Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 37 : Intrik di Ruang Detensi


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Rey kemarin, panggilan untuk Gisel datang pagi ini saat dia sedang di kelas. Sisi baiknya, Gisel merasa senang karena akan melewatkan pelajaran IPA.


Malam yang panjang ternyata tidak mempengaruhi Gisel hari ini. Saat dia terbangun, perasaan gusarnya yang semalaman membuatnya terjaga kini seperti sudah hilang entah ke mana.


Pembicaraannya dengan Rey semalam membuat hatinya cukup tenang. Dia tahu apa yang harus dilakukannya, karena itu tidak ada beban sama sekali saat dia melangkah ke ruang detensi.


Saat Gisel memasuki ruang detensi, disana sudah ada Wina yang duduk di sebelah ayahnya dan seorang pria lainnya. Wina, seperti biasa, sedang berakting menangis dengan saputangan yang dipegangnya selalu digunakan untuk menyeka air matanya.


Sedangkan di dekatnya berdiri, ada Ibu Kepala Sekolah dan Rey yang duduk di depan sebuah meja. Di sanalah Gisel akan ditanyai.


Saat Gisel melihat Rey, yang terlintas di kepalanya pertama kali adalah ingatannya tentang semalam. Dia tiba-tiba saja dapat mengingat wangi parfum yang dikenakan Rey tadi malam. Gisel langsung membubarkan pikirannya itu.


"Fokus, Gi!," bentaknya dalam hati memarahi dirinya sendiri.


Saat Ibu Kepala Sekolah bertanya padanya, Gisel memandangi pria yang ada bersama Wina dan ayahnya. Tanpa mempedulikan pertanyaan Ibu Kepala Sekolah, Gisel langsung menunjuk ke arah pria itu.


"Bapak itu siapa?"


Pandangan semua orang tertuju pada pria yang ditunjuk Gisel, lalu berbalik lagi pada Gisel.


"Kalau itu saya tahu, pasti papanya Wina. Tapi kalau itu?," tanyanya lagi.


"Dia pengacara. Dia yang akan menentukan apakah kamu berbohong atau tidak saat ditanyai Ibu Kepala Sekolah."


Ayah Wina terlihat begitu percaya diri saat memperkenalkan pengacaranya itu. Mungkin dia ingin memperlihatkan betapa kuatnya dia dalam masalah ini.


Tapi, Gisel jelas tidak takut dengan ancaman yang seperti itu.


"Saya juga ingin didampingi pengacara."


Seketika ruangan menjadi hening. Mereka jelas tertegun dengan permintaan Gisel itu. Tapi kemudian, suara tawa ayahnya Wina memenuhi ruang detensi yang tidak seberapa luas itu.


"Kamu pikir kamu siapa minta didampingi pengacara? Kamu cuma saksi. Wina disini korbannya. Haha ..."


Di tengah suara tawa yang tidak juga reda, pintu ruangan itu terbuka tiba-tiba.

__ADS_1


"Karena dia adalah anak di bawah umur."


Kedatangan Bagas sontak membuat Ibu Kepala Sekolah terkejut. Dia bahkan berdiri dari tempat duduknya. Tidak hanya Ibu Kepala Sekolah, Wina dan dua orang pria bersamanya juga ikut terkejut.


Gisel tahu Wina pasti akan membawa pria yang sama seperti kemarin. Dia sudah yakin pria itu pasti pengacara. Jadi, Gisel menghubungi Bagas pagi ini untuk meminta pertolongannya. Kedatangannya di ruang detensi, tentu saja mengartikan bahwa Bagas dengan senang hati membantunya.


"Setiap warga negara berhak mendapatkan pendampingan hukum pada setiap tingkatan pemeriksaan. Pasal 55 KHUP."


"Dan UU no 11 tahun 2012. Setiap anak di bawah umur wajib didampingi oleh orangtua atau orang yang dipercaya. Karena orangtua Kanaya tidak dapat hadir, maka saya disini mewakili mereka."


Setelah Bagas menempatkan dirinya di sebelah Gisel, dia kembali melanjutkan, "Saya lihat sudah ada pengacara di sini. Itu berarti pemeriksaan ini tidak akan berhenti sampai di sini saja. Karena itu, sebagai pengacara keluarga Bharatajaya, saya hadir untuk mendampingi Kanaya Bharatajaya."


Tidak ada yang berani membantah. Bahkan pengacara Wina pun tidak. Wina dan ayahnya apalagi. Mereka sudah cukup terkejut dengan kedatangan Bagas. Dan kemudian disuguhi undang-undang yang tidak mereka pahami. Mereka semakin tidak bisa berkata-kata.


Ibu Kepala Sekolah juga tidak dapat menolaknya. Dia tahu siapa Bagas, baik sebagai orangtuanya Tika, salah satu muridnya, dan juga profesinya.


Yang berbeda hanyalah Rey. Sedari tadi, pria itu hanya menahan tawanya. Rey tidak menyangka Gisel akan melakukan itu. Karena memang rencana ini adalah rencana yang baru dipikirkan Gisel tadi pagi. Tentu saja, ini cukup mengejutkan mereka semua.


Pada akhirnya, pemeriksaan itu tetap dilanjutkan. Suka atau tidak suka, Wina dan ayahnya membiarkan Bagas tetap di sana tanpa protes sedikitpun. Apalagi, si pengacara juga sudah membenarkan semua yang dikatakan Bagas. Bisa apa lagi mereka?


