terbuka, karena tidak terkunci.
Lemari itu lebih mirip seperti laci kecil. Bentuknya seukuran dokumen tipis, karena memang untuk itu dia digunakan, untuk menyimpan dokumen.
Gisel mengeluarkan laci itu dari penyimpanannya. Lalu turun untuk membongkar isinya.
Flash disk lagi.
Sama seperti yang dilakukannya tadi, Gisel mencari tahu apa isi flash disk itu. Dan masih sama, video. Tapi kali ini sedikit berbeda. Video kali ini adalah rekaman yang dibuat Farhan sendiri.
#
"Aku membuat video ini tanpa sepengetahuan siapapun, terutama Clara. Aku harap video ini akan bisa membantu menyelamatkan Kanaya, anakku.
Aku, Farhan Bharatajaya membuat video ini dengan sadar dan tanpa paksaan dari siapapun. Melalui video ini aku akan membeberkan semua kesalahan Clara dan berharap ini bisa membatalkan hak perwalian Clara atas putriku, Kanaya. Jika suatu saat nanti terjadi sesuatu padaku, aku berharap saudara iparku, Dahlia Pramudya bisa membantuku untuk menjaganya. Tolong aku, Ya Tuhan."
#
Hal pertama yang mengejutkan adalah saat Farhan mengatakan status Adrian.
__ADS_1
#
"Bersama dengan video ini, aku juga menyimpan hasil tes DNA Adrian dan aku. Hasilnya, tentu saja, tidak cocok. Aku tahu siapa ayah anak itu, aku hanya tidak bisa menemukan sample yang bisa aku gunakan dalam tes. Tapi, hanya dengan tes ini saja, itu sudah cukup bagiku untuk mengajukan surat perceraian."
#
Gisel membuka sebuah amplop yang berisi selembar kertas di dalamnya. Ternyata benar, itu adalah hasil tes DNA yang dimaksud Farhan.
"Lalu, siapa ayah Ian?," tanya Gisel lirih. Dia terus berpikir siapa pria yang dekat dengan Clara. Tidak ada siapapun yang bisa dipikirkan olehnya, selain Rafael. "Jangan-jangan ..."
Tapi kemudian, Gisel menyangkalnya.
"Nggak. Nggak mungkin. Nggak ada orang tua yang tega menyakiti anaknya," kata Gisel.
Lalu sedetik kemudian, dia teringat kata-kata Rafael bahwa Clara hanya mencintai dirinya sendiri.
"Kalau Rafael ayahnya, apakah iya juga akan setega itu?," tanya Gisel lagi. Dia masih ingat dengan jelas kengerian yang dia rasakan saat Rafael melemparkan anak itu ke atas.
Gisel mengesampingkan masalah itu. Dia meletakkan amplop itu ke samping. Lalu melanjutkan menonton sisa video itu.
Dalam video itu, Farhan menyebutkan usaha pembunuhan yang dilakukan Clara. Beberapa kecelakaan yang terjadi padanya juga sudah direncanakan oleh Clara. Karena itu dia menyertakan bukti-bukti itu dalam sebuah dokumen yang disimpannya dalam flash disk itu.
Ternyata, tidak hanya itu. Bukti Clara melakukan penipuan, penggelapan dana perusahaan, dan masih banyak lagi. Farhan benar-benar bekerja keras mengumpulkan semuanya.
#
"Clara sudah banyak melakukan kejahatan seperti ini. Aku khawatir dia dulu mengelabui Emma hingga memaksanya membuat surat wasiat itu. Aku berharap dengan bukti-bukti ini bisa membatalkan semua keputusan yang selalu mendukung Clara."
#
Perhatian Gisel kini tersisa pada satu map yang tidak disebutkan dalam video itu. Dia membuka map itu untuk mencari tahu isi di dalamnya.
Hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah foto keluarga. Dia sana terlihat seorang pria yang sedang menggendong anak perempuan, dan seorang wanita di sampingnya. Gisel mengenal wanita itu sebagai Clara.
Melihat Clara, Gisel kembali memperhatikan gadis kecil yang sedang digendong pria itu. Usia anak itu mungkin sekitar 4 tahun. Gisel yakin, anak itu adalah Nabila.
"Sepertinya ini informasi tentang ayahnya Nabila," kata Gisel. Dia yakin, Farhan saat itu sedang mengumpulkan informasi tentangnya.
"Dan melihat informasi-informasi ini sepertinya baik Rafael ataupun Clara tidak tahu tentang ini," pikir Gisel.
Gisel segera membereskan semuanya. Dia hanya membawa beberapa hal yang dianggapnya penting, lalu mengembalikan semuanya ke tempatnya.
Hal pertama yang dilakukannya saat ini adalah mengirimkan informasi-informasi itu pada Bagas. Segera dia membungkusnya dengan rapi, lalu keluar ke pintu belakang untuk memanggil anggota tim Alpha.
"Bawa ini ke Bagas. Segera," perintahnya.
__ADS_1
Dia hanya bisa mempercayai mereka saat ini. Dia berharap itu bisa membantu Bagas dan juga Satrio yang saat ini sedang berkerja menyelesaikan hak perwalian Kanaya.