
"Terima kasih, Pak Bagas. Terima kasih Bapak sudah mau datang hari ini," kata Gisel pada Bagas setelah pertemuan itu berakhir.
"Sama-sama. Saya yang seharusnya berterima kasih karena membantu menyelesaikan masalah Kanaya. Baru hari ini saya tahu, seberapa berat hidupnya di sekolah selama ini." Penyesalan yang terlihat dari wajahnya menunjukkan ketulusan Bagas pada Kanaya. Dia begitu menyayangi anak sahabatnya itu.
"Tika tidak mengatakan apapun?," tanya Gisel heran.
"Tika pernah sekali cerita. Tapi saya menganggapnya kecelakaan. Saya tidak berpikir seorang remaja seusia itu akan berpikiran seperti itu," jelas Bagas.
Gisel tidak menyalahkannya. Wina memang di luar batas kenormalan. Orang dewasa manapun juga pasti akan berpikir demikian.
"Saya juga tidak menyangka Wina akan melakukan itu. Untungnya Bapak juga memikirkan alasan untuk pertunangan itu dengan cepat."
Saat Adit menunjukkan video itu, Wina masih mengelak semua perbuatannya. Video yang jelas-jelas menunjukkan Wina sedang berakting di depan kamera dan di hadapan seorang siswa laki-laki yang berperan sebagai Rey, itupun masih disangkal oleh Wina dengan berbagai alasan.
Pada akhirnya, serangan terakhir Wina adalah mengungkit pertunangan Kanaya dengan Rey. Dan Bagas langsung memberi pembelaannya.
Bagas mengatakan bahwa pertunangan yang sebenarnya adalah pertunangan antara Kanaya dengan Adit. Karena mereka berencana akan melanjutkan sekolah mereka di luar negeri, maka hubungan mereka disahkan oleh kedua orangtua mereka.
"Saya pernah mendengar Tika cerita tentang rencana Kanaya dan Adit itu. Jadi saya rasa itu bisa jadi alasan yang bagus," ujar Bagas menjelaskan alasannya menggunakan cara itu untuk mengaburkan fakta pertunangan Kanaya dan Rey.
Dan karena itu juga, Gisel akhirnya bisa memahami sikap Adit waktu itu. Hubungan antara Kanaya dan Adit kini menjadi semakin jelas.
Tapi yang lebih penting adalah alasan Wina melakukan itu. Begitu Bagas menyampaikan pembelaannya itu, Wina langsung bereaksi sangat keras. Dia hampir melukai Gisel jika Rey tidak melindunginya. Wina sudah akan mencekik Gisel karena kemarahannya itu.
Rasa sukanya yang besar pada Adit menyebabkannya melakukan semua itu pada Kanaya. Wina yang sudah mengenal Adit sejak mereka masih SD merasa tidak terima dengan pernyataan Bagas tentang Adit dan Kanaya. Dan pertanyaan Gisel mengenai masalah cinta apa yang membuat Wina melakukan itu kini terjawab sudah.
"Saya sudah menerima proposal yang kamu kirimkan waktu itu. Sekali lagi, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih karena sudah membantu Kanaya sejauh ini," kata Bagas.
"Saya melihat Kanaya berbakat. Ketika saya menemukan file itu di laptopnya, saya tidak menyangka Kanaya bisa menciptakan desain seperti itu. Saya hanya membantu mengkomersialkan. Uangnya biar bisa digunakan Kanaya untuk biaya sekolahnya nanti. Jadi saya minta tolong untuk dicarikan alasan agar bisa menghadapi Clara," jelas Gisel panjang lebar.
Yang mereka bicarakan adalah mengenai desain perhiasan yang dibuat Kanaya. Beberapa waktu lalu, Gisel menemukan folder file yang berisi gambar desain perhiasan di dalam laptop Kanaya. Beberapa lagi lainnya masih berupa draft kasar di buku sketsanya di rak buku. Mungkin Kanaya belum sempat menyimpannya ke dalam laptopnya.
