Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 57 : Konfrontasi yang Berbahaya


__ADS_3

(Dua jam yang lalu)


"Gi, kamu tetap nggak akan berubah pikiran?," tanya Rey untuk ke sekian kalinya. Meski Gisel sudah mengatakan tidak, Rey tetap menanyakan hal yang sama.


"Kamu tahu, aku harus melakukan ini. Aku punya rencana. Om Satrio akan membantuku" jawab Gisel yang sekali lagi menolak semua permintaan Rey.


"Aku tahu Corens masih menyembunyikan Rafael. Yang aku tidak tahu, bagaimana Corens mengatasi Rafael. Apakah dia membunuhnya, atau malah tetap menyimpannya sebagai orangnya. Cara ini akan memberitahu kita bagaimana Rafael sekarang. Dengan demikian, kita bisa membereskan Rafael, untuk Kanaya," lanjut Gisel lagi.


Rey sekarang terdiam. Dia tidak punya lagi kata-kata untuk membantah Gisel. Tapi kemudian, hati gusarnya menjadi sedikit lebih tenang, ketika jari-jari Gisel menyelimuti jari-jari miliknya.


"Karena itu aku butuh bantuanmu, Rey. Aku tahu kamu pasti akan membantuku. Jadi, aku yakin aku bisa menyelesaikan ini," kata Gisel yang terdengar cukup lembut di telinga Rey. Bahkan mungkin, ini adalah pertama kalinya dia mendengar suara Gisel selembut itu.


Tangan Rey langsung merebut jari-jemari Gisel itu. Dia menggenggamnya dan mengeratkannya dalam jari-jemarinya.


"Apapun yang terjadi, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku, Gi. Berjanjilah padaku," kata Rey dengan tegas.


Dengan penuh keyakinan, Gisel menganggukkan kepalanya.


................


Suasana menjadi begitu tegang ketika pisau Rey masih mengarah pada pangkal leher Corens. Tidak ada yang berani bersuara ketika Rey berhasil mengendalikan Corens dengan ujung pisaunya itu.


Corens berteriak memanggil pengawal-pengawalnya, tapi tidak ada satupun yang menjawab. Tentu saja, pengawal-pengawal Rey berhasil melumpuhkan mereka sebelum Rey muncul.


Satrio kini berdiri dan berjalan menjauhi Corens. Dia berpindah tempat duduk ke sebelah Gisel dan bersama-sama memandangi Corens yang saat ini tidak berdaya.


Dokter yang sedari tadi ada di dekat Gisel kini juga berdiri dan bergerak menjauhi ketegangan itu. Dia terlihat lega karena dia tidak perlu lagi melanjutkan apa yang tidak ingin dia lakukan sedari tadi.


Sudah lama Satrio mencurigai Corens. Tapi, dia tidak pernah mengungkapkannya pada Gisel. Untuk meyakinkan dirinya, bersamaan dengan penyelidikannya, Satrio mendekati Corens dengan cara yang berbeda. Dia berpura-pura mengkhianati Gisel.


Sayangnya, selama Satrio mendekati Corens, tidak ada sekali pun kesempatan dia bertemu dengan Rafael saat pria itu bersama dengan Corens. Mungkin Corens dan Rafael belum sepenuhnya percaya pada Satrio. Karena itu, Satrio tidak mendapatkan informasi apapun tentang Rafael selama bersama dengan Corens.


Satrio menceritakan hal ini pada Gisel setelah dia melaporkan tentang Corens. Pada saat itulah, Gisel menyarankan untuk membawa Tim Alpha untuk menyakinkan mereka.


Cara itu cukup berhasil, meski tidak sepenuhnya. Corens menjadi lebih percaya pada Satrio, meskipun Rafael tetap tidak menunjukkan dirinya.


Dan sekarang, kesempatan itu datang. Rafael akhirnya muncul di hadapan semua orang.


"Aku tahu dari awal kamu memang tidak bisa dipercaya," kata Rafael bersamaan dengan suara pelatuk pistol yang ditodongkannya ke kepala Satrio yang duduk di sebelah Gisel.


Gisel tersenyum bangga dengan semua usahanya akhirnya Rafael muncul juga sesuai dengan yang diharapkannya. "Lihatlah, siapa yang akhirnya muncul di hadapan kita semua."


