Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 31 : Mewaspadai Ancaman, Menyingkap Rahasia


__ADS_3

"Menyenangkan, bukan? Diperebutkan cowok-cowok itu terasa menyenangkan. Iya kan, cewek gatel?"


Gisel baru saja memasuki rumahnya dan akan naik ke kamarnya saat dia mendengar Nabila mengatainya. Kakak tiri Kanaya itu bahkan menertawakannya. Sepertinya, Nabila sedang mengintip saat Gisel bersama Adit dan Rey di luar.


"Amnesia itu cuma bikin lupa siapa kamu, tapi kebiasaan jelas nggak akan pernah hilang. Benar, kan?"


Gisel berbalik, lalu berkata padanya, "Bahkan setelah aku membantu agar kamu bisa lebih dekat dengan Evan, kamu masih mencari masalah denganku? Kenapa anak jaman sekarang nggak tahu cara berterima kasih?"


Nabila berjalan mendekati Gisel. Langkah demi langkah Nabila tidak membuat Gisel mundur dari tempatnya berdiri. Jarak di antara mereka kini menjadi sangat dekat. Terlalu dekat hingga tak ada seorang pun bisa berdiri di antara mereka.


"Kamu pikir kamu menjadi pahlawan buat siapa? Aku? Evan dari awal itu memang milikku. Kamu yang keganjengan deketin dia terus," kata Nabila setengah berbisik.


Gisel jelas tidak mau kalah. "Aku rasa, kamu harus mengobati penyakit halusinasimu itu. Dari sisi mana kamu melihat aku menggoda Evan? Antara kamu yang dibutakan rasa cemburumu itu, atau kamu memang segila itu."


Nabila hanya tersenyum sinis menanggapinya. "Kamu jadi merasa beruntung karena ada anak konglomerat yang melamar kamu? Jangan senang dulu, Aya. Dia belum tahu bagaimana kamu yang sebenarnya. Begitu dia tahu, aku pengen tahu apakah dia masih mau sama kamu atau nggak?"


Tangan Nabila terus menekan kedua sisi wajah Gisel saat dia berbicara. Meski Gisel tidak menyukainya, tapi dia masih berusaha untuk bersabar. Dia masih menahan amarahnya itu. Yang diingatnya saat ini adalah pesan Rey.


"Kendalikan emosimu, Gi. Jangan biarkan mereka memancing emosimu."


Gisel mengatur napasnya berulang-ulang hingga rasa marah dalam dadanya terus menurun. Pelan-pelan, dia memegangi lengan Nabila, lalu mencengkeramnya dengan keras hingga Nabila melepaskan dari wajahnya.


Dengan senyum di wajahnya, Gisel berkata, "Coba saja. Aku pengen lihat bagaimana kamu melakukannya."


Nabila terlihat kesakitan. Dengan kasar, dia menarik tangannya dari cengkeraman Gisel. Dia masih menunjukkan senyumnya pada Gisel.


"Aku dengar kamu melaporkan Wina ke Pak Reynard," kata Nabila dengan senyumnya itu.


"Ah, aku ingat. Pasti karena itu kamu cari aku tadi siang."

__ADS_1


Gisel teringat wajah Nabila saat berteriak memanggil namanya tadi siang. Dia curiga karena dua sebab. Kalau bukan dia menggila karena melihatnya bersama Evan, alasan keduanya berarti tentang ini.


"Aku ingin tahu, apakah Pak Reynard masih bisa aman kalau semua orang tahu kalau Pak Reynard menyalahgunakan jabatannya sebagai guru untuk melindungi tunangannya. Wina tidak akan tinggal diam. Kamu nggak tahu siapa orang tuanya."


Sekali lagi, Nabila memamerkan senyum sinisnya di depan wajah Gisel.


"Benarkah? Tapi aku rasa, kamu harus mulai mencari tahu apa itu Falcon Corp. Dan aku yakin, bahkan orang tuanya akan membuat Wina bersujud minta maaf. Nggak percaya? Buktikan saja sendiri."


Gisel juga membalasnya dengan senyum sinisnya.


Senyum Nabila sempat hilang sejenak, tapi kemudian kembali lagi. Gisel merasa Nabila hanya tidak ingin kalah darinya.


"Kita lihat saja, berapa lama Pak Reynard bisa bertahan melindungi orang kayak kamu," kata Nabila lagi sebelum akhirnya pergi meninggalkan Gisel sendirian di bawah anak tangga.