Tapi begitu melihatnya, Gisel sudah sangat menyukainya. Dia melihat bakat Kanaya yang bisa dikembangkan. Saat dia mengirimkan beberapa desain itu pada salah satu perusahaan perhiasan yang sangat dia kenal, mereka menyukainya dan ingin mengajukan kontrak. Karena itu, Gisel meneruskannya pada Bagas.
"Kanaya dulu dekat Emma. Dia selalu bercerita apapun padanya. Tapi semenjak Emma meninggal, Kanaya tidak melakukannya pada Farhan, bahkan Tika juga tidak. Tika pernah bilang, Kanaya takut dia akan terbiasa, lalu ketika dia ditinggalkan dia tidak bisa mengatasi kebiasaannya itu," kenang Bagas.
"Kanaya yang cerita pada Tika?," tanya Gisel.
__ADS_1
"Iya. Karena itu, Tika yang selalu memaksakan dirinya dekat dengan Kanaya. Tidak peduli Kanaya menyukainya atau tidak, Tika hanya ingin Kanaya tidak merasa sendirian. Tapi ternyata semua itu masih belum cukup untuk menyadarkan Kanaya."
"Saya tidak tahu bagaimana Kanaya di masa lalu. Tapi, saya belajar mengenalnya sedikit demi sedikit melalui setiap kejadian yang saya alami. Saya berharap, Kanaya saat ini juga bisa melihat, ada banyak orang yang menyayanginya."
Jika memang Kanaya ada di dalam raga Gisel, seharusnya Kanaya juga bisa melihatnya, kan?, begitu pikir Gisel.
Cukup lama mereka mengobrol di luar sembari menunggu Rey selesai dengan masalah Wina. Dan ketika Bagas akan pulang, terakhir dia berpesan pada Gisel, "Hubungi saya jika membutuhkan bantuan apapun."
Saat Gisel berbalik, dia melihat Adit sedang duduk di atas bangku yang ada di depan ruang detensi. Pikirannya kosong. Dia sepertinya masih terkejut dengan insiden yang dibuat oleh Wina. Dan mungkin yang paling mengejutkan adalah ucapan Bagas tentang pertunangan itu. Tentu saja, Adit tidak tahu menahu tentang rencana Bagas.
Perlahan Gisel menghampiri Adit dan duduk di sebelahnya. Adit masih menatap jari jemarinya yang tergenggam.
"Maaf, Aya."
Hanya sepatah kata dari Adit, dan Gisel mengingat kembali kata-kata Kanaya saat dalam mimpi itu. "Keduanya memang berjodoh apa gimana? Kenapa suka sekali mengatakan maaf untuk hal yang tidak jelas?," pikirnya.
"Gara-gara aku ... kamu jadi harus mengalami semuanya sendirian," kata Adit lagi.
Gisel menghela napasnya. "Kenapa jadi kamu yang merasa bersalah?"
Adit kini mengangkat wajahnya. Dia memandangi Gisel yang sedang duduk menatap kekosongan yang ada di depannya.
Gisel tidak langsung menjawabnya. Dia mengambil napasnya dalam-dalam. Lalu mengungkapkan apa yang sedang dipikirkannya.
"Kamu nggak menyuruh Wina untuk melakukan itu, kan? Kamu juga tidak tahu bagaimana perasaan Wina ke kamu. Kalaupun tahu itu semua juga urusan Wina untuk menyelesaikannya. Kamu tidak pernah memberinya harapan, kan?"
Kalimat terakhir yang diucapkan Gisel membuatnya menoleh ke arah Adit. Dengan tatapan Gisel yang kuat menusuk ke arahnya, sontak membuat Adit tegang sekaligus.
"N-nggak. A-aku nggak pernah begitu," elaknya.
"Kalau gitu, itu bukan salahmu."
Jawaban pendek Gisel bisa dipahami dengan baik oleh Adit. Karena setelah itu, dia tersenyum.
"Melihatmu seperti ini, lama-kelamaan mungkin aku akan bisa merelakanmu bersama Pak Reynard," kata Adit yang terdengar cukup pasrah.
"Aku mengerti, yang dikatakan Om Bagas itu untuk melindungi kalian dari tekanan yang muncul di sekolah."
