Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 55 : Musuh yang Tidak Terduga


__ADS_3

Dalam desiran angin yang bertiup lembut, Gisel berdiri memandangi sebuah bangunan yang cukup besar. Dia sangat mengenali tempat itu.


Gudang pertama yang dimiliki Skylar dimana dulu tempat ini sangat sibuk. Semua aktifitas distribusi logistik berawal dari gudang ini. Seiring berjalannya waktu, Skylar semakin berkembang. Dengan alasan efisiensi, gudang ini tidak lagi digunakan. Meski demikian, gudang ini tetap terawat, mengingat semua manfaat yang pernah Skylar dapatkan dari gudang ini.


Gisel memandangi area gudang yang kini tidak hanya dikelilingi orang-orang dari Corens, tapi juga pengawalnya sendiri. Entah sejak kapan ceritanya jadi berbalik seperti ini.


Mereka adalah orang-orang yang dia percayai. Hidupnya selalu bergantung pada mereka. Tapi, saat ini dia bisa melihat bagaimana semua itu hanya palsu. Gisel masih tidak dapat percaya dia pernah sangat mempercayai mereka.


Saat Gisel akan memasuki gudang itu, seorang pengawal Corens datang menghampirinya dan mulai memeriksanya. Orang-orang yang dulu disebutnya sebagai pengawal eksklusifnya pun bahkan tidak menoleh sedikitpun padanya. Gisel akhirnya memilih untuk tidak mempedulikan mereka.


Dengan langkah tegas dan percaya diri, Gisel melangkahkan kakinya memasuki gudang itu tanpa rasa takut sedikit pun. Semua orang di gudang itu mungkin berpikir bagaimana nasib Gisel setelah ini, tapi di pikiran Gisel sendiri, dia yang lebih tahu dari semua orang itu bagaimana hidupnya setelah ini. Karena itulah alasannya dia datang.


"Perjalananmu masih melelahkan. Mari, mari, silahkan duduk," kata Corens seraya menunjuk sofa yang ada di depannya.


Sebelum dia duduk, dia dapat melihat tubuhnya sedang terbaring di sebuah ruangan bersekat yang ada di ujung gudang itu. Rey benar-benar merombaknya. Ruangan itu cukup luas. Hampir memakan seperempat ruang dalam gudang itu.


"Jangan khawatir. Dia tetap mendapatkan pelayanan terbaiknya. Tidak ada yang berani menyentuhnya atas perintahku," lanjut Corens lagi.


"Kamu ingin aku berterima kasih? Atau kita akan membicarakan hal lain?," sahut Gisel dengan nada remehnya.


"Haha ... jangan seperti itu. Aku hanya mencairkan suasana tegang di antara kita," kata Corens dalam tawanya.


"Langsung saja pada intinya, apa yang kamu inginkan?" Gisel sudah tidak tahan lagi dengan semua basa-basi yang dilakukan Corens.


"Dia mengundangku kemari untuk membuat kesepakatan. Jadi untuk apa mengulur-ulur waktu?," pikirnya.


"Saham 55% milikmu, berikan padaku."


Gisel menatap tajam Corens. Semua yang dia lalui hari ini hanya untuk ini?, pikirnya.


"... dan kamu, tentu saja, kamu juga akan mendapatkan sesuatu jika kamu menyetujuinya. Pertama, aku akan memberitahumu cara agar kamu bisa kembali pada ragamu yang sebenarnya," lanjut Corens.


Gisel tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia justru semakin penasaran, cara apa yang dimaksud Corens. Risa punya caranya sendiri, dan sekarang Corens? Cara apa yang dia punya?


"Kedua, tentu saja, kamu bisa mendapatkan hidupmu kembali. Tapi, bukan lagi sebagai bagian dari Skylar. Itu saja harga yang harus kamu bayar untuk semua pengorbananmu. Adil, bukan?"

__ADS_1


Senyum Corens tidak berhenti mengembang. Gisel merasa Corens sedang meremehkannya. Corens mungkin berharap Gisel memohon padanya.


"Dan kamu menyebut itu kesepakatan? Kamu hanya ingin mendapatkan yang kamu inginkan hanya dengan menekanku. Bahkan, anak umur 5 tahun saja bisa melakukannya lebih baik darimu," kata Gisel balik meremehkannya.