"Kanaya ... Ah, tidak ... Haruskah kupanggil Nona Gisella?," tanya Rafael seraya memindahkan moncong pistolnya ke arah Gisel.


Rey yang melihat itu tidak dapat menyembunyikan kemarahannya. Ujung pisau yang dipegangnya semakin mendekati leher Corens hingga melukai pria itu. Darah mengucur perlahan dari lukanya itu.


Gisel memberikannya tanda dengan gerakan pelan pada kepalanya. Dia meminta Rey untuk bersabar. Rey yang marah saat melihat Gisel seperti itu perlahan menurunkan emosinya.

__ADS_1


Gisel kemudian perlahan berdiri dari tempat duduknya. DIa berbalik menghadap Rafael sepenuhnya.


"Gi ...," panggil Satrio yang ada di sampingnya setengah berbisik. Dia khawatir Gisel terluka karena Rafael akan semakin agresif dengan pistol di tangannya saat melihat Gisel yang seperti itu.


Gisel menenangkan Satrio. Dia menyakinkan Satrio dengan senyumnya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Pelan-pelan Gisel berjalan melewati sofa yang menjadi penghalang antara dirinya dan Rafael. Dengan pistol yang terus diarahkan padanya, Gisel tetap memandangi Rafael dengan tatapannya yang tajam tanpa mempedulikan pistol itu.


"Lama tidak berjumpa, Rafael," kata Gisel santai.


"Apa kamu tahu?, tanya Rafael. "Jika peluru pistol ini menembus kepala ini, kamu mungkin akan kembali ke tubuhmu yang itu. Tapi Kanaya ... Dia selamanya tidak akan bisa kembali ke tubuhnya yang sudah rusak."


Gisel diam tidak menanggapi ucapan Rafael itu.


"Apakah kamu ingin aku melepaskan peluru ini tepat di sini?," tanya Rafael lagi.


Gisel tetap tidak banyak bicara. Dia hanya terus menatap tajam ke arah Rafael dan bersiap akan melakukan sesuatu.


Ketika dia merasa siap, dengan gerakan yang sangat cepat, Gisel merebut pistol itu dari tangan Rafael. Kini pistol itu berbalik menghadap Rafael. Gisel tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Begitu juga dengan Rey yang terus memperhatikan Gisel dari tempatnya berdiri.


Bagaimana tidak? Rey lah yang mengajarkan semua itu, meski sebenarnya dia lebih berharap Gisel tidak akan pernah menghadapi situasi yang dia takuti itu.


"Situasi berbalik dengan sangat cepat, ya kan, Rafael?," tanya Gisel sinis. Dia membatalkan posisi siap pistol itu, lalu melemparkannya pada pengawal yang ada di dekatnya. Dengan sigap, pengawal itu menangkap pistol itu lalu mengamankannya.


"Kamu merasa kamu sudah menang sekarang? Kamu kira aku kemari tanpa persiapan apapun?"


Beberapa pengawal Gisel dan Rey langsung bergerak melindungi ruangan yang menjadi tempat tubuh Gisel terbaring. Beberapa lainnya mulai mengambil posisi mereka membantu teman-teman mereka.


Situasi kini mulai memanas karena orang-orang Rafael terus berdatangan. Meski pengawal Gisel dan Rey digabungkan tetap masih kalah jumlah dengan orang yang didatangkan Rafael. Entah dari mana Rafael mendapatkan orang sebanyak itu.


Corens sekarang tertawa dengan kerasnya. Dia merasa dirinya berada di atas angin dengan situasi itu.


"Bisa apa kalian sekarang? Haha ....," teriaknya dalam tawa kerasnya.


Dengan keras Rey memukul bagian leher belakangnya hingga pria itu tak sadarkan diri. Kini suasana di ruangan itu kembali hening.


Tapi, tidak selama yang mereka inginkan.


Saat Rafael mulai melayangkan pukulannya ke arah Gisel, semua orang-orang Rafael mulai menyerang. Kericuhan pun dimulai.


Beruntung Gisel dapat mengelak dari pukulan itu. Dia melompat ke samping ketika pukulan itu hampir mengenainya.


Tapi kemudian, Rey datang di antara mereka. Dengan cepat Rey memukul balik Rafael hingga membuat pria itu mundur seketika.


