Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 27 : Penolong yang tak Terduga


__ADS_3

"Ayyaa ..."


Dari belakang Bagas, Tika langsung berlari memeluk Gisel. Kali ini, dia sama sekali tidak keberatan Tika melakukan itu. Tidak hanya Tika, Adit ternyata juga datang bersama mereka.


"Dari mana kalian tahu?," bisik Gisel pada Tika yang membantunya berdiri.


"Sstt ... diam dulu. Biar Papa yang urus," jawabnya dengan berbisik juga.


"Kamu tidak bisa menghentikan pernikahan ini, Bagas. Aku punya hak. Aku walinya." Clara memulai argumennya seperti biasa.


"Aku juga punya hak. Dia masih sekolah. Umurnya belum cukup untuk menikah. Kamu tidak bisa menikahkan anak di bawah umur. Aku bisa menuntutmu atas nama Farhan." Bagas juga tidak mau kalah.


"Omong kosong! Kamu hanya menggertakku. Aku adalah walinya. Aku berhak memutuskan segala hal untuk dirinya."


"Aku bisa membuatmu kehilangan hak perwalianmu jika kamu terus memaksakan pernikahan ini." Bagas mengeluarkan ultimatumnya hingga membuat Clara tidak bisa berkata-kata.


"Dan jelaskan padaku siapa yang mengijinkannya masuk? Kurasa aku sudah mengatakannya dengan jelas kemarin, Clara," kata Bagas kemudian, yang terdengar sangat geram saat melihat Rafael berdiri di samping Clara.


"Kamu tidak bisa melarangnya, Bagas. Kamu sendiri yang bilang. Selama aku ada di rumah, itu artinya dia boleh masuk sebagai tamuku," bantah Clara dengan berani.


Seketika itu juga, Rafael mulai bersuara. "Kita sama-sama tahu Anda tidak bisa melakukan itu, Tuan Bagas Adiwijaya."


Semua mata akhirnya tertuju pada Rafael yang saat ini berdiri berhadapan dengan Bagas, membuat Clara mundur ke belakangnya. Rafael sepertinya mengalihkan pembicaraan Bagas agar tidak membahas masalah keberadaannya di rumah.


"Clara punya tanggung jawab penuh atas masa depan Kanaya karena surat wasiat dari almarhum Emma Pramudya memintanya untuk itu. Itu berarti apapun yang diputuskan Clara untuk Kanaya itu demi kebaikan Kanaya sendiri."


Gisel sama sekali tidak dapat menebak apa yang sedang Rafael pikirkan saat ini. Pria itu terus menunjukkan raut wajahnya yang datar tanpa ekspresi. Caranya berbicara yang penuh percaya diri dan keyakinan jelas menunjukkan dia adalah seorang pengacara yang memiliki banyak pengalaman. Tidak heran dia tidak takut saat berhadapan dengan Bagas yang usianya lebih tua darinya.


Melihat lawannya yang bukan anak ingusan, Bagas maju perlahan berhadapan dengan Rafael. Dia memanfaatkan tinggi tubuhnya untuk memojokkan Rafael. "Jadi maksudmu, kamu ingin menjelaskan pada hakim, ibu macam apa klienmu itu hingga menikahkan anak di bawah umur dengan pria yang usianya lima kali lebih tua darinya?"


"Saya rasa Tuan Bagas salah paham. Mereka hanya akan menandatangani surat nikah. Penyempurnaan pernikahan mereka baru diadakan setelah Kanaya lulus sekolah. Benar begitu kan, Nyonya Clara?"


"B-benar. Mana mungkin aku setega itu sama Kanaya," kata Clara dengan terbata-bata, jelas menunjukkan dia sedang berbohong.


Rafael kembali menatap Bagas dengan percaya dirinya bahwa yang dikatakan Clara adalah kebenaran. Tapi, siapa yang akan percaya dengan bualan macam itu?


"Kita bisa meneruskan perdebatan ini sepanjang hari ini jika itu maumu. Bahkan kalau perlu kita bisa melanjutkan ini di depan hakim. Aku juga ingin tahu apa kata hakim jika aku menyertakan bukti track record pria ini padanya. Akan lebih baik jika kita sama-sama menjadi abu tapi pernikahan ini bisa dihentikan. Benar kan, Tuan Rafael Diandra?"

__ADS_1


Rafael terlihat tidak senang dengan perkataan Bagas. Mereka berdua kini saling memandang dengan tatapan mata mereka yang tajam. Jika seandainya masing-masing dari mereka diberikan sebuah pedang, mungkin saat ini mereka sedang saling menyerang dengan pedang itu.


Tidak ada satupun orang yang ada di ruangan itu yang berani bicara ataupun bergerak ketika melihat Bagas dan Rafael beradu pendapat. Clara pun juga tidak.


"Ahem ..." Tuan Abraham tiba-tiba mengejutkan semua orang yang ada di sana dengan berdehem sambil berdiri dari tempatnya duduk. Asisten yang biasanya mendampinginya membantunya berdiri.


