Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 20 : Mimpi atau Realita? Bahaya yang Dihadapi Gisel


__ADS_3

"Dimana ini? Rumah sakit lagi?"


Gisel merasakan kembali suasana yang pernah dia rasakan dulu. Saat dia pertama kali bangun di tubuh Kanaya.


"Aku ingat kamar ini. Ini kamar rawat ragaku di rumah sakit," kata Gisel lagi.


Ya, semuanya sama persis. Sofa, meja, TV, bahkan jendela kamarnya, dia ingat semuanya.


"Aku kembali ke tubuhku?!," tanyanya kegirangan ketika memikirkan kemungkinan itu.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Dia melihat Rey datang dengan sebuket bunga aster putih kesukaannya.


"Rey! Kamu datang," teriak Gisel kegirangan. Tapi, tidak ada suara yang keluar. Rey bahkan tidak menjawab panggilannya.


"Kenapa ini? Rey! Rey!", panggilnya terus menerus.


Gisel tidak tahu ada apa dengannya. Mengapa suaranya tidak keluar meski dia berteriak.


Dia bisa melihat Rey sedang mengganti bunga yang ada di nakas sebelah tempat tidurnya. Lalu kemudian, pria itu duduk di sebelahnya, memegangi tangannya, memandanginya dengan tatapannya yang sendu. Gisel merasakan sakit di hatinya saat melihat itu.


"Gi ... ," panggil Rey pelan.


Gisel tersentak kaget. "Rey memanggilku! Berarti dia melihatku! Rey! Rey!"


Masih sama, tidak ada suara sedikitpun yang keluar. Gisel semakin putus asa.


"... mau sampai kapan kamu akan tidur, Gi?," kata Rey lagi. "Aku ingin dengar suaramu ..."


"Rey ..."


Gisel semakin tidak berdaya saat mendengar Rey mengatakan itu padanya. Dia tidak pernah melihat Rey yang seperti itu di hadapannya.


"Mungkinkah ini mimpi?," kata Gisel.


Mimpi, cuma kemungkinan itu yang bisa Gisel pikirkan. Bagaimana bisa dia terbangun dalam tubuhnya, tapi dia tidak bisa mengatakan apapun, ataupun menggerakkan apapun dari tubuhnya.


Melihat Rey yang ada di hadapannya, Gisel ingin menyentuh pria itu. Dia juga tidak dapat menggerakkannya. Lalu, apa yang bisa dia lakukan sekarang?


Lalu, pintu kamar itu terbuka lagi. Kali ini Risa yang masuk.


"Selamat pagi, Pak Reynard," sapa Risa pada Rey.


"Risa! Risa!," panggil Gisel berulang-ulang. Dia terus mencoba berteriak tanpa peduli apakah usahanya akan berhasil atau tidak.


Tapi, Risa terdiam sejenak. Dia terdiam memandangi Gisel. Lalu kemudian, mengalihkan pandangannya.


"Risa! Kamu mendengarku, kan? Risa!," panggil Gisel lagi. Namun, Risa tetap tidak menghiraukannya. Yang Risa lakukan hanyalah membuka gorden jendela kamarnya itu tanpa menoleh lagi.


Gisel semakin putus asa. Dia mulai merasa marah. Untuk apa dia kembali ke tubuhnya jika tidak dapat melakukan apapun.


"Kegilaan macam apa lagi ini?!"


Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba Rey dan Risa keluar dari kamarnya itu.


"Mengapa mereka keluar? Mereka mau kemana? Rey! Risa!"


KLAK ... Pintu tertutup, dan mereka tetap tidak mendengarnya.


"AARRGG ...!!," teriak Gisel meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, seorang pria dengan jas putih panjangnya masuk ke ruangan itu. Penampilannya jelas menunjukkan dia adalah dokter. Tapi gerak-geriknya tidak.


Pria aneh itu mencurigakan. Dia selalu terlihat waspada. Seperti orang yang takut jika ketahuan.


"Mau apa dia?," kata Gisel.


Perasaan Gisel mulai tidak enak saat pria itu menyentuh tabung infusnya. Lalu, dia mengeluarkan jarum suntik dari dalam sakunya.


"Apa yang mau dia lakukan?"


Pria itu kemudian, menyuntikkan isi di dalam jarum suntik itu ke dalam selang kecil yang menghubungkannya dengan tabung infus dan punggung tangan Gisel.


"Tidak! Hentikan! Apa yang kamu lakukan?!"


Tidak ada bedanya dengan Rey dan Risa. Teriakan Gisel tetap tidak didengar oleh pria itu. Entah apa yang disuntikkannya, tapi Gisel yakin itu bukan sesuatu yang bagus.


"Bagaimana ini?"


Tiba-tiba, dadanya mulai terasa panas. Sedikit demi sedikit, rasa sakit yang menusuk mulai terasa.


BRAK!


Dengan rasa sakit di bagian dadanya, Gisel masih bisa melihat Risa datang membanting pintu yang sedari tadi tertutup, yang kemudian disusul Rey di belakangnya. Dia seperti melihat penyelamatnya.