"Haha ... Kenapa? Kamu nggak ingin kembali ke tubuh aslimu, dan menjadi GIsella seutuhnya?," tanya Corens.


Gisel mendengus kecil seraya memberikan senyum sinisnya. "Tidak ada yang tahu bagaimana cara mengembalikanku pada ragaku yang sebenarnya. Dan sekarang kamu bilang kamu tahu? Kamu ingin membohongi siapa? Anak kecil?"


"Luar biasa! Kamu memang benar-benar Gisella Mathilda Hadiwijaya," kata Rey yang sedang menepuk tangannya keras-keras seakan-akan ingin menunjukkan kekagumannya pada semua orang yang ada di sana. "Tidak mudah memang meyakinkan seorang Gisella hanya dengan sebuah kalimat."


Gisel tidak tersanjung dengan pujian itu. Dia diam memandangi Corens yang juga memandangi Gisel dengan tatapan yang berbeda dari Gisel. Sementara Gisel memandangi Corens dengan sinis dan tajam, Corens justru terlihat santai.


"Apa kamu tahu? Untuk bisa kembali ke tubuhmu, kamu harus kembali seperti saat pertama kalinya kamu bangun dengan tubuh itu," kata Corens. Dia terdiam sejenak menatap lurus ke arah Gisel, lalu kembali berkata, "Ya, jantungmu harus berhenti sejenak."


Gisel menutupi rasa terkejutnya dengan raut wajah datarnya. Dia tidak bereaksi apapun, meski dalam hatinya dia terus berkata, "Dia juga tahu soal ini."


"Apa kamu masih ingat saat jantungmu berhenti karena seseorang menyuntikkan obat ke tubuh aslimu? Saat itu, kamu hampir kembali. Tapi, kamu tidak bisa sepenuhnya kembali. Mengapa? Karena jantungmu tidak berhenti cukup lama."


"Butuh waktu yang sangaaatt lama, bahkan dokter pun akan menyatakan kematianmu, dan memastikan kamu tidak akan hidup kembali. Pada saat itulah, waktu yang sangat tepat bagi kamu untuk kembali. Dan pada saat itulah, dokter bisa memompa jantungmu kembali. Aku pastikan, kamu akan kembali."


Kali ini, Gisel tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Dari pembicaraan Risa dan Rey, dia tidak mendapatkan penjelasan serinci ini. Dia bahkan tidak dapat menemukan cara membunuh dirinya sendiri tanpa melukai Kanaya. Tapi ini ... ini terlalu detail bahkan Gisel yakin, Corens sudah menyiapkan sesuatu untuknya.


"Ini adalah obat yang sama yang disuntikkan padamu waktu itu. Jika kamu sepakat dengan kesepakatan kita, aku akan menyuntikkan ini pada tubuhmu yang ada di sana. Dan, kalau kamu khawatir aku tidak mengembalikanmu, aku sudah menyiapkan seseorang yang akan memastikan kamu tetap kembali utuh dan hidup."


Corens kemudian memberi tanda dengan jari tangannya pada anak buahnya. Dan beberapa detik kemudian, Gisel melihat Satrio berjalan ke arahnya dengan dikawal oleh anak buah Corens.


"Om Satrio ...," panggil Gisel lirih.


"Pengacara kepercayaanmu itu hanya perlu berada di dalam ruangan itu bersama dengan dokter. Kalau kamu ingin, Satrio bisa mengunci ruangan itu, agar tidak ada satu pun orangku yang bisa masuk ke dalam. Kali ini, aku memberikan penawaran yang adil, bukan?"


Corens tersenyum bangga dengan penawarannya itu. Tapi yang diperhatikan Gisel adalah Satrio saat ini.


"Jangan dengarkan dia, Gi. Kamu tidak perlu melakukan yang dia minta. Om akan baik-baik saja," kata Satrio


Gisel beranjak dari tempatnya duduk. Beberapa pengawal Corens langsung bersiaga ketika melihat Gisel berdiri. Corens memberikan tanda dengan tangannya untuk membiarkannya. Dan pengawal-pengawalnya kembali pada posisi semula.