"Tidak perlu berdebat lagi. Batalkan dulu pernikahan ini."


Clara adalah yang pertama yang tidak bisa menerima keputusan itu. "T-tapi, Tuan ..."


"Kita akan bicarakan ini lain waktu ...," kata Tuan Abraham memotong kalimat Clara.


"Eer, selamat pagi ..."


Suara seseorang mengalihkan perhatian semua orang ke arah pintu depan. Terlihat seorang pria dengan pakaiannya yang rapi lengkap dengan jas dan dasinya. Tidak ada yang mengenalinya, tapi tidak dengan Gisel. Dia tahu siapa pria itu.


"Sekretarisnya Rey? Mau apa disini?," pikirnya heran.


Gisel dapat melihat Adit dan Tika keheranan dengan kehadiran pria itu, menandakan mereka tidak tahu menahu soal ini. Tapi, Bagas sepertinya tahu sesuatu, karena dia terlihat cukup tenang.


"S-saya walinya. S-siapa ...," tanya Clara gugup.


Sekretaris Rey langsung maju menjabat tangan Clara. "Perkenalkan, nama saya Juan, saya adalah sekretaris Tuan Reynard Hardiyanto dari Falcon Corp"


"F-falcon? P-perusahaan multinasional ekspor impor i-itu?"


Clara masih bingung dengan tujuan Juan mencarinya. Tidak jauh berbeda dengan Rafael yang dari tadi masih bersitegang dengan Bagas, kini dia juga penasaran dengan apa yang akan disampaikan Bian.


"Reynard Hardiyanto? Kok rasanya pernah dengar, ya?," bisik Tika di sebelah Gisel. Adit juga sepertinya memikirkan hal yang sama.


"Apa, apa yang diinginkan perusahaan s-sebesar Falcon dengan anak tiri saya?"


"Apakah saya dan Nyonya dapat berbicara di tempat yang lebih tenang? Hanya saya dan Nyonya saja."


Clara akhirnya pergi bersama Juan ke ruang kerja Farhan. Tuan Abraham yang tadinya mengatakan akan pergi, kini dia memilih untuk duduk daripada pergi seperti yang dia katakan sebelumnya. Sepertinya Tuan Abraham juga penasaran dengan tujuan Falcon Corp terhadap Kanaya.


Apalagi Gisel. Dia lebih kesal lagi karena Rey tiba-tiba merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan dirinya.

__ADS_1


Lebih dari 30 menit, Juan dan juga Clara belum juga keluar dari ruang kerja. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


"Pak Reynard?!"


Tika tiba-tiba berteriak. Semua orang langsung memandanginya.


"Dia bukan Pak Reynard, guru kita, kan?," teriak Tika lagi.


Tapi sebelum ada yang bisa menjawabnya, Juan dan Clara akhirnya keluar juga. Juan adalah yang pertama kalinya menghampiri Gisel.


"Selamat, Nona Kanaya. Secara resmi, Nona adalah tunangan Tuan Reynard."


"Apa?!"


Saat Juan mengatakannya, Clara terlihat sangat khawatir. Sesekali dia melirik ke arah Tuan Abraham dan juga Rafael.


"Dan ini adalah cincin untuk Nona dari Tuan Reynard," kata Juan lagi seraya memberikan sebuah kotak cincin untuk Gisel. Saat dia membukanya, isinya benar-benar sebuah cincin.


Lagi-lagi, Clara melirik ke arah Tuan Abraham yang saat ini terlihat sangat tidak senang.


"Apa maksud semua ini?" Kemarahan Tuan Abraham akhirnya pada puncaknya. Dia mulai membentak Clara. "Kamu harus jelaskan ini!"


Clara hanya terdiam dan menunduk ketakutan. Dia sama sekali tidak berani menatap Tuan Abraham.


Terlebih lagi Rafael. Meski pria itu belum mengatakan apapun, tapi dari raut wajahnya terlihat dia sedang kesal.


Gisel mulai yakin, ada sesuatu antara Tuan Abraham dan juga Rafael.


Ketika emosi setiap orang yang ada di ruangan itu serasa diaduk-aduk, asisten Tuan Abraham datang memberikan ponsel untuknya. Tuan Abraham langsung meraih ponsel itu dengan kasar.


"Ada apa?," sapanya dengan membentak.


Raut wajah Tuan Abraham masih menunjukkan kekesalan saat dia menjawab telepon itu. Tapi lama kelamaan, raut wajahnya mulai terlihat cemas. Hingga akhirnya, dia memutuskan panggilannya.


Tuan Abraham terus menatap cemas pada Juan. Pada saat yang bersamaan, wajahnya jelas memperlihatkan tanda tanya besar siapa yang sedang dihadapinya.


"Saya yakin Tuan sudah mendapatkan beritanya. Pesan Tuan Reynard adalah jauhi tunangannya mulai hari ini, atau akibatnya lebih parah daripada ini," kata Juan dengan senyumnya yang lebar.

__ADS_1


__ADS_2