Seperginya Nabila, Gisel mulai memikirkan ucapan Nabila. Dari kata-kata Nabila, yang terlintas di pikirannya pertama kali adalah Rey. Sekarang dia mengkhawatirkan Rey. Bagaimana jika anak-anak itu merencanakan sesuatu? Apa yang akan mereka lakukan?


"Aku harus membicarakan ini dengan Rey. Setidaknya dia harus berhati-hati mulai sekarang," pikir Gisel.


Gisel baru saja tiba di depan kamarnya ketika dia mendengar suara dari lantai bawah. Dengan langkah pelan, dia mengintip dari atas. Saat itulah dia melihat Clara sedang berjalan ke pintu depan.


"Rafa ...."


Clara langsung memeluk Rafael saat pria itu sudah masuk ke dalam rumah.


"Mesra banget," pikir Gisel dengan ekspresi jijiknya.


"Mereka kasih kamu ijin masuk? Nggak banyak tanya?," tanya Clara yang masih memeluk pria itu.


"Mereka nggak banyak nanya. Mungkin karena aku bilang aku ada perlu sama kamu," jawab Rafael.

__ADS_1


Tentu saja, Gisel meminta Bagas untuk melonggarkan ijin masuk Rafael. Dia butuh banyak bukti untuk bisa menjauhkan Rafael dari Clara. Jadi, Rafael harus berada di dekat Clara, agar Gisel bisa tahu ada apa antara Rafael dan Clara.


"Ke mana semua orang?," tanya Rafael yang matanya tidak berhenti menjelajah seluruh ruangan untuk mengecek orang-orang yang mungkin akan melihat mereka. Beruntung, Gisel mengintip dari balik dinding. Dia segera bersembunyi sebelum Rafael melihatnya.


"Bila dan Ian, mereka sedang di kamarnya. Kalau Kanaya, tadi Reynard menelpon akan membawanya. Mungkin belum pulang sekarang," jawab Clara.


"Kamu sudah nggak marah, kan? Aku benar-benar nggak bisa menolaknya. Pihak Falcon mengancam akan membongkar tentang perusahaan itu pada Bagas. Kalau sampai Bagas tahu, kita nggak akan punya apa-apa lagi," kata Clara yang masih terlihat ketakutan pada Rafael.


Perusahaan yang dimaksud Clara adalah perusahaan rahasia yang mereka dirikan untuk menampung semua uang mereka. Dari penyelidikan Rey dan Satrio, mereka membuat perusahaan itu agar bisa memindahkan semua hasil pengalihan aset Farhan menjadi atas nama perusahaan tanpa masalah.


Bagas tidak pernah tahu masalah ini. Dia baru tahu baru-baru ini. Tapi demi untuk menolong Kanaya, dia biarkan masalah ini agar bisa digunakan untuk mengendalikan Clara. Dan ternyata berhasil.


"Tapi, mereka tetap memberikan kita uang meski tidak sebanyak Tuan Abraham. Setidaknya itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Kita butuh uang itu, benar kan?," jelas Clara lagi.


Gisel tidak kaget lagi dengan ucapan Clara yang terakhir itu. Dia sudah menduga sebelumnya. "Ternyata benar karena uang," pikir Gisel.


Sedari tadi Rafael menunjukkan ekspresi wajah muaknya pada Clara terutama saat wanita itu menceritakan tentang Falcon dan Tuan Abraham. Sepertinya dia masih kesal karena harus mengecewakan kliennya itu.


Tapi, tiba-tiba saja ekspresinya itu berubah. Rafael kini berubah menjadi lebih manis. Gisel menjadi semakin mual melihatnya.


"Lupakan tentang itu. Aku kesini karena pengen ketemu kamu," kata Rafael seraya memainkan hidung Clara dengan jari telunjuknya. Clara yang digoda seperti itu mendadak menjadi begitu genitnya.


Mereka berciuman, lalu berpelukan sekali lagi sebelum akhirnya Clara menariknya menuju kamarnya.


Mulut Gisel tidak bisa berhenti menganga. Kedua matanya terus terbelalak lebar. "Apa itu tadi?," bisik Gisel dengan kerasnya.


Kali ini, semua keanehan yang dia rasakan di antara Rafael dan Clara rasanya sudah tidak mengherankan lagi.


"Pantas saja, Clara selalu membelanya. Rafael bebas keluar masuk rumah ini. Ternyata ini," kata Gisel lagi.

__ADS_1


Pertanyaannya sekarang, seberapa jauh Clara bergantung pada Rafael?


Setidaknya Gisel bisa tenang. Ada gunanya juga Rey menempatkan penyadap di kamarnya.


__ADS_2