"Saya ingin melihat videonya. Karena itu adalah bukti, saya juga harus melihatnya." Begitu kata Bagas ketika Ibu Kepala Sekolah terus bertanya pada Gisel.


Video itu seperti sedang mengambil gambar secara sembunyi-sembunyi. Ponsel itu seperti sedang diletakkan di tempat yang tersembunyi, sehingga dapat merekam Wina yang sedang terduduk minta ampun.


Sosok Rey sebagai pelaku tidak diperlihatkan dengan jelas. Tapi hanya dengan celana training dan sepatu ketsnya, lalu ditambah dengan suara yang mirip dengannya sudah cukup memberikan kesan bahwa itu Rey.


Masalahnya sekarang, bagaimana Wina melakukannya? Siapa yang mau membantunya untuk jadi pemeran pengganti dalam video itu? Apakah Wina memakai cara yang sama yaitu dengan membayar mereka?


"Wina hanya punya uang. Anak-anak yang disuruh Wina untuk mengganggu Kanaya semuanya dibayar oleh Wina. Dia mudah mencari anak yang mau melakukan demi uang. Itu artinya dia punya daftar panjang nama-nama anak yang jadi pesuruhnya. Tapi, siapa saja?"


Semakin Gisel memikirkannya, semakin Gisel merasa geram. Wina hanyalah anak umur 15 tahun. Dia bisa melakukan itu hanya untuk mencelakai orang lain. Entah apa yang akan bisa dia lakukan di masa depan?


"Eh! Ada saksi!," seru Gisel tiba-tiba saat dia sedang menonton rekaman video itu. "Ada orang yang mengintip."


Wina langsung beranjak dari tempatnya duduk dan menghampiri Gisel. Dengan kasar dia merebut ponsel yang dipegang oleh Gisel, lalu mengulang kembali video itu.

__ADS_1


"Mana? Tidak ada! Jangan mengada-ada!," bentak Wina yang disetujui oleh ayah dan pengacaranya.


"Benarkah? Coba Om lihat, deh."


Gisel mengambil kembali ponsel itu, lalu menunjukkannya pada Bagas. Dia menunjuk sesuatu yang ada pada video itu.


Setelah beberapa saat menonton, Bagas juga sepakat dengan yang dikatakan Gisel. "Iya, ada. Dia mengintip sebentar. Sepertinya siswa juga."


Sekali lagi, Wina mengambil ponsel itu dari Gisel dan menontonnya. Wina tetap tidak menemukan apapun.


"Kalian pasti berbohong. Pengacara dan papa juga tidak melihatnya," bentak Wina yang bahkan dia tujukan untuk Bagas, orang yang lebih tua darinya.


"Karena pandangan kita berbeda, kita bisa bawa video ini ke ahlinya untuk dianalisa. Benar atau tidaknya, mereka pasti akan bisa menemukannya."


Bagas memberikan ide yang sangat baik. Karena setelah itu, Wina langsung menggenggam erat ponsel itu.


"Tidak perlu! Aku tahu kalian semua berbohong. Aku yang lebih tahu situasinya. Tidak ada seorang pun waktu itu. Ada yang jaga di ..." Wina menyadari dia telah melakukan kesalahan. Karena tiba-tiba dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Gotcha!," seru Gisel yang berteriak kegirangan dalam hatinya.


Gisel hanya berbohong. Tidak ada apapun di video itu. Video itu terlalu sempurna. Untungnya, Bagas tahu apa yang harus dilakukannya ketika Gisel menunjukkan video itu.


Wina memang semudah itu. Dia hanya anak yang berpikir cara mudah untuk menang, dan uang membantunya mencapai keinginannya. Gisel menyadarinya, dan kemudian terpikirkan ide itu.


"M-maksud saya, Pak Reynard m-menyuruh orang untuk berjaga di depan r-ruangan." Tentu saja, Wina sudah mulai gugup sekarang. Dia sedang memikirkan kebohongan lainnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya.


Dan Bagas tidak melewatkan kesempatannya. "Siapa? Guru? Atau siswa juga? Kamu pasti melihat orang itu, kan?"


Wina semakin terpojok. Dia terlihat kebingungan mencari jawaban atas pertanyaan Bagas. Tidak jauh berbeda dengan pengacara dan ayahnya Wina. Mereka juga kebingungan, tapi bingungnya mereka sepertinya karena rasa terkejut dengan ucapan Wina sebelumnya.


"S-saya tidak tahu! S-saya waktu itu k-ketakutan dan selalu m-menutup mata," seru Wina dengan rasa panik yang jelas terdengar dari suaranya.


TOK TOK!


Suara ketokan pintu yang sangat keras terdengar cukup mengagetkan. Wina bahkan hampir melompat karenanya. Tak lama suara ketokan itu terdengar, pintu akhirnya terbuka dan terlihat Adit datang dengan wajah tegangnya.

__ADS_1


"Selamat siang, Bu. Saya membawa bukti bahwa Pak Reynard tidak bersalah."


Dan semua orang yang ada di ruangan itu terdiam, kecuali Wina yang terlihat hampir memutih karena darahnya mungkin berhenti mengalir akibat rasa paniknya.


__ADS_2