__ADS_1
Lagi-lagi, Gisel tidak tahu bagaimana caranya menanggapi itu. Dia teringat kata-kata Rey bahwa hubungannya dengan Kanaya bukan seperti itu. Tapi, bagaimana menjelaskannya pada pacar Kanaya yang sebenarnya? Gisel bahkan tidak tahu, hubungan seperti apa yang sebenarnya yang dimaksud Rey?
"Aku akan kembali ke kelas dulu."
Helaan napas Adit yang berat akhirnya membawa Adit pergi meninggalkan Gisel yang kebingungan sendiri mengahadapi Adit. Kisah cinta Adit, Kanaya, dan Rey terlalu rumit untuk bisa dipahaminya.
Tepat di saat itu, semua orang keluar dari ruang detensi. Gisel bisa bersembunyi dengan baik di balik pintu yang terbuka, karena posisi bangku yang ada di sebelahnya. Dengan demikian, Gisel bisa melihat apa yang terjadi setelah perdebatan panjang mereka.
Ayah Wina keluar dengan rasa marah yang mungkin sudah meletup-letup, diikuti oleh Wina yang terus tertunduk. Pengacaranya beda lagi, dia masih terlihat santai yang sebenarnya sedang menutupi rasa malunya. Ketiganya berjalan menelusuri lorong sekolah menuju pintu keluar. Terakhir, setelah beberapa saat mereka menghilang di ujung belokan lorong, Gisel dapat mendengar teriakan ayah Wina yang menggema hingga ke tempatnya duduk.
Ibu Kepala Sekolah akhirnya menyampaikan maaf pada Rey. Meski sebenarnya, Gisel paham, dia juga berada dalam posisinya yang sulit. Karena itu dia meminta pemeriksaan seperti ini.
Rey sepertinya juga memahami itu. Karena setelah itu, dia mengucapkan terima kasih karena sudah memberinya kesempatan untuk membuktikan dirinya tidak bersalah.
Setelah Ibu Kepala Sekolah pergi, saat Rey akan menutup pintu ruangan itu, barulah dia melihat Gisel sedang duduk di sana.
"Kamu nggak kembali ke kelas?," tanya Rey.
"Nanti dulu ya, Pak. Saya istirahat dulu di sini," pinta Gisel memelas.
Rey tertawa kecil menanggapinya. Lalu keduanya sama-sama duduk dan diam di atas bangku itu.
"Wina akan dikeluarkan dari sekolah," kata Rey tiba-tiba.
Gisel sudah merasa tidak heran lagi. Tindakan Wina memang sudah keterlaluan.
Pandangan Gisel kembali lurus ke depan. Dia memandangi lapangan olahraga yang kosong dan dikelilingi berbagai tanaman. Hijaunya tanaman yang tersebar membuat pikiran Gisel jauh melayang mengingat masa-masa sekolahnya dulu.
"Wina mungkin pernah mengancam Kanaya agar menjauhi Adit. Kanaya berusaha untuk sewajar mungkin saat di sekolah, tapi Adit tidak berhenti mendekatinya. Karena itu, setiap kali Kanaya diganggu seperti itu, dia tidak mengatakan apapun. Dia terima semuanya dengan memendamnya."
Mendengar semua itu dari Gisel, Rey terlihat cemas. "Bagaimana kamu tahu?"
Gisel terdiam sejenak sebelum menjawabnya. Dengan satu helaan napas, Gisel menjawabnya, "Karena aku dulu juga pernah mengalami yang dialami Kanaya."
Rey terlihat tidak percaya dengan yang dikatakan Gisel. Mungkin Rey berpikir, kok bisa? kapan? dan ..., "Siapa? Siapa yang melakukannya?"
Gisel memperlihatkan senyumnya pada Rey. Dia ingin menunjukkan pada sahabatnya itu bahwa dia baik-baik saja, sama seperti yang akan dia ucapkan.
__ADS_1
"Kejadiannya sudah lama, Rey. Dan aku sudah nggak mikirin itu lagi. Kejadian ini yang bikin aku jadi ingat lagi. Tapi, rasanya sudah biasa saja," kilah Gisel yang masih mempertahankan senyumnya.
Dan kali ini, Rey menunjukkan raut wajah penyesalannya.