__ADS_1


Gisel berjalan mendekati ruangan tempat di mana raganya saat ini terbaring. Kembali, pengawal Corens menghalangi langkahnya. Tapi, Corens mungkin memberinya tanda untuk membiarkan Gisel. Karena sekarang pengawalnya itu bergerak mundur menjauh dari Gisel.


Langkah Gisel terhenti saat dia bisa melihat tubuhnya dengan jelas dari tempatnya berdiri. Dia merasa tidak perlu lagi untuk mendekati tempat itu lagi.


"Untuk sebuah informasi, kamu cukup hebat bisa mendapatkan informasi sedetail itu," kata Gisel tiba-tiba setelah beberapa saat dia terdiam.


"Ah, tidak. Sangat hebat," ralatnya.


Saat Gisel berbalik dan menatap Corens, pria itu sedang tersenyum bangga dengan ucapan Gisel.


"Tapi ... terlalu detail juga tidak baik, Tuan Corens."


Raut wajah Corens kini berubah. Kedua alisnya berkerut menyatu. Salah satu alis matanya bahkan terangkat ke atas. Tanda dia sedang tidak memahami maksud Gisel.


Dengan langkah pelan tapi tegas, Gisel berjalan kembali ke tempat dia duduk. Dia juga melewati Satrio yang sedang dikawal oleh dua orang pengawal Corens. Meski demikian, Gisel tidak menatapnya sama sekali.


"Sejak aku kembali dari rumahmu, aku selalu berpikir, dari mana seorang Dave Corens mendapatkan informasi seperti itu? Sebuah pedang dengan segala efek magisnya? Aku yakin, di buku panduan manapun pasti tidak akan tertulis hal semacam itu. Karena itu, aku mulai menggali informasi itu ke black market. Tapi, di tempat itu pun tidak ada satupun informasi tersedia seperti itu. Bahkan ahli pedang sekali pun."


Gisel yang saat ini sudah kembali duduk, melipat kedua tangannya di depan dadanya. Dia tidak membalas tatapan Corens yang masih menerka-nerka apa yang akan dikatakan Gisel selanjutnya.


"Aku mulai belajar sejarah pedang itu. Tidak ada yang aneh. Hanya sejarah biasa dari sebuah pedang yang dulu pernah menjadi senjata kesayangan seorang bangsawan. Akhirnya, aku sampai pada satu kesimpulan."


Kali ini, mata Gisel menatap tajam lurus ke arah Corens hingga membuat pria itu sontak menjadi gugup.


"Entah pedang itu hanya alasan sehingga kamu harus berbohong, atau ... seseorang telah memberitahumu tentang kondisiku yang sebenarnya. Tentang pertukaran jiwa yang sedang aku alami saat ini."


Corens bertambah gugup saat Gisel mulai mengakhiri ucapannya. Gisel tersenyum, mengejek kegugupan Corens.


"Aku jadi teringat sesuatu. Kamu pernah mengatakan bahwa seorang bocah dikelilingi oleh pengawal eksklusif milik Gisella. Ekslusif? Bahkan Ratu Inggris pun tidak pernah tahu tim pengawal yang aku miliki. Dari mana kamu tahu sebanyak itu, Corens? Dari mana kamu tahu kalau mereka ekslusif? Kamu melihatnya setiap hari hingga kamu mengenali mereka? Atau seseorang memberitahumu kalau mereka memang benar-benar ekslusif? Keduanya?"


Senyum Gisel kini menghilang. Amarahnya kini jelas terlihat di wajahnya. Dengan tatapan tajam kedua matanya itu, Gisel kini menatap Satrio yang masih berdiri bersama dua pengawal Corens.


"Benar kan, Om Satrio?"


Satrio tidak menjawab. Dia tetap berdiri tegak membalas pandangan mata Gisel.

__ADS_1


"Karena Om sendiri yang memilihkan anggota tim Alpha yang Om perintahkan secara khusus menjagaku sejak aku mulai mengurus proyek kota baru itu."


Kini, suasana di gudang itu tidak kalah dingin dari musim dingin yang jauh berada di bawah minus. Tatapan tajam Gisel dan Satrio mampu menjadi sebuah bongkahan es tajam yang siap menusuk siapa pun yang berada di antara mereka.


__ADS_2