"Lawanmu adalah aku. Sudah lama aku ingin bertemu denganmu. Dan hari ini kamu akan membayar semuanya," kata Rey geram.


"Gi, kamu pergi. Bawa tubuhmu keluar dari sini. Jalankan sesuai rencana kita," lanjut Rey lagi pada Gisel yang sedang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Gisel segera berlari menuju ruangan itu.


Dari kejauhan dia bisa melihat dokter sudah berdiri di depan ruangan itu sambil memandangi situasi yang ada di sekitarnya dengan cemas. Dokter itu adalah dokter yang sama yang tadi akan menyuntikkan obat seperti yang diminta Corens. Dan dokter itu adalah dokter yang sama yang pernah mencoba melukai Gisel di rumah sakit atas suruhan Gisel.


Ya, Gisel meminta Satrio untuk menbawanya kembali pada Corens untuk menbantu rencana rahasia Gisel yang hanya dia ketahui sendiri. Bahkan Satrio yang Gisel beri perintah tidak tahu menahu alasan mengapa Gisel memintanya kembali. Begitu juga dengan Rey.


"Dokter tahu apa yang harus dokter lakukan, kan?," tanya Gisel pada dokter itu.


"I-iya. Saya harus menunggu cukup lama baru setelah itu saya memompa kembali jantung Nona Gisella," jawab dokter itu gugup.


Cukup lama dokter itu berada di sana hingga dia mendengarkan semua yang dikatakan Corens. Dan selama itu juga Gisel meminta dokter itu memahami apa yang harus dia lakukan saat ini.


"Dan kalian ..."


"Kami tahu apa yang harus kami lakukan, Nona Gisella."


Tanpa perlu menyelesaikan kata-katanya, pengawal-pengawal itu tahu apa yang harus mereka katakan saat ini. Gisel pun segera berbalik mencari sosok Rey yang saat ini masih sibuk dengan Rafael.


"Rey, pegang janjiku. Aku nggak akan membohongimu," teriak Gisel.


Rey yang terus menerus menerima serangan dari Rafael tidak dapat langsung menjawab perkataan Gisel itu. Tapi, sentakan pada dadanya cukup membuatnya merasa tidak nyaman dengan maksud ucapan Gisel itu.


"Gi! Apapun yang kamu pikirkan saat ini, jangan coba-coba untuk lakukan itu!," bentak Rey seraya menahan pukulan Rafael.


"Aku dengar pembicaraanmu dengan Risa," teriak Gisel.


Kedua mata Rey langsung melotot melihat Gisel. "Tidak, Gi! Aku bilang tidak!"


Tapi, Gisel tidak ingin mundur lagi sekarang. "Percaya padaku, Rey. Aku akan kembali. Aku punya alasan untuk kembali. Kita kembalikan semua pada tempatnya."


Rey mendorong Rafael dengan keras. Dia lalu berlari dan ingin menghampiri Gisel, mencegah pemikiran bodohnya itu. Tapi kemudian, Rafael menariknya kembali, seakan-akan tidak ingin Rey mendekati Gisel. Rey tidak punya pilihan lain lagi selain melawan Rafael kembali.


"Aku nggak akan memaafkanmu kalau kamu mengingkari janjimu, Gi," teriak Rey di akhir keputusasaannya.


"Aku pasti akan kembali," kata Gisel sekali lagi.


Saat Gisel akan memasuki ruangan itu, Gisel berbalik sekali lagi. "Jangan biarkan dia melukaimu, Rey."


Kedua mata Rey seakan mengeluarkan nyala api yang membara ketika mendengarkan teriakan Gisel itu. Semangatnya menjadi panas membara hingga membakar seluruh tubuhnya. Rasa percaya dirinya menaik seketika.


"Dia tidak akan bisa menyentuhku," katanya dalam dengusan semangat yang berkobar.


Begitu Gisel memasuki ruangan itu, Rey kembali berteriak, "Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan, kan? Jangan sampai ada kesalahan. Kalian dengar itu?"


"Siap, Tuan," jawab mereka serentak bersamaan dengan suara gemuruh derap langkah mereka yang sedang bersiaga.


"Sekarang hanya tinggal kamu dan aku," kata Rey pada Rafael yang ada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2