Saat matanya hampir tertutup, Rey sedang menarik infus dari tangannya. Lalu, dia menangkap orang itu.


Tepat pada saat itu, dia merasa dirinya ditarik dengan sangat keras ke belakang menjauhi raganya. Saat terbangun, dia melihat dirinya telah kembali ke kamar yang dia kenali sebagai kamar Kanaya.


Tapi, dia merasakan sakit yang sama saat dia memimpikannya barusan.


Bahkan ketika Clara datang dan mendorong dengan kakinya, Gisel tidak punya tenaga lagi untuk melawan, meski dia tidak menyukainya. Yang dia ingat terakhir kalinya adalah bayangan hitam yang perlahan menutupi penglihatannya saat dia terjatuh.


Gisel sedang berdiri di sebuah padang bunga matahari yang sangat luas. Dia ingat tempat ini, karena dia pernah kesini sebelumnya.


"Mimpi waktu itu ...," ucapnya lirih.


Meski demikian, dia tidak dapat membedakan apakah ini benar-benar mimpi, atau dia memang berada di sana. Semua terasa begitu nyata dia rasakan.


Angin sepoi-sepoi yang melambaikan rambutnya, bunga matahari saat disentuhnya, bahkan sinar mataharinya terasa menyilaukan saat Gisel menatapnya.


"Apakah mimpi memang seperti ini?"


Dari kejauhan Gisel melihat seorang gadis berambut panjang. Gadis yang sama yang pernah hadir dalam mimpinya. Selangkah demi selangkah, Gisel berjalan menghampiri gadis itu.


"Siapa kamu?"


Perlahan gadis itu berbalik menghadap Gisel hingga dia bisa dengan jelas melihatnya.


Gisel mengenali wajah itu. Dia pernah melihat sebelumnya. Tepat saat dia terbangun dalam raga orang lain.


"Kanaya ..."


Dia hanya tersenyum.


Kanaya menggerakkan mulutnya seakan sedang mengatakan sesuatu. Tapi, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya itu.


"Apa yang kamu katakan, Aya?"


Kanaya menggerakkan mulutnya lagi. Gisel berusaha membaca melalui gerak bibirnya. Tetap saja, tidak ada satupun yang dia pahami.

__ADS_1


"Aya, aku nggak ngerti ..."


Tiba-tiba, angin berhenti bertiup. Waktu serasa berhenti.


Suara Kanaya akhirnya terdengar.


"Maaf ..."


Gisel langsung ditarik dengan keras ke belakang, lalu dihempaskan ke bawah.


Di saat itulah, dia membuka matanya. Hal pertama yang dilakukannya adalah memahami dimana dia berada. "Rumah sakit ... lagi ..."


Dia terbangun dan duduk di atas ranjangnya, dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah sekumpulan pria yang dia kenali sedang berdiri membelakanginya. Dan, seorang Risa yang ada di hadapan mereka.


"Kamu bilang tadi akan berhasil?!," kata Rey.


Rendi ikut bertanya, "Risa, kamu yakin kamu sudah benar melakukannya?"


Begitu juga dengan Satrio, "Mengapa masih belum ada perubahan?"


Risa hanya bisa berkata dengan suaranya yang bergetar, "S-saya nggak tau, Pak ..."


Dia hampir menangis melihat ketiga pria itu mengerubunginya.


"S-saya sudah melakukan semua yang diajarkan. Huaa ...," tangisnya.


Tapi kemudian, tangisnya berhenti.


"Bu Gisella ...," teriaknya. Dia langsung berlari memeluk Gisel.


"Terima kasih sudah bangun, Bu. Kalau ibu nggak bangun-bangun, saya nggak tahu saya akan diapain sama mereka," kata Risa seraya memeluk Gisel erat-erat.


Gisel melepaskan dirinya dari Risa. Dia singkirkan tangan Risa setiap kali menyentuhnya. "Lepas, Risa. Lepas."


Tapi, Risa selalu punya cara untuk mengembalikan tangannya agar bisa memeluk Gisel.


Ketiga pria yang tadinya membelakanginya, kini melongo menatap dirinya.


Rey adalah yang pertama kali maju mendekat pada Gisel.


"Gi ... ini bener kamu?," tanyanya ragu.


Saat dia melihat Rey ada di kamar itu, dan saat Rey mulai bertanya, saat itulah Gisel baru menyadari sesuatu.


Mengapa Rey ada disana? Apakah dia kembali pada tubuhnya?


Gisel segera melompat turun dari ranjangnya dan berlari ke kamar mandi yang ada di kamar itu. Yang dia cari hanya satu, cermin.


"Tidak. Masih Kanaya. Tapi ..."


Gisel berjalan keluar lagi dari kamar mandi. Dia berjalan perlahan-lahan menghampiri Rey yang masih berdiri di tempatnya terakhir berdiri. Gisel memandanginya dalam-dalam, bahkan dengan kedua matanya yang kini semakin melebar terbuka.


"Kamu panggil aku apa?"


"Gi!"


Rey langsung memeluknya erat-erat.


Sedangkan Gisel, matanya masih terbelalak lebar karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Apa yang terjadi?"

__ADS_1


__ADS_2